
Cery masih meringis, gimana aku gak syok coba? di depan mataku ada ciptaan Tuhan yang paling indah." Tak kalah berbisik.
Boby menyeringai melihat tingkah kedua gadis tersebut. "Gimana Nona? kau menerima tawaran dariku? aku akan mengantar kalian berdua."
Sonia mengangguk. "Baik lah, jika tak akan merepotkan dirimu?"
"Dengan senang hati Nona." Boby membungkuk hormat dan membukakan pintu mobil miliknya.
"Terima kasih Tuan?" ucap Sonia bergantian dengan Cery.
Setelah kedua gadis tersebut masuk dan duduk, Boby mengitari mobilnya. Menuju pintu belakang kemudi.
Boby masuk dan segera melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Boby mengajak Sonia berbicara, ada aja tema untuk di bicarakan.
"Kau baru ya di apartemen itu Nia." Boby melihat Sonia dari kaca spion di atas kepalanya.
"Ya, sekitar sebulan ini. Kalau gak salah sih?" sahut Sonia melihat-lihat jalanan, yang begitu ramai. "Kau sendiri?"
"Em-em ... aku sudah lama di sana." Jawab Boby sambil tetap fokus menyetir. Aku lihat kau begitu berbeda dari teman satu apartemen kamu itu."
"Apanya yang berbeda? dia sepupu aku namanya Hera, dia yang telah membawaku ke Negeri ini." Sonia melirik ke arah Boby yang tengah menyetir.
Boby mengangguk anggukkan kepalanya. "Aku sih sudah tau lama. Aku sering lihat dia dari beberapa tahun lalu, tapi gak pernah tertarik tuk mengenalnya."
"Hem ... kenapa? dia bukan harimau kok, hi hi hi ... Dia baik dan cantik," ujar Sonia memuji Hera sepupunya tersebut.
"Eh ... Cer, bukankah arah tempat tinggal dirimu sudah terlewati?" Sonia melihat kebelakang jalan yang sudah di lewati mobil tersebut.
"I-iya, bener. Setop Tuan, setop? aku berhenti di sini saja," ucap Cery menepuk bahu Boby, Boby menepikan mobilnya untuk menurunkan Cery.
"Emang tempat tinggal mu di mana?" Boby melihat-lihat tempat sekitar. Cery turun dan berterima kasih kepada Boby.
"Sonia hati-hati ya? Tuan titip teman saya." Cery berjalan meninggalkan mobil tersebut dengan hati riang.
"Oke, hati-hati juga ya Cer?" sahut Sonia dan Boby sembari mengangguk, lalu menjalankan kembali mesin mobilnya.
Mobil melaju cepat meninggalkan tempat tersebut, menuju apartemen. Setelah sampai di tempat tujuan, Boby memasukan mobil ke parkiran. Sonia turun tak lupa menutup pintu, Di ikuti oleh Boby dari pintu sebelah. Berjalan cepat, melintasi lobby sepanjang jalan Boby tak pernah berhenti bicara ada saja yang dia bicarakan. Sampai mereka memasuk lift.
"Makasih ya Tuan atas tumpangannya? kau sudah baik pada diriku, padahal baru kenal?" Sonia mulai menatap Boby yang berada di hadapannya.
Boby pun tengah menatap Sonia, dia sedari tadi menikmati wajah cantik Sonia, sembari mengembangkan senyumnya.
"Aku akan senang hati bila menolong kamu Nona Sonia. Dan satu lagi--" Boby menghentikan perkataannya.
Sonia dengan tatapan penasaran bertanya "Apa?"
__ADS_1
Boby mengulum senyum. "Jangan panggil aku Tuan lagi Nona, panggil saja namaku Boby. Biar semakin akrab gitu!" mengedipkan mata dengan khasnya. "Kita berteman kan?"
"Baik lah, Boby. Aku masuk dulu ya? sekali lagi terima kasih?" Sonia melangkah ke lain arah setelah keluar dari lift.
"Nona ... aku tunggu di lobby besok?" pekik Boby, Sonia hanya menoleh dan memberikan senyuman manisnya. Kemudian sedikit mempercepat langkahnya. Agar segera sampai di apartemen yang ia tinggali.
Setelah membuka pintu. Sonia melangkah mendekati saklar dan menghidupkan lampu, mengamati sekitar ruangan yang sepi.
Dirinya memasuki kamar menyimpan tas di atas nakas, kedua kaki ia langkahkan ke kamar mandi tuk bersih-bersih.
"Lelah sekali hari ini." Gumam. Sonia menyalakan keran mengisi bathtub, kali ini ia ingin sekali berendam merealisasikan tubuhnya.
Kira-kira dua puluh menit kemudian, Sonia berdiri dan membersihkan diri memakai shower. Selesai memakai handuk, berjalan ke kamar mengambil baju.
Setelah mengenakan setelan baju tidur, menyisir rambut. Lalu mengenakan mukena sebelumnya menggelar sajadah, tuk melaksanakan salat isya.
Selesai, ia keluar kamar. Karena merasa lapar, Sonia mencari makanan di dapur. Membuka lemari pendingin namun di sana hanya ada bahan sayuran saja, Sonia mengambil bahan-bahan yang di butuhkan. Mulailah ia memasak,
Sekitar 20 menit, masakan Sonia matang dan siap di santap. Kini Sonia duduk di sebuah kursi meja makan menyantap makan malamnya dengan lahap, di akhiri dengan segelas air putih. Sonia membawa bekas makannya ke wastafel dan mencucinya.
Ting ... suara pesan masuk di ponsel miliknya, ia mengeringkan terlebih dahulu tangan yang basah. Lalu merogoh saku mengambil ponsel. Ia lihat pesan singkat, dari sang kekasih.
^^^Zay: "Apa kabar Nia? kau sudah lupa ya sama diriku yang selalu merindukanmu?"^^^
^^^Zay: "Kabarku kurang baik.''^^^
^^^Sonia: "Kenapa. Bang sakit? sakit apa?"^^^
^^^Zay: "Aku sakit, menahan rindu di dalam dada, rindu padamu."^^^
^^^Sonia: " Gombal, aku kira beneran Abang sakit? hi hi hi ....''^^^
Sonia senyum-senyum sendiri setelah membaca pesan singkat itu. Lama tak ada balasan lagi, kemudian Sonia menelpon keluarganya tuk menanyakan kabar sang ayah
Telepon pun tersambung, namun tak lekas ada yang menjawab.
^^^Sonia: "Halo?"^^^
^^^Sindy: "Iya Kak?"^^^
^^^Sonia: "Sindy, Ibu mana? Kakak mau bicara sama Ibu?"^^^
^^^Sindy: "Ibu di rumah sakit, aku berada di rumah Kak."^^^
^^^Sonia: "Gak bawa handphone?"^^^
__ADS_1
^^^Sindy: "Ya ... enggak lah, orang aku yang pegang. Gimana sih?"^^^
^^^Sonia: "Uang transferan sudah sampai belum?"^^^
^^^Sindy: "Nggak tahu, tanya aja sama Ibu!"^^^
Sonia menggaruk kepala yang tak gatal, lalu menggelengkan kepalanya.
Sonia: "Ya sudah, kalau nanti Ibu atau kamu kesana. Kasih tau aku ya? Kakak mau bicara sama Ibu."
^^^Sindi: "Baiklah."^^^
Dengan nada malas, lalu sambungan telepon di tutup oleh Sindy.
"Aish ... nih anak belum mengucap salam, sudah main matikan saja," gumam Sonia lalu menyimpan ponselnya.
...----------------...
Keesokan harinya. Seperti biasa Sonia mau berangkat kerja dan tengah berjalan ada yang menyapa.
"Hi ... Nona cantik ... pagi?" sapa seseorang.
Sonia menoleh ke arah sumber suara. "Pagi juga tuan Boby," sahut Sonia dengan seulas senyumnya.
"Eitt ... sudah ku bilang jangan panggil aku tuan. Tapi Boby," sembari memutari Sonia yang berdiri.
"Oh iya Boby," Sonia mengangguk pelan.
"Gitu dong, yuk kita jalan. Naik mobil ku saja," ucap Boby berjalan berdampingan dengan Sonia.
"Tapi ... biar aku naik taksi aja, takut merepotkan." Sonia merasa tidak enak.
"Siapa yang merasa direpotkan, justru aku senang. Bila bisa membantu seorang teman," membuka tangan dan senyuman nakalnya.
Sonia senyum tersipu, lalu mengikuti langkah Boby menuju parkiran dan mengambil mobilnya.
Sesampainya di parkiran, Boby membukakan pintu mobil mewahnya itu. "Silakan masuk Nona," mempersilahkan Sonia agar masuk duluan.
Sonia merasa terpukau akan kelakuan Boby padanya, "Terima kasih Tuan. Ups Boby!"
Lanjut keduanya saling mengulum senyumnya masing-masing ....
...🌼---🌼...
Bersambung.
__ADS_1