
"Katanya sih, dua-dua ... dua puluh juta dan itu baru perkiraan." Sonia sedikit ragu-ragu.
"Oh," Hera santai. "Hah? itu duit semua, kan Bukan daun Nia?" kata Hera menatap tajam, Sonia semakin merasa sedih dan bingung. Kalau Hera tak bisa membantu, ia harus minta tolong sama siapa lagi?
"Oke, aku akan kirimkan uang itu ke kampung buat pengobatan Paman, bagaimanapun juga dia itu paman aku. Namun itu tetap sebuah pinjaman yang harus kamu bayar Nia?" huam ... Hera menguap.
Sonia merasa lega. "Iya Hera aku pasti akan membayarnya satu saat nanti, makasih banyak her--"
"Sudah. Aku mau istirahat, capek," Hera mengibaskan tangannya. "Oya, kau jangan khawatir, besok aku akan kirim langsung uang itu." sembari berlalu ke kamarnya.
Sonia merasa bahagia mendengar kesanggupan Hera yang bersedia meminjamkan uang. Meskipun ia nantinya harus berusaha keras untuk membayar uang tersebut pada Hera.
Akhirnya Sonia pun masuk kamar untuk melanjutkan tidur yang tadi tak lelap, dengan perasaan yang setidaknya tidak terlalu cemas.
Pagi-pagi Sonia sudah siap ke butik tempat ia bekerja, yang sebelumya ia memasak buat sarapan. Tidak lupa buat makan Hera bila dia bangun nanti.
Sonia berjalan melewati lobi. "Pagi cantik?" sapa seorang pria, Sonia hanya mengangguk pelan sambil terus berjalan menuju jalan raya.
"Mau kemana Nona? kalau boleh aku tahu?" tanya pria tersebut yang belum tahu siapa namanya.
"Bekerja." Jawab Sonia. Terus saja berjalan sesekali melihat jam di layar ponsel miliknya.
Kini Sonia sudah berada di tepi jalan menunggu taksi, sementara pria yang tadi entah kemana perginya.
"Nona, mari masuk?'' rupanya pria tersebut membawa mobil. Dia memiringkan kepalanya dan membukakan pintu untuk Sonia.
Pria tersebut melirik jam di tangannya. "Nona, kalau kau masih menunggu taksi datang, yakin deh kau akan terlambat. Aku tahu kau bekerja di butik yang berada di jalan xx. Ayo aku antar, kebetulan aku akan lewat jalan sana." Pria muda itu sangat meyakinkan Sonia.
Sonia pun memang takut terlambat, akhirnya masuk ke mobil tersebut. Meski merasa ragu dan takut ini baru kali pertama ia nebeng mobil seseorang yang belum ia kenal pula.
Pria muda tersebut mengerti akan kecemasan gadis cantik di sampingnya. "Kau tak perlu takut aku sudah jinak kok gak gigit lagi." ucap pria tersebut terkekeh sendiri. Sembari mengemudi, Sonia pun ikut tersenyum mendengarnya.
"Gitu dong tersenyum, kan cantik?" goda pria muda itu, Sonia hanya melihat jalanan dari balik jendela.
"Oya, kenalkan nama aku Bobby. Keturunan Indonesia sama dengan dirimu," ucap Bobby sok kenal gitu, ya mungkin memang sifatnya begitu banyak bicara dan ramah.
"Aku Sonia." Dengan seulas senyum di bibirnya, begitupun dengan Bobby tak lepas dari senyum manisnya.
__ADS_1
"Senang berkenalan dengan dirimu Nona, lain kali boleh dong kita berbincang atau apa gitu? eits jangan takut dulu aku bukan penculik. Untuk di jual apa lagi di terkam, tapi aku mencari sahabat yang asik. Di ajak bicara, mengobrol, dan--"
"Setop, aku turun di sini aja. Makasih banyak atas tumpangannya Tuan Bobby," ucap Sonia memotong perkataan Bobby.
Bobby pun menepikan mobil mewahnya, dan akhirnya Sonia turun. Tak lupa mengucapkan terima kasih, dan melambaikan tangan. Sonia bergegas masuk ke butik tempat ia bekerja.
"Met pagi teman-teman?" sapa Sonia pada teman sekerjanya yang juga baru datang.
Sonia langsung mengerjakan tugasnya di sana, melayani setiap pembeli dengan sabar. Siang hari, kira-kira jam makan siang Sonia ingat akan orang tuanya.
Sebelum melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, Sonia menelpon Hera untuk menanyakan perihal uang tersebut padanya.
^^^Sonia: "Halo?"^^^
^^^Hera: "Ada apa Nia? aku baru makan nih?"^^^
^^^Sonia: "Maaf Her, aku mau menanyakan uang--"^^^
^^^Hera: "Sudah, tenang saja. Sudah aku kirim ke kampung untuk mengobati pamanku, karena ... sepertinya segitu gak bakalan cukup. Aku kirim saja 50juta."^^^
^^^Sonia: "Hah."^^^
"Aku kerja, baru mau sebulan. Tapi hutang aku sudah menumpuk begitu? dari mana aku membayarnya?" batin Sonia kalut, kacau.
^^^Sonia: "Oh ya sudah dulu, nanti kita bisa bicara lagi. Terima kasih banyak Her?"^^^
Sonia mengakhiri sambungan teleponnya dengan Hera.
Setelah sholat. Baru Sonia makan siang bersama rekannya, di restoran terdekat.
"Kenapa kau murung saja wajahmu Nia? sakit apa?" tanya seorang teman bernama Cery.
"Ah, aku baik-baik saja kok." Sonia menepuk kedua pipinya, ia memang sehat cuma pikirannya saja yang kacau. Kurang sehat memikirkan Keluarganya di kampung.
"Tapi, kau terlihat pucat?" sambung Cery sembari meneliti.
"Aku tak kenapa-kenapa Cer, santai aja." Sonia berpangku tangan di atas meja.
__ADS_1
Setelah makannya abis Sonia beranjak, tak lupa meneguk minuman di gelasnya.
"Yo, ke tempat kerja. Keburu siang nih entar di marahi big bos." Sonia berjalan di ikuti Cery.
Dan mempercepat langkahnya memasuki butik tempat ia bekerja.
Di sana sudah ramai pengunjung, dan Sonia harus melayani wanita yang sudah berumur, namun rupanya sudah berlangganan di sana.
"Kau baru kerja di sini ya Nona? kok saya baru melihat dirimu?" tanya wanita tersebut.
Sonia tersenyum ramah, dan mengangguk. "Iya Oma, masih baru!"
Sonia mengambilkan semua barang yang Oma tunjukan, dengan sabar menghadapi oma yang supper bawel itu. Minta ini, di kasih salah, minta itu di ambilkan lain. Beberapa puluh kali masih seperti itu.
"Huff," Sonia menarik nafas dengan kasar. "Sabar-sabar Nia." gumam gadis itu dalam hati.
Kemudian menghampiri seorang ibu sekitar usia empat lima tahun. "Silahkan nyonya?" Sonia mengangguk hormat.
Di balas dengan senyuman dari wanita tersebut, mendekati oma-oma yang kini tengah duduk di sofa. Mungkin beliau merasa capek. "Ibu jangan membuat bingung pelayan di sini kasihan."
Sonia berpikir. "Oh, mungkin beliau Ibunya nyonya itu." Gumam Sonia tersenyum ramah pada kedua wanita tersebut.
"Nona saya butuh dress warna nevi itu, tolong ambilkan?" pinta nyonya itu.
"Baik nyonya saya ambilkan," Sonia sudah mengambil dan memberikan kepada nyonya yang meminta dress tersebut.
"Ini pasti cocok di tubuh nyonya, silahkan mencobanya." Sonia menyodorkannya, yang langsung di sambut oleh nyonya itu.
Dan di bawanya ke ruang ganti, benar saja dress tersebut sangat cocok meski sudah berumur. Namun masih terlihat sangat cantik dan elegan.
Sonia melihat dengan senyuman kagum. "Kau kagum ya melihat anak saya yang masih sangat cantik?" ucap oma itu, di balas anggukan dari Sonia.
"Sudah, saya ambil beberapa dress tolong di kemas dengan rapi ya Nona?" pinta nyonya tersebut.
Sonia menuruti permintaan konsumennya dan mengantar ke bagian pembayaran ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mana dukungannya nih, lupa subscribe like dan komen ya terima kasih.