Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Kotor


__ADS_3

Perasaan Sonia yang begitu berdebar-debar, di detik-detik dia mau bertemu dengan keluarganya.


Sonia berdiri tidak jauh dari rumahnya yang waktu itu dia tinggalkan dan sampai sekarang masih tetap seperti itu belum direnovasi. Dan di sana tampak sepi, sementara Sonia percaya! setidaknya ayah dan Cindy ada di rumah, karena mereka masih kurang sehat.


Langkah Sonia terus menuju rumah yang menjadi tempat tinggalnya dulu, dan dia dibesarkan! dengan perasaan yang tidak menentu dan harap-harap cemas, orang tuanya pasti menyambut kedatangan dia dengan bahagia.


"Assalamu'alaikum ... Ibu, Ayah ... Cindy? ada di rumah kan!" suara Sonia dengan agak tinggi sambil berdiri di depan pintu yang tertutup.


Setelah menunggu beberapa saat tidak juga ada yang menyahut dari dalam. Membuat Sonia bertanya-tanya dalam hati, apakah benar-benar rumahnya kosong? tapi di halaman banyak jemuran yang Sonia yakini adalah jemuran keluarganya sendiri.


"Kok sepi ya? apakah nggak ada orang di rumah satupun." Tanya Sonia dalam hati sembari celingukan ke kanan dan kiri.


Lalu tangannya mendorong handle pintu yang ternyata dikunci dari dalam. Sementara tidak ada orang satupun yang dapat Sonia bisa menanyakan tentang keluarganya! karena dalam hatinya tetap ingin membikin surprise, kalau telepon dulu jatuhnya bukan surprise.


Kemudian Sonia mengayunkan langkahnya dan berniat untuk mendatangi pintu belakang. Namun ketika sampai di sana sama aja pintunya tidak dapat didorong dari luar.


"Ya Allah ... pada ke mana sih? kalau ibu dan adik-adik yang lain sekolah, kemungkinan memang nggak ada di rumah. Tapi kalau ayah dan Cindy bukannya mereka lagi sakit! mereka berdua pasti ada di rumah.'' Sonia terus bermonolog dalam hati sambil kepalanya tengok kanan dan kiri.


Lalu Sonia membalikan tubuhnya mendatangi sebuah rumah yang berwarna cat ungu, salah satu tetangganya! ingin menanyakan keberadaan orang tuanya.


Kemudian Sonia mengucap salam di depan pintu rumah tetangganya. "Assalamu'alaikum ... apakah ada orang di dalam?"


Dan tidak lama kemudian pintu pun terbuka, datanglah seorang ibu yang langsung menetap ke arah sana, lalu ibu itu menyambut dengan antusias kedatangan Sonia.


"Wa'alaikum salam ... sebentar-sebentar, saya merasa kenal. Ya ampun kamu Sonia! beneran kamu Sonia? sudah pulang? ya Allah tambah cantik tambah bening ...."


Sonia dan ibu itu saling berpelukan cepeka-cepiki. "Apa kabar mu, beneran aku soalnya aku baru saja datang gimana kabar Ibu?"


"Alhamdulillah ... kabar baik, gimana kabar sebaliknya. Kamu tambah cantik! bening dan sering mengirimkan uang yang banyak untuk keluarga mu! hebat kamu lah sekarang sudah banyak uang, yang sudah kamu kirim-kirimkan pada orang tua mu." Ujar ibu itu dengan panjang dan tatapannya begitu meneliti ke arah Sonia.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... Bu ... mungkin rezeki orang tuaku!" jawabnya Sonia.


Kemudian ibu itu mengajak Sonia untuk masuk, namun Sonia menolaknya dan langsung menanyakan keberadaan orangnya.


"Oh ya, kapan kamu datang? masuk dulu yok?" ajak ibu itu.


"Aku baru saja datang, justru aku ke sini ingin menanyakan pada ke mana ya? kok rumah ibu ku sepi banget. Sudah berapa kali aku mengucap salam dan mengetuk pintu. Nggak ada yang jawab satupun, dan sepertinya dikunci pintu depan maupun pintu belakang sama!" Sonia menoleh ke arah rumah orang tuanya.


"Oh baru datang, baru turun dari bandara ya?" tanya si Ibu yang usianya tidak jauh dari Ibu Melani.


"Hooh, Bu ... baru turun nih." Sonia mengangguk dan membenarkan.


"Emang di rumah mu gak ada siapa-siapa?" ibu itu malah bertanya balik.


"Nggak tahu, Bu, yang jelas aku sudah berapa kali ucap salam dan nggak ada jawaban! tak satu orang pun, pintunya dikunci," jawabnya Sonia dengan menunjukkan wajah cemasnya.


"Kok saya nggak tahu, ibu mu nggak cerita kalau kamu mau pulang!" ucap si Ibu kembali.


"Ya udah, yuk sama ibu jalan ke ke sana, perasaan sih ada di rumah! ayahmu dan Cindy itu ada di rumah, kan mereka belum sehat betul jadi ayah mu nggak bisa bekerja dan adikmu juga Cindy belum bisa sekolah, karena tangannya masih cedera." Si ibu berjalan dan menggiring Sonia.


"Iya, yang ku dengar emang seperti itu, makanya aku kirimkan uang buat mereka. Karena Ayah tidak bisa bekerja Cindy juga kecelakaan. Harus ganti ini itu tambah Sonia.


"Ayah mu bolak-balik ke rumah sakit, belum lama setelah itu Cindy tabrakan bawa motor orang, udah dia cedera! motor juga rusak yang ditabrak juga rusak. Jadinya harus ganti rugi bukan cuma uang tapi dirinya sendiri," timpal si Ibu tersebut lalu mereka berdiri di depan pintu depan rumahnya Pak Amin.


"Assalamu'alaikum, Pak Amin?Cindy? kalian ada di rumah gak! ini Sonia pulang." Pekik si ibu dengan suara yang sangat kencang.


"Kalau ibumu jam segini dia masih bekerja dan adik-adikmu juga yang laki-laki masih sekolah, jadi yang di rumah setiap harinya ... ya ayah mu sama Cindy." Si Ibu melirik ke arah Sonia.


"Iya, Bu. Itu pasti, Iman, Rendy dan lucky pasti masih di sekolah. Apa Ayah sama Cindy sedang tidur kali ya?" Sonia mengalihkan pandangannya ke arah daun pintu.

__ADS_1


Yang akhirnya terdengar juga derap langkah dari dalam, mendekati pintu tersebut dan blak ... pintu pun terbuka.


Tampak Cindy dengan muka bantalnya dan tangan kanan menatap ke arah luar mengedarkan pandangan ke arah Ibu tetangga dan Sonia bergantian. Dia tampak biasa saja.


"Cindy?" Sonia yang merasa kangen banget kepada sang adik langsung menyeruak dan ingin memeluknya.


Namun apa yang terjadi? Cindy malah menghindar dan mundur Berapa langkah dengan menunjukan wajah yang tidak suka kepada sang kakak.


Menjadikan Sonia yang merasa heran. "Aku kangen sekali sama kamu! itu tangannya masih belum sembuh ya?" suara Sonia yang ditunjuk pada tangan Cindy.


"Iih, ngapain sih peluk-peluk? kotor tahu, jijik." Cindy melihat Sonia bagai melihat sesuatu bangkai yang najis, belum lagi ekspresi wajahnya yang tampak sangat muak.


"Kamu kenapa? emangnya aku kotor apa? sehingga kamu nggak mau aku peluk kamu, risih karena kamu sekarang sudah besar atau mungkin sekarang sudah punya pacar ya?" Sonia sedikit menggoda.


"Jangan, jangan bercanda! karena aku tidak lagi bercanda. Kamu itu kotor, hina. Menjijikan lihatnya, terus kenapa sekarang pulang? kenapa sekalian aja tinggal di sana!" katanya Cindy sembari menatap tajam ke arah Sonia.


"Kakak pulang, karena Kakak kangen sama kalian semua. Ibu mana dan adik-adik?" tanya Sonia kepada Cindy dan dia belum juga masuk ataupun duduk, pandangan matanya masih mengamati ruangan tersebut yang belum ada perubahan.


"Sonia, Ibu mau pulang dulu ya? nanti lain kali main ke rumah." Ibu tadi berpamitan pada Sonia.


Dan Sonia pun berterima kasih karena sudah mengantarkannya ke rumah, lalu Sonia memberikan berapa lembar uang kepada si Ibu yang tentunya si Ibu sangat terima kasih banyak juga kepada Sonia .


Cindy menatap ke arah si Ibu yang pergi, untuk pulang ke rumahnya di sebelah, lalu dia berkata. "Ibu sedang bekerja dan adik-adik belum pulang sekolah!"


Pandangan Sonia terus menyisir ke ruangan tengah yang masih seperti dulu itu, kemudian dia pun masuk ke dalam kamarnya yang ternyata sudah dijadikan gudang. Dengan barang-barang yang entah apa itu sangat berantakan.


Sonia mengalihkan pandangan ke arah sang adik, kenapa kamarnya di jadikan gudang ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Mohon dukungannya ya agar aku tetap semangat berkarya. Makasih


__ADS_2