Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Butuh duit


__ADS_3

Sonia mulai membuka laci, yang ada di dapur. Sonia berinisiatif memasak mie, untuk berdua dengan Hera, setelah masak ia menyiapkannya di meja. Kemudian mereka berdua makan bersama.


"Sekarang kamu tidur aja. Besok aku antar kamu ke tempat kerja," ucap Hera sambil mengunyah,


"Iya, Her." jawab Sonia yang fokus dengan makannya.


Kemudian mereka masuk kamar masing-masing, kini Sonia sudah berada di kamarnya. Membaringkan tubuh di atas kasur, sesaat Sonia melamun.


"Dulu Hera bilang mau pekerjakan aku jadi asisten, sekarang katanya di toko, bahkan dia sendiri di Bar, aduh ... jadi pusing." Gumam Sonia sambil menggeleng pelan.


Beberapa saat kemudian kantuk pun menyerang, akhirnya Sonia terlelap ke alam mimpi.


Pagi-pagi Sonia dan Hera sudah siap-siap, sebelumnya sarapan terlebih dahulu. Roti yang Hera dan Sonia siapkan sebelumnya.


Makan pun selesai, Hera masuk kamarnya sebentar! tak lama kembali membawa tas kecil miliknya.


Sementara Sonia mencuci piring bekas makan barusan.


"Yo, berangkat," Hera berjalan duluan, diikuti Sonia dari belakang. Hera menutup pintu apartemennya, berjalan menuju lift. Setelah masuk ke dalam lift Hera menekan tombol ke lantai dasar.


Di lobi banyak orang berlalu lalang, berpapasan dengan Hera dan Sonia, beberapa mata mengamati Sonia. Hingga Sonia merasa heran, apa sih yang salah dengan dirinya.


"Hera ... apa ada yang salah dengan diriku ya? sehingga mereka seolah memperhatikan ku?" bisik Sonia pada Hera yang acuh.


"Nggak ada, biasa aja kok," kata Hera setelah mengamati penampilan Sonia.


"Ma-massa sih?" Sonia heran, sambil mengangkat bahunya.


Hera dan Sonia sudah berada di dalam taksi, Sonia anteng bengong. Malamnya.


"Bengong aja mikirin apa sih?" tanya Hera.


Sonia masih aja anteng." Woy ... Melamun?" akhirnya Hera membuyarkan lamunan Sonia.


Mata Sonia menggercap, menoleh Hera. "A-apa Hera?"


"Kamu mikirin apa sih, bengong aja dari tadi?" ulang Hera.


"Nggak, nggak mikirin apa-apa kok." Jawab Sonia nyengir,


Tak selang lama di jalan, mereka sudah sampai di depan sebuah butik yang lumayan besar. Sambil jalan mengikuti Hera, Sonia mengamati gedung tersebut. Hera memasuki sebuah ruangan manajer di butik tersebut.

__ADS_1


"Pagi Tuan?" Hera mengangguk hormat, pada orang tersebut, di sambut dengan anggukan. Dan mempersilahkan untuk duduk, Hera duduk yang sebelumnya berjabat tangan.


"Kenalkan, Tuan, dia Sonia yang saya ceritakan tempo hari itu," kata Hera perkenalkan Sonia pada Bos butik tersebut.


"Oh, ok," manajer tersebut melihat Sonia yang berdiri di samping Hera, dari mulai atas kepala sampai kaki di tatapnya dengan intens. Setelah puas melihat Sonia. "Silakan duduk." Suruhnya pada Sonia.


"Terima kasih, Tuan?" Sonia mengangguk hormat, dan duduk di samping Hera.


"Hari ini kau mulai bekerja, bisa? intinya sih kau menjadi penjaga butik. Namun nanti orang saya memberi tahu tugas apa aja yang harus kamu kerjakan." Kata Tuan Erwan pada Sonia.


"Baik Tuan," sahut Sonia.


Hari ini Sonia mulai bekerja di sebuah butik ternama, di kota tersebut. Dengan bimbingan seniornya, Sonia bisa mengerjakan dengan baik semua tugasnya.


Sudah tiga minggu Sonia kerja di butik tersebut, dia sangat menikmati rutinitasnya sebagai penjaga butik di sana. Dengan keramahan dan kecantikan wajah, serta tubuh yang sangat ideal. Membuat terkadang ia di jadikan model pakaian.


Kini Sonia tengah berdiri di tepi jalan menunggu taksi karena mau pulang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Tak selang lama, Sonia sudah berada di apartemen milik Hera. Hera sendiri paling sore pulang pukul sebelas malam, lebih normalnya pukul satu atau dua malam baru pulang. Sonia memasak buat ia makan malam.


Sonia melahap makan malamnya dengan nikmat, tiba-tiba ponsel Sonia berdering. Ia segera merogoh sakunya mengambil ponsel.


^^^Sonia: "Halo ... Assalamu'alaikum Bu ... apa kabar?"^^^


^^^Bu Melani: "Wa'alaikum salam ... Nia, Bapakmu masuk rumah sakit."^^^


^^^Sonia: "A-apa bu? Ba-bapak masuk rumah sakit? sakit apa bu, dari kapan?"^^^


Sonia begitu terkejut mendengar Bapaknya sakit. Padahal sebelumnya bapak Sonia baik-baik saja. Bu Melani terdengar semakin terisak.


^^^Bu Melani: "Iya Nia, sudah satu minggu, di rumah sakit. Ibu bingung Nia ... di rawat kan butuh duit yang banyak."^^^


Sonia pun tidak kuasa ikut menangis. Mendengar sang bunda yang terisak tersebut.


^^^Sonia: "Bapak Sakit apa Bu?"^^^


^^^Bu Melani: "Bapak sakit ginjal, hik hik hik ...."^^^


^^^Sonia: "Ya Allah ... Bu?"^^^


Semakin deras air mata berjatuhan di pipi Sonia. Tangis bu Melani pun terdengar semakin menjadi.

__ADS_1


^^^Sonia: "Terus gimana bu sekarang?"^^^


^^^Bu Melani: "Semakin parah Nia, hik hik hik ...."^^^


Sonia: "Bu obati Bapak sampai sembuh, soal biaya. Nia yang akan usahakan Bu."


Sonia menghela nafas sembari menyeka air matanya.


^^^Sonia: "Bu. Jangan khawatir, yang penting Nia bisa berusaha untuk kalian, Ibu doakan aja ya? Nia akan berusaha untuk keluarga Nia."^^^


^^^Bu Melani: "Ya sudah, Nia Ibu tutup dulu ya teleponnya? Assalamu'alaikum."^^^


^^^Sonia: "Wa'alaikum salam."^^^


Sonia berpikir keras gimana caranya supaya mendapat uang untuk pengobatan orang tuanya. Ia melihat jam baru pukul sepuluh, Hera masih lama pulangnya.


"Ya Tuhan ... aku harus gimana?" Sonia mengusap wajahnya dengan kasar, frustasi sekali. Kemudian beranjak menuju kamar mandi mau mengambil air wudhu tuk sholat asya.


Di dalam doa Sonia menangis, meminta petunjuk. Gimana caranya agar dia bisa mendapatkan uang dan mengirim untuk orang tuanya.


Setelah melipat mukenanya Sonia menghempaskan tubuhnya di kasur, ia gelisah memikirkan keluarganya di kampung. Tertidur tapi tak lena.


Pukul 02.00 setempat Hera baru pulang, Sonia yang mendengar kepulangannya langsung menghampiri, karena kalau bukan sekarang mau kapan lagi? sebab ketika pagi Sonia berangkat kerja adalah waktunya Hera istirahat.


"Maaf Hera ada yang ingin aku bicarakan penting." Sonia menatap Hera yang nampak lelah.


"Sepenting itukah?" Hera mendudukan tubuhnya di sofa, yang diikuti oleh Sonia yang duduk di sampingnya Hera.


"Em ... begini Her, Bapak sakit keras katanya harus di operasi." Ungkap Sonia sambil meneteskan air mata.


"Lalu?" Hera santai. "Oya aku tahu kau pasti butuh duit, kan Nia?"


"I-iya Hera, aku gak tahu harus minta tolong sama siapa kecuali sama kamu. Hik hik hik!" Sonia merasa sangat pilu mengingat ia baru beberapa minggu bekerja, jadi belum sempat menerima gaji. Tiba-tiba Ibunya memberi kabar buruk sekaligus minta uang untuk pengobatan bapaknya.


"Emang berapa butuhnya, kau tahu kau akan berhutang banyak sama aku?" Hera menyangga kepalanya dengan tangan siku di bahu sofa.


"Aku tahu Hera, sekarang aja aku sudah banyak merepotkan mu. Berhutang padamu," Sonia menatap sayu Hera yang tampak lelah sekali.


"Berapa butuhnya?" tanyanya Hera yang duduk menghadap Sonia.


Sejenak Sonia terdiam membisu melihat sahabat+saudaranya itu ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa subscribe di tiga titik atas ya, makasih.


__ADS_2