Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Keluarga


__ADS_3

Kini Leo sudah berada di dalam kamarnya sedang melita sajadahnya. Lalu dia bersiap mengenakan pakaian formalnya untuk pergi ke kantor.


Sementara Sonia sedang beres-beres, menyapu dan mengepel setiap ruangan dan dia belum sempat membuat sarapan.


"Sarapan ku mana?" Leo menoleh ke arah Sonia yang sedang merapikan meja.


"Sarapan, aku belum membuatnya! dan kamu nggak bilang untuk dibuatkan sarapan. Aku kira kau akan sarapan di luar." Sonia menolehkan kepala pada pria tersebut.


"Ck. Biarpun aku nggak minta, kalau sarapan itu wajib ada. Apapun itu dan sekarang bikinkan saya roti bakar saja, pakai telur mata sapi setengah matang." Pintanya Leo kepada Sonia yang tampak sibuk.


"Aish ... Iya sebentar bikinkan!" Sonia pun akhirnya beranjak dan menuju dapur untuk membuat roti bakar di tambah telur mata sapi.


"Jangan lama-lama, Sudah siang nih!" pintar kembali Leo.


"Iya!" Pekiknya Sonia namun pelan. "Bawel amat sih jadi orang." batinnya Sonia.


Kini Sonia sedang berkutat dengan wajan di dapur, menyiapkan roti bakar serta telur mata sapi yang sangat sempurna. Kemudian setelah siap, disajikan di meja tepat di hadapan Leo yang sedang menikmati teh hangat buatan nya sendiri.


"*ni roti bakarnya dan telor ceploknya, silakan dinikmati!" ucapnya Sonia sembari berdiri tidak jauh dari Leo.


Leo melirik ke arah Sonia, menatap rambutnya yang masih terlihat basah. Bibirnya sedikit ditarik mengingat apa yang tadi dia lakukan.


Sonia menggerakan matanya seakan bertanya, ada apa melihatnya seperti itu?


Suasana begitu hening, yang terdengar suara garpu yang bertemu piring. Tek tok. Tek tok.


Tiba-tiba terdengar suara bel dari luar. Membuat Sonia dan Leo saling bertaut pandangan, Sonia seraya bertanya-tanya siapakah yang datang? karena kalau Dino gak mungkin memijat bel, orang dia suka masuk sendiri. Tau-tau sudah berada di dalam biasanya juga.


"Apakah aku harus membukanya?" tanya Sonia sembari menatap ke arah Leo.


Dan Leo pun mengangguk setuju, lalu mengalahkan pandangannya ke arah daun pintu.

__ADS_1


Sonia pun berbalik menginginkan langkahnya menuju sumber suara, di mana sudah terdengar lagi suara bel yang di bunyikan dari luar.


Sejenak Sonia berdiri di depan pintu tersebut, sembari menghela nafas dengan dalam-dalam. Kemudian dia menarik handle pintu dan membukanya. Tampak di depan pintu, dua wanita dan satunya yang masih sekitar usia 48 tahunan berdiri di depan pintu dan yang satunya memunggungi. dan yang satunya itu melihat ke arah Sonia.


Wanita itu merasa heran, kenapa wanita muda yang tempo hari berada di butik dan sekarang ada di apartemennya Leo.


"Kamu yang kerja di butik tempo hari kan? kenapa sekarang ada di sini?" tanya wanita yang sebelumnya memperkenalkan dirinya sebagai nama Elsa.


"Em ... Iya nyonya aku ... aku, di--"


"Ya Mah, dia adalah istri ku. Maaf aku nggak memberitahu kalian sebelumnya!" Leo menghentikan perkataan dari Sonia yang membuat semua terkejut wanita yang di depannya itu.


Apalagi yang satu lagi yang langsung membalikan tubuhnya dan menatap sangat tajam ke arah Leo dan Sonia. "Apa? kamu sudah menikah, kapan dan dengan siapa?" tanya wanita tua itu menajamkan pandangannya pada Leo juga Sonia.


"Iya Oma, aku sudah menikah dan dia istriku! namanya Sonia!" jawabnya Leo dengan sangat tegas kemudian menyilakan kedua wanita tersebut untuk masuk.


"Kamu menikah tidak memberitahu kami, lancang sekali kamu, Leo. Kamu tidak menganggap kami orang tuamu. Dasar anak muda mentang-mentang bisa mengerjakan semuanya sendirian, sehingga hal besar pun tidak kami ketahui"


"Maaf. Oma, aku rasa waktunya sangat mendadak dan aku tidak sempat memberi kalian kabar perihal kebahagiaan ku ini. Tapi percayalah aku berniat besok lusa akan membawanya ke mention kita, memperkenalkannya dengan mu." Jawabnya Leo sembari menatap ke arah dua wanita itu bergantian.


"Ya ampun ... hari yang bersejarah saja, sampai-sampai kami tidak mengetahuinya," timpal seorang ibu yang lebih muda yang tiada lain adalah ibunda dari Leo.


"Tidak usah khawatir mah ... Yang penting semua baik-baik saja!" jawabnya Leo kembali dengan wajah yang sangat serius.


Bu Elsa menatap Sonia yang sedang menunduk dalam, bagaimanapun dia masih ingat kalau Sonia ini gadis yang pernah dia temui di salah satu butik dan dia sudah menunjukkan sikap baiknya, ramah dan tulus.


"Kamu itu pendatang bukan? maksud saya kamu orang luar Negeri ini bukan?" tanya Bu Elsa yang ditujukan kepada Sonia.


Sonia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Bu Elsa seraya berkata. "Benar. Nyonya, saya dari Indonesia Saya belum genap setahun ini duduk di Negara ini."


"Hem ... kau enak kan di sini dengan kemewahan yang ada. Sejak kapan kau mengenal cucuku?" kini ibu Monalisa yang mengintrogasi Sonia dengan tatapan yang lebih tajam dan menyelidik.

__ADS_1


Sonia menoleh ke arah Leo, yang sedang kepikiran dan melihat ke arah ketiga wanita tersebut. Ternyata keluarganya sudah mengenal Sonia lebih dulu ketimbang dirinya.


"Kami saling mengenal belum lama ini, Oma ... oke! baiklah ... karena aku harus ke kantor. Kalian mengobrol lah!" Leo beranjak dari duduknya sembari merapikan setelannya.


"Mau ke mana kamu? baru saja kami datang kau sudah mau tinggalkan, apa tidak kangen sama Oma? menemui Oma tidak, sekarang Oma datang ke sini kamu seperti itu, kurang ajar sekali aku punya cucu." Ibu Monalisa merepet bagai petasan yang telah dibakar.


"Dia mau ke kantor, Bu ... dan biarkan saja sekarang pergi bekerja. Kita punya teman bicara yaitu Sonia yang akan lebih nyambung. Lagian Leo bekerja dulu!" ucapnya Ibu Elsa kepada sang ibu.


"Iya, Oma ... aku harus kerja dan nanti siang aku kembali, kalau kalian masih di sini." Kemudian Leo mencium kedua pipi ibunda dan juga Omanya. Lantas dia pergi meninggalkan tempat tersebut.


Namun sebelumnya Dia berbicara pada Sonia. "Aku pergi dulu dan temani mereka, perlakukan dia seperti orang tuamu sendiri."


Sonia melirik ke arah kedua wanita tersebut bergantian lalu kepada Leo yang pada akhirnya dia mengganggu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kau pasti betah di sini kan? apartemen yang bagus ... hidup enak, fasilitas yang wah dikasih uang yang banyak juga--"


"Ibu ... jangan begitu juga bicaranya, tidak enak!"8 Ibu Elsa memotong perkataan Ibu Monalisa yang terdengar terlalu gimana gitu, sama Sonia.


"Tidak apa-apa, mungkin perkataan dari Oma itu adalah benar! Aku di sini sangat dimanjakan. Tetapi bukan aku yang minta! dia sendiri yang memberikan semuanya!" tuturnya Sonia dengan sangat lembut.


"Aku percaya kalau kamu itu adalah gadis yang baik-baik, dan putra ku tidak akan salah memilih dalam hal perempuan, apalagi berani sampai menikahinya segala! dia pasti hati-hati sekali." Elsa menyentuh tangan Sonia lalu diusapnya dengan lembut.


"Iya, memang saya tahu kalau dirimu itu gadis baik-baik. Tapi kan siapa tahu di balik itu ada udang balik bakwan--"


"Ibu, janganlah bicara seperti itu pada menantu! jagalah perasaannya, yang penting putra kita bahagia bersama dia," protes Bu Elsa yang tidak suka dengan ucapan dari ibu Monalisa yang terkesan menyudutkan Sonia.


Sonia menunduk dan mulai bermonolog, oh ini keluarganya Leo Oma dan ibu ini ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa dukungannya ya makasih.

__ADS_1


__ADS_2