Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Menunggu


__ADS_3

Setelah Sonia masuk dan duduk, dengan nyaman. Barulah Boby menutup pintunya lantas mengitari mobil dan membuka pintu untuknya, duduk dibelakang kemudi.


"Oke, kita siap meluncur." sebelumnya memasang sabuk pengaman terlebih dahulu.


Sepanjang perjalanan ada aja yang Boby bicarakan dan membuat Sonia tertawa lepas.


"Setop, itu Cery," suara Sonia dan menunjuk Cery yang berdiri di pinggir jalan. Sepertinya sedang menunggu taksi.


Boby menepikan mobilnya dekat Cery "Hi ... Nona apa kau sedang menunggu taksi?"


Cery melihat sebuah mobil menepi dan kaca jendelanya terbuka ternyata itu Boby bersama kawan kerjanya. "Bukan, saya sedang menunggu pesawat lewat. Siapa tahu mau membawa saya," ketus Cery sambil tertawa.


Sonia senyum simpul. "Masuk lah cepat, nanti kesiangan," titah Sonia sambil melambaikan tangannya.


Setelah mendengar ajakan Sonia, Cery menatap sang pengemudi ya itu Boby, dan Boby memberi isyarat dengan kepalanya agar Cery masuk.


Kemudian Cery masuk kemudian duduk di jok belakang. "Aku tidak mengganggu kalian kan?" ucap Cery menyimpan tas di sampingnya.


Sonia melihat kebelakang, dimana Cery duduk. "Ganggu apaan?"


"Ya ... kali aja," balas Cery sambil menyeringai.


"Nggak lah Nona Cery yang cantik, saya senang bisa membantu kalian," ucap Boby sembari memutar kemudinya.


"Apa, aku cantik, aah ... baru kali ini ada yang bilang aku cantik tuan, makasih banyak?" Cery merasa terpesona dengan ucapan Boby barusan.


Sonia tersenyum dan melirik Boby, begitupun dengan Boby mengulum senyumnya. "Sama-sama Nona."


Sesampainya depan butik, tempat Sonia bekerja. Mobil Boby menepi dan kedua wanita cantik itu pun turun. Berdiri di samping mobil Boby


"Terima kasih Boby?" ucap Sonia mengangguk hormat.


"Sama-sama Sonia," balas Boby mengangguk pula.


"Tuan ganteng makasih ya?" Cery mengedipkan mata dengan nakalnya.


Sonia menyenggol tangan Cery dengan sikunya. "Ih ... malu kamu ini?"


"Sama-sama Nona manis," Boby tak kalah nakalnya sambil menyeringai.


"Kenapa sih? menyemggol-nyenggol segala!" Cery mengusap lengan yang Sonia senggol barusan.


Mobil yang dikendarai Boby kembali melaju, Sonia dan Cery masuk ke dalam butik dan mulai bekerja.


"Sonia, kamu diharap menghadap ke kantor," ucap seorang kawan pada Sonia yang sedang memasang pakaian ke patung.


"Oh, iya makasih ya," dengan ramahnya. Kemudian dia meninggalkan pekerjaannya untuk menemui atasannya di kantor.

__ADS_1


Seorang wanita tua melenggok melihat-lihat barang yang ada di butik tersebut. "Saya ingin di layani oleh Pegawai yang bernama Sonia," ucap Wanita tersebut.


"Sonia ... dia lagi ke kantor Nyonya," sahut Cery menunduk hormat.


"Oh, benarkah?" Nyonya itu menatap Cery.


"Benar Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" Cery mengangguk.


"Ya sudah, saya akan menunggu dia." Jawab wanita tersebut.


"Silakan, dan permisi?" Cery ngeloyor pergi dari tempat tersebut untuk melanjutkan tugasnya.


Ibu tersebut duduk di sofa menunggu Sonia datang dan melayaninya.


Sonia kembali dengan buku besar di tangan, Cery langsung menghampiri.


"Ada apa sih di panggil, tidak ada yang serius kan?" Cery menatap Sonia penuh rasa penasaran.


"Oh, tidak, hanya soal kerjaan kok," sahut Sonia singkat.


"Oya, di sofa ada orang menunggu mu tuh. Katanya ingin dilayani sama kamu," Cery menunjuk ke arah sofa.


"Siapa? baiklah aku kesana dulu," Sonia melangkahkan kakinya ke arah yang Cery tunjuk.


"Yaps." Cery mengangguk.


Sonia melihat oma Monalisa tangah duduk di sofa. "Oma yang waktu itu, pegawai banyak kenapa harus nunggu aku sih," gumam Sonia dalam hati.


Oma Monalisa menoleh. "Eh ... kamu sudah datang, saya dari tadi nunggu kamu."


Sonia mengernyitkan keningnya. "Ada apa ya? apa saya ada salah sama Oma," dengan tatapan heran.


"Oh tidak, saya cuma mau berterima kasih sama kamu. Karena telah mengembalikan tas saya. Dan minta maaf, sebab saya telah berprasangka buruk sama kamu," ujar oma Monalisa.


"Eum ... sama-sama oma, dan tidak apa-apa kok. Oya, Oma sendiri kesini?" Sonia celingukan.


"Iya Oma sendiri, eh tidak tapi sama supir menunggu di mobil."


"Oh, oma mau pilih apa? aku mau bekerja lagi gak enak sama yang lain," ucap Sonia yang langsung berdiri, hendak meneruskan kerjaannya.


"Saya mau nyari pakaian buat cucu saya perempuan," sambil beranjak dari duduknya.


"Silahkan Oma?" Sonia mempersilahkan oma duluan berjalan.


Oma Monalisa berjalan ke arah pakaian anak perempuan, di ikuti oleh Sonia memberikan pilihan dan mengambilkan yang berada di atas. Melayani dengan sabar.


"Ih ... saya sih malas bila harus melayani Ibu itu, ribet orang nya. Bawel pula," nyinyir seorang pekerja senior.

__ADS_1


"Iya bener, saya juga ogah, bawel nya itu lho bikin telinga panas," timpal seorang lagi.


Sonia mendengar dan menoleh dengan seutas senyuman di bibirnya. Ia menggeleng serta menempelkan jari di bibirnya, agar teman-temannya tidak berisik. Bagaimana pun tamu adalah raja yang harus dilayani dengan baik.


Oma anteng memilihkan pakaian yang katanya buat sang cucu. "Sudah cukup, bawa semuanya ke kasir," ucap oma pada Sonia yang lantas menuruti dan membawanya ke tempat pembayaran.


"Ini oma total sekian juta," menunjuk setruk total pembayaran.


"Saya bayar dengan kartu kredit ini," memberikan sebuah kartu.


"Oke!" Sonia mengambil kartu tersebut.


Semua sudah rapi menjadi beberapa paper bag, Nyonya Monalisa menoleh Sonia. "Kau bisa tolong saya membawakan belanjaan ke mobil.


"Oh ... baiklah." Sonia mengangguk dan mengambil beberapa paper bag milik oma Monalisa keluar dari butik, menuju mobilnya.


Sesampainya di mobil, langsung di sambut oleh supir Nyonya Monalisa semua barang di masukan ke bagasi.


Oma membuka tasnya mengambil sebuah dompet. "Ini buat kamu jajan," menempelkan uang pecahan ke telapak tangan Sonia.


"Oma gak usah, karena sudah kewajiban kami melayani yang belanja," Sonia hendak mengembalikan uang tersebut. Namun oma kekeh, dengan alasan buat jajan.


Kemudian. Mobil melesat meninggalkan parkiran tersebut, setelah mobil menghilang. Sonia kembali masuk kedalam butik.


"Nia, kau mau makan di mana. Aku lapar nih," tanya Cery mendekati Sonia yang baru masuk.


"Aku ... makan di kantin aja, tapi setelah sholat dzuhur," ucap Sonia berjalan ke dalam.


Selepas melaksanakan sholat di masjid terdekat Sonia dan Cery mencari makan di kantin sebelah butik.


Cery mengaduk es di gelasnya. "Nia?" 


"Hem," gumam Sonia sambil makan.


"Kamu dekat banget sama si Boby, ada apa?"


 Sonia menaikan alisnya. "Hah ... ada apa, maksud kamu Cer?"


"Iya ada apa, pacaran atau apa kah?" sambung Cery serius.


"Oh ... cuma teman," sahut Sonia lagi.


"Cuma teman, bener?" Cery sangat penasaran.


"Iya, kenapa?" Sonia menatap heran.


"Ahh ... aku naksir dia, sangat ganteng. Ramah, baik hati lagi," Cery menerawang dengan wajah yang sangat terpesona dan berseri-seri ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Like komen dan lainnya ya jangan lupa. Makasih


__ADS_2