
Grung ... grung ....
Suara mobil yang baru saja datang ke halaman rumah dan Sonia langsung melihatnya! ternyata dari mobil itu keluarlah sang ayah, Pak Amin dan sang suami yaitu Leo.
Sonia langsung menyambut keduanya dengan senyuman manis. "Gimana lancar?" tanya Sonia pada suami nya tersebut.
"Alhamdulillah lancar! dan besok akan segera dimulai, gimana sudah dikosongkan belum rumahnya?" Leo Malah balik bertanya sembari mengecup kening Sonia dengan mesra.
"Rumah ini sudah kosong! semua barang-barang sudah dikeluarkan, dititipkan pada tetangga, itupun yang masih layak pakai. Kalau yang nggak, dibuang saja!" jawabnya Sonia sambil berjalan memasuki rumah tersebut yang memang sudah kosong! kecuali tempat duduk yang belum dipindahkan.
"Bagaimana, Yah. Dapat pemborongnya? dan juga bahan-bahannya sudah beli?" tanya sang istri pada Pak Amin yang langsung mengangguk.
"Semuanya sudah, tinggal Besok mulai dikerjakan." Jawabnya sang suami sembari mendudukkan dirinya di kursi yang ada! lantas mengambil gelas yang berisi air minum es dan makanan pun segera dia nikmati.
"Alhamdulillah ... kalau begitu! mudah-mudahan saja dalam pengerjaannya tidak lama ya, yah?" wajah bu Melani begitu sumringah, bahagia dan berharap mada pengerjaannya tidak terlalu makan waktu yang lama alias lebih cepat.
"Insya Allah akan lebih cepat dan paling lama satu bulan katanya, karena mereka akan menggunakan pekerja yang lebih banyak dan ahli." Jelasnya Pak Amin pada sang istri.
"Oh begitu ya? baguslah kalau begitu," Bu Melani mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian Leo menginstruksikan kalau semuanya sudah siap, untuk segera pergi ke hotel. Namun Sonia bilang tunggu dulu ketiga adiknya belum yang belum pulang sekolah dan perkiraan sebentar lagi juga mereka pulang.
Leo pun mengiyakan perkataan sang istri. Walaupun dia sudah tidak sabar hingga segera sampai di hotel, rasa capek dan penat mulai menyiksa dirinya! apalagi tentang ritual semalam belum tuntas banget, karena takut. Was-was ketahuan ataupun di dengar oleh orang rumah, menjadikan ritualnya tidak terlalu leluasa dan Leo ingin mengulangi nya lagi di hotel.
Sementara besok pagi dia pun akan segera terbang kembali ke Negaranya, dan dia tidak akan mengajak Sonia lebih cepat untuk kembali ke sana! sebelum rumah orang tuanya selesai.
Kalau saja tempat tinggal pak Amin selesai dan sudah bisa ditempati, barulah Sonia akan dibawa kembali ke Negara asal Leo. itulah kesepakatan Sonia dan Leo.
"Sudah tidak sabar nih ... ingin istirahat!" kata Leo pada Sonia yang duduk di sampingnya. "Sudah berat nih ingin melanjutkan yang semalam." Setengah berbisik.
"Iya sabar, sebentar lagi deh! tunggu adik-adik aku pulang!" jawabnya Sonia sembari mesem lalu celingukan keluar.
Cindy yang duduk tidak jauh dari mereka berdua, sesekali memperhatikan. Terutama ke arah Leo! pria tampan itu yang mencuri perhatiannya tersebut.
__ADS_1
Cindy menjadi terobsesi untuk memiliki apa yang kakaknya miliki. Dia pun harus mampu membuat dirinya bahagia dengan segala kemampuannya.
Jika Sonia mampu, kenapa Cindy tidak mampu? bahkan harus bisa lebih dari kakaknya. Itu yang menjadi obsesi Cindy saat ini.
Sonia beranjak mau ke belakang sebentar. Meninggalkan Leo yang terduduk di sana.
Cindy tersenyum tipis dan berasa mendapat ide cemerlang. Dia merintih kesakitan sambil memegangi tangannya yang masih di gendong.
"Aduh ... sakit! sakit banget nih!" rintihnya Cindy dengan suara yang pelan.
Namun terdengar jelas oleh Leo, sehingga pria itu menoleh ke arah adik iparnya tersebut. "Kamu kenapa?" tanya Leo sambil mengarahkan pandangannya pada Cindy.
"Ini tangan ku sakit ... sakit banget! bisa tolong aku, Kak?tolong dipijitin," kata Cindy sembari meringis.
Kemudian Leo mendekat, lalu duduk di dekat Cindy dan perlahan tangannya menyentuh tangan Cindy yang masih digendong itu. Dia meraba dan mengusap tangan Cindy dengan pelan.
Sindy tersenyum merasa penuh kemenangan! dan bahagia bisa menatap wajah pria tampan itu dalam jarak yang begitu sangat dekat.
"Aduh-duh, duh ... sakit!" Cindy semakin meringis setelah melihat kedatangan Sonia ke tempat tersebut.
"Kamu kenapa Cindy? apakah tangan mu sakit lagi?" tanyanya Sonia sembari menatap ke arah Cindy dan suaminya.
"Iya nih Kak, sakit tapi sekarang udah mulai baikan lagi kok!" jawabnya Cindy sembari menarik tangannya dari tangan Leo.
Leo pun menggeser posisi duduknya menjauh dari Cindy. Kemudian menyibukkan dirinya dengan benda pintar yang berada di sakunya itu.
Kemudian terdengar suara anak-anak pulang dari sekolah. Dan disambut oleh sang ibu agar mereka segera merapikan sepedanya, dan menitipkannya kepada tetangga! tentunya mereka heran namun setelah dijelaskan. Mereka pun mengerti Bahkan mereka merasa senang karena akan menginap di hotel selama rumahnya direnovasi.
Rendy, Iman dan Luky merasa senang karena mereka akan dibuatkan kamar untuk masing-masing dan tidak satu kamar lagi bertiga.
"Apa kalian senang akan di buatkan kamar masing-masing?" tanya Sonia pada ketiga adiknya.
"Iya dong ... Kak, aku senang aku bahagia sekali, jadinya kita tidak berdesakan bila tidur dan barang kami pun tidak tertukar ataupun menyatu!" jawabnya Iman kepada Sonia.
__ADS_1
"Kalian tenang saja. Nanti kalian punya kamar masing-masing. Agar barang-barang kalian pun tidak tertukar kan? bahkan setiap kamar pasti ada kamar mandinya. Oke!" kata Leo dengan mengarahkan pandangan kepada Iman Rendy dan Luky.
"Waah ... kami senang sekali. Terima kasih ya Kak? akhirnya kita punya kamar juga. Rendy sambil menatap ke arah Leo dan juga Sonia.
"Sama-sama! jadi sekarang ... kemas sepeda kalian ya? titipkan pada tetangga, dan tas sekolah kalian pun masukkan ke dalam mobil! kita akan segera berangkat ke hotel. Untuk menginap di sana selama rumah ini direnovasi!" tambahnya Sonia.
Dan sang adik nya, langsung mengikuti arahan dari sang kakak. Mereka mengantarkan sepeda kepada tetangganya.
Setelah itu mereka pun langsung masuk mobil, yang dikemudikan langsung oleh Leo. Yang mulanya merayap saja dan lama-lama semakin melaju sangat kencang! menuju sebuah hotel di mana Sonia dan Leo menginap.
Di sepanjang perjalanan ketiga adik Sonia terus berceloteh, bercerita! mengobrol yang entah apa yang diobrolkan! begitupun dengan Leo dan Sonia yang sedang duduk berada di depan.
Selang berapa puluh menit, akhirnya tiba juga dia halaman hotel yang mereka tuju.
Membuat anak-anak, Cindy dan orang tuanya begitu terpesona melihat bangunan tinggi hotel tersebut.
"Kalian jangan heran! ini masih di luar belum Melihat dalamnya gimana!" ucap Leo sambil tersenyum dan berjalan memasuki lobby.
"Kita mau tinggal di sini ya, Kak?" tanya Luki sambil mendongak ke arah Sonia.
"Iya tentu, kalian akan menginap di hotel ini juga!" Sonia mengangguk lalu menoleh ke arah Leo sembari tersenyum.
Leo terus berjalan, menghampiri pihak resepsionis untuk memesan tiga kamar untuk orang tuanya, Cindy dan ketiga adiknya Sonia.
"Wah ... rasanya mimpi deh ... kita bisa menginap di hotel." Gumamnya Randy sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
Ditimpali oleh Iman dan Luky dengan anggukan dan mata yang berbinar.
Apalagi ketika berhadapan dengan kamar yang akan mereka tempati, semakin berjingkrak saja mereka bertiga. Sambil menduduki tempat tidurnya masing-masing yang super empuk, di kamar tersebut terletak 3 tempat tidur ....
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya? like comment dan dukungan lainnya terima kasih
__ADS_1