Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Menyesal


__ADS_3

Dalam beberapa saat Leo uring-uringan terus! pengen marah? marah sama siapa? mau teriak? seperti orang gila, dan pada akhirnya dia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur! namun tidak dapat menenangkan dirinya sehingga dia kembali terbangun, lalu berlari ke kamar mandi untuk menekan sesuatu yang terus meronta.


...------------...


"Telepon Kakak kamu! suruh pulang ... katakan kalau kita mau minta maaf atas segala tuduhan-tuduhan yang sudah kita lakukan." Pintanya Ibu Melani kepada Cindy.


"Aku nggak tahu nomornya Bu, ya mungkin dia sudah ganti nomor!" Cindy beralasan.


Padahal dia tidak mau menghubungi nomor Sonia dengan alasan pribadi, Cindy merasa malu karena di sini dia yang lebih banyak melepaskan tuduhan dan kata-kata yang tidak menyenangkan kepada sang kakak.


“Masa kakak mu ... ganti kartu, Cindy ...” sang ibu tidak percaya begitu saja dengan omongan putri keduanya itu.


“Ya ... kalau Ibu tidak percaya cari saja sama Ibu sendiri. Di bilangin tidak percaya,” ucap Cindy sambil memainkan ponselnya.


“Bukan Ibu tidak percaya, tapi rasanya tidak mungkin bila kakak mu ganti nomor, tanpa memberikan kabar pada kita terlebih dahulu! gitu Cindy maksud Ibu,” ralat sang ibu.


“Entah lah ... yang jelas tidak aktif Ibu ...” Cindy kekeh bilang kalau nomor Sonia tidak aktif.


“Terus harus cari kemana dia Cin ... kita harus segera menyelesaikan masalah ini, kasihan kakak mu, Sonia yang sudah ayah mu usir dan kamu juga itu mulut apa pisau? Tajam amat Cin ...” keluh sang ibu sambil dengan pandangan menerawang.


“Mana ku tau!” Cindy sambil mengangkat bahunya.


“Assalamu'alaikum ... Ibu kami pulang,” Rendi, Iman dan Luky baru saja pulang dari sekolah dengan membawa sepedanya masing-masing.


“Wa’alaikum salam ... Rendy ... apa kakak mu Sonia ada menemui kalian bertiga?” tanya sang ibu dengan tatapan cemas.


“Tidak Bu ... kak Sonia tidak ada menemui kami ya?” Rendy menatap kedua adiknya yang saling tatap dan lalu menggeleng.

__ADS_1


“Emangnya kenapa Bu? menanyakan kak Sonia segala? mungkin dia sudah balik lagi ke luar Negeri kali.” Iman sambil menggerakan kedua bahunya.


“Ibu ingin bertemu dia dan suruh dia pulang ke sini! ibu ingin bicara dengan kakak mu itu.” Ungkap bu Melani dengan sorot mata penuh penyesalan.


“Kak Cindy dong ... telepon, apa gunanya punya handphone kalau tidak bisa di gunakan pada sesuatu yang bermanfaat untuk keluarga!” sinis nya Rendy sambil mendelik sekilas ke arah Cindy, sang kakak yang terkenal keras kepala dan sombong.


“Eh ... ini bocah, sudah dibilangin tidak aktif nomornya ...” Cindy sambil melotot pada Rendy yang mencurigainya.


“Ibu bingung harus mencari kemana kakak mu.” Gumamnya bu Melani sambil beranjak dari duduknya untuk menemui suami yang tampak lemah dan pucat di kamar.


“Apakah Sonia ada pulang, Bu? saya menyesal sudah mengatakan sesuatu yang tidak-tidak tentang anak itu. Ayah khawatir tidak bisa bertemu lagi,” ucap pak Amin sambil berbaring. Dia agak drop setelah Hera mengatakan yang sebenarnya.


“Jangan bilang begitu Yah, Ibu juga sama ingin meminta maaf atas kesalahan kita yang sudah meragukan kebenarannya. Kata Cindy nomornya sudah tidak aktif dan makanya sulit di hubungi.” Jawabnya sang istri.


“Terus gimana caranya kita agar bisa meminta maaf pada Sonia dan suruh anak itu untuk pulang ke rumah ini.” Tambahnya pak Amin sambil mendudukan dirinya bersandar di bahu tempat tidur.


“Pokoknya usahakan agar Sonia segera pulang kembali, dan yang penting adalah kita meminta maaf yang sudah tidak percaya atas omongannya. Ayaj kecewa pada si Hera yang sudah menjual Sonia sehingga kita pun menjadi renggang.” Pak Amin dengan nada lesu.


...----------------...


Sementara Sonia, setelah membelikan ketiga adiknya sepeda. Dia lebih mengurung diri dan malas untuk keluar, sehingga dia ada saja di kamar hotel dan malas untuk keluar, tadinya ingin sekali kalau bertemu dengan Zai, tapi niat itu dia urung.


Di saat sedang bersantai di atas tempat tidur, Sonia mendapatkan gawai nya berbunyi, dan pas dia lihat ternyata ada pesan dari Cindy yang mengatakan.


“Masih betah ya? menjadi seperti sekarang ini? kamu senang ya di usir dari rumah? bukannya minta maaf sama orang tua! malah menghilang!" begitu kata-kata chat dari Cindy.


"Apa maksudnya anak itu berkata demikian? Aku kan sudah minta maaf, pada semua! kalian saja tidak mau mengerti, tidak mau menerima kata maaf ku, dan mendengar penjelasanku. Terus aku ... harus kayak gimana lagi?" Sonia menghela nafas dalam-dalam.

__ADS_1


Bukannya tidak ingin datang lagi untuk menemui keluarganya, tapi Sonia masih pikir-pikir lagi. Masih khawatir! kedatangannya ke sana hanya akan menimbulkan keributan, tidak kuasa Sonia menahan sedih, Sonia pun menangis.


Dan Sonia berniat ... nanti datangnya ketika sudah ada Leo saja, biar dia yang menjelaskan semuanya. Karena dia sendiri rasanya malas untuk menjelaskan sesuatu yang belum tentu diterima ataupun dipercaya.


Disaat Sonia sedang menangis, mengingat keluarganya yang marah dan benci sama dia. Terdengar suara derap langkah yang mendekati pintu kamar hotel tersebut, dan berhenti tepat di depan pintu! membuat Sonia mengusap wajahnya dengan kasar menyeka air matanya dengan tisu.


Baru saja Sonia mau beranjak dan mendekati pintu untuk mengintip siapa yang datang, pintu sudah terbuka duluan dan ternyata yang datang adalah Leo.


Membuat Sonia terkesiap, tidak menyangka kalau Leo sudah berada di hadapannya! sementara pria itu tidak memberikan konfirmasi. Kalau dia akan datang menyusulnya hari ini.


"Kamu?" Sonia menatap lekat ke arah Leo yang terus berjalan mendekatinya. Dengan sebuah senyuman yang ditunjukkan kepada Sonia.


"Aku datang baby! kenapa? sepertinya kamu tidak senang aku datang!" suara Leo setelah berada di hadapannya Sonia.


Kepala Sonia menggeleng seraya berkata. "Tidak! bukan begitu ... aku, aku cuman kaget aja! kamu datang tanpa memberi konfirmasi terlebih dahulu dan kenapa kamu tahu kalau aku menginap di hotel ini dan di kamar ini?" Sonia menatap heran.


Padahal sebelumnya dia pun belum bercerita kalau dia menginap di hotel mana dan kamarnya berapa?


"Soal itu sih ... gampang! aku bisa mencari mu di mana pun berada. Sekalipun kamu sembunyi, aku pasti bisa untuk menemukan mu baby." Lalu Leo memeluk Sonia dan sangat erat.


Dia ingin melepas rindu pada wanita itu, yang biasa berada di sampingnya! melepas semua penat, rasa capek ataupun lelah. Bahkan melepas hasratnya ketika dia inginkan.


Sonia terdiam ketika Leo memeluk tubuhnya erat! dia masih tidak habis pikir, kok Leo tahu sih keberadaan dia tepatnya di mana? kemudian lama-lama tangannya Sonia pun bergerak membalas pelukan tersebut serta mengusap-usap punggungnya Leo


Sejenak mereka berdua saling berpelukan penuh dengan kehangatan! bahkan sesekali ciuman mendarat di kening, pipi dan bahkan bibir Sonia yang turut menikmatinya ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa ya like dan komennya, berikan aku dukungan agar aku tambah semangat makasih


__ADS_2