
Bukannya Sonia gak punya keberanian untuk mendatangi atau menghajar Hera dan Zai yang tengah asik melakukan ritual ranjang. Namun Sonia malas bila harus mengotori tangan dan mulutnya.
Mendingan Sonia menghindar saja dan mungkin akan mendapat balasan dari orang lain tanpa harus dari Sonia langsung.
Sonia mendingan pergi dari sana dan meneruskan niatnya untuk mencari makan. Biarpun hatinya sedih, sakit. Kecewa! namun perutnya tetap lapar dan dia harus ingat kalau dia punya suami saat ini. Dan memang kurang pantas bila dia berharap pria lain.
Anggap saja Zai adalah masa lalu dan Leo masa depan biarpun dia tidak tau sampai kapan rumah tangga dengan pria itu.
Saat ini Sonia sedang menikmati makan malamnya sendirian. Biar sedih dengan semua kejadian di hari ini, tetapi tidak menyurutkan tekad nya untuk mengisi daya tubuhnya, menangis itu butuh tenaga Basti.
Keesokan harinya, pagi-pagi Sonia sudah bersiap untuk mengajak adik-adiknya bermain dan berwisata! sesuai janjinya kepada ketiga adik laki-laki nya tersebut.
Dan saat ini Sonia sudah berada di dalam sebuah taksi, menuju kediaman orang tuanya. Tidak peduli mau dicaci ataupun dihina atau apapun itu yang penting dia datang dan mengajak ketiga adiknya, Iman. Rendy dan Luky.
Tidak lama di perjalanan, akhirnya taksi tersebut sudah nangkring di depan kediaman Pak Amin dan Bu Melani yang tampak sepi kalau dari luar. Tapi Sonia yakin bahwa adik-adiknya ada di dalam dan mungkin sedang menunggu dirinya datang.
Gegas Sonia turun dari taksi tersebut dan menyuruh taksi itu untuk menunggu! karena Sonia tak akan lama untuk menjemput doang.
"Assalamu'alaikum ... Rendy, Iman. Luky ... sudah siap belum?" pekiknya Sonia sambil berdiri di depan pintu.
Mulainya terdengar hening, tapi detik kemudian terdengar riuh. Serta terdengar dari dalam bertengkar antara membolehkan dan tidak anak-anak pergi.
"Saya, kan sudah bilang! mereka jangan pergi, buat apa pergi bersama Snia. Nanti mereka ketularan dan uang yang dia gunakan itu adalah haram!" kata Pak Amin kepada sang istri dengan mata yang merah menyala dia tidak mengijinkan kalau ketika anak laki-lakinya ikut bersama Sonia.
"Tapi ayah, mereka itu cuma bermain. Jalan-jalan doang, bukan untuk selamanya, lagian anak-anak itu nggak tahu apa-apa! dan mereka juga adik-adiknya Sonia dan bagaimanapun Sonia itu anak kita mau hitam atau putih mereka tetap anak kita darah yang mengalir terbesarnya adalah darah kita bukan orang lain!" timpal Ibu Melani.
__ADS_1
"Kamu juga tahu dosa, kalau menjual diriku itu dosa, menjadi pe-la-cur itu dosa dan otomatis uang yang didapat oleh Sonia pun haram, ha ... ram! jauh dari kata keberkahan," tambahnya pak Amin sambil menunjuk-nunjuk kepada sang istri.
"Terus bagaimana dengan uang yang sudah kita gunakan? kita makan yang sudah mendarah daging, bahkan kita bayarkan pada tanah yang saat ini kita bijak! itu bukan uang yang sedikit yang sudah Sonia berikan kepada kita semua!" sambung sang istri bersikeras.
"Uang yang Sonia sudah berikan kita bayar, kembalikan sama dia! kita nggak butuh uang itu!" bentaknya sang suami.
"Terus, keseharian kita dari mana? kamu masih dalam tahap berobat dan itu pastinya bayar. Uang dari mana kita untuk membayar? Sekalipun saya bekerja, hanya cukup untuk makan saja pun Alhamdulillah ... boro-boro buat berobat kamu, Yah. Belum dengan Cindy yang masih berobat masih butuh biaya. Dari mana?" Kini Mada bicara Bu Melani pun ikut meninggi.
"Kamu tidak percaya pada rejeki dari Allah? dia tidak akan membiarkan kita susah, yangnoenting tawakal dan berusaha. Rejeki itu pasti datang menghampiri kita." Ungkap Pak Amin.
"Kau bilang usaha? usaha apa? apa kau bisa kau berusaha mencari uang, kan tidak. Tetap saja kau harus istirahat dan yang harus bekerja itu saya, dan uang Sonia sangat membantu untuk kita." Tambahnay Bu Melani.
"Sekarang ini gimana? aku boleh ikut apa tidak? kita sudah siap nih. Masa tidak boleh pergi jalan-jalan." Keluh Rendy.
"Boleh, pergi saja bilang sama kak Sonia jangan jauh-jauh." Ibunya menoleh pada ketiga anak laki-laki.
Ketiga anak laki-laki nya yang belum begituengerti apa yang menjadi perdebatan hanya melongo.
Namun Luky membuka pintu dan keluar yang di susul oleh kedua kakaknya. Iman dan Rendy.
Semua omongan dari dalam semua Sonia dengar. Dia menatap nanar pada arah dalam dimana orang tuanya berdebat.
"Ayah aku bisa memastikan. Kalau aku sesungguhnya tidak sepenuhnya bersalah dan ini kesalahan orang lain yang ditimpakan padaku sepenuhnya. Sebenarnya aku sudah menikah di sana dan apabila uang itu diberikan oleh suami ku, apa juga itu haram? apakah seorang suami memberi istrinya nafkah, itu termasuk uang haram?"
Bu Melani dan Pak Amin hanya bergeming tidak berkata apa-apa! dan mereka masih belum percaya, apalagi dengan kata menikah. Masa menikah di luar Negeri. Dan tanpa walinya! sementara walinya Sonia adalah Pak Amin.
__ADS_1
Setelah itu Sonia langsung mengajak ketiga adik laki-lakinya, untuk jalan-jalan dan Sonia hanya bisa melihat dan mengangguk kepada kedua orang tuanya sebagai kata pamitan.
Dan kedua orang tuanya tidak merespon apapun, bu Melani hanya menatap nanar kepada Sonia, bagaimanapun Dia seorang ibu yang kasih sayang seorang ibu itu ... melebihi dari kasih sayang seorang ayah.
Kemudian mereka memasuki taksi yang tadi, yang masih menunggu Sonia. Lalu Sonia meminta agar sopir membawa mereka ke salah satu tempat wisata yang terdekat-dekat saja.
Luky, Iman dan Rendy sangat senang dengan perjalanan ini.
"Kak Nia, kenapa sih kok ayah dan ibu jadi membenci Kak Nia?" Rendy membuka pembicaraan di dalam mobil taksi tersebut bagaimanapun dia tidak mengerti dan penasaran kenapa orang tuanya bersikap demikian kepada suaminya.
"Kakak nggak bisa menceritakannya karena kalian nggak akan mengerti apa agar permasalahannya dan kakak sendiri pun pusing memikirkannya nanti juga lambat laun kalian akan mengerti kenapa. renungan saja semoga ayah dan ibu nggak marah lagi sama kakak sesungguhnya Kakak pulang karena Kakak kangen sama kalian semua." Sonia merangkul adik-adiknya yang terdekat.
"Iya aku juga nggak mengerti, kenapa jadi begitu ya? padahal sebelumnya nggak pernah seperti ini. Ayah dan ibu sangat menyayangi kakak! tapi setelah ada kak Hera, semuanya berubah!" timpal Iman yang juga merasa aneh.
Sonia terdiam dan teringat kepada Hera yang ternyata memang dia pun pulang, dan mungkin itu yang membuat semuanya kacau.
"Aku harus menemui Hera biar dia yang menjelaskan semuanya! agar orang tua ku tidak salah paham!" batinnya Sonia sembari menarik nafas dalam-dalam.
Di depan supermarket, Sonia meminta sopir taksi untuk berhenti dulu, karena dia mau belanjakan makanan buat ketiga adiknya tersebut.
Yang disambut sangat senang dan bahagia oleh mereka, di sana Sonia membiarkan ketiga adiknya itu belanja semaunya dan sepuasnya. Apapun yang mereka mau, beli dan juga Sonia membawa mereka ke toko pakaian dan membeli pakaian buat mereka ganti biar terlihat lebih keren.
Sonia sangat bahagia melihat ketiga adik laki-lakinya tampak sangat senang dibelanjakan olehnya. Wajah-wajah yang penuh keceriaan begitu nampak di wajahnya masing-masing ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mana nih like komen bintang nya juga bila suka. Makasih