
"Sudah lah, gak penting kamu mencaci atau gimana, percaya sama siapa? yang jelas aku sudah di terima lagi di keluarga ini lagi." Sonia beranjak kembali dan meninggalkan Cindy di kamarnya.
Cindy melihat punggung sang kakak dengan pandangan sinis. "Sombong!"
Sonia kembali bergabung dengan keluarganya di ruang tengah. Leo langsung akrab dengan keluarganya tersebut.
Membuat bibir Sonia tersenyum bahagia..melihat keakraban suami dan keluarganya.
"Ibu, sudah siapkan kamar mu Nia ... kalian pasti capek, Isti Rahat lah!" sang ibu menunjuk ke arah kamar Sonia yang kemarin di jadikan gudang. Kini sudah bersih lagi layaknya kamar.
"Ibu jangan repot-repot, capek. Aku bisa membersihkannya kok dan aku akan mengerjakannya." Sonia melihat kamarnya yang rapi dan wangi.
"Tidak apa-apa, Ibu sudah ngasih kamu dari pagi juga." jawabnya sang ibu.
Kemudian Sonia pun masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tempat tidur, mengedarkan pandangan setiap sudut ruangan. "Akhirnya aku bisa menginap di sini lagi."
Tempat tidur yang sedang Sonia duduki hanya cukup untuk dua bantal saja pas berdua. "Hem ... apa tempat tidur yang muat untuk berdua? biasanya kan Leo tidurnya di tempat yang luas, tidak sempit seperti ini."
"Apa ini kamar mu?" tiba-tiba suara bariton itu terdengar dari arah belakang, di saat-saat suaminya menatapi tempat tidurnya.
"Oh, iya ini tempat tidur ku! apa kita mau balik ke hotel atau nginep di sini untuk malam ini saja. Kalau balik ke hotel ... sepertinya kita akan sulit mendapatkan transportasi!" kata Sonia yang sontak berdiri dan oleh pada sumber suara.
"it's oke, aku tidak masalah kalau kita harus tidur di sini dan ... besok kita kembali ke hotel, sekalian bawa keluarga mu untuk menginap di sana. Rumah ini ... direnovasi secepatnya," kata Leo sembari menggerakan netra nya dan menyisir kamar yang menurut dia sempit itu.
"Apa, merenovasi rumah ini?" Sonia mengerutkan keningnya menatap ke arah Leo.
Leo mendudukan dirinya sembari menarik pinggang Sonia agar duduk bersamanya. "Iya baby, kita renovasi rumah ini secepatnya. bila perlu mulai besok kita boyong keluarga ini ke hotel dan ... rumah ini pun langsung direnovasi, tanahnya milik ayah dan ibu kan?"
"Setahu aku sih ... Iya tanah ini sudah menjadi milik ayah dan ibu, kemarin aku kirim uangnya itu ... katanya buat membayar tanah ini." Jawabnya Sonia.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu besok kita bicarakan pagi-pagi sama ayah dan ibu agar membedah rumah ini segera, biar lebih luas dan masing-masing mempunyai kamar, aku lihat adik laki-lakimu semuanya satu kamar! Oh ya dimana kamar mandinya? Aku pengen pipis! Leo berdiri serta menanyakan kamar mandi.
"Kamar mandinya ... di dekat dapur! soalnya di kamar ini nggak ada kamar mandi, cuman ada satu aja jawabnya." Sonia tersenyum.
"Apa? di sini tidak ada kamar mandi?" Leo tampak kaget mendengar kamar itu tidak ada kamar mandinya.
"Bu-bukan nggak ada kamar mandi ... kamar mandi nya berada di dekat dapur, kamar mandi umum! nggak ada kamar mandi pribadi" ralatnya Sonia.
"Iya gitu maksud aku, nggak ada kamar mandi pribadi yang ada cuman umum doang gitu? ya Tuhan ..." Leo menepuk jidatnya sendiri.
"Kalau kamu mau ke kamar mandi? ya berarti ke sana dekat dapur sana!" jawabnya kembali Sonia sambil mesem melihat Leo yang tampak shock mendengar di kamar itu tidak ada kamar mandi pribadi.
"Aduh beb ... kalau kita ngelakuin nya di sini, berarti mandinya juga di kamar mandi umum?" tanya Leo sembari menundukkan kembali dirinya di samping Sonia.
"Hooh." Sonia mengangguk kan kepalanya.
Sonia berdiri dan dua langkahnya mendekati lemari mengambil selimut untuknya tidur.
"Kalau kita kebelet, gimana? melakukannya di sini? mana sumpit, nggak ada kamar mandi!" gumamnya Leo sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut.
"Terserah kamu mau ngomong apa, aku ngantuk ach," Sonia tidak peduli dengan omongan Leo, Sonia segera berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Leo hanya menatap ke arah Sonia sembari membuka jas serta kemeja yang melekat di tubuhnya, dan pada akhirnya hanya menyisakan celana kolornya saja.
"Baby. Apa kau tidak mau ganti baju? masa tidur pakai baju itu," suara Leo sembari naik ke atas tempat tidur dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya Sonia.
"He he he ... eh iya, aku lupa!" Sonia langsung bangun dan kembali mendekati lemarinya, mengambil baju yang sekiranya bisa dipakai untuk tidur. Untungnya masih ada bajunya yang dulu biarpun sudah lusuh.
Dan tak segan-segan Sonia pun menggantinya di sana. Kedua netra Leo terus memandangi ke arah Sonia yang sedang mengganti bajunya.
__ADS_1
Membuat Leo kembali tergoda dan menginginkan sesuatu dari Sonia. Tangan Sonia langsung ditarik Leo ketika sudah kembali berdiri dia dekat tempat tidur yang tidak luas tersebut.
Leo langsung mencumbu Sonia dan pakaian yang baru saja dikenakan pun terlepas kembali, membuat tubuhnya polos mengekspos semua keindahannya.
Sonia baru ingat, kalau kamar itu tidak ada daun pintunya. Hanya menggunakan tirai saja! membuat dia menjadi was-was, takut dan cemas. Dia langsung masuk ke dalam selimut.
"Matikan lampunya? kemar ini nggak pakai daun pintu, yang ada gorden doang!" bisiknya Sonia kepada Leo.
Membuat netral mata Leo langsung bergerak melihat ke arah pintu tersebut yang memang tertutup sih ... cuman ya ngeri saja kalau ada yang ngintip atau kena angin.
Leo langsung melonjak naik dan mencari saklar untuk mematikan lampunya dan setelah itu barulah dia merasa aman untuk melanjutkan ritualnya. Walaupun dalam hati menggerutu kenapa kamar ini nggak ada pintunya? kenapa kamar ini nggak ada kamar mandinya dan seterusnya.
Leo meraba-raba bagian tubuh Sonia yang udah berbaring di tempat semula. Walau dalam kegelapan, Leo melanjutkan aktivitasnya agar dapat penetrasi atau menyalurkan hasratnya yang sudah naik ke ubun-ubun.
Kedua tubuh mereka mulai menyatu satu sama lain. Dan sebisa mungkin mereka tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun, khawatir didengar orang rumah.
Membuat Leo merasa tidak leluasa dan tidak nyaman di buatnya, namun mau bagaimana benar-benar sudah kebelet dan tidak bisa di tahan lagi.
Leo langsung melepas mahluk astral nya ke tempat yang seharusnya dia berendam. Membuang rasa panas pun menjadi adem dan sejuk.
Nyess ...
Semakin lama Leo merasa nyaman dan melaksanakannya dengan penuh semangat 45. karena tidak ingin suaranya terdengar keluar! membuat Leo maupun Sonia menggigit bibirnya masing-masing. Walaupun sesekali saling menyatukan bibir dan tidak ada suara sedikit pun.
Pagi-pagi mereka berdua sudah pada bangun dan membersihkan diri, sebelum yang lain pada bangun dan kamar mandi belum ada yang menggunakan. Rasanya malu saja kalau sampai ketahuan orang rumah, apalagi ini yang pertama kalinya di tempat tersebut ....
...🌼---🌼...
Terima kasih ya bagi yang sering like, comment dan dukungan lainnya Makasih banyak.
__ADS_1