
"Aku mengerti dengan yang kau katakan." Kata-kata itu terucap dari bibir Sonia.
Leo menatap lekat pada Sonia yang lebih press dan cantik. Pria itu begitu meneliti Sonia dari mulai ujung kaki sampai ujung rambut.
Sonia pun memperhatikan dirinya yang kali aja ada yang aneh, namun biasa saja kok. Mengingat tatapan Leo yang aneh.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? apakah ada yang aneh?" Sonia meneliti lagi dirinya.
Bibir Leo tertarik ke samping. Dan menunjukan senyumnya yang mengembang. "Cantik juga dia!" batinnya Leo.
Tangan Leo bergerak menggapai ujung rambut Sonia lalu di ciumnya menghirup wanginya sampai terpejam segala. "Och ...."
"Eeh, kau apa-apaan sih?" Sonia merasa aneh sambil menarik rambutnya.
"Aku suka wanginya. Oya, aku masih ada urusan. Kalau tidak, habis kau malam ini juga."
Membuat Sonia bergidik. Mendengar itu. Lalu menyesap minumnya.
Kemudian Leo begitu menikmati makannya, sehingga dalam waktu sekejap piringnya pun sudah kosong dan tidak tersisa sedikitpun.
"Apa kau mau tambah kembali?" tawarnya Sonia sembari menarik piring utama yang sisanya memang untuk dirinya.
"Tidak, sudah cukup!" lalu Leo meneguk minumnya sampai tandas. Kemudian dia beranjak dari duduknya tersebut untuk pergi kembali. Masih ada yang harus di urus.
Sebelum pergi, Leo memperhatikan Sonia yang sedang makan juga tampak sibuk memegang ponselnya.
Dan Sonia memang sedang mengecek apakah ada balasan dari Zay atau tidak. Wajahnya pun tampak cemas mengingatkan pria tersebut.
"Kok tidak ada juga balasannya! masa aku harus telepon biar jelas, lagian dia online kok 2 menit yang lalu! tapi nggak di baca ataupun dibalasnya." Sonia menghela nafas panjang serta melepas tetapan kosong.
Tiba-tiba handphon Sonia direbut oleh Leo sambil di cek isinya. "Siapa ini? pasti kekasih mu kan?"
"Ja-jangan!" Sonia menatapi ponselnya yang direbut oleh Leo.
Leo menyimpan ponsel Sonia ke meja. Dengan perasaan yang terasa gondok, kesal dan marah. Namun dia segera membawa langkahnya meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Sonia mematung tak bergeming. Tadinya dia takut kalau Leo akan marah dan merusak barangnya. Namun ternyata tidak.
"Ya ampun ... aku kira dia akan banting ponsel nya," Sonia mengusap dada nya yang sempat dag-dig-dug tak karuan.
Selanjutnya Sonia membereskan bekas makannya. Dia baru ingat kalau tadi pagi dia mencuci dan belum di angkat. Sonia buru-buru ke balkon, namun tidak ada cucian.
"Ngah ... kok gak ada?" Sonia mencari cuciannya yang tidak ada di tempat, yang ternyata ada di dalam wadah yang entah siapa yang angkat jemuran tersebut sehingga menjadi kusut seperti itu.
"Gila, jadi kusut begini." Sonia menatap lesu jemuran yang kusut itu tak beraturan.
...----------...
Di dalam hingar bingar klub malam. Terdapat banyak transaksi yang terjadi di sana termasuk sebuah transaksi senjata api yang melibatkan Leo Lie di dalamnya.
"Semuanya siapkan dan luncurkan ke tempat yang bersangkutan. Dan pastikan aman tanpa halangan." Jelas Leo sambil menatap tajam ke arah semua orang yang ada di dalam meja nya itu.
Lantas Leo keluar dari klub malam tersebut menuju kantor yang tidak jauh dari tempat yang barusan dia pakai untuk transaksi.
Dia duduk di meja kebesarannya. Dan menatap sebuah cctv dimana orang-orang tengah bermain kasino dengan sangat semangat. Sesekali bersorak dan di temani para gadis cantik nan seksi.
Kemudian Leo beranjak dari kursi kebesaran tersebut, keluar dari ruangannya serta menghampiri orang-orang yang sedang asyik bermain ikut berbaur dengan mereka semua.
Namun berapa saat kemudian ada sedikit permasalahan yang membuat timbulnya pertengkaran. Dan karena tidak bisa dilerai membuat suasana menjadi haru biru. Semakin riuh, Ribut tidak terkendali.
Membuat Leo bertindak dengan cepat. Mengarahkan senjata apinya pada orang yang membuat huru hara di tempat tersebut.
Duarrrrrr ....
Duarrrrr ....
Membuat dua tembakan terlepas begitu saja dan sangat tepat sasaran, yaitu mengenai kedua orang yang dia rasa yang menimbulkan permasakahan tersebut, masing-masing kakinya terluka.
Membuat ceph! suasana begitu hening saat itu juga, dan yang kena tembak tentunya meraung kesakitan.
"Itulah akibatnya bagi orang yang tidak bisa diatur. Hai ... semua ingin merasa seperti kedua orang tersebut?" Leo mengedarkan pandangan yang memutar pada orang-orang yang berada di sana.
__ADS_1
Para perempuan pada bersembunyi di punggung laki-laki, karena mereka sangat ketakutan.
"Kalau kalian ingin seperti mereka berdua, ayo mulai ribut lagi. Dan saya tidak akan segan-segan untuk membuat kalian semua seperti mereka. Bahkan lebih dari itu, ini wilayah kekuasaan saya dan saya berhak berbuat apapun pada orang-orang yang tidak mau menuruti aturan saya!" suara Leo begitu bergema di tempat tersebut.
Kemudian orang-orang yang kena tembak tadi diangkat oleh beberapa orang untuk dibawa dan di diobati segera.
Leo mendekatkan ujung senjata apinya ke mulut. Lalu meniupnya, selanjut dia simpan di pinggang dalam jasnya.
"Sekarang kalian bubar! untuk permainan saya tutup sementara, sampai waktu yang saya tentukan nanti." Jelasnya Leo sembari menyisirkan tatapannya pada orang-orang yang masih berada di sana.
Tanpa menunggu jawaban, Leo mengayunkan langkah lebarnya meninggalkan tempat tersebut lebih dulu.
Beberapa bodyguard pun berjalan di belakangnya Leo, hingga pemuda itu memasuki sebuah mobil mewahnya.
Seorang bodyguard dan merangkap sopir membawa mobil tersebut yang di dalamnya ada Leo, seorang CEO juga merangkap ketua sindikat tertentu.
Leo melihat jarum jam yang berada di tangannya, sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
"Bawa saya pulang ke apartemen!" pintanya Leo pada orang yang berada di depannya.
"Baik, Tuan. Orang tersebut mengangguk lalu melajukan mobilnya dengan sangat cepat, bak panah yang terlepas dari busurnya, saking cepatnya. Kebetulan jalanan begitu lengah.
Selang berapa puluh menit kemudian, mobil Leo sampai di area apartemen dan dia segera keluar dari mobilnya, berjalan yang setengah berlari memasuki lobby gedung apartemen.
Kemudian setelah melewati beberapa lantai dan pada akhirnya dia sampai di depan apartemen nya, dia menghela nafas dalam-dalam. Detik kemudian mendorong handle pintu, di dalam apartemen terdapat suasana yang gelap gulita sehingga Leo mencari saklar untuk menghidupkan lampunya.
"Gadis itu pasti sudah tidur!" gumamnya Leo sambil kembali menguncikan pintu yang berukir mewah.
Kedua kakinya berjalan dengan teratur sembari membuka jas masuk ke dalam kamar pribadinya. Dan yang pertama-tama dia lakukan adalah menyimpan senjata api baik-baik di dalam sebuah laci yang lantas di kunci kembali.
Kemudian Leo memasuki kamar mandinya untuk membersihkan diri lebih dulu. Sekitar 15 menit kemudian dia kembali dengan menggunakan kimono putih. Kakinya terus melangkah keluar dari kamar tersebut dan mendatangi kamar Sonia yang ternyata di kunci.
Tapi bukan sesuatu masalah bagi Leo, karena dia bisa membukanya dengan kunci serep yang dia miliki. Sehingga dengan mudahnya dia bisa masuk dan menghampiri Sonia yang tengah tertidur pulas ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya?terima kasih sebelumnya.