Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Baik hati


__ADS_3

Ketiga adik Sonia tampak kelelahan, sehingga tak satupun yang berceloteh. Mereka hanya duduk bersandar sambil memejamkan mata dan waktu pun sebentar lagi mendekati magrib.


Selang berapa puluh menit kemudian, taksi pun sampai di depan rumah Pak Amin dan Sonia langsung membangunkan ketiga adiknya Rendy, Iman dan Luky.


"Sudah sampai rumah nih ... ayo bangun?" Sonia dengan suara lirih.


Mereka pun terbangun dan celingukan. "Sudah sampai ya, Kak?" gumamnya Rendy.


"Sudah! ayo turun, kalian langsung ambil wudu ya? Sesampainya di rumah. Bentar lagi magrib nih! dan nanti sepedanya akan datang, sekarang kakak mau pulang dulu," ucap Sonia sembari menurunkan ketiga adiknya.


"Kakak nggak mampir dulu?" tanya Rendy.


"Kayanya nggak deh ... takut ribut lagi. Nanti saja kalau waktu yang tepat. Kakak datang ke rumah, sekarang kalian masuk lah!" Sonia menunjuk ke arah rumah dan di sana sudah nampak Pak Amin berdiri dan beserta Cindy.


"Randy, Luky. Iman, cepat masuk? apa kalian tidak tahu, ini magrib! anteng banget sampai nggak tau pulang, apakah kalian akan membangkang Ayah juga?" Kata sang ayah.


Ketiga adik Sonia berlarian masuk, tanpa menghiraukan perkataan sang ayah.


Sementara Sonia hanya menghela nafas dalam-dalam, lalu memasuki lagi taksinya. "Pak antarkan saya ke hotel yang berada di jalan xx."


"Baik Mbak." Sang sopir mengangguk.


"Maaf ya Pak! jadi lama nganterin saya ke sana kemari!" ucap kembali Sonia.


"Oh tidak apa-apa, Mbak. Itu sudah biasa." Balasnya sopir taksi.


"Tapi Bapak nggak usah khawatir, insya Allah aku bayar lebih kok." Sambungnya Sonia.


"Iya Mbak! santai aja dibayar sesuai aturannya pun saya sudah bersyukur," sahutnya Pak sopir.


"Oya Pak, punya anak berapa? Pak di rumah!" selidik Sonia sembari menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Saya punya anak 3 semuanya laki-laki dan sepertinya usianya juga sama dengan adik-adik Mbak barusan." Jawabnya.

__ADS_1


"Oh berarti seumuran ya dengan adik saya Pak?" tambah Sonia.


"Benar Mbak," sahutnya Pak sopir taksi.


Kemudian Sonia merogoh dompetnya dan mengambil berapa lembar uang. "Ini Pak, buat jajan anak-anaknya, semoga bermanfaat! ini belum bayaran transpor kok. Belum sampai sampai tujuan!" ucap Sonia seraya menyodorkan uang tersebut ke arah depan samping pak sopir.


"Aduh Mbak, beneran ini buat saya!" sopir melirik uang tersebut namun tidak serta-merta mengambilnya.


"Iya dong Pak ... buat siapa lagi! nggak mungkin kan aku memberikan pada yang tidak aku lihat he he he ..." Sonia terkekeh sendiri.


"Aduh ... Alhamdulillah Mbak. Terima kasih banyak dan semoga rezeki Mbak semakin bertambah melimpah! seperti air yang mengalir," ucap sopir taksi sembari mengambil uang tersebut. Lalu dia memfokuskan kembali pandangannya ke arah depan.


"Sama-sama Pake!" Sonia mengangguk dia merasa senang kalau bisa membuat orang lain bahagia.


Selang beberapa saat.


"Oh ya Pak tolong berhenti dulu di depan itu, ada yang minta-minta Dan tolong berikan ini kepadanya!" Sonia kembali mengeluarkan beberapa lembar uang buat orang yang di depan sana.


Dimana ada orang yang minta-minta dan sopir taksi pun menuruti permintaan dari Sonia.


Sonia setengah berlari, karena dia takut Maghrib keburu lewat dan Setibanya di kamar hotel dia langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan mendahulukan salatnya ketimbang mandinya.


...----------------...


"Sebenarnya kalian itu dari mana? kok sampai seharian ini!" tanya sang ibu kepada Rendy, Iman dan Luky. Setelah mereka selesai melaksanakan salat magribnya.


"Kami habis jalan-jalan Bu sama kak Sonia, ke tempat wisata." Jawabnya Rendy.


"Iya Bu ... kami habis dari tempat wisata! tempatnya bagus sekali dan kita sampai puas bermain di sana," kata Luky menimpali perkataan dari Rendy.


"Dan kami pun berapa kali makan sehingga perut ini kenyang buanget. Apalagi makanannya enak-enak!" tambahnya Iman sambil menggerakkan tangannya.


"Benar, makanan nya enak-enak di restoran mahal. Makanan buat ngemil juga ya, kan Kak Rendy kak Iman? pokoknya kita kenyang deh sampai pagi. Kita nggak akan makan deh," sambungnya si bungsu Luky membuat Bu Melani tersenyum, merasa ikut bahagia dengan kebahagiaan ketiga anak laki-lakinya tersebut.

__ADS_1


"Lha, gitu aja bangga. Emangnya kalian nggak pernah makan enak apa di rumah?" sambarnya Cindy.


"Iya sih. Di rumah juga bisa makan enak! tapi uangnya dari mana? dari Kak Sonia juga, emangnya ke Cindy bisa ngasih apa buat kita? mau pulsa aja merengek sama ibu, belum bisa kerja! tangan sakit ngerepotin orang. Sombong lagi!" ucapnya Iman yang ditujukan kepada Cindy.


"Heh, bocah ... kau tau apa, aku ini sakit tangan!" teriak Cindy pada sang adik, Randy.


"Iya, makanya kalau nggak bisa apa-apa itu jangan sombong. Terima kan yang ada, di syukur!lagian kata Kak Sonia juga, kak Cindy masih bisa kok bekerja bantuan Ibu di rumah. Tapi apa? kak Cindy nggak mau bantu-bantu. Cuman marah-marah kerjanya. Makan, tidur. Main ponsel, marah. Makan lagi, tidur. Main ponsel terus, marah-marah lagi! gak punya malu. Sombong namanya." Ungkap Rendy.


"Nggak kasihan apa sama ibu? yang banting tulang buat kita! sudah kerja di luar, di rumah juga harus ngerjain semuanya! karena Kakak nggak membantu sama sekali, bahkan bikin pusing. Bikin capek!" tambahnya Iman sambil menatap ke arah Cindy yang mengalihkan pandangannya dengan melotot.


"Seharusnya Kak Cindy itu punya inisiatif sendiri, ingin membantu ibu. Gimana caranya! sudah tahu bapak juga nggak bisa kerja. Sama-sama masih dalam pemulihan, tapi kan bukan bisanya cuman makan tidur, makan tidur doang. Bisa juga kok ngerjain yang lain yang setidak nya meringankan beban ibu. Kasihan dong sama ibu!" si bungsu pun ikut bicara biarpun dia masih kecil tapi pemikirannya lumayan dewasa, dia geram melihat sang kakak yang seperti itu.


Sedangkan Ibu Melani hanya terdiam karena semua yang diomongkan anak laki-lakinya tersebut adalah benar, Cindy terlalu anu.


"Huh ... dasar kalian itu ya! baru aja sehari pergi sama Sonia sudah diracuni seperti begitu pikiran kalian! apalagi lama?mentang-mentang dia banyak duit--" Cindy tidak melanjutkan lagi pembicaraannya.


"Kak Sonia itu banyak duit nggak sombong dan baik hati, coba kakak kalau punya banyak duit? nggak punya duit aja sombongnya selangit! apalagi kalau punya banyak duit mungkin! kami pun akan ditendang boro-boro mau menghidupi kami!" timpal Iman dan Rendy pun mengangguk membenarkan.


Membuat Cindy semakin dibuat marah dan Dia hampir saja melempar ponselnya ke arah ketiga adiknya itu! namun dia masih sadar dan mengontrol emosinya, sehingga tidak jadi untuk melempar ponselnya tersebut.


"Eeh kakak ku yang cantik ... kenapa nggak jadi lempar ponselnya? jadi dong lemparnya. Biar nggak bisa main HP lagi dan tidak merepotkan lagi Ibu untuk mengisi kuotanya, kan lumayan untuk mengurangi beban ha ha ha ..." ucap Rendy diakhiri dengan tertawa lepas.


Gerung ....


Gerung ....


Suara mobil yang sepertinya berhenti di halaman rumah, membuat Rendy, Luky dan Iman merasa girang. Karena mereka yakin kalau itu mobil yang mengantarkan sepeda mereka bertiga.


"Itu pasti mobil yang nganterin sepeda kita. Kak! ayo Kak?" Luky langsung melompat mendekati pintu keluar.


Lalu disusul oleh Iman dan Rendy, sementara sang Ibu dan Cindy masa heran, mobil apaan? sepeda apaan ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Like komen dan dukungan lainnya..Makasih


__ADS_2