Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Keluarkan dari kk


__ADS_3

"Sudahlah,l jangan banyak bicara lagi, suruh dia pergi! saya sudah tidak mau melihat dia di sini lagi, saya tidak mau mendengar suaranya lagi. Karena kehadiran dia hanya akan menutup pintu rezeki kita. Pintu keberkahan untuk kita." Sergah pak Amin.


Semakin hancur perasaan Sonia mendengar perkataan dari sang ayah. Semakin terasa terhina dirinya di keluarga ini.


Sonia melihat ke arah sang ibu dan ayahnya bergantian. "Ibu, aku akan jelasin semuanya dan kalian jangan terlalu mempercayai omongan dari Hera, karena tidak semuanya benar, Bu ... Ayah. Tolong maafkan aku dan dengar dulu penjelasanku.'' Sonia memohon dengan rendah hati dengan suara yang lirih agar orang tuanya bisa mendengarkan penjelasan dia.


"Cukup Sonia, dari kecil saya Didik kamu agar menjadi seorang wanita yang baik dan Sholehah, yang tahu jalan yang benar! bukan seperti sekarang, kamu malah menjadi pe-la-cur. Itu adalah salah satu perbuatan yang dosa, kenapa kamu lakukan juga?" pak Amin menatap tajam ke arah Sonia seakan ingin ingin menghujam jantung sang anak.


"Sementara uang nya kau berikan kepada kami, beri makan kami. Dan itu nggak akan menjadikan berkah. Sekarang pergilah! anggap kamu ini bukan keluargamu lagi." Jelas sang ayah sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


Kedua lutut Sonia rasanya melemas, bergetar merasa tak ada daya tak ada tenaga. Untuk berdiri, sehingga tubuhnya luruh ke lantai dan air mata pun mulai berjatuhan membasahi wajahnya.


"Maafkan. Aku Ayah, Ibu ... jika aku salah? tapi izinkan aku untuk menjelaskan semuanya! kalau apa yang kalian dengar itu tidak semuanya benar dan aku di sini hanya sebagai korban! hik-hik-hik." Sonia menangis tersedu sembari bersimpuh di kaki sang ibu.


Hati Ibu Melani pun tak ayal terasa hancur, sedih bercampur kecewa. "Sesungguhnya Ibu pun ragu dan bingung harus mempercayai siapa? percaya Hera atau dirimu! tapi melihat kenyataannya dan bukti-bukti yang ada tentunya Ibu sangat kecewa padamu Nia."


"Semua ini gara-gara Hera yang sudah menjebak ku, dia telah menjual ku dan uangnya pun diambil melebihi hutang ku kepadanya! tolong Ayah dan Ibu percaya dengan omongan ku ini, kalau omongan Hera itu tidak semuanya benar!" Sonia mencoba menjelaskan sambil mendongak pada sang ibu dan melihat ke arah pak Amin.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu jangan banyak bicara! cuman bau mulut doang. Kami sudah tidak percaya sama kamu," ucap Cindy kepada Sonia.


Sonia melirik ke arah Cindy yang sangat terlihat membenci dirinya. "Cindy. Kamu itu tidak tahu apa-apa dan jangan meracuni pikiran ayah dan ibu, tolong kalian mengerti. Kalau Ini semua adalah ulah Hera, aku meminjam uang kepada Hera yang pertama dan kedua mengirim kalian uang lebih 100 juta, dan ... pada akhirnya dia menjual ku 800 juta, uangnya dia ambil dan aku nggak tahu 1% pun uangnya ke mana." Sonia mengalihkan pandangan kepada kedua orang tuanya.


"Halah ... itu bohong doang, kata Kak Hera juga nggak kayak gitu. Kamu itu datang-datang langsung menjadi teman tidurnya laki-laki di sana, orang dia cerita semua tentang dirimu dari awal datang! mana percaya aku sama kamu?" Cindy begitu sinis kepada Sonia, dia lebih mempercayai Hera ketimbang Sonia. Kakaknya.


"Astagfirullah ... Cindy. Kakak kamu itu aku bukan Hera, tapi kamu lebih mempercayai dia ketimbang aku, kakak kamu. Dan kalau kamu ingin tahu uang itu aku kemana kan? aku kirimkan ke sini yang aku dengar buat berobat, Ayah operasi. Ayah perawatan ayah! kamu kecelakaan harus bayar ini-itu berobat kamu juga, itu uangnya dari mana? kalau bukan dari aku yang kirim!" kini suara Sonia meninggi yang ditujukan kepada Cindy adiknya.


Dan bukan niat Sonia untuk mengungkit apa yang telah dia berikan kepada keluarganya, tapi setidaknya untuk menyadarkan Cindy agar tidak terlalu mengintimidasi dirinya.


"Oh, jadi kamu mengungkit apa yang sudah kamu berikan! Bu, masih ada sisanya uang itu kan?berikan sama dia, nggak usah kita ambil lagi. Nggak usah kita makan lagi dari uang haram dia!" timpal sang ayah sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sonia.


Namun Cindy tetap aja berekspresi wajah sinis, benci. nggak suka kepada Sonia. Gadis itu yang memang mempunyai sipat angkuh dan seolah tidak tahu diri, dia membawa motor orang kecelakaan menabrak kendaraan orang lain, sampai kendaraan yang dia bawa rusak juga kendaraan yang dia rabrak. Dia sendiri mengalami patah tangan, uang yang sudah dikeluarkan untuk semua itu dari mana? kalau bukan dari Sonia.


"Heh ... denger ya, kakak ku tersayang ... kalau saja tahu uang itu dari mana asalnya? kalau tau uang itu uang haram! nggak mungkin kami terima!" dengan angkuhnya Cindy berkata demikian.


"Oh ya? seperti itu? terus biaya ayah operasi, tek-tek bengeknya! terus kamu juga biaya ini-itu dari mana uangnya? mau minjam dari rentenir sini, agar kalian mencekik kalian semua gitu?" timpalnya Sonia sembari mendudukkan dirinya di atas kursi serta mengusap wajahnya yang basah, percuma menangis juga nggak akan menyelesaikan nggak akan membuat iba.

__ADS_1


"Berarti kamu gak ikhlas, kan? dengan apa yang kamu berikan kepada kami semua? ambil sana sisanya masih ada di rekening Ibu," lagi-lagi Cindy berkata begitu hampir sama dengan yang diucapkan oleh sang ayah.


Sementara Bu Melani lebih banyak diam, bagaimanapun dia masih mempunyai hati. Apalagi dia seorang ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Sonia. Hati seorang ibu tak dapat dipungkiri.


Bu Melani hanya menangis dan terduduk. Berpikir! memang uang yang dikirimkan oleh Sonia itu sangat membantu, dari mana dia akan membawa berobat suaminya, biaya operasi. Keseharian! biaya anak-anak.


Apalagi ketika Cindy kecelakaan yang bukan cuma dirinya yang mengalami luka, tapi juga kendaraan yang dia bawa dan kendaraan yang ditabrak! harus ganti rugi dengan uang yang nilainya itu tidak sedikit untuk keluarga bu Melani, dan pada akhirnya uang Sonia lah yang membantu kesulitan mereka.


Di tambah baru-baru ini pun uang Sonia dipakai membayar tanah yang di atasnya bangunan rumah yang mereka tempati itu, sehingga sekarang menjadi miliknya mutlak.


"Sekarang saya tidak mau mendengar penjelasan apapun dari kamu, sekarang angkat kaki dari sini? jangan anggap keluarga ini adalah keluarga mu lagi, kalau bisa ... saya ingin membayar semu ... a, uang yang telah kau keluarkan untuk kami semua. Karena uang itu uang haram! uang yang tidak berkah dan hanya membawa penyakit untuk kita semua." Sergah pak Amin kembali.


Sonia merasa tercengang, lagi-lagi terdengar ucapan dari sang ayah yang menyuruhnya pergi.


"Kau sudah dengarkan? Ayah menyuruh mu pergi dan tidak Sudi melihat mu lagi. Kau akan dikeluarkan dari kk!" jelasnya Cindy penuh cemoohan dan merasa sangat puas, karena sang ayah telah mengusir Sonia.


Sonia hanya menatap ketiganya dengan tatapan nanar ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Apa kabar reader ku semua, semoga kabar baik ya ada dalam lindungan yang maha kuasa senantiasa diberi kelancaran kemudahan dalam setiap urusan rizki yang berlimpah serta kesehatan. Aamiin 🤲


__ADS_2