Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Meminta maaf


__ADS_3

Pada keesokan harinya tepatnya sore-sore, Hera datang ke rumahnya Pak Amin dengan wajah yang pucat pasih seperti orang yang sedang mengalami ketakutan.


"Assalamu'alaikum ... Paman, Bibi ... apakah ada di rumah?" suara Hera yang sedikit memekik dan berdiri di depan pintu.


Dan kebetulan Ibu Melani sudah berada di rumah. Dia segera membukakan pintu tersebut. "Wa'alaikum salam, eh ....Hera ayo masuk?" Bu Melani langsung menyalakan Hera untuk masuk ke dalam rumahnya dan di dalam ada Pak Amin dan Cindy sedang menonton televisi sementara anak-anak! sepulang sekolah mereka bermain sepedaan.


"Kebetulan bibi dan paman ada di rumah!" ucapnya Hera sembari mengayunkan langkahnya dan mengulurkan tangan kepada Pak Amin juga Cindy setelah sebelumnya dia memeluk Bu Melani.


"Belum berangkat lagi kerja Her?" tanya sang paman.


"Belum, Paman rencananya Berapa hari ini baru mau berangkat lagi!" jawabnya Hera sembari menundukkan wajahnya sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.


"Oh ya, Kak Hera tahu gak? kalau kak Sonia juga sudah pulang dan dia sudah dihalau dari rumah ini alias diusir gara-gara kelakuan dia itu yang sudah menjadi pe-la-cur, jadinya ayah sama ibu nggak suka! diusir deh," celetuknya Cindy yang diarahkan kepada Hera.


Hera mengangkat wajahnya, dan wajah dia semakin pucat. Tampak sekali kalau dia sedang memikirkan sesuatu dan merasa ketakutan.


"Dia ada di Jakarta?" selidiknya Hera.


"Iya. Berapa hari kemarin dia datang dan langsung Paman usir, Paman nggak suka anak paman berbuat demikian, padahal sudah paman ajarin soal agama dengan baik, sudah besar seperti itu." Jawabnya Pak Amin dengan nada geram dan marah.


"Em ... Paman dan Bibi ... A-aku ingin mengatakan sesuatu yang sebenar-benarnya, aku tidak mau mati berdiri atau mati dengan rasa ketakutan karena merasa bersalah yang sudah mengatakan yang tidak-tidak tentang Sonia," ucapnya Hera sembari menatap cemas kepada Pak Amin dan Bu Melani.


"Kak Hera bicara apa sih, ketakutan? mati berdiri apa maksudnya? kak Sonia aja nggak seperti itu yang melakukan dosa, kenapa Kak Hera yang hanya mengatakan kebenarannya kepada kami. merasa ketakutan." Cindy menatap heran ke arah Hera.


"Memangnya kamu mau ngomong apa Her? tampak Ragu sekali, kalau kamu mau ngomong ya ngomong aja yang jelas agar kami mengerti dan paham," Ujarnya Pak Amin kepada keponakannya tersebut.

__ADS_1


Begitupun dengan Ibu Melani yang yang melihat Hera tampak tegang dan gugup, entah apa yang dia takutkan. "Paman bener Hera. Sebenarnya kamu mau ngomong apa? cerita lah sama Bibi, apakah Sonia mempunyai hutang sama kamu atau dia membuat kesalahan sama kamu menatap lekat pada Hera.


"A-aku sudah melakukan kesalahan terhadap Sonia, sebenarnya ... Sebenarnya dia itu--" Hera menggantungkan perkataannya, dia tampak sangat gelisah.


Membuat Bu Melani Pak Amin dan Cindy sangat penasaran dibuatnya.


"Ich, Kak Hera ini mau cerita apa sih? sulit amat kalau kak Sonia buat kesalahan ya bilang aja. Jangan sungkan-sungkan. Lagian dia sudah dimarahin kok sudah dihalau dari rumah ini alias get out." Ucap Cindy sembari menggerak-gerakan tangannya, dia tampak puas dengan dibencinya sang kakak oleh kedua orang tuanya.


Sebelum melanjutkan pembicaraan, Hera menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan kasar lantas mengedarkan pandangan kepada Pak Amin dan lbu Melani.


"Aku harap ... setelah aku cerita kalian bisa memaafkan ku dengan lapang dada, bisa memaafkan ku sepenuhnya atas segala kesilapan ku!" Hera menatap ke arah Pak Amin dan Bu Melani bergantian dengan tatapan penuh harap kalau keduanya takkan marah kepada dirinya.


Semua orang semakin dibuat penasaran jadinya. "Kak Hera gimana sih? ngomongnya digantung-gantung mulu kaya tiang jemuran saja, ngomong dong ... yang bener jangan bikin kita penasaran." Cindy menatap tajam ke arah Hera.


"Kamu yang salah, masalah apa? kamu tidak bersalah. Kamu kan cuma menceritakan kebenarannya yang Sonia lakukan, apa dia mengatakan sesuatu padamu? sampai kamu ketakutan?" pak Amin menatap penasaran ke arah Hera.


"Ti-tidak Paman, Sonia tidak mengatakan apapun dan aku belum sempat ketemu dengan dia." Hera menggelengkan kepalanya.


Karena memang semenjak Sonia diusir dari apartemennya, dia belum pernah ketemu dengan gadis itu lagi. Hanya mendengar berita saja dari Dino Kalau Sonia sudah dinikahi oleh Leo pria yang sudah membeli dirinya.


"Terus apa masalahnya kamu bilang Sonia nggak salah? dalam hal apa?" tambahnya sang bibi.


"Em ... ti-tidak, sebenarnya aku yang salah yang sudah mengarang cerita tentang dia gimana-gimana, padahal semuanya gara-gara aku, Paman. Bibi aku yang salah."


"Emangnya kamu melakukan kesalahan apa Hera? bukankah kamu yang sudah menolong dia, mengajaknya dia bekerja di luar Negeri nya!" sambung Ibu Melani

__ADS_1


"Bibi ... Sonia sebenarnya tidak menjual diri ataupun menjadi pe-la-cur, dia bekerja di butik dan aku yang memasukkan nya ke butik. Tapi setelah dia mempunyai hutang sekitar 100 juta dan itupun uangnya dikirimkan ke sini, aku jadi kalap. Aku punya pikiran buruk untuk menjual Sonia ke laki-laki hidung belang--"


"Apa? kamu ngomong apa Hera? kamu telah menjual Sonia, kau jual ke gadisan dia? ya Allah ... tega banget kamu Hera ... Sonia itu saudaramu Hera! kenapa kamu tega? ya Allah ..." Bu Melani sangat histeris sambil menggoyang-goyangkan bahu nya Hera.


"Maaf, Bibi ... maaf. Aku benar-benar kalap, Bi. Aku yang sudah menjual Sonia kepada pria itu sebesar 800 juta yang aku terima, dan sisanya aku nggak tahu. Dan yang 800 di tanganku itu Sonia tidak tahu menahu. Jadi Sonia tidak menjual diri, tapi aku yang menjebaknya! aku yang menjualnya dan aku juga yang menikmati uangnya!" akunya Hera sembari menundukkan wajahnya ke lantai.


Jelas Pak Amin sangat marah dia tidak menyangka kalau perbuatan ponakannya itu sangatlah tercela dan bahkan menjerumuskan putrinya sendiri. Kedua tangannya mengepal kuat, tahannya begitu mengeras dan dengan cepat dia mendekat ke arah Hera. Plak plak 2 tamparan hangat mendarat di kedua pipinya Hera.


"Auwh ..." Pekiknya Hera. Tamparan itu membuat Hera hampir saja tersungkur dan kedua pipinya langsung memerah kebiru-biruan.


Cindy maupun Bu Melani sangat kaget, shock sangat. Tidak menyangka dengan semua yang Hera katakan tentang Sonia itu.


Apalagi Ibu Melani wajahnya Sudah banjir dengan air mata dia merasa sakit dengan kenyataan yang dihadapi putrinya, Sonia. Dengan teganya Hera menjual Sonia, gadis yang masih suci dan lugu harus hancur di tangan sepupunya sendiri.


Tubuhnya Hera akhirnya merosot berlutut di hadapan Bu Melani, dia menangis dan meminta maaf atas apa yang dia perbuat. Kemudian dia menceritakan dari awal dia menjual Sonia ke salah satu laki-laki hidung belang sebesar 800 juta yang mutlak dia terima dan dengar-dengar, laki-laki itu berani memberi tambahan. Namun Hera tidak tahu soal tambahannya berapa? mungkin Sonia yang tahu.


Namun pada akhirnya Hera mendengar. Kalau Sonia langsung dinikahi oleh pria tersebut, pria yang sudah membeli Sonia dari dirinya jadi ... kata menjadi pe-la-cur atau menjual diri pun sebenarnya tidak ada dalam diri Sonia, karena yang salah adalah Hera dan Sonia langsung terangkat kehormatannya karena dinikahi oleh pria asing itu.


Hera mengakhiri ceritanya sambil mengusap sudut matanya yang basah. Kepada orang tuanya Sonia sebagai ungkapan rasa sesak dan maaf. Sebab sudah membolak-balikkan fakta! dan dia tidak mau hidupnya terus dihantui dengan rasa bersalah.


Apalagi dalam dua hari ini dia benar-benar dihantui dan di teror oleh seseorang yang memaksa dia untuk mengakui dan mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga Sonia tersebut, dan siapa dia Hera tidak tahu ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment dan dukungan lainnya ya ... makasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2