
"Ini baju mahal. Kali-kali kamu pakai napa? agar kamu lebih kelihatan lebih cantik. Kamu ini cantik lho! buruan coba." Titah Hera sambil menyerahkan kembali baju-bajunya pada Sonia.
"Aku tahu ini baju mahal. Tapi apa tidak yang lebih sopan lagi?" Sonia gak mau pakai.
"Ada, jeans, kan sama saja. Sudah! pakai itu saja mana yang kamu lebih suka." Lagi-lagi Hera menyatakan Sonia untuk memakai bajunya.
"Ya ampun ... ini nyablak semua." Sonia menatap baju-baju tersebut.
Namun tak ayal Sonia pun membawa nya ke kamar dia. Lalu di coba juga. Namun semua pendek pertengahan paha, dadanya begitu rendah. Mengekspos belahan dada.
Pada akhirnya, Sonia memilih dress berwarna krem. Lengan sesiku dan ke bawah di atas lutut, leher pun tetap rendah. Tetapi tidak serendah dress lainya yang terlalu.
Lalu Sonia keluar dari kamar dan mendapati tatapan dari Hera yang meneliti dari bawah dan sampai atas.
Hera membuka ikatan rambut Sonia dibiarkannya terurai begitu saja. Terus memberi polesan bedak dan lipstik di bibir, menambah menawan nya kecantikan Sonia malam ini.
"Nah ... gitu kan cantik!" Sedikit menarik gaun bagian bahu agar lebih terbuka.
Sonia menarik kembali bahunya. "Gak nyaman!"
"Sudah, biarkan begitu! biar kamu lebih cantik dan menarik." Tambahnya Hera.
"Aku malu, Her ... aku gak biasa seperti ini!" Sonia masih juga mematung.
"Kau itu kerja di butik. Tau dong penampilan yang menarik ..." Hera menarik tangan Sonia yang langsung meraih tas kecil yang berisi dompet tipis dan ponsel Model lama.
"Aku tahu, tapi setidaknya tidak ngablak begini kerahnya dan bawah juga menutupi lutut biasanya aku pakai. Bukan seperti ini." Protes Sonia kembali.
"Sudah ... jangan tapi-tapi, kita jalan sekarang!" Hera menutup pintunya.
Di lobby bertemu dengan Boby yang bengong melihat penampilan Sonia yang lain dari biasanya. Sungguh cantik luar biasa sehingga Boby dibuat speechless, tidak mampu berkata-kata. Bahkan senyuman Sonia pun dia abaikan saking terpesonanya dia.
"Ujubuneng ... cantiknya Sonia, orang yang jarang bersolek. Pas bersolek bikin pangling sedunia." Boby menggelengkan kepalanya seraya membawa langkahnya memasuki ruang lift.
__ADS_1
Hera dan Sonia memasuki taksi yang akan membawa mereka ke sebuah tempat.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih, Her? dan teman kamu nya mana?" tanya Sonia.
"Iya, kan nanti di lokasi ketemu nya," jawabnya Hera.
"Lokasinya di mana? jauh nggak dari sini?" tanya kembali Sonia.
"Dibilang jauh? ya lumayan, sudah deh jangan banyak tanya yang penting kamu bisa jalan-jalan dan nggak di situ-situ juga, cuman apartemen-butik. Apartemen-butik, nggak bosan apa?" jawabnya Hera kembali.
"Ya ... iyalah. Cuman tahu butik sama apartemen saja, orang gak pernah kamu ajak kemana-mana! nanti sekalinya aku pergi, nyasar gimana? susah kan?" Sonia mesem.
"Iya makanya, mulai sekarang aku ajak kamu jalan-jalan!" tambahnya Hera sambil menyandarkan bahunya ke jok.
"Makasih ya? tapi asli deh aku nggak nyaman dengan pakaian ini!" Sonia tampak gelisah sambil merapikan pakaian yang selalu naik memperlihatkan pahanya yang mulus.
"Nggak nyaman, karena baru. Nanti juga kalau sudah terbiasa akan nyaman!" kata Hera.
"Iya sih kalau sudah terbiasa pasti nyaman, masalahnya aku belum terbiasa dan malu kelihatan paha kelihatan dada, dipikir-pikir kayak ayam saja, nawarin paha dan dada!" Sonia menggelengkan kepala serta menutupi paha dengan tas kecil.
"Di Negeri orang itu, jangan setengah-setengah harus berani agar kamu nanti pulang dapat hasil yang maksimal. Kita harus bisa menunjukkan kepada semua orang di kampung. Kalau kita bekerja jauh itu berhasil, bukan cuma sekedar capek," ujar Hera.
"Tapi kan rezeki orang itu bener-bener tidak semua sama, nasibnya kan berbeda-beda! ada juga sukses dengan kemurnian kerjanya. Ada yang sosok dengan jalan pintas mungkin!" Sonia menggerakkan tangan nya.
"Apapun caranya ... yang penting bikin kita happy, bisa punya banyak duit, kan buat apa kita jauh ke luar Negeri segala, bila kita tidak ada perubahan. Nggak dapat duit yang banyak. Percuma." Hera kembali.
Selang beberapa puluh menit di perjalanan, akhirnya tiba juga di depan sebuah hotel bintang lima.
Hera mengajak Sonia untuk memasuki hotel tersebut.
Sonia celingukan sambil mendongak, melihat gedung tinggi dan mewah tersebut. "Tempat apa ini?"
"Ini namanya hotel bintang 5, hotel mewah dan mahal." jawabnya Hera sambil terus berjalan.
__ADS_1
"Emangnya buat apa kita ke sini, Her? kalau mahal kan sayang uangnya, kan kamu sendiri yang bilang. Kita harus membuktikan pada orang-orang di kampung. Kalau kita berhasil dan berarti kamu pun harus bisa membuktikannya dan uangnya jangan dipakai yang gak penting." Cerocosnya Sonia.
"Jangan banyak bicara! kita ke sini kan ada yang bayarin bukannya bayar sendiri. Males amat kalau harus bayar sendiri!" kemudian Hera mencari kursi nomor sekian yang sudah dijanjikan.
Hera menarik tangan Sonia seraya berkata. "Ayo kita duduk di sana!"
Sonia mengekor di belakang Hera. Lalu duduk di meja nomor sekian yang katanya sudah di sediakan untuk mereka duduk.
Hidangan sudah tersedia di meja termasuk minuman jeruk dan air putih pun ada.
Sonia melongo melihat isi meja yang serba wah dengan hidangan mahal. "Hera ... ini hidangan buat berapa orang dan siapa yang pesan?"
"Ya ... orang lain lah! masa aku, lagian kita lah yang harus habiskan. Kan buat menjamu kita!" Hera pun melihat hidangan di meja.
"Selamat menikmati, Nona-Nona." kata pelayan tersebut sambil membungkuk hormat.
"Terima kasih!" jawabnya Hera sambil tersenyum.
Pelayan tersebut pun mengundur diri, dan datanglah seorang pria yang berwajah tampan dan berbadan atletis. Menghampiri kedua gadis tersebut sambil mengulas senyuman.
Kedua netra matanya mengarah pada Sonia yang tengah menunduk. "Ternyata dia cantik juga, beda dengan yang ada di foto! bos Leo pasti suka dan sekilas pun tampak terlihat, kalau dia benar-benar masih polos. Beda dengan Hera." Batinnya pria yang baru saja datang yaitu tiada lain dan tiada bukan adalah Dino.
Hera berdiri dan mengajak Sonia menyambut kedatangan pria tersebut.
"Selamat malam? sungguh ini sebuah penghargaan yang tidak ternilai, kami berdua diundang seperti ini," ucapnya Hera yang ditujukan kepada Dino.
"Selamat malam juga! saya minta maaf. Bila kalian sudah lama menunggu!" balasnya Dino sambil mengedarkan pandangan ke arah Sonia lalu dia mengulurkan tangan.
Hera menyenggol bahu Sonia agar menyambut tangan Dino. pada akhirnya Mereka pun berjabat tangan.
Kemudian Dino menyuruh keduanya untuk duduk kembali dan menikmati makan malamnya ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Ayo ... masih sepi nih kalau dukungan jangan lupa like dan komen makasih.