Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Pergi


__ADS_3

Kini Sonia sudah berada di dalam apartemen dan langsung membereskan belanjaan di tata di lemari pendingin.


"Tuan, aku nanti sore akan keluar bertemu teman ku dan aku sudah bilang sama tuan Leo. Terus aku pergi sama siapa?" Sonia melirik ke arah Dino yang sedang duduk tegak di sofa.


"Nanti akan ada supir yang akan mengantar mu, Nona." Dino beranjak lalu pamitan dan bilang kalau sebentar lagi akan ada supir yang akan menggantikannya.


Tatapan Sonia tertuju pada daun pintu yang di lintasi oleh Dino. Gadis itu bengong sejenak lalu tangannya kembali merapikan belanjaannya.


Kemudian Sonia mandi terlebih dahulu sebelum pergi untuk ketemuan dengan Cery.


Sekitar dua puluh menit kemudian. Sonia sudah rapi dengan pakaian stelan yang tadi dia beli. Tas pun dia ganti dengan yang baru termasuk dompetnya. Dia Soren, menjinjing sepatu selop yang dia pakai di depan pintu.


Ketika pintu dibuka, ternyata di sana ada seorang pria yang berpakaian rapi kacamata hitam dan usianya sekitar 50 tahun. Sonia terkejut dan hampir masuk kembali dan menutup pintu.


"Pakah anda Nona Sonia?" suara orang itu menatap ke arah Sonia.


"I-iya. A-anda siapa?" tanya balik Sonia menatap intens ke arah pria tersebut.


"Saya orang yang diutus oleh Tuan Dino, bawahannya Tuan Leo untuk mengantar Anda kemanapun pergi!" jawabnya orang tersebut sembari menganggukkan kepalanya.


Sonia terdiam sejenak berpikir Apa benar ini orang suruhan Dino ataupun Leo? takutnya dia orang jahat yang akan mengganggunya atau membawanya kabur!


"E eu eh eh ... kenapa mesti takut kalau aku di bawa kabur ya? biasa aja Bukankah itu lebih bagus buat kamu Sonia, bisa lepas dari predator itu!" dalam hati Sonia


"Enak saja kabur-kabur, sekarang dia itu suami mu gimana pun dia tetap suami mu, apalagi dia tidak menyakiti mu bahkan kamu dibuat senang dimanjakan dengan uang dan kemewahan, apalagi yang kamu cari? dari kampung ke sini kan ... kamu itu mencari uang dan di sini kamu mendapatkan uang yang banyak! berarti kamu tidak bersyukur!" monolog Sonia dalam hati.


Sonia kemudian kepalanya menggeleng lalu perlahan berjalan keluar sembari menutup pintu tersebut.


Diikuti oleh orang yang mengaku sopir dan suruhan Dino tersebut, mereka berjalan beriringan menuju sebuah pintu lift yang akan menyambungkan ke lobby.


Selama di dalam lift yang kebetulan cuman berdua, hati Sonia yang merasa deg-degan bercampur rasa takut kalau orang ini bukan orang yang baik. Namun Sonia berusaha untuk berpikir positif thinking. Jangan berpikiran jelek ataupun suudzon sama seseorang.

__ADS_1


"Mari Nona! mobilnya sudah saya siapkan di depan," ucap pria tersebut sembari menunjuk ke arah depan lobby di mana sebuah mobil mewah tertarik di sana.


"Oh iya, makasih tuan?" Sonia pun mengangguk dan menggerakkan matanya melihat ke arah mobil yang sopirnya itu tunjukkan.


Sonia pun terus berjalan meninggalkan lobby dan mendekati mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh sopir tersebut.


Lanjut Sonia yang menyebutkan nama tempat yang akan dia datangi, yaitu di sebuah taman. Dia akan ketemuan dengan Cery di sana.


Dan katanya Cery akan keluar dari butik sekitar setengah jam lagi. Biar Sonia tunggu saja di tempat yang sudah dijanjikan.


Namun sebelum sampai ke tempat tujuan Sonia mampir dulu ke sebuah swalayan untuk membeli cemilan buat dirinya dan Cery nanti.


Kini Sonia sudah kembali berada di dalam mobil dan belanjaan untuk dibawanya ke sebuah taman di sana Sonia menunggu sahabatnya tersebut.


Kini Sonia sedang duduk di kursi panjang di sebuah taman, melihat pemandangan yang indah. Bunga-bunga yang bermekaran, yang sedang kuncup serta daun-daun yang hijau, tampak langit begitu indah sebuah senja yang merah.


Sonia menyibukkan dirinya dengan menonton YouTube dan sesekali membaca novel dari ponselnya yang sangat baru itu.


Langkahnya pun begitu pelan untuk mendatangi gadis yang tengah duduk di tempat itu,ngak cepat ditanya, takut lain. Nggak ditanya gimana?


Gadis itu berdiri tepat di belakangnya Sonia sambil meyakinkan dirinya, melihat Sonia yang sedang duduk manis dan membaca novel di ponselnya yang masih mengkilap alias masih baru.


"Sonia, Apa ini dirimu? kok pangling sekali sih? rasanya hampir aku tidak mengenalimu!" suara Cery mengagetkan Sonia yang sedang anteng membaca novel.


Sonia dengan refleks menoleh ke arah belakang.


"Cery, beneran ini aku! kalau ini bukan aku! ngapain ngajak kamu ketemuan? aneh deh." Sonia menggeleng sembari menarik tangan Cery agar duduk di samping nya itu.


"Tapi sekarang dirimu itu banyak berubah, tambah cantik pakaian bagus. Tas juga keren, oh iya sebenarnya kamu dari mana sih?" Cery sangat antusias melihat ke arah Sonia yang sudah berubah penampilannya, kuku cantik yang sudah di medicure, pedicure.


"Maaf, Cer ... malam itu aku nggak sempat berpamitan, karena ada orang yang membawa aku paksa dan seperti kau tahu. Barang-barang pun di diambil oleh orang lain." Ungkapnya Sonia kepada Cery yang menatapnya sangat lekat dan penasaran ke arah dirinya.

__ADS_1


"Kaki ku terpeleset di balkon. Sehingga menjadikan kaki ku terluka dan juga masih sakit sampai sekarang. Makanya aku belum bisa masuk kerja Dan tolong katakan aku pada manager!" ungkapnya Sonia.


"Emang kamu terpeleset di mana sih? sampai terluka begitu! lagian kenapa kamu nggak telepon langsung ke aku. Aku pasti jemput, terus kamu tinggal di mana? apakah kamu sudah mendapatkan apartemen, ha?" Cery mantap penasaran.


Sonia terdiam untuk sesaat, dia memikirkan apa dia harus cerita tentang dia yang sudah menikah dengan Leo? tapi Cery pasti akan berkepanjangan bertanya, Sonia memutuskan untuk tidak cerita dulu.


"Aku sudah tinggal di apartemen tapi untuk saat ini tempatnya masih rahasiakan, sebenarnya aku ingin ajak kamu ke sana tapi majikan ku tidak membolehkan ku mengajak siapa-siapa." Akunya Sonia.


"Majikan? maksud kamu, majikan apa? kan kamu bekerja di butik, dan kamu nggak resign kan? belum resign kan?" Cery menatap penasaran ke arah Sonia, dan dia tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


Sonia mengernyitkan keningnya, mencari alasan kepada Cery. "Ma-maksud aku ... aku punya majikan dan kerja nya itu malam setelah aku pulang kerja dari butik, rencananya ya? cuman beres-beres lah!"


"Wih ... enak banget tuh cuman bersih-bersih doang. Tapi gajinya lumayan kan? sehingga kamu bisa beli baju bagus, lihat sepatunya juga bagus. Aish ... aku jadi iri." Cery kembali menatap Sonia dengan sangat meneliti dari ujung rambut sampai ujung kaki Sonia yang benar-benar banyak berubah.


"Aku doain deh, semoga kamu pun dapat kerjaan lebih baik atau sampingan lah, selain itu ya kan?" Sonia tersenyum lalu menawarkan makanan yang ada di sampingnya, tentu Cery menyambut dengan sangat bahagia.


"Sekarang kamu makan aja dulu jangan dulu banyak ngomong, atau banyak bertanya! nanti saja." Sonia menggeser makanan yang seabrek ke dekat Cery.


"Wah .... bener nih, boleh aku makan? kalau habis gimana? kamu kan tahu aku orangnya suka makan?" Cery menatap ke arah Sonia yang tersenyum lebar ke arahnya.


"Aku beli itu untuk dimakan, bukan untuk dibuang. Dimakan ach jika kamu masih kurang nanti aku belikan lagi gratis tis tis tis. Jangan khawatir!" Sonia semakin mendekatkan makanan tersebut ke pangkuannya Cery.


"Semua makanannya enak-enak pula, kamu belanja begitu banyak nggak sayang ya uang mu dipakai belanja kayak gini?" ucap Cery sembari menikmati makanannya.


"Aduh Cer ... ini nggak seberapa! Sudahlah ... makan aja dulu!" begitupun dengan Sonia. Kini dia menyimpan ponselnya dan menikmati eskrim yang sangat manis.


"Ngomong-ngomong itu handphone mu kok baru ya? lebih bagus lagi, lebih canggih juga dan harganya pasti mahal banget," suara Cery yang penuh dengan makanan di mulutnya! melirik ke arah ponsel yang ada di pangkuan Sonia.


"Oh ini ... pinjaman dari bosku karena dia nggak mau melihat Aku memakai ponsel jadul katanya!" akunya Sonia sembari mengelap mulutnya yang belepotan dengan es krim ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like comment subscribe kasih bintang 5 dan dokumen lainnya, terima kasih


__ADS_2