Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Beli sepeda


__ADS_3

Kini mereka sudah berada di tempat wisata, dan adik-adik nya Sonia tampak sangat happy sekali, menikmati suasana.


Sesekali Sonia melamun memikirkan nasibnya yang di benci oleh orang tua nya sendiri. Bingung iya, dia sangat mendambakan keluarga nya rukun dan saling menyayangi.


"Oya, Rendy, kak Cindy kemana? kok Kak Nia gak melihat dia tadi." Tanya Sonia tentang Cindy.


"Masih tidur lah Kak ... dia bangunnya siang, makan tidur lagi dan begitu seterusnya." Jawabnya Rendi.


"Emang gak bantuin ibu? kan bukan berarti tidak bisa ngapa-ngapain biarpun biarpun tangannya sakit." Sonia menatap sang adik.


"Mana ada, yang bantuin ibu itu kita bertiga ya? bantuin nyuci dan setrika. Ngepel juga." Kini giliran Iman yang menjawab.


"Hooh, kak Cindy itu kerjaannya makan tidur dan main ponsel aja, semalam juga merajuk minta pulsa Rp 100. Ibu kan dari mana uangnya kalau bukan uang kiriman dari kak Nia." Tambahnya Luky.


"Oya?" Sonia menjadi bengong, ternyata adik perempuannya seperti itu.


"Bilangin dong ... jangan gitu sama kak Cindy, harus bantuin ibu, kan bisa dengan tangan satunya lagi. Seperti nyapu kan bisa." Kata Sonia pada adik-adik nya.


"Sudah, sering di tegur sama ibu. Tapi kak Cindy gak mau dengar!" Kata Rendy sambil menikmati makanannya.


Sonia menghela nafas dalam-dalam sembari menggelengkan kepalanya.


Hari sudah menunjukan sebuah sore yang indah dan Sonia mengajak adik-adiknya untuk pulang dan dia akan mengantarkannya dulu ke rumah.


"Pulang yo? udah sore! takut kemalaman. Nanti ibu sama ayah marah lagi!" ajak Sonia pada ketiga adiknya.


"Ayo, kita pulang! nanti nenek lampir marah juga!" Iman mengangguk.


Sonia merasa heran. "Nenek lampir? siapa itu?"


"Siapa lagi, kalau bukan Kak Cindy. Dia kan lebih bawel dari ibu dan marah-marahnya tanpa alasan! pokoknya bikin sebel, kalau nggak kasihan pengen nabok aja pakai sendal," jawabnya Rendy.


"Hooh bener, kalau aku nggak merasa kasihan, ingin ku gantung deh atau ku patahin tangannya satu lagi biar jelas dia nggak mau kerja juga." Timpalnya Iman.

__ADS_1


"Kalau aku sih ... nggak mau ngapa-ngapain cukup ambil aja ponselnya dan aku jual biar nggak main handphone lagi, biar gak main ponsel terus dan nggak bikin ibu riweh untuk mengisi kuotanya! enak saja," tambah si bungsu Luky yang tampak geram juga kepada Cindy.


Sonia hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Lalu kemudian mengajak mereka keluar dari tempat wisata tersebut dan mencari taksi.


"Kakak hebat, setelah bekerja di luar Negeri duitnya banyak." Kata si bungsu Luky setelah berada di dalam taksi.


"Bukan banyak, tapi ada pakaian kalian mana? Oh ya kalian mau beli apa. Nanti Kak Nia belikan! mau beli mainan atau apa? peralatan sekolah mungkin. Sepatu, tas?" tawar Sonia kepada Rendy iman dan Luky.


"Aku sih ... tidak mau mainan. Kak, aku maunya kamar agar aku punya kamar sendiri dan tidak bareng-bareng lagi sama yang lain," jawabnya Rendy.


"Aku juga pengen punya kamar sendiri, biar nggak bareng-bareng sama Kak Rendy dan Luky!" tambahnya Iman.


"Aku juga!" sambarnya Luky.


"Iya, nanti kalau sudah ada rezeki, rumahnya di renovasi biar kalian punya kamar sendiri-sendiri. Nggak seperti sekarang bersama dulu aja ya? Kakak janji kalau ada rezeki ... kalian bikin kamar masing-masing." Sonia tersenyum sembari mengusap kepala mereka bergantian.


"Hore ... aku mau punya kamar sendiri!" si Luki bersorak! dia merasa senang karena kata Sonia nanti akan membuat kamar buat mereka masing-masing.


Semuanya menggeleng! namun pada akhirnya Rendi berkata. "Kalau Kakak punya uang ... aku pengen sepeda dong, yang besar biar aku sekolah nggak naik angkutan umum, nggak apa-apa Aku naik sepeda aja!"


"Ya, aku juga dong! itupun kalau Kakak ada uang!" Iman pun berkata demikian.


Keduanya menatap ke arah Sonia, begitu pun dengan Luky. "Kalau Kak Rendy sama kak Iman dibeliin! Aku juga mau dong ... aku juga mau sekolah pakai sepeda aja biar nggak naik angkutan umum! kasihan Ibu kalau nggak ada ongkos."


"Masya Allah ... adik-adik aku!" batinnya Sonia sambil menatap ke arah tiga adiknya. Lalu Sonia menghela nafas dalam-dalam.


"Kalau memang kalian pengen sepeda dan niatnya buat sekolah agar nggak ngerepotin ibu sama ongkosnya, kakak akan memberikan kalian semuanya! senang nggak?"


"Horeiii ... kita beli sepeda ... kapan belinya Kak?" lagi-lagi Luky bersorak kegirangan, Dia sangat bahagia karena akan dibelikan sepeda.


"Belinya Sekarang aja dong ... mau kapan lagi!" jawabnya Sonia.


Kemudian Sonia meminta pada sopir taksi, agar membawa mereka ke toko sepeda yang langsung merespon dengan anggukan.

__ADS_1


Rendy, Iman dan Luky sangat berterima kasih kepada Sonia yang akan membelikan mereka sepeda.


"Kakak belikan hadiah, sepedanya karena kalian katanya sudah rajin membantu ibu, dan dengan punya sepeda Jangan malas ya untuk bantuan Ibu lagi. Oke teruslah jadi anak-anak yang baik yang sayang sama orang tua dan mau bantu kesulitannya!" pesan Sonia.


"Tentu, Kak. Kami akan selalu membantu ibu! kasihan dia nggak ada yang membantu! apalagi Ayah sekarang kan nggak bisa bekerja hanya mengandalkan ibu dan uang kiriman Kakak." Jawabnya Iman.


"Iya, kalian bantu ibu. Tapi sepulangnya sekolah, sekolah kalian pun yang bener dan kalian harus lanjutin sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Soal biaya insya Allah Kakak yang akan biayain! jangan sampai kalian putus sekolah seperti kakak! yang penting kaliannya jujur dan rajin." Sania berjanji dalam hati. Dia harus bisa menyekolahkan adik-adiknya sampai ke jenjang perguruan tinggi, dengan cara apapun dia akan tempuh sekalipun harus bekerja lagi.


"Iya Kak ... aku juga pengen kuliah kata Rendy yang masih duduk di bangku sekolah SMP begitupun dengan Iman.


"Pokoknya kalian harus rajin belajar! tunjukkan kepada keluarga pada semua! kalau kalian akan mampu mengangkat derajat orang tua dengan kepandaian kalian dan ketaatan kalian kepada orang tua! biayanya akan Kakak usahakan!" tambahnya Sonia.


"Aamiin semoga Kakak panjang umur, mudah rezeki dan sehat ... juga rezeki yang banyak deh!" kata Luky yang di Aamiin kan juga oleh kedua kakak-kakaknya.


Setibanya di toko sepeda! mereka langsung memilih sepeda mana yang mereka suka namun tetap keputusan ada di Sonia! karena Sonia ingin membeli barang yang bagus bukan cuma dari penampilan tapi juga kekuatan.


Biar sedikit mahal yang penting kualitasnya bagus. Nggak mahal. Dan pada akhirnya pihak toko sepeda pun merekomendasikan sepeda-sepeda yang kata mereka lebih bagus kualitasnya! hingga Sonia membeli 3 buah sepeda. Tiga pun cukup merogoh kocek yang lumayan dan 25 juta untuk 3 sepeda lumayan dibilang mahal bagi ukuran Sonia dan dan keluarga.


Saat ini sudah selesai mengurus kwitansi dan pembayaran! tinggal barangnya akan diantar dengan mobil. Dari pihak toko langsung.


"Ya ampun, Kak ... ini tiga buah sepeda 25 juta harganya? harga untuk satu motor lho kak!" Rendy menatap sang kakak sambil memegangi sepedanya.


"Tidak apa-apa! yang penting kan kualitasnya bagus. Ya sudah! kita pulang? taksinya sudah menunggu sedari tadi, kasihan," Sonia mengajak mereka bertiga pulang.


"Itu sepeda nya gimana Kak?" tanya lucky menatap penasaran pada sang kakak.


"Sepedanya nanti dianterin sama mobil, kita pulang aja duluan!" Jawabnya Rendy yang menjawab pertanyaan dari Luky.


Kemudian mereka pun memasuki taksi yang tadi dan sekarang perjalanan untuk menuju pulang ....


...🌼---🌼...


Mohon dukungannya ya Terima kasih semuanya

__ADS_1


__ADS_2