Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Tas mahal


__ADS_3

Setelah membayar. Mereka pun berjalan keluar, Sonia membereskan barang yang tadi Sonia sodorkan.


Kini semua sudah rapi kembali tiba-tiba ia melihat sebuah tas tangan di atas sofa, Sonia mendekati dan mengambilnya.


"Punya siapa ya?" mata Sonia mengamati sekeliling siapa tahu pemiliknya masih ada di sana, kemudian memberanikan diri membuka tas tersebut. Mengambil dompet siapa tahu bisa melacak siapa pemiliknya.


Di dalam dompet ada beberapa lembar uang dolar, beberapa kartu kredit card dan kartu ATM, Sonia fokus pada kartu tanda pengenal melihat nama dan poto tersebut.


"Monalisa?" gumam Sonia. "Pasti ini milik oma yang tadi, aku harus kembalikan segera." Sonia langsung mencari orang yang punya tas tersebut, dengan sedikit berlari keluar dari butik.


Cery yang melihat Sonia keluar setengah berlari. "Nia kau mau kemana?" pekik Cery pada Sonia.


Sonia hanya melirik dan memberi kode, bahwa dia akan keluar sebentar. Setelah di luar, Sonia ke tepi jalan mencari oma Monalisa, kepala Sonia mencari-cari, tengok kanan dan kiri.


Tak selang lama. Sonia melihat Nyonya yang tadi bersama oma monalisa, mau masuk ke sebuah mobil mewah warna hitam. Sonia berlari. Takut mobil segera melaju, benar saja. Mobil tersebut sudah mulai merayap menjauhi dirinya.


"Tunggu, Nyonya tunggu?" teriak sonia sambil berlari.


Namun mobil masih melaju walau pun pelan, akhirnya Sonia bisa mengetuk kaca belakang mobil mewah tersebut. Dengan nafas tersengal Sonia berkata. "Tunggu nyonya?"


Pemilik mobil mewah tersebut merasa ada yang mengejar, dan memang benar terlihat jelas dari spion, seorang menghentikan mobilnya. Kemudian membuka kaca jendela. "Ada apa Nona?" tanya wanita paru baya itu menatap heran pada Sonia.


Sonia membungkukkan badannya. Agar sejajar dangan orang yang tengah duduk dalam mobil.


Masih dengan nafas yang ngos-ngosan, Sonia memberikan sebuah tas branded. "Apa ini milik anda nyonya?"


Orang yang di dalam mobil keheranan, oma yang baru sadar ia kehilangan tas branded nya celingak-celinguk. "Elsa ... tas mahal ku hilang, di mana tas milik ku Elsa?" teriaknya.


Nyonya Elsa mengambil tas yang masih berada di tangan Sonia. "Dari mana kau temukan tas Ibu, Nona?" tanya nyonya Elsa merasa senang dan mengamati tas Ibunya tersebut.


Oma Monalisa menyambar tas miliknya. Di bolak balik. "Apa kau mengambil isinya Nona?" ketus oma Monalisa.


"Ibu ... jangan berpikiran buruk dulu?" tutur nyonya Elsa.


Sonia tersenyum lalu berkata. "Silahkan di cek isinya Nyonya, aku yakin isinya masih utuh. Karena aku cuma melihat kartu tanda pengenal saja. Nyonya, untuk memastikan pemiliknya."

__ADS_1


"Alaah ... siapa tahu ada yang kau ambil apa pun itu, kalau ada yang hilang. Awas saya tak akan memberi ampun kau?" ketus oma Monalisa.


Sonia masih tersenyum tenang, memberi isyarat dengan matanya. "Silakan di cek Nyonya, kalau takut ada yang hilang."


"Ibu jangan menuduh orang sembarangan? sudah baik Nona ini mengembalikan pada kita, Bu." kata nyonya Elsa seolah membela Sonia yang sudah berbaik hati.


"Kamu ini bukannya membela Ibu? apa kau senang bila tasku hilang, iya?" Mulut oma komat kamit entah apa itu. Kemudian ia membuka dan mengecek isinya, tak ada satupun yang hilang.


"Gimana Bu? apa ada yang hilang?" tanya Elsa. Kepada sang Ibu, dan Ibunya hanya menggelengkan kepalanya.


Oma, merasa malu setelah melihat isi tasnya. Semua masih komplit, tak ada yang kurang satu pun. Sonia pun merasa lega.


"Makanya jangan asal nuduh Bu?" nyonya Elsa mengambil beberapa lembar uang dari dompet miliknya, dan diberikan pada Sonia yang masih berdiri di samping mobil. Untuk memastikan semuanya tak ada yang kurang.


Namun Sonia menolaknya, dengan alasan ia ikhlas menolong. Serta mengembalikan tas itu pada pemiliknya.


"Ambilah Nona? saya sangat berterima kasih kepada kamu Nona, sudah menemukan tas Ibu saya dan sudi mengembalikan nya. Kau sudah lari-lari mengejar kami." Nyonya Elsa pada Sonia.


"Sama-sama Nyonya, maaf saya tak bisa terima pemberian dari nyonya, permisi Nyonya," Sonia mengangguk hormat, dirinya tetap menolak pemberian Wanita tersebut.


"Sungguh gadis yang baik hati." gumam oma pelan.


"Ibu harusnya malu, dengan gadis baik seperti dia. Di curigai segala." gerutu Nyonya Elsa pada Ibunya, yang mengalihkan pandangan.


Sekembalinya dari mengantar tas seseorang, Sonia kembali ke tempatnya bekerja.


"Dari mana kau Nia? lama sekali?" tanya Cery mengamati Sonia yang nampak lelah dan berjalan gontai.


"Tadi ada orang yang ketinggalan tasnya di sini, ya aku antar. Kebetulan orangnya masih ada di jalan." Jawab Sonia melanjutkan tugasnya kembali.


"Oh," Cery membulatkan bibirnya, tak lantas bertanya lagi.


Pukul 07.00 malam Sonia bersiap pulang, ia berdiri di tepi jalan bersama teman kerjanya, Cery. Menunggu taksi.


Tutttttt ....

__ADS_1


Tuttttt ....


Suara klakson mobil berbunyi, dari sebrang Sonia dan Cery berdiri. Di dalam mobil tersebut keluar kepala seorang pria tampan.


"Siapa tuh klakson kita Nia? uhh ... tampan sekali pria itu?" Cery memegang kedua pipinya begitu merasa kagum.


Sonia menoleh kearah mobil tersebut, "Siapa?" gumamnya. Setelah mengamati dengan seksama akhirnya Sonia mengenali pria tersebut.


"Bukankah dia pria yang bernama Boby?" ucap Sonia pelan. Namun Cery dengan jelas bisa mendengarnya.


Cery menoleh kearah Sonia. "Siapa? namanya Boby? kau mengenalnya Nia?" kembali melihat pria tersebut yang kini melambaikan tangan pada Sonia.


Sonia tersenyum, membalas lambaian tangan Boby. "Ya, sepertinya dia satu apartemen denganku."


Boby keluar dari mobil dan berjalan menghampiri kedua gadis tersebut.


"Hi ... Nona kau mau pulangkan? bareng dengan diriku, kebetulan kan satu arah dan satu apartemen juga. Kau sedang menunggu taksi kan?" ujar Boby sambil mengedipkan salah satu matanya.


"Hi ... juga Tuan Boby. Terima kasih banyak, biar aku naik taksi aja," tolak Sonia, merasa tak enak. Baru tadi pagi ia menumpang mobil tersebut.


"Tampan banget, pria ini ya Tuhan ... begitu sempurna ciptaan mu." Gumam Cery sampai-sampai matanya tak berkedip memandangi wajah Boby.


"Hei ... kenapa? aku tak merasa di repot kok olehmu Nona? ayolah. Aku akan dengan senang hati mengantar mu Nona." Boby kekeh, dengan tatapan penuh permohonan.


Sonia tersenyum mendengar ucapan Boby, seolah-olah dia sudah mengenal lama dirinya.


"Ta-tapi ... aku berdua dengan temanku." Sembari melirik Ceri yang masih intens memandangi Boby, dengan mulut menganga.


"Auww ... sakit tahu." Pekik Cery mengangkat kakinya yang di injak kaki Sonia.


"Habis ... kau tidak sopan banget, memandangi orang sampai mulut menganga seperti itu. Masih mending tak keluar tuh air liurnya." bisik Sonia pada Cery yang malah nyengir ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa subscribe ya, like dan komen. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2