Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Mengatakan sesuatu


__ADS_3

Mobil Bobby berhenti di sebuah danau kecil dan Bobby mengajak Sonia untuk sekedar mengobrol di sana.


"Kenapa ke sini? Emangnya kamu nggak kerja jam segini kan waktunya kerja." Tanya Sonia sebelumnya turun dari mobilnya Bobby.


Menayap ke arah depan, di mana adanya danau kecil dengan air yang begitu tenang tidak bergoyang sedikitpun menyejukan pandangan.


Bikin tenang dan tentram, suasana sekitarnya hijau membuat tenang dan hati dan memanjakan mata yang memandang.


"Aku sering ke sini dan tempat ini terasa tenang, tentram ... membuat sejuk hati ini!" ucapnya Bobby seraya membuka pintu mobil kemudian dia turun diikuti oleh Sonia.


"Iya benar soh, suasananya tenang. Tentram, damai. Bikin hati nyaman dan mendinginkan kepala yang panas. Aku langsung suka dengan tempat ini." Gumamnya Sonia seraya mendudukan dirinya di atas hamparan rumput yang hijau serta bibir yang mengembang.


Kedua netra Bobby melihat ke arah Sonia. Yang menunjukkan rasa bahagianya dan bibirnya terus tersenyum, sambil melihat ke arah danau yang airnya terlihat tenang dan jernih.


Hening ...


Sejenak Sonia dapat melupakan masalah dia yang dipecat dari kerjaan dan sejenak pula dia bisa melupakan kalau ini semua gara-gara Hera.


"Apakah kamu pernah ke apartemen saudaramu lagi?" tanya Bobby sembari melirik sekilas ke arah Sonia lalu mengalihkan pandangan kembali ke tengah danau.


"Em ... semenjak itu aku belum pernah ke sana lagi, dan aku belum ketemu sama Hera juga serta tidak juga ada komunikasi!" jawabnya Sonia.


"Kenapa seperti itu. Bukankah kalian punya pertaloan saudara?" Bobby mengerutkan keningnya seraya menatap heran ke arah Sonia.


"Entah, aku tidak mengerti!" Sonia menggelengkan kepalanya dia malas untuk pembahas, apa lagi otomatis akan terkenang di mana dia dijual oleh gadis itu kepada seorang pria yang bernama Leo.


"Aku sih melihat! sekarang dia lebih intens membawa teman prianya ke apartemen, aku sih sangat bersyukur karena kamu sudah keluar dari apartemennya, Nona." Dan kini Bobby mendudukan dirinya di samping Sonia.


Sonia menolehkan kepalanya kepada Bobby. "Apa? dia sering membawa teman prianya? kok kamu sering lihat dia! sering perhatikan dia ya ... ayo ngaku?"


"Hem," Bobby menggelengkan kepala seraya tersenyum kecut. "Bukan memperhatikan! tapi sering melihat dengan secara kebetulan! makanya aku bersyukur jika kamu sudah tidak lagi tinggal bersamanya."


"Tapi biarpun aku tidak tinggal lagi bersama Hera! tetap saja semua sudah terlanjur dan aku sudah terjebak dengan keadaan!" gumamnya Sonia tanpa diuraikan dengan kata-kata.


"Apa boleh aku mengatakan sesuatu padamu?" serunya Bobby seraya melepas tatapan yang sangat lekat pada wajah Sonia dari samping.

__ADS_1


Sonia melirik dan menatap heran. "Emangnya mau berkata apa? serius amat. Emangnya sedari tadi kamu tidak ngomong apa-apa ya? perasaan dari tadi juga kamu terus berkicau."


"Aduh ... Nona! kau bilang berkicau! emangnya saya ini burung apa?" Bobby tersenyum renyah mendengar perkataan dari Sonia barusan.


"Habis ngomongnya gitu, sedari tadi bicara terus, bukan lagi ngomong sesuatu! he he he ..." Sonia terkekeh.


"Yang serius dong ... aku mau ngomong nih!" Bobby kembali berucap dengan dada sangat serius.


"Ya bicaralah aku dengerin kok," sahutnya Sonia sembari membalas tatapan dari Bobby yang membuat hati Bobby bergetar hebat.


"Em ....sesungguhnya semenjak pertama kita bertemu,-- aku--"


Rettth ....


Rettth ....


Suara getaran dari ponsel Sonia mengganggu gendang telinga. Sehingga Bobby menjeda ucapannya, dengan kedua netra melihat ke arah tas Sonia. Dimana datangnya semner suara tersebut.


Dan Sonia pun langsung mengambil ponselnya dari tas dan melihat siapa yang memanggil dirinya dan ternyata dia Leo. "Ada apa predator itu memanggilku? tumben sekali!" gumamnya dalam hati.


"Aku terima telepon dulu ya?" Sonia langsung beranjak dari duduknya dan menjauhi Bobby.


Sonia menerima telepon dari Leo dan langsung di alihkan pada panggilan video call oleh Leo, sehingga beliau bisa melihat Sonia sedang berada di mana dan dengan siapa?


"Kenapa kau? sedang berada di danau? bukannya kamu hari ini masuk kerja di butik?" Leo tampak mengerutkan keningnya dan mengarahkan pandangan pada Sonia.


"Aku di pecat! dikeluarkan dari kerjaan dan itu gara-gara anda! kalau bukan gara-gara Anda, aku tidak mungkin dipecat dari butik!" jawabnya Sonia sedikit kesal.


"Ha ha ha ....oh ya. Baguslah biar kamu cukup melayani saya saja setiap malam, setiap hari dan setiap waktu. Sekarang kamu pulang! karena saya sudah ada di apartemen." Leo menyuruh Sonia untuk segera pulang karena katanya dia sudah berada di apartemen.


"Di apartemenku ngapain kau pulang jam segini baru jam 10.00." Sonia merasa heran lagian dia masih betah di tempat itu yang tampak tenang dan tentram.


"Heh, Nona. Terserah aku mau pulang jam berapa pun. Dan terserah aku juga mau minta di layani kapan saja." Jelasnya Leo lalu mematikan sambungan video call-nya.


"Ya ampun ... Ini orang kenapa sih kok jam segini dah pulang. Lagian aku masih betah di sini!" menghela nafas lesu sembari menatap ke arah danau yang begitu memberikan ketenangan, airnya jernih dan mencerminkan warna langit yang sedang cerah.

__ADS_1


Bobby menghampiri. "Ada apa dan siapa yang menelpon?" selidik Bobby dengan tatapan yang tampak penasaran.


"Oh itu ... itu majikanku, maksud aku majikan kerja sampinganku. Aku pulang dulu ya? lain kali kita ketemu lagi. Mungkin besok aku akan menemuimu!" Sonia terburu-buru memasukkan ponsel ke dalam tas lalu dia pun hendak berjalan.


"Eeh, kamu mau ke mana?" Bobby meraih pergelangan tangan Sonia.


Membuat Sonia menoleh dan menggerakkan matanya melihat tangan Bobby yang memegang pergelangan tangan dia.


Sehingga bobby segera melepaskan tangan Sonia. "Sorry, emangnya kamu mau ke mana?kalau mau pulang ... biar aku antarkan! soalnya kau ke sini kan sama aku, masa sekarang kau pulang sendirian!" Bobby langsung berjalan mendekati mobilnya dan membuka pintu mobil buat Sonia.


Sejenak Sonia terdiam. Apa iya harus diantar sama Bobby? Tapi biarlah nanti saja di tengah perjalanan minta diturunkan.


"Iya kalau pulang. Makasih ya sebelumnya?" Sonia melepaskan senyumnya yang begitu manis kepada Bobby.


Kemudian Bobby mengitari mobilnya lalu duduk di belakang kemudi, lanjut melajukan mobilnya dengan sangat cepat dan sesekali melihat ke arah Sonia yang tampak gelisah.


"Kenapa, kau tampak gelisah begitu? gak ada masalah bukan!" selidik Bobby sambil menyetir dengan fokus.


"Ooh, tidak. Gak ada masalah apa pun?" Sonia menggeleng sambil menunjukan senyumnya.


"Oke, kalau begitu!" Boby terus melajukan mobilnya sampai pada saatnya Sonia minta di turunkan.


"Berhenti, aku turun di sini saja dan makasih kau sudah mengantar ku." Sonia menyetop mobil Bobby.


Mobil Bobby merayap ke pinggir seraya menatap ke arah Sonia. "Emang di mana tempat tinggalmu? biar aku antar sampai rumah."


"Oh tidak, tidak usah. Lagian tidak jauh lagi kok dari sini. Makasih ya? Sonia pun turun dari mobilnya Boby


"Yakin, tidak mau aku antar sampai rumah?" ucap Bobby kembali, setelah Sonia berdiri di samping mobil tersebut.


"Tidak usah, makasih! nggak jauh lagi kok, hati-hati ya!" Sonia melambaikan tangan ke arah Bobby yang mulai melajukan kembali mobilnya.


Setelah mobil Bobby benar-benar tidak ada lagi, barulah Sonia mengayunkan langkahnya menuju gedung apartemen yang tinggal berapa puluh meter lagi dari sana.


Sonia terus berjalan melipir di sela-sela kendaraan yang ada di halaman parkir gedung tersebut. Yang tidak dia sadari adalah Bobby yang dia yakini sudah pergi, malah balik lagi dan memperhatikan langkahnya Sonia ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment dan subscribe terima kasih.


__ADS_2