Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Marah


__ADS_3

"Sebaiknya kau sarapan dulu, Kau pasti lapar bukan?" Leo menatap ke arah Sonia yang masih mematung menatap kertas cek yang kini tergelatak di atas tempat tidur.


"Apa kau tidak ingin sarapan? nanti kau sakit, mending bila kau masih hidup. Kalau mati saya tidak mau tanggung jawab karena saya sudah berusaha untuk memberimu makan.


Leo terus memandangi ke arah gadis itu yang tampak lebih cantik dengan gaun yang dia pulihkan tersebut.


"Permisi?" suara seseorang yang langsung masuk melintasi pintu.


"Kau antar dia pulang. Jangan lupa suruh dia makan, saya capek menyuruhnya makan!" suara Leo sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Dino melirik ke arah Sonia yang berwajah sendu dan berdiri di dekat tempat tidur.


"Bawa dia pulang sekarang juga, saya muak melihat dia terus seperti patung!" Leo mengibaskan tangan memberi kode agar Dino segera mengantarnya pulang.


Dino pun langsung menghampiri Sonia yang langsung berjalan menuju pintu. Dan Dino mengambil cek yang tergeletak di atas tempat tidur. Pria itu bisa menduga kalau bos Leo sudah mendapatkan yang dia inginkan, sehingga cek berisi 500 juta dia berikan sebagai tambahnya.


Dino mengarahkan Sonia yang terus berjalan ke lobby dan mendatangi mobilnya.


"Anda tau alamat anda tinggal?" tanya Dino pada Sonia yang duduk sambil melihat keluar jendela.


Sonia tampak menangis. Dan pikirannya terus terbayang kejadian semalam yang sudah merenggut kesuciannya.


Dia ingin marah pada Hera yang sudah menjerumuskan dia.


"Nona. Saya harap, kau dapat menyimpan ini. Tuan Leo tidak akan menerima sesuatu dengan percuma, anda akan bertambah rugi bila tidak ingin menyimpan ini." Dino memberikan kertas cek pada Sonia.


Dengan perlahan. Sonia melihat ke arah cek tersebut.


"Kalau anda tidak mau menerimanya, anda tentunya akan bertambah rugi. Jadi terima saja dan siapa tahu satu waktu anda akan membutuhkannya." Tambahnya Dino.


"Siapa yang sudah menjual ku?" tanya Sonia dengan nada dingin dan pelan.

__ADS_1


"Tentunya teman anda. Dia bilang kalau anda sedang membutuhkan uang yang banyak dan berniat menjual diri." Jawabnya Dino dengan sangat meyakinkan.


"Apa? itu tidak benar! aku memang membutuhkan uang tapi tidak pernah ada yang jual diri. Saya tidak pernah berniat untuk itu, saya masih punya iman dan saya masih bisa bekerja yang halal seperti itu!" suara Sonia bergetar.


"Saya hanya membeli dan tidak mau banyak bertanya ataupun mau mencampuri urusan orang. Yang jelas anda sudah dihargai 1.3 m, memberikan pada wanita itu ... senilai 800 juta dan sisa nya buat anda, tapi karena bos saya berbaik hati ... dia menambahkan lagi menjadi total 1.5 m."


"Gila, saya di jual saudara sendiri." Sonia menggeleng sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Makanya anda akan sangat rugi, jika anda tidak mau menerima cek ini. Dan kedepannya anda juga tidak perlu meneruskan kejadian itu. Anggap saja semuanya tidak pernah terjadi, lanjutkan saja hidupmu dengan baik di jalan yang benar. Jika memang anda tidak pernah ada untuk menjual diri! cukup sekali ini saja."


Kemudian, Sonia mengambil juga cek tersebut lalu dia masukan ke dalam saku.


"Kata-kata menjual diri itu cukup satu kali saja, kepada tuan Leo! jangan menjajakan diri lagi ke pria lain Nona. Dan cukup satu kali saja!" Sambungnya Dino.


Dino terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, setidaknya dia meminta serlok pada Hera untuk mengantarkan Sonia ke tempat tersebut.


Setibanya di depan apartemen. Mobil Dino berhenti dan Sonia langsung turun, berlari menuju apartemennya. Dia ingin segera bertemu dengan Hera yang sudah menjual dirinya kepada Leo.


Sonia berlari dan memasuki apartemen dan langsung menemui Hera yang dia yakin berada di kamarnya mungkin sedang tidur.


Gadis itu mendapati Hera yang sedang tidur. Dan bugh ... Sonia memukul kaki Hera dengan bantal.


"Hera, kau bangun?" suara Sonia sambil menahan tangisnya.


Hera yang kaget, langsung terbangun dan memicingkan manik matanya ke arah Sonia.


"Kau, baru pulang?" tanya Hera dengan suara parau nya.


"Kau tega sama aku! kau jual aku Her ... kau tega sama aku!" suara Sonia bergetar dengan tatapan nanar pada Hera yang dengan muka bantalnya.


"Ooh, itu ... kan saya tahu kamu butuh uang dan sudah berhutang pada ku berapa. Banyak!" bela Hera.

__ADS_1


"Aku akan membayarnya dengan cara mencicil. Tidak perlu kau jual aku!" pekiknya Sonia.


"Sampai kapan kau akan mencicilnya ha? sampai lebaran monyet yang gak pernah ada gitu? aku juga butuh uang! makanya aku bekerja. Kalau aku gak butuh uang? aku nggak bakalan bekerja, ngerti gak?" teriak Hera tak kalah kerasnya.


"Tapi bukan berarti aku harus dijual. Aku bukan wanita murahan! aku masih punya harga diri dan aku masih punya iman ... hik-hik-hik." Sania kembali menangis dan kini terdengar pilu. Dia tidak tahu harus marah seperti apa lagi kepada Hera yang sekaligus dia berhutang budi.


"Saya bilang ya sama kamu, kini kau akan dengan mudah mendapatkan uang yang banyak. Kau bisa mengirim uang ke kampung dengan banyak. Dan itu bukan sekedar pinjaman." Hera meracuni Sonia.


"Aku pengen punya banyak uang, tapi bukan cara menjual diriku sendiri, aku malu pada orang tua aku dan juga kekasihku lagi hik-hik-hik." Sonia menyesali dengan yang sudah terjadi.


Hera kembali membaringkan tubuhnya lantas ditarik oleh Sonia. "Kamu tega sama aku, seharusnya kamu ngomong dulu sama aku, bukan begini caranya!"


"Jika saya omongin terlebih dahulu, kamu itu nggak bakalan mau dan nggak mungkin uang saya kembali dengan waktu yang cepat! sudahlah nikmati yang ada dan lanjutkan mencari uang yang banyak--"


Plak ... plak ... Sonia menampar kedua pipinya Hera yang langsung melotot, dia kaget kalau Sonia akan berani menamparnya.


Hera berdiri di hadapan Sonia. "Kau berani sama aku? kau lupa siapa yang membawa kamu ke sini? kamu lupa siapa yang mengirim uang kepada keluargamu? kalau bukan aku. Aku!" teriak Hera sambil mendelik dengan sangat sempurna.


Sonia melongo, melihat ke arah Hera yang tampak marah ke arah dirinya.


"Kamu lupa, kalau tempat mu berpijak saat ini? ini milik ku dan kamu itu cuman numpang di sini. Silakan kau sekarang juga pergi, jangan tinggal lagi di sini." Teriak Hera sambil menunjuk pintu.


Membuat Sonia terkesiap mendengar Hera yang mengusirnya. "Baik. Baik aku pergi dari sini, makasih atas semua kebaikan mu!"


Sonia langsung beranjak dari tempatnya lalu meninggalkan ruang kamar Hera. Dia sudah bertekad harus pindah dari sana untuk menenangkan dirinya yang kacau balau.


Dan Sonia belum bisa memaafkan kesalahan Hera yang sudah menjual belikan dirinya ibarat barang ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment subscribe dan lainnya Makasih.

__ADS_1


__ADS_2