Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Ganti rugi


__ADS_3

"Ya Allah ... gimana ini? uang yang dikirim kemarin katanya kurang, harus gimana?" wajah Sonia tampak gusar.


"Kenapa kok tampak gelisah sekali!" tanya Boby yang melihat kegusaran Sonia.


Sonia yang sedang berjalan menoleh ke arah Boby seraya menggeleng. "Oh tidak nggak ada apa-apa," menunjukkan senyumnya.


Boby langsung bukakan pintu mobilnya untuk Sonia.


Sonia menggerakkan kedua manik matanya kepada Boby. "Tidak keberatan kan, setiap pagi mengantarku?"


"Ya ampun ... buat apa aku keberatan? orang satu arah kan? kalau kau takut aku culik itu salah sasaran! karena kalau aku mau jahat sama kamu dari kemarin saja." Jawabnya Boby.


"He he he ... Bukan begitu!" Sonia nyengir lalu masuk ke dalam mobil milik Boby tersebut.


Boby mengitari mobilnya lantas duduk di belakang kemudi, dan langsung melajukan nya dengan cepat.


Di dalam mobil. Sonia hanya terdiam memikirkan orang tua di kampung yang katanya membutuhkan lagi uang yang cukup besar. Karena sang ayah masih juga di rumah di sakit.


"Nah-nah, nah-nah dari tadi bengong aja! mikirin apa sih? nanti kesambet ayam tetangga gimana? ha ha ha ..." serunya Boby sembari tetap fokus menyetir dan melirik ke arah Sonia dari kaca spion.


"Hi hi hi ... emangnya ayam tetangga ngapain menyambet ku segala? gak ada kerjaan banget tuh ayam. Mendingan ayamnya ku masak lalu ku makan daripada menyambet ku, sakit tahu!" Sonia menyeringai.


"Iya juga sih ... ngapain juga ya ayam gak ada kerjaan. Lagian jahat amat ya orang secantik kamu disakiti sama ayam he he he ...." tambahnya Boby.


"Sudah deh nggak usah ngelantur ngomongnya!" Sonia menggeleng sembari kembali membuka pesan dari keluarganya.


Dibaca lagi hingga berulang-ulang, kalau pesan itu benar-benar bilang sedang membutuhkan uang.


Sonia buru-buru turun dari tempat duduknya dan bergegas masuk ke dalam butik.


"Nia. Kamu dari mana? kok baru datang tumben sekali ... kesiangan begini, tapi belum kesiangan sih!" tegur Cery sambil menatap Sonia yang bergegas masuk.

__ADS_1


"Iya sorry nih ... kesiangan!" jawaban Sonia sambil bergegas mengerjakan tugasnya.


"Hem ... emang dari gimana dulu sih?" selidiknya Cherry dan juga teman yang lain.


Sonia menghentikan aktivitasnya lalu menoleh kepada teman-teman kerjanya itu. "Aku nggak ada dari mana-mana! dari tempat tinggal langsung ke sini. Emang agak siangan kali, dari apartemennya!"


Lanjut Sonia dan yang lainnya pun mulai bekerja dengan tugasnya masing-masing, hari ini Sonia dan satu tamannya yang lain, harus menghadap sang manager Erwan.


"Met siang, Tuan. Apakah anda memanggil saya?" Sonia mengangguk hormat kepada bosnya tersebut.


"Saya ada berapa dress yang baru datang dari butiknya dan saya ingin kamu berdua mencobanya terlebih dahulu." Kata Pak Irwan kepada Sonia sambil menunjuk pada pakaian yang menggantung rapi.


Sonia dan temannya pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh manajer Erwan.


"Dan seperti biasa ... setelah dicoba satu persatu harus ada pemotretan buat sampel dan promosi. Oke, saya rasa kalau kalian berdua sudah sangat mengerti dengan tugas kalian, silahkan?" Perintah manajer Erwan sembari membuka tangannya.


Sania dan temannya yang bernama Ariska langsung garcep dengan tugasnya itu.


Karena sudah waktunya jam makan siang. Sonia dan Cery seperti biasa makan siang di luar yang dekat musholanya, agar Sonia bisa menunaikan kewajibannya terlebih dahulu.


"Apa kau tahu apartemennya di mana si Boby itu?" selidiknya Cherry sambil mengunyah makanan yang penuh di mulutnya.


"Tidak, aku tidak tahu. Tinggalnya di mana, katanya satu gedung tapi nggak tahu letaknya di mana. Yang aku tahu cuman letak apartemen yang aku tinggali, lobby, keluar jalan ke sini ... ya sudah. Belum tahu mana-mana nya lagi!" jawabnya Sonia sembari menyesap minumnya.


"Jadi kamu juga nggak tahu daerah-daerah di sini?" sambung Cery.


"Ya ... belum lah Cer ... orang aku nggak pernah diajak ke mana-mana juga, sebatas apartemen-butik. Apartemen-butik itu aja. Emang siapa yang mau mengajak aku!" Sonia menggelengkan kepalanya sembari mengunyah.


"Orang yang mengajakmu ke sini." Cery menaikkan kedua bahunya.


"Hem ... dia sibuk aku kerja dia tidur, terus aku pulang dia nggak ada kerja. Pulangnya dini hari." jelasnya Sonia menceritakan kesibukan sahabatnya Hera.

__ADS_1


"Oh gitu ya?" Cery seraya membulatkan bibirnya.


"Iya, makanya kadang susah untuk bicara sama dia. Dia pulang waktunya aku terlelap tidur, pagi-pagi aku bangun dia tidur begitulah kira-kira!" tambahnya Sonia.


"Emang dia kerjanya apa? jangan-jangan dia di Bar nemenin orang karaokean atau melayani laki-laki hidung belang." Kata Cery sekenanya.


Sonia menatap ke arah Cery baru kepikiran juga kerjanya Hera apa. Namun Sonia tidak berani berkata-kata hanya bisa menghela nafas dengan panjang.


"Apa kau juga tidak tahu kerjaan sahabatmu itu apa?" selidiknya Cery.


Sonia hanya menggeleng menandakan kalau dia tidak tahu apa-apa. Kemudian ia beranjak dari duduknya sesudah makan siangnya selesai dan waktunya kembali ke butik.


"Saya tidak terima ya barang yang saya beli ternyata itu rusak, sobek pas pinggang." Kata seorang wanita yang sekitar berusia 40 tahun.


"Em ... Ibu membelinya kapan dari sini?" tanya Sonia dengan ramah.


"Saya membelinya dari sini berapa hari yang lalu dan ketika saya buka, barangnya rusak. Dan saya mau ganti rugi uang kembali." Si ibu menyerahkan paper bag kepada Sonia dan Cery yang membukanya.


"Ibu ... kalau seandainya Ibu membeli di toko ini khususnya, kan sebelum dibeli itu cek dulu ya? barangnya ya. Terus di rumah pun pasti dicek lagi, nah kalau memang rusak! seharusnya Ibu segera membawanya kembali ke sini, pada hari itu juga setidaknya keesokan hari. Mau minta ganti barang atau uang kembali. Dengan begitu kami akan dengan mudahnya merespon Ibu! kalau sudah berapa hari dan sekarang Ibu baru datang ke sini! kami tidak bertanggung jawab lagi Bu. Dan itu sistem butik kami." Sonia menjelaskan dengan panjang lebar.


"Tidak bisa begitu dong, kalian harus mengganti rugi barang yang sudah rusak, barang rusak itu nggak boleh dijual. Kalau nggak mau uang kembali minimal barang diganti." Kata si ibu dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.


"Iya, Ibu-Ibu ... dengar saya ya? saya tahu barang yang rusak tidak boleh dijual dan saya pribadi dan teman saya ini tidak merasa menjual kepada Ibu barang yang rusak ini!" ungkap Sania sambil menyentuh dan melihat gaun yang rusak.


Cery mengangguk setuju dengan yang dikatakan oleh Sonia.


"Sekarang ... Ibu tunjukkan saja, mana orangnya yang kemarin melayani Ibu!" menjual gaun tersebut.


Semua pekerja butik sudah berjejer. Dan si ibu celingukan juga kebingungan. Entah dia lupa atau entah gimana? dia malah bingung mana orang yang sudah melayaninya itu ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2