
Keesokan harinya Sonia mengantar Leo ke bandara untuk terbang kembali ke Negara asalnya dan dia mempercayakan semua urusan keluarga Sonia, kepada Sonia sendiri. Namun dia berjanji seminggu ke depan dia akan kembali ke Indonesia.
"Ya sudah, hati-hati ya?" pesan Sonia sambil memeluk erat suaminya tersebut.
"Hati-hati juga di sini, dan urus semua keperluan renovasi rumah agar lebih cepat, dan lebih baik selesainya! karena kalau sudah selesai dan keluarga mu sudah mendapat tempat tinggal yang layak, kamu akan segera aku ajak pulang!" suara Leo sembari mengeratkan pelukannya.
Sonia hanya mengangguk sembari merasakan betapa nyamannya dalam pelukan Leo.
"Oke, aku pergi dulu kalau ada apa-apa yang penting ... telepon saja aku, dan aku nggak akan lupa untuk kirimkan uang ke nomor rekening mu!" Leo melepaskan rangkulannya lalu memberikan berapa kecupan di kening di pipi Sonia sebelum Perpisahan.
Sonia pun melambaikan tangannya ke arah Leo, seraya mengucap doa agar suaminya selamat sampai tujuan dan bisa bertemu lagi suatu saat nanti.
Setelah itu Sonia pun meninggalkan area bandara! serta menuju taksi yang sudah menunggu untuk kembali ke hotel.
"Jalan, Pak?" pintanya Sonia pada sopir taksi yang sudah menunggunya tersebut.
Selang beberapa puluh menit kemudian, akhirnya taksi yang membawa Sonia berhenti di area hotel. Dan Sonia langsung turun dan memasuki lobby setelah membayar transportasinya.
"Nia? Nia, tunggu? suara itu tiba-tiba menggetarkan hati Sonia.
Langkah Sonia terhenti dan langsung menoleh kepada sumber suara yang membuat hatinya dag dig dug. Ternyata itu suara Zai yang menyusulnya dari luar lobi.
"A-Abang!" Sonia terkesiap dan tampak gelisah ketika dihampiri oleh Zai.
"Abang, minta maaf! selama ini abang diamkan Nia. Tapi percayalah sampai detik ini aku masih sangat mencintai mu dan aku juga masih ingat dengan rencana kita yang akan menikah. Tapi rencana itu musnahlah Sudah," ucapnya Zai sambil menatap ke arah Sonia dengan tatapan yang penuh penyesalan
__ADS_1
"Em, sudahlah. Jangan bahas itu lagi dan semuanya percuma! sekarang aku sudah punya suami dan Abang juga sudah bersama Hera, kita nikmati aja kebahagiaan kita masing-masing. Walaupun aku mengakui kesalahan aku dan ... aku minta maaf yang sebesar-besarnya! aku sudah salah dan aku tidak setia, tapi itu semua bukanlah niatku!" Sonia menundukkan kepalanya dengan suara yang pelan.
"Abang tidak menyangka kalau Hera sejahat itu, Abang kira ... dia gadis baik-baik tapi ternyata--"
"Tidak usah menyalahkan orang lain, apalagi Abang juga ikut menikmatinya, aku rasa ... kalau bisa, Abang nikah saja sama Hera. Siapa tahu dia bisa berubah menjadi orang yang lebih baik!" Sonia langsung memotong perkataan dari Zai.
"Aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai mu dari dulu sampai sekarang pun tidak berubah!" ucap Zai dengan nada memelas.
"Jangan lagi ucapkan cinta! karena rasa itu tidak berarti lagi, kalau abang nggak cinta ... kenapa Abang bisa melakukannya juga sama hera? atas dasar apa? uang, nafsu atau apa?" kini Sonia menatap tajam pada pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.
"Em, itu ... itu! aku ..." Zai gelagapan untuk menjawab pertanyaan dari Sonia tentang masalah hubungan pribadi nya dengan Hera.
"Karena apa? kalau bukan karena cinta, karena uang! ataukah nafsu? tapi ya sudahlah! tidak usah menjawab, karena nggak penting bagi aku. Tadinya aku yang merasa kotor, aku yang merasa tidak setia dan aku yang mengkhianati. Hem ... ternyata Abang Tak Ubah bedanya dengan aku!" Sonia hendak pergi dari 0ojokan lobby tersebut.
Geph!
"Aku tahu aku terlalu percaya sama Hera, sehingga Aku membiarkan mu--"
"Percaya atau pun tidak! itu tidak penting, karena tidak bisa merubah keadaan aku yang sudah menikah dengan pria yang jadi suamiku saat ini. Hasilnya akan tetap sama dan anggap saja hubungan kita sudah berakhir." Kata Sonia lirih.
"Tidak bisa seperti itu Sonia ... kita hubungan sudah bertahun-tahun, terus harus berakhir seperti ini?" Zai menatap lekat.
"Biarpun hubungan kita sudah bertahun-tahun lamanya. Tapi kita tidak ada jodoh dan itu yang harus kita terima, seandainya aku tidak menikah dengan pria itu juga ... belum tentu Abang bisa menerima aku apa adanya! jadi tolong jangan ganggu aku lagi, biarkan aku hidup bahagia. Semoga Abang mendapatkan wanita yang lebih baik !tidak wanita seperti aku," ucapnya Sonia sembari meninggalkan pria tersebut bedain pojokan lobby.
Zai menatapi punggungnya Sonia sampai menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Kini Sonia sudah berada di dalam lift untuk menuju kamar hotelnya. Dia menepis dan menyeka air mata yang hampir saja tumpah keluar, rasa sesak di dadanya mengingat kisah percintaan mereka yang bukan waktu sebentar. Namun semuanya harus berakhir karena keadaan.
Hari demi hari Sonia dan dengan orang tuanya bolak-balik dari hotel ke tempat pembangunan rumah, begitu seterusnya dan rumah mereka pun. Memang terbilang lebih cepat pembangunannya. Sehingga dalam satu minggu saja rumah itu sudah berdiri kokoh.
Dengan pekerjaannya yang lebih dari 10 orang membuat pembangunan rumah yang di ********** terdapat berapa kamar hingga 6 kamar dan semuanya difasilitasi dengan kamar mandi pribadi.
Serta atapnya dibuat rooftop yang akan di tanami bermacam bunga yang jatuhnya taman, dan juga akan disimpan berapa kursi untuk santai-santai di sana.
Setelah sekitar 1 minggu Leo pun kembali ke Indonesia untuk melihat perkembangan rumah mertuanya! dan dia sudah merasa kangen dengan sang istri, makanya biarpun sebentar. Dia menyempatkan diri untuk datang ke Jakarta.
Bersama dengan kedatangan Leo, terdengar kabar kalau Hera mendapat kecelakaan dan menghilangkan nyawanya seketika! dari kabar buruk yang mengatakan ... kalau Hera itu mengalami overdosis yang dicekoki oleh pelanggannya sendiri.
Membuat Sania bergidik menggoyangkan kedua bahunya. Dia merasa ngeri dan bersyukur kalau dirinya masih bernasib baik.
"Aku merasa ngeri dengan kondisinya Hera saat ini, dan aku juga merasa bersyukur karena setidaknya aku bernasib baik!" gumamnya Sonia mendongakkan wajah ke arah wajahnya Leo.
Dan mereka saat ini sedang berpelukan di atas tempat tidur. Setelah melepaskan rasa rindu setelah satu minggu berpisah terpisahkan oleh jarak dan waktu.
"Tentu kau masih beruntung!bertemunya sama laki-laki seperti aku! coba laki-laki lain! belum tentu kamu di nikah. Bahkan mungkin saja kamu malah kepanjangan atau mungkin menjadi wanita malam." Ungkapnya Leo sambil membelai rambutnya Sonia dengan lembut.
"Makasih ya? makasih banyak?" ucap Sonia kembali sambil menatap suaminya beserta senyuman bibir yang merekah.
Leo mendatangi pembangunan rumah mertuanya dan dia merasa sangat puas. "Kalau kayak gini nggak akan nunggu sampai 1 bulan, pasti rumahnya udah dapat dihuni," ucapnya Leo sembari menatap setiap ruangan yang masih diperbaiki dindingnya ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya agar hotel ini semakin bersemangat untuk berkarya, makasih.