Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Predator


__ADS_3

"Gimana? apa kamu mau melakukannya dengan ku tanpa pernikahan atau adanya pernikahan? sebab ... saya akan selalu mencari mu di saat aku butuh dan kamu tidak akan pernah bisa menghindar dari pencarian saya!" suara Leo dengan nada serius.


Mendengar seperti itu, Sonia merasa tidak ada pilihan yang baik. Bersembunyi gak bisa! menikah nggak mungkin. Tapi bila tidak menikah pun, kalau saja dia akan terus ditemukan. Berarti hubungan itu akan berkepanjangan, lagi dan lagi. Berapa banyak lagi dosa yang akan Sonia lakukan dalam melakukan hubungan intim tersebut.


"Em, aku ... kalau alasannya seperti itu. Aku mau ta-tapi. Aku akan minta cerai di saat aku nanti pulang ke Indonesia. Anggap saja kita nggak pernah saling mengenal satu sama lain!" ucapnya Sonia sembari menundukkan wajahnya melihat ke arah lantai.


Leo tersenyum penuh kemenangan. "Aku akan menuruti mu, jika suatu saat kau akan kembali ke Negara mu. Aku akan melepaskan mu dan antara kita tidak ada apa-apa lagi, semua berakhir di situ, oke." Leo menggerakkan kepalanya.


"Ya, Tuhan ... haruskah aku menikah dengan pria ini? tapi ditolak pun aku takut, dimanapun kau berada ditemukannya! pada akhirnya aku dan dia bertemu lagi dan bertemu lagi! dasar predator." Dalam hati Sonia bergejolak.


"Oke, kapan maunya kita menikah baby?" Leo menggeser duduknya dan kembali mendekati Sonia.


Sonia kembali menghindar. Bahkan dia berpindah ke sofa lainnya. "Terserah kapan, gumamnya Sonia.


"Baiklah ... aku akan menyuruh orang untuk mengurusnya hari ini juga dan sekarang sebaiknya kau mandi bersihkan dirimu. Oya, kau muslim bukan? hari sudah menunjukkan waktu hampir pukul 06.00, kau mandilah! nanti ada orang yang mengantarkan pakaian untukmu." Perintahnya Leo kepada Sonia.


Sonia pun melirik ke arah jam yang memang menunjukkan sudah hampir jam 06.00 sementara dia belum melaksanakan subuh.


Kata Leo, apapun yang dilakukan. Dosa yang kau kerjakan! salat lah. kemudian Sonia bergegas pergi ke kamar mandi.


Walaupun dia nggak punya baju ganti tapi Leo bilang akan ada orang yang mengantarkan pakaian untuknya nanti.


Kaki Sonia memasuk kamar mandi, Sonia berada di kamar mandi. Leo menyibukkan tangannya dengan benda pintar yang diambil dari atas nakas.


Yang pertama dilakukan Leo adalah meminta Dino untuk datang dan membawakan pakaian ganti buat Sonia dengan lengkap serta segala keperluannya.


Tidak lama kemudian Dino pun datang, dengan membawa beberapa paper bag di tangannya dan semua itu keperluannya Sonia seperti yang Leo pinta.


"Apakah semuanya lengkap?" tanya Leo sembari menatapi beberapa paper bag yang Dino bawa.


"Semuanya lengkap, termasuk handuk dan semua keperluan wanita lainnya ada di sana." Dino mengangguk.

__ADS_1


Kemudian Leo mengambil paper bag tersebut dan dia membukanya memilih dan memilah mana yang akan Sonia pakai saat ini. Lalu apa yang sudah dia pilihnya. Dia masukkan ke dalam paper bag lagi lalu dia mendatangi pintu kamar mandi.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Ini ambil baju mu!" suara Leo sembari memunggungi pintu tersebut. Lalu sesaat kemudian terdengar derap langkah yang mendekati pintu, cklek kenop pintu berputar dan Sonia membukanya, menyodorkan tangan meminta apa yang akan Leo berikan.


Setelah mendapatkannya, pintu pun langsung ditutup kembali oleh Sonia dan Leo kembali mendatangi Dino. Serta mengajaknya mengobrol di sofa.


"Oya, hampir aku lupa. Pagar balkon rusak, tolong cari tukang untuk membetulkannya." Perintah Leo.


Dino mengerutkan keningnya. "Pagar balkon rusak! emangnya kenapa?"


Kemudian Leo pun menceritakan kejadiannya. Leo pun menceritakan niatnya untuk menikah kantor dengan Sonia.


Membuat Dino tertegun setengah tidak percaya kalau bosnya itu akan menikah dengan Sonia, gadis yang belum lama ini dia kenal, bahkan di belinya dari seorang wanita yang tiada lain adalah saudaranya Sonia sendiri.


"Kau itu tidak percaya atau meremehkan ku? dan aku gak butuh kepercayaan darimu itu, yang aku butuhkan adalah ... kerjakan tugas mu dengan baik dan kantor mana yang akan kita jadikan tempat untuk menikah! gadis tersebut," jelasnya pria tampan tersebut sambil menyandarkan punggungnya ke belakang sofa.


"Baiklah, kalau begitu! akan saya urus dan paling lambat adalah malam ini!" Dino mengangguk-nganggukan kepalanya.


Lalu kemudian Dino pun berpamitan, dia pergi untuk lebih dulu mencari tukang, namun sebelumnya dia melihat dulu kerusakan pagar balkon yang tidak seberapa itu.


"Hanya segitu? paling menggeser beberapa senti. Ck-ck ..." gumamnya Dino lalu detik kemudian dia meninggalkan balkon tersebut.


Dino sudah tidak berada lagi di apartemen tersebut, dan Sonia yang barulah keluar dengan pakaian gantinya yang tampak tercantik.


Leo menatap kagum akan kecantikan Sonia yang natural. "Kamu tinggal saja di sini. Apalagi untuk hari ini, karena kakimu masih sakit bukan? anggap saja di rumah mu sendiri dan aku akan pergi bekerja."

__ADS_1


"Aku harus pulang ke tempat kosan teman ku, dia pasti mencariku!" Sonia berjalan sedikit tertatih mendekati sofa yang terdapat beberapa paper bag.


"Saya akan izinkan kamu ke tempat temanmu itu besok saja, kalau kaki mu sudah sembuh. Bila perlu sekarang kita ke rumah sakit dulu untuk pengobatan kaki mu itu." Leo mengajak Sonia untuk berobat kakinya.


"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau ke rumah sakit. Aku paling takut dengan jarum suntik!" Sonia menggeleng dan menolak untuk di ajak ke rumah sakit.


"Ha ha ha ..." Leo ketawa lepas. "Apa yang kudengar? kamu takut jam suntik, jarum suntik itu sangat lah kecil, sementara kau sudah menikmati jarum ku yang super besar, ha ha ha ...."


Sonia bergidik. "Iih ... dasar mesum, pria predator." Gumamnya Sonia dengan suara pelan dan nyaris tak terdengar.


"Biar kau ngomong pelan, tapi aku dengar! Oke bila kamu tidak ingin dibawa ke rumah sakit! saya yang akan datangkan dokternya ke sini! biar kakimu cepat sembuh. Dan sekarang kau tunggu di sini, jangan pernah ke mana-mana ataupun kabur! apalagi loncat lewat balkon, hanya untuk bunuh diri. Nanti saya kembali."


Leo pun bergegas meninggalkan tempat tersebut. Tidak lupa mengunci kembali pintunya.


Sonia terdiam, namun kedua menik matanya mengedar ke seluruh ruangan tersebut dan dia melihat ada pesawat telepon dan mungkin bisa digunakan untuk menghubungi seseorang.


"Tapi siapa yang bisa aku hubungi? nomornya aku nggak tahu dan aku gak ingat sama sekali, aku gak hapal, semuanya ada di ponsel yang tertinggal di tempatnya Cery." Gumam Sonia sembari mengelus pesawat telepon tersebut.


Akhirnya dia hanya bisa menghela nafas yang panjang, lalu berjalan mendekati gorden yang belum saja dia sentuh sudah terbuka dengan otomatis membuat Sonia terbengong-bengong.


"Belum juga ku sentuh, sudah terbuka otomatis. Gila ... canggih sekali! ck-ck ..." Sonia berdecak kagum.


Sementara, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 lewat dan hampir setengah delapan pagi.


Semua gorden sudah terbuka lalu Sonia mendekati tempat masak, dan barang-barang pun memang komplit buat masak. Perabotan buat makan, minum. Penanak nasi pun ada.


Lalu langkahnya mendekati lemari pendingin dan setelah dia buka, memang di sana masih terdapat sayuran, daging. Mie instan dan telur.


"Huuh ... aku jadi lapar. Kalau aku masak dan aku makan marah nggak ya? tuan predator itu? tapi tadi bilang kalau aku boleh memasak kalau aku mau!" lalu Sonia tidak lagi berpikir panjang, dia mengambil apa yang dia butuhkan untuk Dia masak, dan dia sempat mencari keberadaan beras yang akhirnya dia temukan juga.


Tak ayal bibir Sonia tersenyum lebar. Berasa di rumah sendiri atau setidaknya di apartemen Hera, namun di saat mau masak, dia ingat subuh yang sudah lewat. Terus dia melihat ke arah beberapa paper bag lalu menghampirinya, membuka apa saja yang berada di dalamnya itu ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Halo tidak lupa aku ingatkan. Jangan lupa like subscribe comment dan support lainnya ya makasih.


__ADS_2