
Sudah beberapa minggu Leo pun berada di Jakarta dan semua urusannya dia pantau dari kejauhannya saja. Lagian tidak ada yang terlalu penting juga apalagi bila masih bisa di atasi oleh Dino di sana.
Membuat Leo lebih menikmati waktunya bersama Sonia di Jakarta. Dengan santai dan leluasa, juga keluarga barunya.
Kini sonia sedang berada di restoran bersama keluarga dan suaminya sedang menikmati sarapannya. Di meja makan yang panjang mereka bersenda gurau.
“Jangan main-main makannya ... nanti keselek lho ...” ucap sang ibu di saat anak-anaknya makan sambil bercanda.
“Biar makna nya tidak berasa, Bu ...” jawabnya Luky sambi terus bercanda dengan kakakny atermasuk Sonia dan Leo.
Sementara Cindy dia makan dengan serius dan tatapan tidak suka pada adik-adiknya yang bersenda gurau. Dan tangan Cindy sekarang sudah normal seperti biasa lagijug asudah mulai bersekolah kembali.
“Bisa gak sih ... kalian itu jangan nora begitu? ini restoran dan bukan rumah pribadi! Kelihatan banget orang kampungnya ich.” Cindy sedikit mencibirkan bibirnya.
“Emang nya kenapa? kit agak teriak-teriak kok. Masih dalam batas kesopanan yang baik dan beradab dan aku rasa orang lain pun tidak merasa terganggu kecuali Kak Cindy seorang.”Randy menatap tajam pada sang kakak nya yang satu ini.
“Kamu saja yang merasa mereka tidak terganggu karena mereka tidak bilang sama kamu. Padahal hatinya merasa terganggu. Mikir dikit dong, tau diri.” ketusnya Cindy sambil meneguk minumnya.
“Akak ni ada masalah apa sih sama kita ha? perasaan setiap kita melakukan sesuatu dan tidak merugikan orang pun kak Cindy selalu menyalahkan kita, rasanya kita itu tidak pernah benar di mata kak Cindy. Heran aku.” Timpalnya Iman mengutarakan isi hatinya.
“Hooh. Kak Cindy perangainya kurang. Beda dengan kak Sonia yang selalu ramah dan baik pada semua orang. Kaka itu selalu judes, garang dan bikin sebal orang lain, apa mungkin Aak ini banyak teman nya di sekolah? Mengingat perangai akka yang seperti itu?” Luky pun ikut mengeluarkan unek-uneknya.
“Eh bocah. Jangan asal ngomong ya? aku bilang jangan bersikap nora di hadapan orang banyak dan kalian malah memprotes ku bagai seorang penjahat saja, ngomong itu pake otak bukan pake dengkul.” Cindy tersulut emosinya.
“Eh ... kalian apa-apaan sih ... malah ribut, justru malu dilihat orang gimana sih?” tutur bu Melani menatap putra putrinya.
“Ini nih Bu ... bocah-bocah yang bikin aku kesel, gak lihat apa yang mereka lakukan makanya mata digunakan dengan baik bukan melihat makanan saja yang di lihat,” ucap Cindy malah ketus pada ibunya.
Sonia yang sedari tadi diam tentunya tidak setuju dengan sikap Cindy yang bicara malah kurang mengenakan pada ibunya dan Sonia pun langsung menegur. “Cindy, kamu gak pantas bicara dengan nada seperti itu pada Ibu. Tidak sopan namanya.”
“Terus saja aku yang di salahkan dan mereka selalu benar di mata kalian. Oke ... aku selalu salah dan sebagainya. Dasar sampah.” Ketusnya Cindy sambil berdiri dan sedikit menghentak meja lalu pergi dari tempat tersebut.
Membuat pasang mata yang berada di meja makan tersebut hanya melihat punggung Cindy yang berlalu begitu saja.
“Kebiasaan, gak ada sopan santunnya pada orang tua. Dulu juga sekarang sama aja sikapnya.” Sambungnya Sonia sambil menghabiskan makannya.
“Sudah lah Baby, kau jangan emosi seperti itu.” Leo menyentuh tangan Sonia dengan usapan lembut.
Sonia menoleh pada Leo dengan tatapan lekat. “Sorry ya?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa baby ... santai aja.” Leo menggerakan matanya serasa mengusap punggung tangannya Sonia.
Kemudian mereka pun menyudahi makannya dan anak-anak pun berangkat ke sekolah. Sementara bu Melani, pak Amin, Sonia dan juga Leo mau ke lokasi rumah yang katanya selesai har ini setelah satu bulan pengerjaannya.
“Nia ... ibu ingin segera pindah saja ke rumah ini sekiranya sudah bisa di tempati. Biarpun masih belum selesai seratus persen, tak apa lah yang penting bisa di singgahi.” Kata bu Melani setelah berada di rumah tersebut yang memang tinggal mempercantik saja
”Em ... kalau maunya Ibu seperti itu sih tidak apa-apa, pindahin saja. Memang sudah layak huni kok. Soal pengerjaan yang belum selesai masih bisa sambil,” ujar Sonia sambil melihat ke arah Leo juga yang tidak jauh dari dirinya.
Leo pun setuju dengan perkataan dari Sonia yang mengijinkan keluarganya segera pindah dari hote ke rumah baru nya. Lagian sudah jadi juga dan tinggal ngecat saja dan juga lebih di percantik lagi dan iru bisa dengan wallpapers dinding yang bisa di beli dengan mudah.
“Ayah juga maunya begitu ... seperti maunya ibu agar secepatnya pindah saja dan kita masukan barang-barang yang kita titipkan pada tetangga! Tidak enak lama-lama nyimpan di sana. Kasian kan sempit.” Tambahnya sang ayah.
Kemudian mereka pun memindahkan barang-barang dari rumah tetangga ke rumah baru mereka. Bahkan Leo pun memesan semua furnitur untuk mengisi rumah tersebut, semua keperluan kamar mandi dan kamar-kamar lainnya.
Lagian tempat tidur yang lama pun biar di ganti saja dengan yang baru. Kursi, sofa, televisi dan barang lainnya sudah di ganti dengan yang serba baru.
Ketika sore hari rumah pun sudah berisi dengan barang baru dan pakaian dari hotel pun sudah di pindahkan juga ke rumah baru.
“Akhirnya ... alhamdulillah kita sudah pindah ke rumah ini lagi, Nia juga Nak makasih ya karena kalian rumah ini sudah berdiri dengan kokoh dan bagus serta lebih luas.” Ungkap bu Melani penuh rasa syukur.
Sonia memeluk sang ibu dengan rasa bahagia karena setidaknya dia sudak membuatkan rumah buat keluarganya. Dan membuat mereka bahagia juga. “Aku sangat bahagia karena rumah ini sudah terbangun dengan bagus beserta isinya pun sudah banyak yang baru. Dan ini berkat Leo, Bu ...”
“Sama-sama yah, aku bahagia bila kalian pun bahagia dan sudah punya tempat tinggal yang lebih layak.” Balasnya Leo sambil tersenyum.
Bu Melani melirik pada ketiga putranya yang tampak senang sekali karena sudah mempunyai kamar masing-masing+kamar mandinya. Anak-anak. Kalian harus berterima kasih pada kak soni adan suaminya,” ucap sang ibu pada mereka.
Ketiga anak itu pun menuruti perkataan sang bunda untuk berterima kasih pada Leo dan Sonia. Mereka pun saling berpelukan dengan sangat erat dan penuh haru.
Sementara Cindy hanya melihat dengan tatapan dingin ke arah mereka lalu melengos pergi ke arah kamarnya. Semuanya mata hanya melihat dan lalu kembali meneruskan perbincangannya.
“Karena sekarang kalian sudah pindah ke rumah ini. Saya akan bawa Sonia kembali ke Negara saya. Dan kapan-kapan kita pasti bertemu lagi,” ucapnya Leo sambil melihat ke arah kedua mertuanya bergantian.
Sonia dan kedua orang tua nya saling bertukar pandangan dan ada rasa sedih yang menyapa hati mereka begitupun dengan ketiga adik laki-lakinya. Iman, Randy dan Luky. Semuanya mematung dan saling pandang satu sama lain, pada akhirnya mereka harus terpisah lagi setelah sekitar satu bulan berkumpul lagi.
“Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena Sonia adalah kamu yang berhak. Dan kami kanya bisa mendoakan semoga kalian bahagia dan sehat juga mudah rejeki ... dan tidak ada halangan untuk kita bisa bertemu kembali di lain kesempatan,” ujar pak Amin.
Bu melani memeluk putrinya sulungnya, Sonia dia menangis sedih karena mau berpisah lagi. begitupun Sonia membalas pelukan sang ibu dengan erat. Sonia pun memberikan pesan pada adik-adiknya terutama ketiga adik laki-lakinya. Agar menurut pada orang tua dan juga sayang pada keluarga.
Sonia mengambil sesuatu dari tasnya. "Sebelum berangkat ... aku ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu." Perkataan itu ditujukan kepada Leo yang sedang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Apa itu? pasti sesuatu yang membahagiakan bukan?" Leo menatap lekat ke arah Sonia, istri nya. Leo merasa penasaran namun dapat menduga-duga kalau sesuatu itu ... pasti sesuatu yang bahagiakan bukanlah kembalikannya.
Sonia tersenyum simpul sembari melihat ke arah Leo dan juga orang tuanya, terlihat ikut penasaran apakah yang ingin dikatakan oleh Sonia.
"Em ... nungguin ya?" Sonia memainkan atau naik turunkan kedua manik matanya.
Lalu Sonia menunjukkan benda kecil dan panjang kepada Leo. yang langsung Leo ambil dan memperhatikannya!
Dengan bibir tertarik ke samping dan mata yang berbinar, raut wajah yang sangat terlihat bahagia. "Kamu, kamu hamil Baby? insya Allah ya Allah terima kasih!" Leo langsung bersujud syukur atas yang telah dia dapatkan.
Yang tiada lain dan tiada bukan, kini Sonia sedang hamil. Mengandung dari benihnya sendiri.
Kedua orang tua Sonia begitu shock mendengarnya, shock dan bahagia yang tiada terhingga. Sebentar lagi mereka akan menjadi nenek dan kakek.
"Masya Allah ... tabarakallah ... Alhamdulillah ya Allah ... Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah engkau berikan kepada kami semua!" ucap lirihnya Bu Melani dengan guratan bahagia di wajahnya.
Begitupun dengan sang suami yang tidak dapat berkata-kata. Dia tidak taubharus berkata apa dengan kabarbyang menggembirakan ini.
Ketiga adik laki-laki nya Sonia bersorak riang gembira dan teramat bahagia. Kalau Mereka sebentar lagi akan mendapatkan keponakan.
Sonia di peluk noleh Leo yang sangat erat, pria itu sangat bahagia. Teramat bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. "Terima kasih baby!"
Sonia hanya mengangguk dengan matanyang berkaca-kaca karena merasa haru. Dan lagi-lagi sang ibu memeluk Sonia seraya mengucapkan selamat.
Setelah makan malam selesai. Di sebuah restoran yang tidak jauh dari area bandara. Kemudian mereka berjalan menuju bandara, karena akan memasuki pesawat yang tidak lama lagi akan mengudara.
Suasana penuh haru pun menghiasi kepergian Sonia dan Leo. Atau perpisahan antara mereka! ketiga adik laki-laki nya yang juga ikut mengantarkan mereka berdua ke bandara. Sangat berwajah sendu dan sedih, sementara Cindy tidak ikut dan entah kemana!
Sonia dan Leo melambaikan tangan sambil berdiri di atas lift yang akan membawa mereka ke pintu untuk memasuki pesawat.
Sonia dan Leo pun di sambut bahagia oleh keluarga di Negaranya, apalagi kini Sonia tengan berbadan dua. Mengandung cucu mereka yang tiada Lian benihnya Leo.
Akhirnya mereka berdua hidup bahagia, bersama keluarga kecilnya di sana ....
...TAMAT...
...🌼---🌼...
TERIMA KASIH READER KU SEMUA🙏 YANG TELAH MENGIKUTI KISAH INI DAN MENGIKUTI AUTHOR MU YANG REMAHAN INI. TERIMA KASIH BANYAK KARENA TANPA KALIAN! SIAPAKAH DIRIKU INI? DAN KITA AKAN BERTEMU LAGI DI KARYA AKU YANG LAIN YA? DAN SEMOGA KALIAN SEMUA AKAN TETAP MENJADI READER SETIAKU YANG BAIK, READER KU TERCINTA.
__ADS_1