
Suasana di kediaman pak Amin tampak begitu hening. Ketika Sonia dan Leo tiba di sana, lalu keduanya turun dari taksi berjalan perlahan mendekati teras.
Sonia berdiri di dekat pintu lalu kemudian mengucap salam dengan suara agak tinggi. "Assalamu'alaikum ... Ibu, Ayah. Assalamu'alaikum ...."
Samar-samar dari dalam terdengar suara televisi dan didengar-dengar tidak ada yang menjawab salam dari Sonia.
Kemudian Leo mengetuk-ngetuk pintu sembari menatap ke arah Sonia yang kemudian mengucapkan salam kembali.
"Assalamu'alaikum. Ibu, Cindy ... Rendy, Iman ... Luky? ini Kak Sonia datang." Pekik Sonia kembali.
Dan setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu pun terbuka dan yang membuka pintu kebetulan sekali adalah Bu Melani yang tiada lain adalah ibundanya Sonia.
"Wa'alaikum salam ..." Ibu Melani melepas tatapannya kepada orang yang berdiri di depan pintu, yaitu Sonia! ditatapnya dengan nanar, raut wajah yang berbah sumringah. Tampak bahagia dapat melihat kembali sosok Sonia yang kini berada di hadapannya.
Sonia menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman yang di tujukan pada sang bunda.
Kemudian Bu Melani lebih mendekat dan memeluk erat tubuh Sonia. "Ibu minta maaf ya? Ibu minta maaf, sudah tidak percaya dirimu dan marah sama kamu Nak ... Ibu minta maaf?" berkali-kali Bu Melani mengucapkan maaf.
Tangis Bu Melani pun pecah, antara sedih dan bahagia. Dia bersyukur Sonia datang kembali ke rumah itu, setelah kata Cindy nomornya tidak bisa dihubungi dan tidak tahu harus mencari kemana.
Sonia membalas pelukan sang ibunda tanpa berkata-kata, hanya air mata sebagai pengganti bahasa yang terucap dari bibirnya.
Sementara Leo pun berdiri dan memandangi sebuah pemandangan yang lumayan mengharukan sekali.
Lagi-lagi Ibu Melani meminta maaf kepada Sonia. "Sekali lagi Ibu minta maaf ... apalagi Ayah yang sudah mengusir mu dari rumah ini, kami terlalu mempercayai omongan orang lain dan meragukan anak sendiri. Sekarang kami sudah tahu siapa yang salah, siapa yang benar! ya Allah ....tega banget Hera sama kamu, Nia ..." pelukan bu Melani semakin erat,1 sehingga Sonia kesulitan untuk bernapas.
Setelah beberapa saat berpelukan, Sonia berusaha sedikit memudarkan pelukan dari sang Ibunda seraya berkata. "Jangankan dipinta! tidak diminta pun Aku sudah memaafkan Bu ... wajar kok kalian marah dan kesal sama aku! hanya sama sekali aku nggak pernah ada niat untuk macam-macam seperti itu."
"Iya, Hera yang tega membuat mu seperti itu! bikin tidak habis pikir." kata sang ibunda.
__ADS_1
"Aku dijual sama Hera, Bu dan uangnya pun aku nggak tahu. Untung saja pria yang membeli aku itu masih punya hati dan tidak membiarkan aku terjerumus lebih dalam, serta menjadikan aku piala bergilir untuk pria-pria yang tidak bertanggung jawab." Ungkapnya Sonia penuh rasa syukur.
"Sungguh Ibu tidak pernah menyangka, kalau Hera itu sepupu kamu, dan Ibu kira dia memang baik. Tidak berbuat demikian. Ayah sangat kecewa dengan Hera dan paling kecewa lagi dia malah membawa berita yang tidak-tidak ataupun membalikan fakta kepada kami semua!" ujar Ibu Melani.
Sembari menggelengkan kepalanya, sungguh benar-benar tidak percaya dengan yang sudah sikapnya Hera yang sudah berbuat demikian.
"Bu, aku ke sini membawa orang yang sudah membeli ku! sekaligus menikahi ku dan aku minta maaf maaf yang sebesar-besarnya! aku menikah di sana tanpa ayah yang menjadi wali nya, dan ... kami menggunakan wali hakim!" Sonia menjeda kalimat yang dia ucapkan.
Bu Melani mendengarkan dengan seksama.
"Kami takut melanjutkan hubungan yang akan menimbulkan sebuah zina. Makanya aku menikah tanpa sepengetahuan kalian! aku terima jika kalian sangat marah sama aku!" Anisa mencium tangan sang ibunda sebagai permintaan maaf karena dia sudah menikah di luar Negeri tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Bu Melani mengedarkan pandangannya ke arah Leo yang sedari tadi berdiri memandangi ke arah Sonia dan dirinya. "Jadi pria ini yang sudah menikahi mu?"
"Benar, Bu ... dan dia juga yang pertama kali membeli ku dari Hera. Dan dia juga yang menikahi ku!" Sonia menganggukkan kepalanya seraya melirik ke arah Leo.
Setelah itu Leo menghampiri Ibu Melani serta mengeluarkan tangannya dengan penuh hormat. "Apa kabar mu? Nama saya Leo saya yang menikahi Sonia dan maaf pernikahan kami tanpa sepengetahuan ibu."
Bu melani bingung harus berkata apa, kemudian Bu Melani baru sadar kalau mereka masih berdiri di depan pintu. Lalu mengajak Sonia dan Leo untuk masuk dan lantas duduk di ruang keluarga.
Sonia menanyakan sang ayah yang sedari tadi tidak terlihat batang hidungnya. Kemudian Bu Melani menunjuk ke arah kamar, dimana sang suami sedang terbaring di kamar.
"Ayahmu kesehatannya menurun, setelah Hera datang dan mengatakan kebenarannya tentang dirimu." Jawabnya sang ibu sambil berjalan menuju kamarnya.
"Terus Cindy ke mana?" tanya Sonia sembari celingukan mencari adiknya, Cindy.
"Dia berada di kamarnya, entah sudah tidur ntar atau belum! adik laki-laki mu ....mereka belum pulang mengaji!" lirihnya Bu Melani kembali.
Kini ketiganya sudah berada di dalam kamar Pak Amin dan pria itu sedang berbaring saja dan dia berusaha untuk bangun dan duduk setelah melihat kedatangan Sonia.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Ayah ..." Sonia langsung menghampiri ayahnya dan memeluk sang ayah dengan erat begitupun dengan Pak Amin dia bahagia akhirnya putri sulungnya datang juga.
"Ayah mi-minta maaf ya Nia. Ayah sudah mengusir mu dan ayah percaya sama omongan Hera, sekali lagi Ayah minta maaf?seharusnya Ayah itu lebih mendengar kata-katamu! ketimbang dengan orang lain," ujarnya Pak Amin penuh penyesalan.
"Sudahlah Ayah ... nggak usah dipikirkan itu lagi. Ayah nggak salah, aku yang salah! seharusnya aku lebih dulu bercerita tentang semuanya dan aku minta maaf ya? aku sudah menikah dengan pria ini, tanpa sepengetahuan Ayah apalagi yang seharusnya menjadi wali adalah Ayah. Maafkan aku Ayah!" timpalnya Sonia pada sang ayah.
Lalu kemudian Sonia memperkenalkan Leo sebagai suaminya kepada sang ayah. Lanjut Leo pun memeluk pak Amin dan minta maaf karena dia sudah menikahi Sonia tanpa wali sesungguhnya.
"Itu saya lakukan untuk mempersingkat waktu atau keadaan yang darurat daripada kami melakukan sesuatu yang tidak-tidak dan memang itu sebagai tobat kami, makanya pernikahan itu lebih dipercepat karena saya pikir ... seandainya minta izin pun belum tentu diizinkan dengan bermacam alasan," ungkapnya Leo dan kini mereka duduk di ruang keluarga.
Suasana lebih riuh, ramai ketika adik-adik Sonia datang dari pengajian, mereka hanya menyambut senang dan bahagia. Walaupun dia merasa heran kok Sonia datang bersama siapa?
Lalau kemudian sang ibu memperkenalkan. Kalau pria yang sama Kak Sonia adalah suaminya.
"Tapi kapan nikahnya? kok kita nggak tahu, lagian kan walinya Kak Sonia adalah ayah!" gumamnya Iman sembari mengerutkan keningnya.
"Kalian takkan mengerti, biarpun di ceritakan! yang penting sekarang Kak Sonia sudah punya suami dan di luar Negeri, tinggal bersama suaminya! bukan sendirian," tutur sang ibu sambil menyuguhkan minuman serta makanan di meja.
"Cindy, kamu sedang apa? kenapa kau tidak mendatangi ku?'' Sonia mendatangi sang adik, Cindy yang berdiam diri di kamar.
"Kak," Cindy bangun. Sebenarnya dia sudah mengintip kedatangan Sonia dengan pria tampan yang bikin jantungnya berdenyut indah. berdebar tak menentu.
"Apakah kamu masih ingin mencaci kakak mu ini? atau ... menghina dan semacamnya lah." Sonia menatap tajam pada sang adik, Cindy.
"Em, aku ... aku malu, Kak. Aku minta maaf sudah-sudah menghina mu dan mencemooh mu. Tapi ... aku!" Cindy menunduk dalam, dia merasa malu pada kakak nya ini.
Sesaat Sonia terdiam sambil mendudukan dirinya di dekat sang adik ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon dukungannya ya ... makasih.