
"Em ... terima kasih Tuan, anda telah menyajikan makanan yang lezat buat kami berdua! sungguh hidangan yang luar biasa, sekali lagi terima kasih ya? ucapnya Hera kepada Dino, di sela-sela menikmati makan malamnya.
"Sama-sama, biasa saja nikmati saja makanannya dengan santai. Oh ya! namamu Sonia bukan Dino mengalihkan pandangannya kepada Sonia yang sedang asyik menikmati makannya dengan teratur.
"Oh iya Nama saya Sonia!" Sonia mengangguk mengiyakan.
"Kau tampak sangat cantik, kau kerja di mana?" tanya kembali Dino.
"Aku bekerja di butik sebagai pelayan!" jawabnya Sonia sembari menaikkan baju bagian atas untuk menutupi bahunya dan juga bagian depan yang selalu saja turun mengekspos belahan dadanya.
Diam-diam Dino membentuk tanda Oke dengan jarinya kepada Hera, begitu pun Hera membalas itu dengan senyuman yang teramat senang! karena jualannya sebentar lagi akan laku, serta menghasilkan uang yang banyak.
Membayangkan banyaknya uang dari hasil menjual Sonia, membuat Hera senyum-senyum sendiri sembari menunduk dan melanjutkan menikmati makannya.
"Ayo, kalian habiskan saja makannya. Bila perlu ... nanti saya pesankan lagi, saya senang jika kalian berdua sangat suka dengan hidangan ini," ucapnya Dino sembari menatap ke arah keduanya seraya menunjukkan senyuman yang manis.
"Makasih Tuan. Makasih banyak? tapi tidak usah! ini sudah cukup kok dan belum tentu juga habis ya, kan Sonia?" Hera menolehkan kepalanya kepada Sonia yang sedang menunduk dan Anteng dengan makanannya.
"Iya, benar ini juga belum tentu habis." Tambahnya Sonia sembari menganggukkan kepalanya kepada Hera maupun ke arah Dino.
Dino mengetik pesan di ponselnya lalu dia kirimkan ke nomor ponsel Hera. "Santai aja dulu dan habiskan makannya! nanti kalau setelah makan selesai, kita bisa bicara di luar!"
Menerima pesan itu, membuat dengan bibir yang senyum-senyum menatap layar ponselnya, lalu membalas dengan perkataan singkat dan padat. "Iya, aku akan menghabiskan dulu makannya dan setelah itu kita bicara di luar!"
"Ehem. Saya mau ke luar sebentar ya? sebentar saja! nanti saya kembali lagi!" Dino berdiri lantas mengambil tisu untuk mengelap mulutnya, kemudian dia pergi dari meja tersebut.
"Oh iya, silakan!" jawabnya Hera dan Sonia pun hanya mengangguk.
"Siapa dia, Her? Apa kau sudah lama mengenalnya?" tanya Sonia menatap hera.
__ADS_1
"Lumayan. Aku cukup lama mengenal dia! cuman jarang-jarang aja ketemu!" jawabnya Hera sembari membalikan sendok dan garpunya menandakan kalau dia sudah kenyang.
"Oh gitu ya? sepertinya dia orang kaya ya?" tambahnya Sonia.
"Ya, iyalah ... dia orang kaya! kalau orang miskin mah nggak mungkin bisa menyediakan makan semahal ini, di tempat yang mahal pula!" sahutnya Hera sembari meneguk air jus yang tinggal setengahnya itu.
"Emangnya kamu punya hubungan apa sama dia? hingga dai baik segitunya?" selidik Sonia kepada Hera.
"Kamu itu nggak usah banyak bicara ataupun banyak pertanyaan? Sudah. Nikmatin saja itu makannya, yang penting kita tidak merugikan orang dan tidak menyakiti orang!" tambah Hera kembali sembari menunjuk piring makannya Sonia.
"Aku mau ke toilet dulu ya? kamu tunggu aja di sini? jangan ke mana-mana! nanti kamu hilang, lagi. Hera berdiri sembari menyoren tasnya.
"Ke toilet? toiletnya di mana?" hanya Sonia sambil celingukan.
"Ya, tinggal nanyain saja! pokoknya kamu jangan ke mana-mana, tunggu aku kembali. Takutnya kamu hilang, kamu kan belum hafal tempatnya!" pesannya Hera kembali.
"Aduh ... Sonia, ngapain lu cari gue? lu cukup tinggal dan duduk di sini, nanti gue balik. Makanya jangan ke mana-mana. Lagian nggak usah takut dengan tagihan makan kok, semua hidangan itu sudah dibayar lunas oleh pria yang tadi. Jadi nggak usah takut!" kata Hera kembali sambil menggelengkan kepalanya, lalu kemudian dia mengayun kan langkahnya pergi meninggalkan meja yang ada Sonia nya.
Sementara waktu Sonia bengong melihat langkahnya Hera yang meninggalkan tempat tersebut. Namun tidak lama kemudian dia pun menikmati kembali minum dan makannya, juga tidak lupa mengambil buah sebagai pencium mulut.
Sudah hampir 30 menit Hera belum juga kembali, membuat hati Sonia menjadi gelisah. Takut dia kenapa-napa. Sonia hendak berdiri dan ingin mencari Hera yang katanya tadi mau ke toilet, namun tampaknya datanglah pria yang tadi bernama Dino dengan langkah yang sedikit terburu-buru mendekati dirinya.
Dengan wajah cemas, Sonia. memandangi pria tersebut.
Kemudian pria tersebut berkata. "Nona, temanmu pingsan dan sekarang berada di kamar hotel."
Sonia pun terkesiap. "Apa? Hera pingsan, kenapa dan sekarang dia berada dimana?" Sonia tampak cemas dan segera beranjak dari duduknya.
"Saya tidak tahu awal mulanya kenapa, yang jelas saya temukan dia sudah pingsan, dan saya membawanya ke kamar hotel, biar menunggu siuman dulu!" dalihnya Dino agar Sonia percaya dan mau ikut dengannya.
__ADS_1
"Ya Allah ... Hera kenapa sih? tadi dia baik-baik saja kok! katanya tadi dia mau ke toilet masa sekarang dia pingsan!" ucapnya Sonia terdengar merepet kayak petasan yang dinyalakan.
"Tidak, saya tahu Nona, yang penting sekarang Nona ikut saya saja!" ajak Dino kepada Sonia untuk menjenguk Hera di kamar hotel.
Dan Sania pun percaya dengan omongan Dino, sehingga dia mengikuti pria tersebut mengajaknya berjalan ke suatu tempat.
Sania pun sambil berjalan celingukan, karena jalan yang dilewati berada di sebuah koridor.
"Maaf Tuan. Emangnya kita mau ke mana? ini bukannya koridor yang akan membawa ke kamar-kamar hotel?" Sonia memberanikan diri untuk bertanya kepada Dino.
"Iya, Nona ... kan tadi saya sudah bilang kalau Nona Hera itu, saya bawa ke kamar hotel karena dia pingsan." Jawabnya Dino sambil terus berjalan, dan kini dia berjalan di belakangnya Sonia.
Di dalam pikiran Sania, terus saja bermonolog. "Kenapa sih, Hera harus pingsan segala? mana di kamar hotel lagi, setahu aku kan kamar hotel itu mengerikan. Apalagi bagi gadis seperti kami."
Setelah melewati berapa lantai dan kamar, akhirnya Dino berdiri di depan sebuah kamar yang bernomor kan 223.
"Apakah Hera berada di sini?" selidiknya Sonia kembali sembari melirik pria tampan yang berwajah atletis tersebut.
"Bener Nona, silakan Anda masuk?" Dino membukakan pintu kamar tersebut.
Dan dengan ragu, Sonia pun masuk. Perlahan mengayunkan langkahnya melintasi pintu yang Dino bukakan untuknya.
Namun suasana kamar itu begitu remang-remang. "Tuan kok suasana kamar begitu remang-remang, bisa kan dinyalakan lampunya?" suara Sonia sembari berdiri juga kedua menik matanya mencari keberadaan Hera.
Lalu kemudian kedua manik mata Sonia mengarah ke tempat tidur yang di sana tampak ada seseorang yang sedang berbaring ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like, bintang nya juga, comment kritik bila ada typo nya ya. Makasih banyak
__ADS_1