Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Ngeri


__ADS_3

“Aku akan mencarikan mu apartemen dan masih di gedung yang sama dengan kemarin.” Bobby berkata kalau dia bersedia mencarikan tempat tinggal buat Sonia.


“Ngomong-ngomong, kalau bayar apartemen itu berapa perbulan nya?” selidiknya Cery yang di tujukan pada Bobby.


“Kalau sewa yang paling murah itu sekitar lima jutaan dan yang lebih bagus lagi bisa nyampe puluhan juta. Atau mau beli, agar menjadi hak milik, boleh.” Jawab Bobby sambil menarik piring menu yang baru saja datang.


“Busyet, satu bulan gaji belum makan. Biaya transpor dan lain-lain habis deh.” Cery menggeleng kasar dan berdecak setengah tidak percaya kalau sewa mobil itu ternyata sangatlah mahal kalau sewa apartemen tersebut.


“Ck, mahal sekali. Tidak usah ach itu terlalu mahal itu buat aku Bobby, biar aku cari kosan saja dan yang lebih murah biar lebih terjangkau.” Sonia menggeleng dan tidak sanggup untuk membayar segitu, gajih di butik saja habis kalau di pakai sewa kamar apartemen.


“Ya sudah kalau tidak mau, dan nanti aku carikan tempat biasa saja, yang dekat dengan butik kan?” Bobby sambil makan dan Sonia juga Cery pun langsung menikmati makan malamnya.


Dari kejauhan ada pasang mata sesekali memperhatikan ke arah Sonia yang sedang makan malam bersama Bobby dan seorang gadis. Matanya mengawasi setajam elang dan rahangnya menegang.


“Siapakah pria itu? jangan sampai kalau itu pria hidung belang dan menjual diri pada pria itu.” Gumamnya pria tersebut.


“Berikan saya waktu beberapa hari lagi untuk membayar hutang, Tuan. Karena saat ini saya belum mempunyai uang untuk membayar.” Orang itu menyatukan kedua tangan di dada memohon dan meminta diberi keringanan.


“Sudah berapa lama saya memberikan waktu pada mu? Ini menyangkut sindikat bukan pribadi atau pun uang saya, jadi saya minta bayar secepatnya!” jelas Leo dengan tatapan yang sangat tajam seakan ingin menghujam jantung lawan bicaranya.


“Tapi saya belum mempunyai uang untuk membayar nya. Tuan, tolong berikan saya waktu untuk itu,” pinta orang tersebut yang terus memohon.


“Dengar jika saya masih mempunyai hati. Tapi anak buah saya belum tentu bisa membiarkan anda barang sedikit pun untuk menghirup udara dia segar di dunia ini. Saya tahu kalau kau baru saja membeli mobil, hutang itu wajib di bayar kawan.” Leo mengusap rahang pria tersebut dengan satu tangan saja dan Rekkkk ... tangan kekar itu melintir kepalanya pria tersebut.


“Aw ...” teriak pria tersebut dan sontak kepalanya tidak bisa digerakkan sama sekali.


Leo langsung cabut dari tempat tersebut. Dengan sambil merapikan kerah jasnya, di ikuti oleh seorang bodyguard nya yang mengenakan jas hitam.


“Tolong ... tolong ... tolong saya?” pekik pria tersebut yang tidak bisa menggerakan kepalanya tersebut.


Membuat semua orang yang ada di resto tersebut menoleh dan mulanya biasa saja tapi lama-lama ada yang menghampiri juga dan menolong pria itu yang bak kepala patung menghadap ke samping.

__ADS_1


“Ya Allah ... kenapa itu?” Sonia merasa ngeri. Begitupun dengan Cery yang bergidik melihat orang yang tidak bisa menoleh ke depan itu.


“Pulang yo? lagian makan nya pun sudah selesaikan?” ajak Cery. “Aku takut Tuan ....”


Sonia terbengong-bengong melihat keriuhan tersebut, orang itu di papah orang, keluar dari restoran tersebut.


Bobby pun beranjak setelah membayar bill makan mereka bertiga. Kemudian mereka berjalan keluar mendatangi mobil Bobby yang terparkir di sebelah kanan.


“Haduh ... berasa hidup di dalam bioskop saja aku ini.” Gumamnya Cery sambil mendudukan dirinya di kursi belakang mobil Bobby.


“Hem ... apa hubungannya?” Sonia mengerutkan keningnya menoleh pada Cery.


“Ya itu, bak ibarat di panggung sandiwara. Mengerikan. Emangnya kamu gak ngeri apa? ada saja kejadian aneh yang kita lihat,” balasnya Cery.


“Hooh sih ... tapi kita gak perlu parno juga sih, toh kita tidak melakukan apapun. Kata tuan Bobby juga di sini itu tidak pernah salah sasaran atau salah orang untuk ditindak.” Sonia mengungkapkan dan mengingat perkataan Bobby pada waktu itu.


“Benar sekali. Kalau kita tidak melakukan apapun. Kita tidak perlu takut dengan kekejaman dunia ini. Tetaplah berada di jalan yang benar, niscaya hidup mu akan aman.” Ujar Bobby sambil fokus memutar kemudi nya.


Sonia berdiri di dekat pintu mobilnya Bobby. “Bobby. Makasih ya atas tumpangan nya dan juga makan malam yang enak, gretongan juga.”


Bobby mengernyitkan keningnya sembari berkata. “Gretongan, apa itu gretongan?”


“Hi hi hi ... gratisan, Tuan Bobby ... makasih ya ganteng ... sudah tampan, baik pula. Semoga semakin di lancarkan rejekinya yang banyak dan terus berbuat baik pada kita berdua.” Cery menimpali.


“Huuh ... ngarep ya ... ha ha ha!” Sonia tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


“Nah ... begitu kan cantik. Senyum dan tertawa seperti biasanya, aku suka.” Bobby mengulas senyumnya lalu memutar kemudinya kembali lalu berpamitan.


“Dah ... Tuan Bobby ganteng, hati-hati ya dan bawa lah Cery dalam mimpinya yang indah nanti.” Pekiknya Cery sambil melambaikan tangan ke arah mobil Bobby yang sudah melaju dengan sangat cepat.


Keduanya berjalan menelusuri jalan gang yang hanya bisa masuk motor saja. Sonia begitu anteng melamun, sehingga Cery bicara pun tidak jelas ia dengar apa yang dibicarakan.

__ADS_1


“Hai, kau mendengarkan suara ku gak sih? aku sedari tadi berkicau tidak kau dengarkan sama sekali. Ck-ck ...” Cery menggelengkan kepalanya sambil terus berjalan.


“Ups, emang kamu berkicau apa sih? kaya burung saja, he he he ....”


“Malas ach, sudah lewat.” Cery memasuki kontrakannya.


Sonia pun masuk dengan jalan gontai dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelumnya mengambil handuk terlebih dahulu.


“Kamu duluan deh, ke kamar mandinya. Aku ingin istirahat dulu ach ...” Cery sambil berbaring dan memeluk guling.


15 menit kemudian. Sonia pun selesai mandi dan bersiap melaksanakan kewajiban nya sebagai umat muslim. Kemudian Cery pun bangun dan masuk ke kamar mandi.


Di saat Cery berada di kamar mandi. Ada yang mengetuk pintu dari luar, membuat Sonia menoleh ke arah sumber suara dan beranjak dari duduknya yang baru saja selesai membaca doa.


Kaki Sonia berjalan melangkah ke arah pintu dan membukanya. Alangkah terkejutnya Sonia, ketika melihat keberadaan Dino berada di sana.” Tuan Dino?”


“Nona, hendaklah anda ikut bersama saya sekarang juga?” ucap Dino sambil berdiri tegak dan menatap tajam ke arah Sonia.


“Ta-tapi kemana?” Sonia heran malam-malam begini dia datang dan ingin membawanya.


“Tuan yang meminta mu untuk datang!” jawabnya Dino.


“Bukannya urusan kita sudah selesai ya? aku tidak mau!” Sonia hendak menutup  pintu namun dengan cepat Dino meraih tangan Sonia dan membungkam mulutnya.


“Jangan paksa saya untuk membawa mu secara paksa Nona. Ayo jalan?” Dino menyuruh sonia untuk jalan dengan sendirinya tanpa ada paksaan darinya.


Sonia terkejut dan melotot kaget pada pria tersebut. Lalu dia menuruti perintahnya Dino untuk berjalan. Dengan mata melihat kanan kiri yang ada beberapa orang yang tampak di sekitar sana. Namun mereka tampak cuek dan tidak perduli satu sama lain ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like dan komen juga subscribe nya ya ... makasih.

__ADS_1


__ADS_2