
"Astagfirullah ... aku di sini adalah korban, tapi aku lupa akan kewajiban ku!" Sonia memegangi alat salat wanita yang dia keluarkan dari paper bag.
Dan setelah beberapa waktu kemudian, Sonia baru melanjutkan niatnya untuk memasak. Sekarang hatinya lebih merasa lebih plong dan lega setelah bersimpuh dan mohon ampun kepada sang maha pencipta.
"Aduh, dibawa lebih lama berdiri kaki ku sakit sekali." Sonia bergumam sembari mendudukan dirinya di kursi yang ada di sana.
Sonia masak kembali sambil melamun, dia jadi ingat sama Cery. Pasti Gadis itu mencari-cari dia yang dari semalaman dan sampai sekarang tidak memberi kabar.
"Kasihan sekali Cery, dia pasti mencari ku yang dari semalam tak ada kabar. Mana ponsel dan tasku di sana, lagi. Cek 500 juta aku di sana ketinggalan! gara-gara orang itu memaksaku untuk pergi."
Setelah 30 menit kemudian masakan Sonia pun sudah matang dan dia tata di atas meja, yang terdiri dari sayuran suwir ayam, bertabur potongan cabe. Telur ceplok bertabur bawang goreng dan nasi anget.
"Du-du-duh ... air liur ku sudah mengalir! rasanya sudah tidak sabar untuk makan! eh tapi dipikir-pikir aku ini di sini siapa? kok kayak nyonya rumah sih. Tapi kan nggak mungkin jika aku harus kelaparan di sini! Lagian sudah disuruh juga bodo amat ah."
Sonia memposisikan duduknya lebih manis, lalu menyantap makanannya dengan sangat lahap. Bodo amat dengan semua yang sudah terjadi, untuk saat ini makan saja.
Namun di tengah-tengah sedang asik makan. Pintu utama terbuka dan masuklah si predator kelamin
dan di belakangnya seorang dokter pria memasuki apartemen tersebut dengan pandangan yang mengarah pada Sonia.
Leo Lie berjalan mendekati ke arah Sonia yang sedang makan. Dengan refleks Sonia pun menghentikan makannya dan langsung berdiri.
Melihat Sonia yang sedang makan seraya berkata. "Lanjutkan makannya nanti saja, sekarang periksakan dulu kaki mu."
"Ta-tapi ... aku takut disuntik!" ucap Sonia dengan wajah yang tampak cemas dan ketakutan.
"Ah ... sudah ka! ikut aku?" Leo menarik tangan Sonia agar gadis itu berjalan perlahan mendekati sofa.
Kemudian di dudukannya sofa berhadapan dengan dokter yang sudah duduk lebih dulu di sana.
Begitupun dengan Leo, dia duduk yang tidak jauh dari Sonia. "Ini Dok. Tadi kakinya masuk pagar balkon dan jadinya lecet serta membiru!" ucap Leo kepada sang dokter.
"Mana, kaki mu yang terluka itu. Nona?" dokter mengalihkan pandangannya ke arah Sonia.
__ADS_1
Sonia hanya menunjukkan kakinya yang sakit itu tanpa membuka roknya agar dapat dokter lihat.
"Shutt ..." Leo memberi kode kepada Sonia yang tidak Sonia mengerti maksudnya.
"Apaan sih?" tanya Sonia dengan pelan.
"Ck." Leo berdecak kesal. Karena Sonia tidak mengerti dengan yang dia maksudkan.
Lalu Leo berpindah tempat duduk ke dekat Sonia, dengan tidak ragu dia menaikkan rok gadis itu agar lukanya dapat dilihat oleh sang dokter.
Namun dengan cepat, Sonia menurunkan kembali roknya sembari menatap ke arah wajah Leo yang langsung melotot.
"Malu," pekiknya Sonia yang tertahan.
"Gimana dokter bisa memeriksanya! kalau kamu tutup seperti ini?" Leo kembali menaikkan rok Sonia.
"Te-tetapi tidak disuntik, kan Dok?saya takut dengan jarum suntik!" Sania menatap cemas ke arah dokter.
Dokter tersenyum setelah ia berkata. "Ooh tidak, sepertinya cukup minum obat saja. Jangan khawatir."
"Kenapa bisa terjadi seperti ini? berhati-hatilah ... kalau sedang di balkon, karena akibatnya bisa seperti ini kaki bisa nyangkut antara pagar." Kata dokter sambil memeriksakan lukanya Sonia dan menyentuh yang luka itu.
Kedua netra mata Leo melotot ketika tangan dokter meraba bagian paha Sonia tersebut.
"Namanya juga celaka, Dok. Siapa yang tahu!" jawabnya Leo sembari melirik ke arah Sonia dan dokter bergantian.
Dan tidak lama kemudian pemeriksaan pun selesai, dokter pun memberikan obat yang kebetulan sudah disiapkan. "Ini obatnya diminum tiga kali sehari dan salep ini pun dioleskan yang rajin biar cepet sembuh!"
"Terima kasih banyak dok!" Sonia mengangguk hormat kepada dokter! sembari mengambil obat yang dia berikan.
"Terima kasih dok. Mari ku antar kembali." Leo berdiri hendak mengantar dokter keluar dari apartemennya.
Dokter pun beranjak dari duduknya, serta meraih tas kerja miliknya berjalan keluar bersama Leo.
__ADS_1
Sonia menatap beberapa obat yang ada di tangannya. "Banyak sekali, ini harus diminum semua apa?"
"Bukan diminum itu, dibuang saja!bekas lah diminum," suara Leo yang tiba-tiba sudah berada lagi di hadapan Sonia.
"Ha? oh, sorry. Tadi aku masak, karena aku merasa lapar." seru Sonia sembari menyimpan obatnya di atas meja.
"Ya, sudah. Lanjutkan lagi makannya? tidak apa-apa. Lagian saya sudah bilang kalau kamu lapar dan kamu bisa masak sendiri! gak masalah, maska saja yang ada, dan bila malas masak. Tinggal pesan saja kok, bisa pesan lewat telepon." Leo menunjuk ke arah pesawat telepon yang ada di pojokan sana.
"Telepon ke mana?" tanya Sonia yang tidak tau harus menelpon ke mana?
"Di dekat pesawat telepon ada buku kontak, di sana kamu tinggal nyari nomor telepon ke mana dan perlu apa. Tapi jangan coba-coba berusaha untuk kabur, karena kemanapun kamu pergi. Pasti akan saya temui. Apalagi masih di wilayah sini." Ancam nya Leo.
Sonia udah menjawab lagi sambil menata ke arah pesawat telepon yang kelihatan, kemudian dia berdiri sambil meraih dan membawa obat tersebut ke meja makan.
Leo berdiri tidak jauh dari meja makan dan melihat piring makannya Sonia yang sepertinya menggugah selera. "Sepertinya enak juga."
Rasanya ingin meminta Sonia untuk memasak untuknya, seperti yang di makan oleh Sonia. Hanya rasanya segan kalau harus menyuruh Gadis itu masak untuknya. Apalagi di saat kakinya seperti itu, tidak tega.
"Baiklah, aku pergi dulu! ingat pesanku. Jangan coba-coba kabur dan kita akan menikah hari ini juga. Itupun jika kamu mau lebih jelas bila suatu saat melayani ku. Terkecuali bila kau ingin selamanya seperti ini." jelasnya Leo.
Sonia tetap terdiam dan menelan Saliva nya hingga berapa kali, kemudian tangannya mengambil sendok dan mulai untuk menghabiskan makannya.
"Aku jadi istri dia? apa tidak salah?" batinnya Sonia sembari menatap ke arah makanan yang berada di piring.
Sehingga dia tidak tahu kalau Leo sudah tidak lagi berada di sana dan tinggallah Sonia sendiri seperti semula menikmatinya.
Makan selesai, mencuci sudah. Minum obat pun sudah. Lalu mendekati pesawat telepon dan mengambil buku kontak yang ada di sana, dan melihat-lihat kontaknya dan berniat. Untuk menghubungi salah satu kontak dan minta tolong agar dapat mengeluarkannya dari situ serta menyelamatkan dirinya dari seorang pria yang bernama Leo.
Namun Sonia berpikir kembali sekalipun dia bisa kabur dari tempat itu ataupun dari pria tersebut, apa kabar dengan dirinya yang sudah dinodai oleh pria itu? sementara pria yang sudah menodainya menjanjikan pernikahan, dan setidaknya bila hubungan itu terjadi, menjadi tidak berdosa lagi antara mereka berdua.
"Aku jadi bingung antara kabur dan tidak, aku nggak mungkin nikah dengannya, tapi nggak mungkin juga menolak. Atas semua yang dia lakukan padaku. Ibu, ayah? aku menyesal datang ke sini." Sonia mengusap wajahnya dengan kasar dia menjadi dilema antara pilihan yang mentok itu ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Like komen, subscriber dan rating juga. Makasih.