Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Istri CEO


__ADS_3

Kini Leo sudah rapi dengan pakaian formalnya. Berjalan mendatangi Sonia yang sedang menata mie goreng di meja. Dua porsi juga dua gelas minuman hangat.


"Nanti jangan dulu keluar bila belum di jemput orang ku." Leo mendudukan dirinya di kursi meja makan.


"Kenapa, takut aku kabur?" Sonia bergumam sambil duduk menghadapi sarapannya.


"Buat apa aku takut kau kabur? silakan saja saja, saya tidak rugi dan tinggal saya cari ketika saya butuh. Gampang." Leo mulai menikmati sarapannya.


Bibir Sonia merengut sambil memutar bola matanya.


"Dino akan mengantar mu ke BANK untuk mengurus nomor rekening mu." Sambung nya Leo.


Sonia menggerakan manik matanya melirik sekilas ke arah Leo lalu melihat ke arah makannya, lanjut meneguk minuman hingga setengahnya.


"Jangan kaget bila rekening mu bila banyak uangnya. Jangan lupa kau harus rajin ke salon dan membeli semua keperluan mu! jangan sampai kelihatan susah." Leo menatap intens ke arah Sonia.


Sonia pun melihat dirinya yang dia rasa biasa saja dan tiada yang aneh.


Selesai makan. Leo beranjak dan meninggalkan apartemen +Sonia yang sedang mencuci perabotan. Lalu menoleh dan menatap punggung Leo yang hilang di balik pintu.


Sonia melamun sambil bersandar Kedinding wastafel entah apa yang dia pikirkan sehingga terlihat anteng dengan lamunannya tersebut.


Beberapa saat kemudian lamunannya pun pecah, terdengar kucuran air yang terus mengalir dari wastafel yang barusan dia pakai.


"Ya ampun ... kok aku bisa lupa sih kalau aku lagi mencuci." Sonia yang meneruskan lagi tugasnya, sebelum mengambil cucian kotor milik Leo di kamarnya.


"Soal cucian! kumpulkan saja, nanti ada laundry yang mengambil." Tiba-tiba suara itu ada di belakang Sonia.


"Astaghfirullah ... kenapa sih kau bikin kaget. Hampir saja aku jantungan!" dengan refleks Sonia berbalik melihat sumber suara.


Dimana Leo berdiri begitu dekat dengan dirinya, sehingga tercium bau badannya sangat menyengat ke dalam rongga hidung.


Sonia terpaku dan mematung di tempat, sementara Leo menatap lekat ke arah wajah itu yang ada di depan matanya tersebut. Cuph! sebuah kecupan hangat mendarat di kening Sonia yang terkesiap.


Nyess.

__ADS_1


Sesaat kemudian Leo pun kembali membawa langkahnya meninggalkan Sonia yang tidak bergeming.


Selanjutnya Sonia lalu membawa langkahnya berjalan untuk mengumpulkan pakaian kotor, khususnya milik Leo yang katanya nanti akan ada yang mengambil dari laundry. Yapi setelah dipikir-pikir apa kerjaannya di rumah? kalau cuman nyuci saja dikasih ke laundry.


"Apa salahnya sih? aku nyuci sendiri. Lagian sabun juga ada, nanti kalau habis. Aku bisa beli sendiri kok sabun dan yang lainnya, sembari menunggu kedatangan yang menjemput ku, yang entah siapa? Tuan Dino atau entah siapa lah!"


Sonia mengucek cuciannya di dalam bathub karena tidak ada ember di sana ataupun mesin cuci.


"Kenapa nggak memelihara mesin cuci sih? emangnya selama ini ****** ***** pun dia ke laundry kan apa? cuci sendiri lah." gumamnya Sonia sembari mengucek cuciannya itu.


Kemudian Sonia menggantung kan semua cuciannya di balkon. "Eeh, eh pagarnya kayanya ... sudah diperbaiki deh, kapan ya?" pandangan Sonia mengarah ke arah pagar yang kemarin sedikit rusak.


"Nona kenapa mencuci sendiri? seharusnya kamu cukup mengumpulkan cucian nya, nanti pihak laundry yang mengambil." suara itu mengagetkan Sonia dengan cepat memutar tubuhnya melihat siapa yang ngomong.


"Oh Tuan, tidak apa-apa sambil mengisi waktu. Kenapa nggak pelihara mesin cuci ya? emangnya semua pakaian kotor di ke laundry kan? termasuk dalaman gitu!" ucap Sonia.


"Iya Nona, semuanya apapun yang kotor nanti masuk laundry." jawabnya Dino.


"Apakah Tuan Dino yang akan mengantar ku?" tanya Sonia sembari menyelesaikan pekerjaannya.


"Benar, aku ingin mengirimkan uang yang cek waktu itu, mau ku kirimkan saja semuanya! biar di sana dipergunakan untuk keseharian orang tua ku, dan katanya mau membeli tanah yang ditempati kami!" kata Sonia sembari menganggukkan kepala.


"Itu bagus Nona, investasikan buat ke depan. Lagian selama anda berada di sini, anda tidak perlu menyimpan uang banyak. Lebih bagus bila dikirimkan ke kampung." Dino sangat setuju dengan niatan dari Sonia.


"Lagian di sini aku bisa bekerja kok, insya Allah kalau cuma untuk diriku sendiri!" Sonia berjalan sambil mengeringkan tangan ke baju yang melekat di tubuhnya.


Kemudian Sonia berganti baju, yang kebetulan ada setelan celana panjang! sehingga bisa dia pakai untuk ke luar hari ini.


Dan setelah selesai, kemudian Sonia pun kembali dengan penampilan yang rapi.


"Setelah dari BANK nanti. Anda ke salon untuk merawat diri terus belanja semua kebutuhan anda, seperti pakaian dan lain-lain nya. Nona." Ucapnya Dino


Sonia menggerakkan kepalanya mengangguk ke atas dan ke bawah, sambil menyoren tasnya yang lusuh.


"Sekiranya Anda harus bisa lebih berpenampilan menarik dari ini, barang-barang pun jangan sampai kelihatan murahan! harus branded, tubuh harus sering dirawat minimal dua kali dalam seminggu." Kata Dino.

__ADS_1


Keduanya berjalan keluar dari apartemen dan Dino yang membukakan pintunya terlebih dahulu.


"Emangnya di departemen ini nggak ada salon?" tanya Sonia sembari melirik ke arah Dino yang berjalan di sampingnya.


"Ada, tapi kan hari ini sekalian jalan keluar, Nona. Nanti anda akan diantar mencari salon di gedung apartemen ini atau sekitar gedung ini!" jawabnya Dino tanpa menoleh ke arah Sonia.


"Baiklah, aku hanya bisa menurut saja! besok hari aku mau bekerja, aku nggak mau di rumah terus--"


"Tapi buat apa anda bekerja Nona? uang anda banyak, jika anda butuhkan sesuatu. Anda tinggal ngomong nanti tuan Leo belikan atau memberikan uangnya kepada anda!" Dino menghentikan langkahnya sembari menoleh pada Sonia.


Langkah Sonia pun terhenti dan berbalik melihat ke arah Dino. "Emangnya kenapa? di butik itu pekerjaan ku dan aku masih betah kerja di sana, selama mereka masih membutuhkan ku. Itupun. Kecuali mereka sudah tidak membutuhkan ku! barulah aku akan berhenti."


"Anda itu adalah istri dari seorang Chief Executive Officer (CEO, Leo Lie. Pemegang salah satu saham terbesar di Negara ini, jadi buat apa anda susah-susah bekerja." Tambahnya Dino.


Sonia menatap penasaran ke arah Dino. "Apa, pemegang salah satu saham terbesar di Negara ini! tapi kok nggak kelihatan? aku merasa dia seperti orang biasa-biasa saja, em, maksud aku kalangan menengah ke atas gitu!"


"Begitulah dia Nona, dia tidak terlalu memperlihatkan siapa dirinya, dan dia sebagai kepala beberapa organisasi." Jelasnya Dino sambil melanjutkan langkahnya.


"Tapi aku bosan juga, harus di rumah terus dan aku mau kesibukan sendiri--"


"Anda tidak perlu berdiam terus di rumah Nona, bisa ke salon merawat diri Anda, bisa berbelanja, nongkrong di mall. Dan banyak lagi kegiatan yang bisa anda jalani jika anda mau. Ikutan arisan wanita sosialita misalnya!" ujar Dino.


Kini mereka sudah berada dalam lift. "Mana ada aku menyatu dengan wanita-wanita sosialita? mereka pada nggak mau kenal sama aku! siapa dirimu katanya, kalau aku masuk di kalangan mereka itu!"


"Tidak seperti itu juga Nona, karena kan anda nanti bisa dikenalkan oleh tuan kepada para teman-teman sejawat nya. Dan mudah saja untuk memasukkan anda diantara mereka-mereka, istri atau kekasih para kalangan besar di Negeri ini!" ungkapnya Dino yang berdiri di samping Sonia.


"Sudah, sudah cukup. Tuan, jangan buat aku bermimpi lagi. Cukup mau aku dalam kenyataan ini saja, oke!" Sonia menggerakkan tangannya sebagai tanda cukup! Dino jangan banyak bicara lagi tentang wanita sosialita atau kekayaan.


"Baik lah Nona ... mari?" Dino menyilakan Sonia berjalan di depannya, setelah pintu lift terbuka. Keduanya berjalan di area lobby dan orang-orang di sana pun mengangguk hormat ka arah Dino dan juga Sonia.


Derap langkah yang terdengar riuh mendekati mobil Dino dan langsung pria itu membukakan pintu untuk Sonia! wanita muda yang mengenakan setelan biru muda dengan rambut terurai. Biarpun terbilang sederhana namun tampak sangat tercantik ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment kasih bintang subscribe dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2