
“Anda tidak perlu khawatir, bila anda terlanjur hamil. Tuan saya akan bertanggung jawab pada mu akan janin yang kau kandung, dan bila kau butuh sesuatu bilang saja sama dia atau bisa melalui saya. Dan ini nomor ponsel saya, dan ini kartu nama tuan Leo.” Ujarnya Dino degan sangat serius.
Sonia mengangguk pelan sambil mengambil dua kartu nama yang yang Dino berikan.
“Nona, tuan Leo harap anda jangan pernah menjajakan diri pada pria lain selain sama dia, jadi kau datang saja pada tuan Leo apapun masalah mu.” Tambahnya Dino sambil menarik piring makanan yang baru saja datang ke mejanya.
Kemudian mereka pun makan siang dengan lahap meskipun Sonia sebenarnya tidak tenang dan gelisah. Dia banyak diam dan tidak tahu harus berkata apa?
“Ingatlah pesan ku Nona. Apapun masalahnya kau datangi saja tuan Leo jangan mengambil keputusan sendiri.” Dino kembali berkata agar Sonia mengerti dengan maksudnya.
Sonia hanya mengangguk pelan walau dalam hati berkata, tidak sudi menemui dia, pria yang tidak punya hati yang tidak pernah mendengar permohonannya untuk di lepaskan. Dasar penjahat kelamin.
“Saya harap kamu meminum obatnya sekarang. Nona, di hadapan saya sendiri. Untuk memastikan pada tuan Leo kalau kamu Nona sudah meminumnya.” Pinta Leo pada Sonia tentang obat tersebut.
Sonia mengambil obat yang tadi dia simpan di dalam tas, lalu meminumnya sesuai permintaan nya Dino dengan perasaan yang tidak menentu.
Pria itu tersenyum dan merasa puas melihat Sonia sudah meminum obat tersebut, karena dia akan dipertanyakan oleh Leo nantinya.
“Bagus Nona.” Dino mengangguk sambil mengunyah makannya. Kemudian Dino membaca sebuah pesan yang mengatakan bila Sonia sudah tidak lagi tingga di apartemen nya Hera.
Dino melihat ke arah Sonia dengan tatapan meneliti. “Kau tinggal di mana sekarang?”
Kepala Sonia menunduk dan tidak dengan cepat menjawab pertanyaan dari Dino.
“Baiklah bila kau tidak ingin cerita pada saya. Dan saya tidak akan memaksa, tapi saya akan tau sendiri dimana tinggal anda.” Dino memberi kebebasan bila Sonia tidak mau cerita dimana dia tinggal.
“Em ... saya sudah siang dan harus balik ke butik,” ucap Sonia sambil berdiri. “Dan terima kasih atas makan siangnya ini.”
“Baiklah, silakan!” Dino pun ikut berdiri lalu mengeluarkan sejumlah uang buat membayar bill nya. Lalu menyusul Sonia dan mengajaknya ke dalam mobil untuk mengantarnya kembali ke butik.
“Makasih dan tidak usah. Aku bisa sendiri kok kembali ke butik.” Tolak nya Sonia sambil terus berjalan menyusuri pinggiran jalan.
__ADS_1
“Nona. Butik tempat anda bekerja itu lumayan jauh dan biar saya yang mengantar anda ke sana. saya tidak ingin tuan saya menegur saya karena sudah membiarkan anda jalan kaki dan saya tadi yang membawa anda ke sini, jadi tidak mungkin saya membiarkan anda berjalan kaki. Masuklah Nona?” pintanya Dino sambil terus merayap kan mobilnya di samping Sonia.
“Ck, bawel juga ini orang ya.” Batinnya Sonia sambil hentikan langkahnya nya, lagian memang benar sih kalau letak butik dari tempat tersebut agak lumayan jauh.
Bibir Dino menyungging dan tangannya membukakan pintu mobil karena dia yakini kalau Sonia akan masuk. Sonia pun memasuki mobil nya Dino dengan bibir yang mengatup, diam seribu bahasa.
Dino menjalankan mobilnya sembari mesem melihat gadis itu yang banyak diam padahal dari wajahnya dia itu adalah gadis yang ceria. Mungkin kurang kenal saja kali sehingga dia bersikap seperti itu.
Setibanya di depan butik, Sonia langsung masuk dengan terburu-buru, dia yakin bila akan ada banyak pertanyaan dari Cery yang pasti merasa heran, kemana dia sehingga tidak makan siang bersamanya.
“Nia, kau dari mana? aku cari di tempat biasa tidak ada. Di telepon pun tidak kau angkat.” Cery menatap heran pada temannya tersebut.
“Em, aku ...” sonia menggigit bibir bawahnya bingung harus menjawab apa.
“Itu ... akau pulang dulu ke kosan dan aku tidak sempat bilang dulu sama kamu Cer, dan hp pun aku silent kan.” Elaknya Sonia.
“Oh ... ada apa kau pulang ke kosan? Apa ketinggalan uang? aku bawa kok, tapi ya sudah ... kita kerja lagi saja dan itu pengunjung minta di layani.” Cery menunjuk pada yang mau belanja dan memasuki butik tersebut.
Sonia mengembuskan nafas dari mulut sambil berjalan. “Huuuh ... untuk Cery tidak berkepanjangan pertanyaannya.”
Ketika sedang menunggu taksi, datanglah mobil mewah yang diyakini milik Bobby. Berhenti dan menyalakan klakson serta menyuruh keduanya untuk masuk. “ Masuklah Nona?”
Sejenak Sonia terdiam lalu Cery menarik tangannya untuk mengikuti perintah Bobby untuk ikut dengan mobilnya.
“Kemana saja Nona Sonia? beberapa hari ini tidak ketemu dan aku menunggu mu sampai bulukan, tapi kau tidak muncul juga.” Sapa Bobby setelah Sonia sudah berada di dalam mobilnya.
“Aku ... sudah tidak di sana lagi, Bobby.” Jawabnya Sonia sambil melirik pada Bobby yang mulai fokus untuk melajukan mobilnya.
“Kanapa, gak di sana lagi? terus sekarang tinggal dimana emangnya?” tanya Bobby sambil mengerutkan keningnya.
“Sonia kini tinggal bersama ku untuk sementara! sebelum dia mendapatkan tempat tinggal,” sambarnya Cery sambil menggerakan tangannya.
__ADS_1
Sonia mengangguk pelan. “Benar. Aku sudah tidak di sana lagi.”
“Bagus lah bila kau tidak di sana lagi, aku takut kau akan terjerumus ke tempat yang tidak baik.” Gumamnya Bobby sambil tetap fokus ke depan.
Sonia terdiam memikirkan perkataan dari Bobby yang seolah tahu sesuatu tentang Hera dengan aktifitasnya.
“Maksudnya gimana sih, terjerumus ke tempat tidak baik segala?” Cery penasaran dengan kalimat Bobby dengan tatapan tertuju pada Bobby.
Bobby dan Sonia saling bertukar pandangan dan tanpa berkata apapun. Bobby pun tidak menjawab ataupun penjelasan pada Cery yang mengerutkan keningnya menatap keduanya bergantian.
Lalu Bobby mengajak Sonia dan Cery untuk makan di sebuah restoran dan dia yang akan traktir.
“Beneran akan tuan Bobby traktir nih?” Cery meyakinkan diri kalau Bobby yang akan bayarkan.
“Iya dong ... aku yang akan bayarkan dan jangan khawatir.” Jawabnya Bobby.
“Asyik ... gretongan Nia, ayo turun?” Cery tampak girang sambil turun dari mobilnya Bobby.
Soni hanya diam dan tanpa banyak bicara seperti biasanya, membuat Bobby tambah heran kalau Sonia lebih murung dan tidak seperti biasanya. Ibarat bukan Sonia yang dulu, Bobby turun dan berjalan berdampingan dengan Sonia.
“Ada apa kok kamu lebih murung dan tidak seperti biasanya?” selidiknya Bobby.
Sonia hanya melirik seraya berkata. “Aku baik-baik saja kok.”
“Aku tau bila sebenarnya kamu sedang tidak baik-baik saja.” Tambahnya Bobby yang kekeh merasa kalau sonia ada yang beda.
“Em ... mungkin aku sedang kurang sehat saja jadi kurang semangat!” elaknya Sonia.
“Woi. Buruan dong ... dah lapar nih ... jalannya kaya siput saja ihc. Lemot.” Cery yang sudah berada di dekat pintu utama.
Kemudian mereka pun duduk di meja nomor sekian dan lanjut mereka memesan makannya. Dengan menu makan kesukaannya masing-masing ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan like komen dan subscribe ya ... makasih