
"Aku mohon ja-jangan lakukan! aku seperti ini. Aku bukan wanita murahan, tapi gadis baik-baik dan aku be-belum pernah melakukannya!" Sonia terus memohon dengan suara yang terbata-bata.
Namun Leo tidak peduli, tubuhnya yang semakin memanas terbakar dengan hasrat yang kian memuncak ke ubun-ubun. Semakin tertantang untuk melakukan yang lebih dan lebih lagi.
Leo menurunkan tangannya lalu mengelus paha gadis itu dengan bergantian.
Sonia terus menggelengkan kepalanya, tubuhnya yang lemah tidak bisa berontak lagi hanya air mata yang terus berderai.
"Jangan sok suci, sekalipun kamu masih gadis tapi tidak mungkin kalau kamu belum pernah melakukan sebatas ini dengan pria lain! tidak perlu munafik di hadapan ku. Karena aku sudah sering menemukan wanita sepertimu!" bisiknya Leo tepat di dekat telinga Sonia.
Lagi-lagi Sonia menggeleng. "Kau harus percaya padaku! aku tidak pernah melakukan ini, tolong lepaskan aku? Aku akan berusaha mengganti uang yang sudah kau berikan pada seseorang yang mengatasnamakan aku! aku mohon Tuan ... lepaskan aku?"
Sesering apapun Sonia yang meminta dilepaskan, tidak membuat Leo luluh sekalipun Sonia terus menangis.
Dan Leo melihat juga merasakan, kalau tubuh Sonia cukup merespon dengan apa yang dia lakukan. Tangan Leo yang hilir mudik seperti setrikaan di kaki bagian atas semakin naik dan perlahan namun pasti. Menyelusup ke suatu tempat yang dirasakannya sudah banjir tanpa adanya hujan.
Bibir pria tampan yang sangat berpengalaman dalam hal mencintai itu menyungging tersenyum puas, menatap wajah Sonia yang basah dengan air mata. Dengan perlahan ... satu jemari Leo semakin ke dalam dan menusuk sesuatu yang membuat wajah Sonia sontak memerah sembari berdesis kesakitan.
Sonia benar-benar merasa dirinya sudah terhina, kotor yang tidak punya harga diri lagi. Karena sudah dijamah pria asing yang katanya sudah membeli dirinya, kehormatan dia yang seharusnya terjaga dan diberikan kepada seorang pria yang sudah mengucap janji suci dan menjadikannya halal. Namun pada kenyataannya Sonia tidak bisa menjaga itu.
Kini mulut Leo sedang melahap dengan rakusnya dua buah pepaya yang menggantung milik Sonia, di lahapnya habis-habisan.
__ADS_1
Jari jemari lentik Sonia menjambak rambut Leo sangat kuat. Disertai nafas yang tidak beraturan, sembari terus bergumam. "Tolong, Tuan! lepaskan aku?"
Wajahnya Leo mendongak sambil menarik bibirnya tersenyum. "Kau sangat munafik sayang, bibit mu mengatakan tidak, tapi tubuh mu mengatakan iya dan lanjutkan ha ha ha ... kau menikmati dengan semua sentuhan ku yang sangat memabukkan ini kan sayang ku! dan kita akan menikmati percintaan ini sepanjang malam!"
Suaranya Leo terdengar semakin mengerikan. Air mata Sonia semakin deras dan terasa panas membasahi ujung mata dan turun ke belakang telinga.
Saat ini Sonia hanya bisa pasrah karena tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Tubuh Sonia pun tidak bisa berbuat apa-apa, Dengan kepala yang terasa berat. Namun tetap sadar dan tahu dengan apa yang dilakukan.
Leo Sudah berapa kali menusukkan jarinya ke suatu tempat yang lagi-lagi bikin Sonia mendesis kesakitan wajahnya merah padam.
Pria yang sudah berpengalaman itu semakin kalah dan tak bisa mengontrol nafsunya, kini tangannya menarik apapun yang melekat di tubuhnya Sonia.
Tubuh Sonia yang begitu lemah, hanya bisa sedikit berontak dan ingin mempertahankan apa yang melekat di tubuhnya! namun sia-sia dengan kuatnya tangan pria kekar itu yang dengan begitu cepatnya mampu membuang semua yang membungkus tubuh molek nya tersebut.
Bibir pria semakin mengembang, melihat pemandangan eksotis nyata di depan mata.
Kemudian Leo pun membuka semua kain yang melekat di tubuhnya, di lempar ke mana-mana sehingga kini dia sudah tampak polos. Sonia pun tidak kuasa melihat pemandangan yang ada di depan mata, dimana pedang pusaka yang sudah berdiri tegak, siap mengoyak bagian tubuh lawan.
Sebelumnya Sonia mengira kalau pria itu akan langsung melakukannya tanpa aba-aba. Namun pada kenyataannya Leo malah menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
Dan setelah memastikan tubuhnya terbungkus dengan selimut barulah dia bereaksi dan menyerang lawan tanpa ampun. Menusukkan pedang pusaka hingga mengoyak begitu saja milik Sonia yang terus menjerit tanpa suara, menangis sudah tiada guna mengeringmya air mata.
__ADS_1
Leo terus saja tersenyum puas, bibirnya terus mengembang karena dia benar-benar tidak salah membeli gadis seharga 800 juta ini, gadis yang sekarang ini dia nikmati benar-benar masih virgin. Sehingga dia tidak mudah untuk membobol gawangnya. Malah sangat kesusahan, beda dengan wanita-wanita yang sering digunakan, yang begitu mudahnya daja dia taklukan.
Bahkan Leo pun berjanji kalau memang benar gadis ini masih virgin dan dia mendapatkan nya, dirinya berani menambahkan lagi uang yang sudah 800 juta itu hingga bernilai 1,5 m. Dan itu pasti dia tepati, karena Leo bukanlah tipe orang yang suka mengingkari janji.
"Ooh ... susah sekali sayang?" gumamnya Leo lalu mengecup bibir Sonia yang sengaja mengatupkan bibirnya ketika bibir Leo ingin menjelajah dalamnya. Mengeksplor di sana.
"Ach ... saki ... t!" kepala Sonia mendongak sembari menggigit bibirnya.
"Sayang, jangan sok munafik. Kita sedang melakukannya dan kamu sudah menjadi milik ku malam ini. Tubuh mu sangat menikmati permainan yang aku berikan, jadi jangan sok suci lagi pada ku," suara Leo Lie sambil membelai rambut gadis yang kini merasa hancur dan hina itu.
Namun kepala Sonia tetap saja menggeleng. Dia sangat menyesali kenapa dia mau diajak Hera untuk jalan keluar. Mungkin jika menolak dan berdiam diri di apartemen, itu akan lebih baik.
"Kamu sendiri yang bodoh, kamu yang oon kenapa kamu mau diajak jalan sama Hera, coba kamu diam saja di apartemen tidak mungkin kejadian yang akan seperti ini!" Sonia justru kini merutuki dirinya sendiri yang mau-mau saja ditipu oleh Hera.
"Seharusnya kamu menolak! seharusnya, kamu tidak boleh ikut. Kamu lebih baik diam di apartemen, tahunya apartemen dan butik saja daripada seperti ini bodoh kamu Sonia sangatlah bodoh." Sonia terus merutuki dirinya dalam hati.
Di sela-sela tubuhnya yang menegang, menggigil panas dingin, di saat itu juga merasakan ada semburan panas yang masuk ke dalam rahimnya. Rupanya pria itu sedang melepaskan sesuatu sehingga pergerakan Leo semakin cepat dibarengi dengan suara-suara desis yang mengerikan menurut Sonia.
Di saat-saat permainannya, sesekali Leo membetulkan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua yang sedikit turun karena pergerakan Leo yang terlalu semangat. Dengan lembut jari Leo mengusap air mata di sudut maniknya Sonia.
Dia itu sadar, kalau dia sudah merenggut kesucian gadis yang kini berada di dalam lingkungannya tersebut ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Maaf kalau alurnya memang seperti ini karena harus sesuai dengan judul.