Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Tidak benar


__ADS_3

"Cindy, kenapa kamar Kakak dijadikan gudang?" Sonia menatap eran pada sang adik yang hanya menggoyangkan kedua bahunya saja, tanpa menjawab dengan kata-kata.


Sonia menggelengkan kepalanya melihat sikap sang adik yang dingin seperti itu, bukannya senang karena kedatangan dia malah kebalikannya.


"Sekarang kakak tanya, Ayah di mana? dia kan kurang sehat. Dia nggak mungkin bekerja bukan! sekarang di mana?"


Namun lagi-lagi Cindy menggoyangkan kedua bahunya, lalu berjalan menghampiri kursi dan duduk di sana.


"Gila nih anak juteknya minta ampun!" gumamnya Sonia seraya melangkahkan kaki ke kamar orang tuanya.


Setelah beberapa langkah, sampailah di tempat tujuan karena kamar itu tidak memakai pintu dan hanya menggunakan tirai saja, sehingga dengan cepat kedua menikmati Sonia mendapatkan ayahnya sedang duduk lesu.


"Ayah, Nia pulang, gimana keadaan Ayah sekarang?" Sonia berlutut di hadapan sang ayah dan mencium tangannya yang terlihat pucat.


"Buat apa kamu pulang? setelah mencoreng nama keluarga mu ini! kau kirimkan uang pada kami untuk berobat dan kehidupan kami, tapi di balik itu kau ciptakan Pirus! supaya kami mati berdiri!" ucap sang ayah tanpa mau menatap Sonia dan memalingkan muka ke lain arah.


Degh!


"Kenapa Ayah bilang seperti itu? aku tidak mengerti, apa maksud nya Ayah hingga bilang seperti itu." Sonia menatap nanar pada sang ayah yang tampak marah.


"Saya tidak sudi memakan uang mu yang haram itu. Saya tidak mau melihat dirimu lagi. Jangan pernah perlihatkan dirimu lagi." Jelas sang ayah dengan melihat entah kemana.


Tidak terasa air matanya Sonia menetes begitu saja. Bisa-bisa nya sang ayah bilang begitu, memangnya tau dari mana?


"Kamu pikir kami tidak tau dengan apa yang kau lakukan di sana? kamu itu di sana menjual diri, makanya bisa mengirim kami uang yang banyak." Sergah sang ayah.


"Kenapa Ayah bilang seperti itu dan siapa yang memberi kabar burung itu sama Ayah? aku memang bisa kirim kalian uang yang banyak karena pinjaman dari Hera." Akunya Sonia membela diri karena memang awalnya seperti itu.


"Alahhhh ... alasan. Kau itu sebenarnya di sana kerja menjual diri, bukan di butik seperti yang kau bilang." Sang ayah tidak percaya begitu saja dengan pengakuan Sonia.


"A-Ayah. Berita dari mana it-itu semua? Ayah tidak tau apa-apa! Ayah tidak tahu yang sebenarnya gimana? Ayah cuman mendengar tanpa merasakan atau tau yang sesungguhnya!" Sonia bersuara terbata-bata dan bergetar.


"Pergi dari hadapan Ayah? pergi ..." Pak Amin seakan berteriak sembari menunjuk ke arah pintu kamar agar Sonia pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Sonia benar-benar terkejut dengan sikap sang ayah dan sang adik yang membuat hatinya terluka.


Dengan lutut yang terasa lemas Sonia beranjak dan keluar dari hadapan sang ayah sembari mengusap kedua pipinya yang melai membasah.


"Hem ... Makanya jadi orang yang lulus-lurus aja jangan macam-macam, apalagi menjual diri, hina amat," ucap Cindy dan ekspresi wajah yang benar-benar enggak suka sama Sonia.


"Emangnya ada berita dari mana? aku melakukan seperti itu?" Sonia menatap tajam ke arah sang adik.


"Ya ... Siapa lagi kalau bukan kak Hera. Dia yang cerita semua kalau kamu itu jual di-ri. Ya bilang saja kalau kamu itu di sana jadi wanita malam! simpanan laki-laki hidung belang, jangankan orang tua! aku aja jadi jijik lihat kamu! murahan," ucapnya Cindy dengan nada yang sungguh tidak mengenakkan.


"Astagfirullah Cindy. Kamu itu tidak tahu apa-apa dan Hera bisa aja membalikan fakta, dia mengarang cerita." Sonia berusaha membela diri dan menjelaskan kepada sang adik.


Cindy hanya bergidik dan mengangkat bahinya, disertai memutar bola matanya jengah.


"Kamu tidak tahu apa-apa, Cindy kamu jangan. Jangan terlalu mudah menilai seseorang tanpa kamu lihat, tanpa kamu tau kebenarannya. Apalagi merasakannya. Kamu tidak tahu gimana rasanya di posisi aku!" Jelas Sonia dengan tatapan yang sangat dalam.


"Idih ... amit-amit, ogah amat jadi dirimu! menjual diri. Nggak ada kerjaan lain apa? malu lah!" jawabnya Cindy sembari majukan bibirnya.


"Lagian siapa juga yang minta penjelasan darimu! sudah tahu kok pekerjaanmu apa di sana, pantas banget kirim uangnya banyak! orang jualan apem basah--"


Plak ....


Dengan refleks Sonia menampar pipinya Cindy yang langsung menjerit.


"Auuwwhh ..." Jerit Cindy.


Cindy menangkupkan tangannya di pipi yang terasa panas dan sakit akibat tamparan dari Sonia.


Sonia melihat telapak tangannya yang barusan menampar pipi Cindy, yang terasa panas juga.


"Ayo, Kak. Tampar lagi! Kakak tersinggung, kan kalau dibilang penjual apem basah! kenapa harus tersinggung? kenapa harus marah? bukankah itu kenyataan nya! gak mungkin kerja di butik dapat uang ratusan juta! butik apaan, butik tanpa baju?" tantang Cindy dengan suara yang lantang.


"Kau! cukup kamu nggak usah bicara apapun! karena kamu tidak tahu apa-apa," suara Sonia memekik geram, sesungguhnya Sonia merasa bersalah. Karena sudah menampar sang adik perempuannya itu. Tetapi bagaimana, sudah terjadi.

__ADS_1


Di saat Bersi tegang seperti itu. Datanglah ibu Melani, ya itu Ibu dari mereka berdua.


Sesungguhnya Ibu Melani sangat terkejut atas kepulangan Sonia dan bahagia dapat bertemu kembali dengan putri sulung nya tersebut. Namun dia merasa sedih dan kecewa dengan apa yang sudah dia dengar dan dia lihat,


Di mana Hera sudah bercerita kalau putrinya, yang bekerja di luar Negeri bukan di butik dan halal, tapi menjual diri alias menjadi penghibur laki-laki hidung belang. Makanya bisa mengirim uang ratusan juta ke kampung.


Hera juga memperlihatkan Sonia sedang jalan sama laki-laki, yang sebenarnya tidak tahu siapa laki-laki itu dan apa hubungannya.


"Nia kau pulang, Nak?" Ibu Melani mematung di tempat dan memandangi ke arah Sonia yang sedang beradu mulut dengan adiknya.


Tentunya Sonia langsung menoleh, berjalan dan memeluk sang ibu sangat erat. "Ibu Nia kangen sama Ibu! akhirnya kita bisa bertemu lagi!"


Namun Ibu Melani tidak serta merta membalas pelukan putri sulungnya tersebut. Dia tidak bergeming dengan sorot mata yang berlinang dengan air mata.


Kecewa dan marah juga sakit di dada ini. Putri yang dia bangga-banggakan yang dia didik dengan sebaik mungkin, bahkan agama pun sudah dibekali dengan sebaik-baiknya! ternyata bisa terperosok dan melakukan sesuatu yang di luar jalur.


"Ibu bahagia dengan kepulangan mu, Ibu tentunya bahagia bisa melihatmu lagi. Tetapi sekaligus Ibu kecewa dan marah, Ibu kecewa banget sama kamu, Nia." Gumamnya Ibu Melani membuat Sonia segera melepaskan rangkulannya.


"Maksud Ibu apa? kenapa bicara seperti itu? Ibu nggak senang Sonia pulang dan kita dapat berkumpul lagi?" tatapan Sonia kepada sang Bunda begitu sangat lekat, dengan suara yang bergetar karena Sonia dapat menduga ibunya pun pasti sudah kena hasutan dari Hera.


"Ibu merasa gagal, karena Ibu telah gagal mendidik mu menjadikan mu seorang yang baik. Seorang wanita yang sholehah dan Ibu telah gagal untuk membuat mu menjadi seorang kakak yang dapat dijadikan panutan buat adik-adikmu!" Suara sang ibu sambil menahan tangisnya yang siap untuk membludak dari bendungannya.


"Ibu, apa Ibu juga percaya dengan omongan Hera tentang aku? jangan dulu menghakimi ku, Bu ... karena kalian semua tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di sana, yang dikatakan Hera itu tidak sepenuhnya benar. Justru malah sebaliknya!" Sonia membela diri.


"Memang Ibu tidak tahu yang sebenarnya dan tidak melihat, tapi setidaknya banyak bukti yang mengatakan kalau itu adalah benar. Tidak mungkin kamu bisa mengirimkan uang ratusan juta buat kami kecuali. Kamu menjual diri pada laki-laki hidung belang. Kecuali kamu melayani banyak laki-laki dan menjadi kupu-kupu malam!"


Bagai suara petir yang menyambar dan menggelegar! bergemuruh memenuhi pendengaran dan menghores relung hati, sakit dan sesak di dada mendapat tuduhan dari ibu yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkannya ....


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2