
Setibanya di kamar Leo, Sonia dibaringkan di atas tempat tidur yang langsung disusul oleh dirinya sendiri berbaring di samping tubuhnya Sonia.
Sonia menarik selimut agar menutupi tubuhnya. Leo menolehkan kepalanya ke arah gadis yang berada di sampingnya tersebut, kemudian dia merubah posisi tidurnya miring menghadap Sonia.
Sonia mencoba memejamkan matanya dengan perasaan yang mulai tidak enak, apalagi ketika tangan Leo mulai menggerayangi dan membuka kancing piyama nya. Membuat dada dag-dig-dug tak menentu.
"Bisa nggak sih? kamu itu agresif sedikit, jangan terlalu kaku begini kayak pohon pisang saja!" gumamnya Leo kembali, menatap wajah Sonia yang memejam kan kedua matanya.
Sonia tidak menjawab ataupun merespon perkataan Leo, yang kini malah mendekatkan wajahnya pada wajah Sonia. Seiring travelingnya tangan dia di perbukitan nan indah yang menjadi tempat wisata.
Tangan Sonia meremas ujungnya selimut. Tubuhnya meliuk-liuk di saat sedang di manjakan oleh Leo dengan lembut namun terkadang terburu-buru.
Leo terus menyesap bibir Sonia yang terasa manis dan lembut. Kedua tangannya sibuk berjalan-jalan dan travelling ke tempat wisata yang sangat dia sukai, setelah cukup dengan pemanasan. Ritual berlanjut ke tujuan inti. Dimana Leo melepaskan makhluk astral nya ke dalam gua kecil pemberi sejuta nikmat.
"Ach ... emmmh ... sakit!" Sonia sedikit mendorong dada Leo yang sedikit menghentakkan miliknya.
Leo pun merubah ritme yang dia buat. Sehingga memelan sejenak lalu mempercepat kembali, menggoyangkan tubuh lawan mainnya dengan sangat cepat.
"Ooch, baby! Kau terlalu enak tuk ku nikmati. Sehingga aku malas melakukannya dengan yang lain." Racau nya Leo sambil terus memacu miliknya agar dapat menuju puncak serta berpegangan pada kedua balon yang menggantung.
"Uuh ... pelan kan dirimu, jangan terlalu kasar." Pekiknya Sonia sambil memeluk punggungnya Leo dan sesekali mencakar nya.
Tubuh Sonia meliuk-liuk nikmat seiring tercapainya puncak yang menjadi tujuan dalam ritual tersebut.
Bibir Leo menyungging, melihat reaksi diri Sonia yang mulai menikmati permainan yang diberikan.
Biasanya kalau dengan wanita-wanita malam, Leo sendiri tidak banyak mengeluarkan tenaga, karena yang agresif itu mereka, untuk melayani dengan sangat sempurna pelanggannya. sehingga Leo pun lebih santai.
Namun beda dengan Sonia, sebab yang harus berpacu dengan waktu dan lebih banyak mengendalikan permainan dalam ritual ini tentunya Leo apalagi permainan yang seperti dia inginkan.
Makanya dia bilang supaya Sonia harus sedikit lebih agresif agar pelayanan nya lebih baik. Tetapi Leo memaklumi karena Sonia belum berpengalaman dalam soal itu, dia sendiri cukup sangat menikmati dan puas, sampai akhirnya, karena sudah merasakan kepuasan yang tidak terkira. Tubuh Leo pun tumbang di atas tubuh Sonia yang tampak kelelahan dan bermandikan dengan keringat dari keduanya.
"Makasih baby? biarpun kau masih terbilang kaku, tapi ck! aku cukup puas dengan tubuh mu baby." Cuph kecupan hangat mendarat di kening dan berakhir di bibir dengan durasi yang lama.
__ADS_1
Sonia hanya terdiam lalu mengalihkan pandangannya ke arah dinding. Lalu kedua menik mata Sonia beralih ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan sebentar lagi pun subuh.
Sehingga menjadikan Sonia perlahan beranjak bangun sambil menjepit selimutnya.
"Mau ke mana?" tanya Leo ketika melihat Sonia menurunkan telapak kakinya ke lantai.
"Sebentar lagi subuh, tidur pun tanggung!" jawabnya Sonia sembari celingukan mencari pakaiannya yang Leo lempar.
Mendengar itu membuat Leo mendudukan dirinya. Kemudian turun berjalan mendekati pakaian Sonia yang tadi dia lempar, tidak peduli dengan dirinya yang polos sehingga mengekspos benda keramat yang menggantung. Membuat Sonia membuang wajahnya tidak kuasa untuk melihat itu.
Bibir Leo menyungging mendekati Sonia dan memberikan pakaiannya. "Kalau sudah membersihkan diri, buatkan aku sarapan. Dan bila keperluan dapur sudah menipis! belanja lah apa yang kamu mau!"
Sonia mengambil piyamanya dari tangan Leo, lalu dengan buru-buru Sonia memakainya dibalik selimut terutama pakaian dalam.
Begitupun dengan Leo, dia gegas mengenakan celana pendeknya lantas menjatuhkan diri kembali di tempat tidur.
Di detik kemudian Leo mengambil sebuah dompet dan mengeluarkan uang cash. "Ini buat belanja keperluan dapur. Soal uang bayaran malam kemarin nanti aku langsung transfer ke nomor rekening mu, setelah nanti dibuat!"
Sonia menatap uang tersebut sebelum dia mengambil dan membawanya ke kamar sebelah.
Sonia hentikan langkahnya sejenak, sembari menolehkan kepalanya kepada pria yang berbaring miring dan menyangga kepalanya dengan sebelah tangan, menatap dirinya dengan senyuman tipis.
"Makasih!" gumamnya Sonia lalu kembali mengalihkan pandangan ke depan.
"Hem ... Makasih buat apa nih? Makasih buat uangnya atau makasih buat yang barusan!" Leo sembari mengedipkan matanya ke arah Sonia.
Sonia yang memunggungi Leo hanya terlihat menaikkan kedua bahunya, lalu berjalan meninggalkan kamar tersebut.
"Gadis yang aneh, mahal sekali suaranya. Terus yang harus berkicau sementara aku, dia. Dia ... m saja! aneh," ucapnya Leo sembari menggelengkan kepala lalu dia pun bangun mengibaskan selimut, turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Leo berdiri di bawah air shower setelah menggosok tubuhnya dengan sabun dan memberikan sampo pada rambutnya. Dia memejamkan kedua netra dan menikmati hangatnya air yang mengguyur tubuh kekar tersebut.
Begitupun dengan Sonia. Setibanya di kamar dan menyimpan uang di atas nakas, dia langsung masuk kamar mandi lantas berendam di dalam bathub. Sebelumnya menuangkan sampo kepada rambut di kepala yang panjang dan indah.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Sonia mengakhiri ritual mandinya, lantas mengerjakan kewajibannya sebagai umat muslim dan waktu itu sudah menunjukkan pukul 04.45 menit.
Kini Sonia sudah tampak rapi dengan pakaiannya, lalu membereskan kamarnya membuka-buka gorden ruangan tengah, lanjut ke dapur untuk membuatkan sarapan.
"Bikin sarapan apa? aku tidak tahu kesukaannya apa! tapi setidaknya dia menyukai apa yang ada di dalam lemari ini, karena kan nggak mungkin dia membeli sesuatu yang dia tidak suka." Gumamnya sambil berjongkok di depan lemari pendingin dan memilih apa yang dia mau masak.
"Tapi kan, orang kaya sarapannya cukup roti saja. Tidak seperti orang yang gak punya! sarapannya yang berat-berat. Terus aku masak apa dong? buat dia sarapan." Sonia mengerutkan keningnya lalu menolehkan kepala ke arah pintu kamarnya Leo.
Lalu Sonia pun beranjak dan berjalan mendekati pintu kamar tersebut, untuk sekedar menanyakan mau sarapan apa?
Sonia berdiri di depan pintu lalu dia mengarahkan punggung jarinya dan mengetuk daun pintu tersebut.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Tuan mau dibikinkan sarapan apa? saya tidak tahu kesukaan anda apa, walaupun saya tahu sih apa yang Anda beli dan anda simpan di dapur tentunya disukai sama Anda. Tapi cara masaknya gimana?" tanya Sonia dengan panjang lebar.
Leo yang masih mengenakan sarung, menoleh ke arah pintu sembari menarik kedua sudut bibir nya tersenyum.
Kemudian dia berjalan mendekati daun pintu dan membukanya. "Kenapa harus ketuk dulu? buka saja! ada apa?"
"Aku gak tau kesukaan mu apa? dan biasanya orang kaya itu kan sarapannya seperti roti. Tidak seperti aku orang gak punya makannya yang berat-berat! makanya gak kaya-kaya. Masalahnya mau di masakin apa?" ulang Sonia sambil menatap sekilas pada Leo yang masih menggunakan sarung.
"Terserah mau masak apa, yang kamu suka dan aku pasti suka kok!" jawabnya Leo sambil memainkan matanya.
"Rrghh ... jawaban yang tidak bermutu dan sama saja membuat bingung." Sonia menggeleng lalu memutar tubuhnya kembali ke dapur.
"Buatkan saja nasi goreng bila sudah ada nasinya, atau mie goreng yang memakai sayuran seperti selera kamu saja." Suara bariton tersebut dan terdengar jelas oleh Sonia.
Sonia kembali berjongkok di depan lemari pendingin yang terbuka ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mana nih, like & komen nya? bintang juga biar aku tambah semangat nih. Makasih