Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Itu uang semua


__ADS_3

"Her, kamu baru pulang?" suara itu terdengar begitu parau.


Sontak Hera menoleh dan melihat ke arah Sonia. "Kau bangun!"


"Terima kasih ya Her ... sudah kirim lagi uang pada keluarga ku! dan aku akan mulai menabung untuk membayarnya." Sonia menatap Hera yang tampak lesu.


"Iya, sama-sama, walau aku gak tau dan tahun mana kau akan membayarnya." Hera sedikit menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Tapi kan Her ... aku gak tahu harus minta tolong sama siapa lagi? kalau bukan sama kamu!" Sonia tampak tidak enak hati dengan omongan Hera barusan dan dia cukup tau diri.


"Iyalah-iyalah ... sudah. Tidak usah banyak cingcong dan tolong buatkan aku teh hangat." Hera mengibaskan tangannya di udara.


Sonia bengong sesaat. Lalu menganggukkan kepalanya, lantas ngeloyor ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk Hera.


Hera memandangi ke arah Sonia dengan intens. Sonia itu lebih cantik darinya cuman kurang pandai ngurus diri saja. Body nya pun tinggi dan sangat menarik.


Bibir Hera tersenyum lalu meraih bantal sofa di peluknya menutupi paha yang terekspos bebas.


"Ini, teh hangat nya." Sonia menyimpan teh tersebut di meja.


"Em ... kamu sudah pernah ML belum sih?" tanya Hera sambil menyeruput minumnya.


"ML, apaan itu?" Sonia balik tanya dan dia tidak mengerti dengan maksudnya Hera.


"Kamu gak tau ML? masa gak tahu pribahasa itu?" Hera mengernyitkan kening nya.


Sonia menggeleng seraya berkata. "Nggak."


"Gila, masa lu gak tahu itu. Semacam orang bercinta gitu! emangnya kau tidak pernah melakukan dengan kekasih mu atau--"


"Nggak lah, orang belum halal. Ngapain gitu?" Sonia langsung mengerti dengan maksudnya Hera.


"Sama sekali? di raba, sering dong?" Hera menatap lekat.


"Nggak, iih ... takut aku." Sonia malah bergidik.

__ADS_1


"Kau sama sekali gak pernah sekalipun di raba bagian tubuh mu yang sensitif selain sentuhan tangan." Hera semakin penasaran.


"Gak pernah, ya ... kalau tangan sih atau peluk sekilas pernah." Sonia menunjukan ekspresi yang malu-malu.


"Hem ... unik ya? sebesar itu belum pernah gitu." Hera menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya.


"Emangnya kenapa ya? tanya-tanya seperti itu?" Sonia tanya balik.


"Ya, nggak apa-apa! kita kan sama-sama wanita wajar dong nanya gitu," jawabnya Hera dengan nada dingin, kemudian dia beranjak setelah meneguk minumnya sampai habis.


Lalu Hera masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat dan Sonia pun melanjutkan kembali tidurnya yang terjeda.


...----------------...


Suatu hari, Sonia mendapat kabar dari kampung. Kalau Cindy, sang adik meminjam motor temennya dan menabrak mobil mewah. walaupun cuma lecet belakangnya, pemilik mobil mewah mau minta ganti rugi sekitar 25 juta.


Belum lagi motornya yang Cindy pakai rusak parah. Membuat Sonia shock, terpukul! belum selesai masalah ayahnya di rumah sakit, sudah datang lagi dengan masalah adiknya yang mau tidak mau harus menyiapkan uang untuk mengganti semuanya.


Belum lagi Cindy sendiri mengalami patah tulang di tangan. Sonia benar-benar sedang tertimpa masalah keuangan yang rasanya tidak berhenti.


Kebetulan hari itu adalah hari Minggu dan Hera pun sedang bersantai di apartemen. Mendengar berita tersebut tak ayal Hera pun merasa shock.


"Ya sudah, jangan dibikin bingung santai saja dan selama aku masih bisa membantu. Kamu nggak perlu sedih ataupun bingung." Hera memeluk dan memenangkan Sonia yang sedang menangis.


"Tapi utang ku akan semakin banyak! belum apa-apa hutang sudah menumpuk, gimana aku cara bayarnya? itu yang buat aku bingung. Hik-hik-hik." Balas Sonia dalam pelukan Hera.


"Sudah, jangan dipikirin dulu yang penting keluargamu bisa diselamatkan!" ucap Hera sembari diam-diam mengulas senyum tipisnya.


Betapa sedih nya hati Sonia saat ini, sadah jauh dari keluarga, ada saja masalah yang menimpa keluarganya yang menyangkut dengan uang tentunya. Dan yang menjadi tangguhan nya adalah dirinya.


Kemudian Sonia menarik nafas dengan sangat panjang dia tekadkan apa yang menjadi niat dia bekerja ke luar Negeri. Karena untuk membahagiakan keluarganya. Maka dari itu dia tidak boleh mengeluh dan justru harus berusaha bagaimanapun caranya.


"Oke, kamu benar. Aku harus semangat demi keluarga ku!" Sonia mengusap pipinya yang basah.


"Gitu dong, aku akan kirim lagi uang pada keluarga mu, dan sepertinya 50 juta gak akan cukup deh, Aku kirim 100 juta ya? semoga cukup--"

__ADS_1


"Ha? itu uang semua?" Sonia shock mendengarnya dengan nominal yang Hera sebutkan.


"Bukan. Itu daun! ya iyalah itu duit. Emangnya keluarga mu bisa dikasih makan dengan daun apa!" Hera menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis.


Sonia melongo, serta bibirnya menunjukkan senyum getir itu. "Semuanya ... berarti aku berhutang sama kamu sudah mencapai 200 juta? aku mau bayar dari mana itu! uang gajiku berapa tahun, belum buat aku makan sehari-hari."


"Itu sih deritamu, kenapa juga kau selalu aja ada masalah dengan keuangan, jadinya kamu bukan untuk membayar hutang keluarga yang sudah-sudah! malah yang ada. Bikin lagi, bikin lagi. mentang-mentang kamu kerja di luar Negeri." Cerocos nya Hera. sembari menyesap minuman kaleng.


"Ya Allah ... gini amat nasib aku!" Sonia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Kemudian. Hera mentransfer uang pada orang tuanya Sonia di kampung.


"Untuk ke depannya ... pasti cukup lah segitu, gak bakalan minta lagi," ungkap Hera sambil memainkan ponselnya.


"Semoga saja itu lebih dari cukup, karena semua itu gaji ku beberapa tahun ke depan bahkan mungkin lebih dari itu!" Sonia mengembuskan nafas melalui mulutnya.


...----------------...


Di sebuah klub malam, seorang pria tampan sedang terduduk dengan segelas air bir di tangan sambil menikmati hingar bingar lampu di klub itu.


Di sampingnya ada dua wanita cantik yang berusaha melayaninya dengan baik. Dan berusaha menyentuh, membelai pipi pria tersebut.


"Tuan, Di tambah lagi minumnya. Jadikan malam ini suatu malam yang indah." Kata salah satu wanita yang menuangkan lagi minumnya.


Lantas yang satunya. Menciumi pipi pria tampan itu yang jarang mengeluarkan suaranya.


Dari jauh, terlihat seorang pria yang tak kalah tampan menghampiri pria tersebut, yang langsung berdiri meninggalkan kedua wanita penghibur untuk menghampiri orang yang sedang menuju dirinya.


"Tuan, kau kemana? jangan tinggalkan kita dong tampan!" menarik tangan pria itu yang langsung di tepis dan melempar sejumlah uang dan di sambut senang oleh keduanya.


"Bos, Kita harus bicara!" suara pelan pria yang baru datang setelah dekat dengan pria tersebut ....


...🌼---🌼...


Kalau ada typo tolong segera kasih tau ya. Makasih

__ADS_1


__ADS_2