
Sonia menyandarkan punggungnya di bahu kursi, menatap tajam Cery sambil mengunyah. "Kau ini, aku baru kenal dia dan kami berteman. Gak ada apa-apa."
"Iya aku percaya, aku suka pria itu," mata Cery terpejam membayangkan wajah Boby yang tampan dan sangat terlihat keturunan campuran.
"Woi ... mikirin apa sih Cer? awas jangan macam-macam?" ucap Sonia seraya menggebrak meja membuat Cery membuka mata.
"Aish ... kamu mengganggu khayalan ku saja, em ... jadi buyar deh," gerutu Cery sambil memasukan makanan ke mulutnya dengan terburu-buru.
"Emang menghayal apa Cer? Sonia penasaran sembari menaik turunkan alisnya.
"Menikah sama Boby, he he he ..."Cery tertawa riang.
"Hem ... jangan dulu ber'angan-angan. Takut jatuh, jatuh nanti sakit lho, " ujar Sonia lalu meneguk minumnya.
"Siapa bilang? justru kita harus berani bermimpi, agar kita bisa mewujudkannya dan tandanya kita normal manusiawi. Gimana sih?" mengerucutkan bibirnya.
"Iyalah, iyalah," Sonia mengalah.
Mereka meninggalkan kantin, masuk butik lagi untuk meneruskan aktifitasnya yang tertinggal.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul Tujuh malam, waktunya butik tutup. Sonia dan Cery berdiri ditepi jalan menunggu taksi.
Tooot ... suara klakson mobil Boby dan menepi tepat dekat Sonia dan Cery "Ayo masuk?" kepala Boby keluar dari jendela.
"Aish ... pangeran nya Cery," gumam Cery membulatkan matanya.
"Tidak merepotkan nih?" tanya Sonia ragu.
"Aduhh ... Nona cantik ... buat apa saya mengajak! kalau saya terganggu. Kabur aja sudah," ucap Boby dari balik kemudi.
Sonia menoleh Cery, eh dia sudah duduk santai di belakang. Kemudian Sonia mengitari mobil, masuk. Duduk di sebelah Cery.
Setelah keduanya duduk manis, Boby memutar kemudi. Melajukan mobilnya membelah jalanan yang cukup ramai itu.
Sesampainya di tempat Cery, mobil menepi dan Cery pun turun. "Makasih tuan Boby," Cery mengangguk ramah.
"Iya sama-sama," sahut Boby mengangguk juga.
"Dah ... Cery, sampai jumpa besok." Sonia melambaikan tangan.
"Dah ... juga Sonia titip pangeran 'ku ya?" Cery membalas lambaian Sonia.
__ADS_1
Boby mengernyitkan keningnya. "Siapa? yang di sebut oleh Cery pangeran?"
Sonia menaikan bahunya. "Nggak tahu."
Keduanya berpisah di lobi apartemen, Sonia menutup pintu apartemen Hera. Berjalan gontai memasuki kamarnya.
Sebelum masuk, Sonia melihat kamar Hera yang sepi. Langkah kaki membawanya ke depan kamar Hera. Ceklek kenop pintu di putar dan pintu pun terbuka. Tampaklah sebuah kamar yang sangat rapi, semua barang tersusun.
Mata Sonia menyapu setiap sudut ruang, lalu menutup kembali. Ia memutar tubuhnya berjalan ke kamarnya lagi.
Sonia menunaikan salat yang 5 waktu kemudian memasak mie buat dirinya makan.
Tiba-tiba Hera masuk dengan kawan lelakinya.
"Lho ... Her sudah pulang? tumben pulang jam segini." Sonia heran melihat Hera pulang cepat bahkan membawa laki-laki.
"Iya, libur! yo, sayang masuk," sahut Hera sambil menggandeng lengan lelakinya masuk kamar.
"Kok di ajak ke kamar sih?" batin Sonia sembari melongo dan menggeleng.
Kemudian melanjutkan makannya sampai habis, Sonia mendekati kamar Hera untuk sekedar menawari. Kali aja mau makan, Sonia berdiri depan pintu. Terdengar suara Hera dan kawannya cekikikan tertawa renyah.
Sonia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu namun blak pintu terbuka. Rupanya Hera yang membuka pintu dengan pakaian tidur yang tipis menerawang dan rambut acak-acakan.
"Ti-tidak, tidak ngintip kok. A-aku cuman mau nawarin, kali aja kamu butuh sesuatu. Makan mungkin," Sonia agak gelagapan.
"Tidak, saya bisa ambil sendiri." Hera dengan nada dingin.
Melenggang ke arah dapur mencari cemilan dan air putih.
Sonia mengikuti. "Hera, maaf kok kamu masukan pria ke dalam kamar sih? kan gak baik, berduaan lagi. Apa tidak sebaiknya di ruang tamu saja ngobrolnya."
Hera menoleh dan menatap tajam. "Eh ... kamu siapa? apa hak kamu ngatur-ngatur saya, ini rumah saya bebas dong saya mau bawa siapa? melakukan apa?"
Degh.
Bikin Sonia menciut menyadari siapa dirinya yang sesungguhnya di apartemen tersebut, kalau dia hanya numpang. "Maaf."
Sonia masuk ke dalam kamarnya dengan hati yang sesak, namun apalah daya yang dikatakan Hera adalah benar. Ini tempat tinggalnya, mau apa pun terserah dia. Ia tidak ada berhak mengatur, Sonia hanya mengusap kasar pipinya yang basah.
Sonia mengambil tas nya, dengan niat mau menginap ke kosannya Cery, namun ia pikirkan lagi dan mengurungkan niatnya itu. Ia berbaring di atas tempat tidur menatap langit-langit.
__ADS_1
"Apa memang begini selama di sini?" gumamnya Sonia mengingat saudara+sahabat nya itu, Hera.
Hera yang berada di dalam kamarnya, asik mengobrol dan sesekali bercumbu dengan pria itu. Hera menyandarkan kepala di dada pria tersebut dengan manjanya.
"Tuan, kau berani bayar berapa untuk satu malam ini. Apalagi di luar kawasan loh." Suara Hera dengan manjanya.
"Saya akan bayar kamu lebih mahal tentunya. Asal kamu mau melayani saya semalaman suntuk," ucap pria bule itu sembari menyeringai puas.
"Tentu," Hera mengecup pipi pria tersebut berkali-kali.
Selanjutnya entah apa yang mereka lakukan, hingga pagi-pagi Hera terbangun. Memicingkan matanya mengecek di sebelah kosong.
Pria yang semalam sudah keluar, yang ada hanya sebuah kertas cek berisi nominal 60 juta. Hera mesem sambil meringsut menjepit selimut di ketiaknya, agar menutupi bagian dada yang tidak memakai apapun.
Di dapur, Sonia menyediakan buat sarapan sebelum akhirnya ia berangkat kerja. Hera menghampiri dan membuat susu hangat.
"Sarapan Her, aku sudah siapkan," ucap Sonia sembari mengunyah sarapannya.
"Ya," sembari meneguk minumnya dan duduk di depan Sonia.
Sekilas Sonia melirik leher Hera yang banyak tanda merah, ia sangat heran. Ingin bertanya namun jadi tak berani, Sonia segera mengalihkan tatapannya ke lain arah sebelum Hera menyadari dirinya diperhatikan.
Sonia meneguk minumnya sampai tandas lalu menyambar bekas makannya di bawa ke wastafel kemudian di cucinya.
Sonia melangkah sebelumnya mengambil tas di meja. "Hera, aku berangkat kerja dulu," sembari melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Ya," Hera menatap langkah Sonia sampai hilang dibalik pintu. Membuang napasnya seketika, dan mengambil sarapan.
Sonia berjalan keluar lift, melintasi lobby dan di sana sudah ada Boby menunggu. Pria ramah dan rapi itu menatap langkah Sonia yang berjalan ke arahnya dengan senyuman khas Boby.
Sonia membalas senyuman Boby dengan senyuman samar "Pagi ..."
"Pagi juga Nona manis, tumben agak siangan nih?"
"Oh iya kah. Ku kira masih pagi," sembari mempercepat langkahnya ke halaman apartemen.
"Jangan bilang kau tidur kebablasan sampai kesiangan," kata Boby mengekor dari belakang.
"Ah nggak. Biasa aja," sahut Sonia sambil mengambil ponsel dari tasnya.
Ada pesan dari orang tuanya, yang berisi bahwa uang yang kemarin dikirim itu tidak cukup. Sonia termenung seketika ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya terima kasih.