
Hari sudah malam, dan Sonia sudah menyediakan buat makan malam bersama Cery.
Kini saatnya Cery pulang dari butik, dan dia langsung bercerita kalau teman-teman dan juga bosnya bertanya, kenapa Sonia tidak masuk kerja hari ini?
"Sorry Cer. Aku belum bisa cerita sekarang, lain kali saja aku ceritanya! yang jelas aku sudah pergi dari apartemen saudaraku. Dan aku ingin mendapatkan untuk tempat tinggal," ucapnya Sonia dengan wajah teduh dan mata yang tampak nanar.
"Sonia. Kau itu sedang ada masalah besar ya? Sehingga sikapmu seperti ini, karena aku rasa kalau masalahnya kecil aja nggak mungkin kamu sampai keluar dari apartemen saudaramu itu!" Cery menduga-duga.
"Ooh ya. Cer, aku sudah membeli buat makan malam untuk kita berdua, aku ambilkan dulu ya?" Sonia berusaha mengalihkan pembicaraan, karena dia tidak ingin membahas itu lagi.
"Wah ... kamu sudah dapat beli makanan. Padahal aku mau ngajak kamu keluar untuk membeli makan malam, tapi kalau sudah ya ... makasih?" Cery menyambut bahagia.
Kemudian mereka berdua pun menikmati makan malamnya. Sonia tidak mau bercerita apapun tentang masalahnya dirinya kepada Cery. Sebisa mungkin dia akan pendam semua yang sudah menimpa pada dirinya.
...----------...
Leo sedang berada di kursi kebesarannya di sebuah perusahaan, karena dia itu selain menjadi mafia dia juga sebagai CEO di perusahaan kosmetik miliknya.
Pria tampan itu menjadi gusar dan tampak gelisah. Mengingat Sonia yang sudah diambil kesuciannya dan dia baru ingat kalau waktu itu dia tidak memakai pengaman apapun, sehingga dia kepikiran Gimana kalau gadis itu hamil.
Dan Leo Lie pun kepikiran kalau dia gadis baik-baik. Gimana kalau dia nanti kecanduan dan menjual diri ke laki-laki hidung belang selain dirinya?
Yang otomatis gadis itu akan semakin rusak, Leo Lie menghela nafas dalam-dalam lalu dihembuskan dengan panjang. Kemudian dia menghubungi Dino agar datang menemuinya.
Dalam waktu yang bisa dihitung dengan menit, Dino pun sudah datang menghadap dan berada di depannya Leo.
"Ada apa, Tuan? ada yang bisa saya bantu?" Dino masih berdiri sebelum dipersilahkan duduk oleh pria tampan yang tampak gusar tersebut.
__ADS_1
"Saya jadi kepikiran dengan gadis itu. Dia gadis baik-baik! yang saya takutkan adalah dua kemungkinan!" Leo Lie menggantungkan perkataannya sembari menghisap rokok yang ada di jarinya.
"Dua kemungkinan! apakah itu?" tanya Dino kembali.
"Saya khawatir, karena waktu itu saya tidak memakai pengaman. Bagaimana kalau gadis itu hamil? sementara dia itu gadis baik-baik dan bagaimana juga kalau dia diperjualbelikan lagi atau menjual diri pada laki-laki hidung yang lainnya selain saya, yang otomatis dia akan semakin rusak!"
Dino mengangguk-anggukkan kepalanya mencerna setiap ucapan dari Leo. "Terus mau anda gimana? Tuan."
"Cari gadis itu dan kasih obat supaya dia tidak hamil, dan selanjutnya pantau dia terus jangan sampai dia terjerumus ke lembah Hitam seperti wanita yang sudah sering saya tiduri." Jelasnya Leo kepada Dino.
"Oke, kalau seperti itu ... saya akan mencarinya, apa perlu saya membawanya ke hadapan mu?" selidiknya Dino sebelum dia mengundur diri.
"Tidak perlu, kecuali kalau saya mau pakai dia. Bilang sama dia, kalau membutuhkan uang langsung datang temui saya, atau melalui dirimu. Jangan pernah mendatangi orang lain, berapapun akan saya berikan yang tentunya harus dibayar dengan tubuhnya sendiri, dan yang paling penting dia tidak menjual diri ke orang lain." Jelas pria tersebut tatapan yang tajam ke arah Dino.
Lalu Dino pun mengundur diri dan berpamitan untuk menemui gadis yang bernama Sonia, Dino pikir Gadis itu masih tinggal bersama Hera.
"Selamat siang?" ucap Dino setelah berada di dalam butik dan pura-pura mau beli sebuah kemeja pria.
Dan dia itu langsung mendatangi Sonia yang tengah berdiri di dekat sebuah patung merapikan gaun yang dia pajang.
Sonia langsung menoleh pada sumber suara bariton yang berasa dia kenal. "A-anda?" Sonia terkesiap dan merasa was-was.
Dino tersenyum ke arah Sonia dan sesekali celingukan ke arah yang lain.
"A-anda mau apa datang ke sini? saya--"
"Saya di utus Tuan saya menemui anda, untuk menyampaikan sesuatu dan anda tidak perlu takut dengan saya." Suara Dino memotong perkataan dari Sonia.
__ADS_1
"Menyampaikan sesuatu, apa? saya tidak ada berkaitan apapun lagi sama dia dan tidak ingin pernah lagi." Suara Sonia pelan sembari melihat kanan dan kiri takut dilihat atau didengar orang.
"Mungkin anda tidak ingin berhubungan lagi dengan dia! tapi dia akan selalu ada menjadi bayang-bayang di hidupmu. Oke kita bisa bicara sebentar di luar?" ajaknya Dino kepada Sonia.
Sonia melihat jarum jam di tangannya dan kebetulan, waktunya makan siang. Dia pun langsung mengiyakan sambil sedikit menyelinap. Berjalan melipir, Sonia keluar dari butik tersebut dan dia tidak ingin diketahui orang lain ataupun Cery kalau dia keluar sama pria tersebut.
Sonia, Dino ajak ke sebuah restoran yang berada di luar area butik.
"Kenapa. Anda mengajak aku ke sini?" selidiki Sonia setelah duduk di sebuah meja di restoran yang sepertinya mahal.
"Karena saya tahu, mungkin omongan kita tidak ingin anda ketahui orang banyak." Jawabnya Dino sembari memesan makanan.
"Kok orang ini tahu ya? kalau aku tidak ingin diketahui orang lain tentang masalah ku!" batinnya Sonia sembari menatap ke arah Dino yang sibuk memesan makanan untuk dia dan dirinya.
Pria itu tidak kalah tampan dari pria asing yang sudah mengambil kesuciannya waktu itu.
Sonia menunduk seolah menatap meja yang kosong. Dia tidak tahu harus berkata apa dan dia pun masih bingung apa maksud pria ini mengajaknya untuk bicara.
Selesai memesan makanan, Dino mengeluarkan sebuah tablet, lalu dia berikan pada Sonia yang tampak melamun. "Ini obat, minum lah!"
Sonia hanya menatap tablet tersebut tanpa sertamerta, dia mengambilnya! dia kebingungan obat apa dan untuk apa?
"Kau gak usah khawatir, ini bukan obat yang akan membuatmu kecanduan atau apalah! bukan juga obat terlarang, tapi ini obat supaya anda tidak hamil. Karena Tuan saya waktu itu lupa memakai pengaman dan segeralah obat ini diminum!" Dino menjelaskan tentang obat itu kepada Sonia yang dia lihat hanyalah bungong menatap obat tersebut.
Usai di dijelaskan seperti itu, Sonia pun mengerti dan memang dia pun menjadi kepikiran. Gimana kalau dia hamil mau minta tanggung jawab siapa? kemudian Sonia pun mengambilnya walaupun masih tampak ragu ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Karena masih sepi, tolong jangan lupa ya like comment dan subscribe nya juga makasih.