
Sonia merasa shock dengan adanya baku tembak yang terjadi di area jalan raya, sehingga kendaraan pun banyak yang berhenti dulu sebab insiden itu menimbulkan kemacetan.
Tubuh Sonia menggigil ketakutan dan tiba-tiba ada yang masuk. Sonia yang menyusup di ujung kursi terkaget-kaget dan dengan refleks menjerit.
"Aauuuwhh ... tolong?" jerit Sonia sambil menutup! wajahnya.
"Hi ... ini aku!" suara bariton itu mengagetkan Sonia, yang tiada lain dan tiada bukan adalah Leo.
Kedua tangan Sonia di pegang Leo dan di bukanya. Sonia melihat ke arah Leo yang berada di depannya tersebut.
"Kenapa kok tiba-tiba ada di sini?" Sonia menatap heran ke arah Leo.
Leo menarik senyumnya. "Emangnya kenapa kok kaget? tidak percaya aku ada di sini, kalau nggak percaya, silakan coba pipi pipi ku?"
Sonia mendelikkan kedua manik matanya, ingin meyakinkan apa memang benar Leo, lalu dia mengikuti seperti yang Leo perintahkan untuk mencubit pipi Leo dan juga pipi dirinya yang terasa sakit.
"Iya kenapa kau ada di sini, mana mobilnya mana?" tanya Sonia sambil celingukan.
"Jalan Pir?" pinta Leo pada supir.
Mobil melaju dengan sangat cepat. Membawa Leo dan Sonia yang masih tampak ketakutan.
"Kamu jangan ketakutan, tenang. Kau di sini aman dengan ku!" ucap Leo sembari melihat ke arah Sonia yang tampak gelisah masih mengingat kejadian barusan, dimana dengan baku tembak yang tidak jauh dari mobil yang ia tumpangi.
"Bagaimana aku gak ketakutan, dimana ada baku tembak dan pasti ada korban!" jawabnya Sonia sambil melihat ke arah belakang.
Tangan Leo menyentuh Sonia sudah pinggangnya, dimana Di sana terselip senjata api. "Di sini tidak aneh hal-hal yang seperti itu dan, jadi santai aja karena orang yang tidak bersalah tidak akan kena! intinya tidak akan kena sasaran."
Selang berapa puluh menit kemudian. Mobil pun tiba di area parkiran salah satu gedung apartemen.
Leo turun lebih dulu dan mengelurkan tangannya pada Sonia, gadis itu langsung menyambut tangan Leo. Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang berpegangan.
Setibanya di apartemen, keduanya langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Dan detik kemudian Leo langsung menyusul Sonia yang kini sedang berada di kamar mandi menunggu Sonia di atas sofa.
__ADS_1
Setelah berapa menit menunggu, akhirnya Sonia keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan pakaiannya dengan piyama.
Leo menatap lekat ke arah Sonia. "Duduklah. Aku ingin bicara!"
Sesaat Sonia terdiam. Leo mau membicarakan apa? jangan-jangan dia mau marah, sebabnya dia pergi tanpa izin dari Leo.
Namun sesaat Sonia pun menghampiri dan duduk, tidak jauh dari Leo. "Ada apa, mau bicara apa? Oh ya, aku minta maaf! tadi aku pergi tanpa izin dulu," Sonia menundukkan kepalanya dari Leo.
Sonia merasa kalau Leo pasti akan membahas soal kepergiannya yang menemui Cery dan Bobby, sehingga Leo berwajah tampak sangat serius.
"Kamu merasa juga ya? memang aku mau bahas itu, ngapain kamu ketemu mereka? terutama laki-laki itu, bahkan tanpa izin dari ku dulu!" Leo menatap tajam pada Sonia yang menunduk dan menautkan kedua tangannya.
"Aku-Aku ... mau minta izin! takut mengganggu dan aku menemui mereka tidak ngapa-ngapain kok, cuma ngobrol doang dan menjelaskan kenapa aku tinggal di sini dan sama siapa."
"Terus tanggapan mereka apa? kamu bilang kalau kita sudah menikah?" selidiknya Leo.
"Karena aku tidak ingin dicurigai dan mereka berpikir yang macam-macam tentang aku, jadi ... aku bilang saja kalau aku memang sudah menikah! makanya aku tinggal di sini dan bersama mu!" ungkap Sania tanpa melihat ke arah Leo.
Kepala Sonia mengangguk, membenarkan karena memang dia tidak berani untuk mengatakan yang sejujurnya. Kalau sebelum menikah, dia itu dijual dulu oleh saudaranya yang bernama Hera.
"Apa tanggapan teman cowok mu itu? dia pasti kecewa karena kamu sudah menikah! karena aku melihat kalau dia sebenarnya suka sama kamu!" ujar Leo dengan tatapan yang terus tidak berpaling dari wajah Sonia.
Lagi-lagi Sonia mengangguk mengiyakan. "Tapi ... dia bisa mengerti kok, dari pada aku tinggal sama seseorang yang bukan muhrim ku, mendingan aku menikah dan tinggal bersama! Sekalipun kita belum terlalu sering mengenal."
"Baiklah, aku percaya padamu! Dan ... soal tiket ke Indonesia, sudah ku urus dan tinggal pergi saja, tapi aku gak bisa pergi karena ada urusan yang mendadak. Jadi kamu aja duluan! bilang saja sama keluarga mu. Aku akan menyusulmu!"
Sonia terdiam, kan mulainya Leo bilang mau ke Indonesia berdua dia mau ketemu dengan orang tuanya, tapi kenapa sekarang dia nggak bisa? pikirnya Sonia.
"Saya ada urusan yang sangat penting dan tidak bisa saya wakilkan, jadi besok kamu berangkat ke Indonesia dan berapa hari kemudian ... aku pasti akan menyusul mu untuk menemui orang tua mu itu." tambahnya Leo.
"Tiket dan data lainnya gimana?" tanya Sonia.
"Jangan khawatir, samia sudah selesai dan juga legal, kamu bisa pulang dengan tenang." Kata Pria tersebut yang kini menggeser posisi tubuhnya mendekati ke arah Sonia.
__ADS_1
"Oh gitu ya, ya udah! besok aku pulang ke Indonesia!" Sonia mengangguk dengan pelan dan bibirnya pun melukiskan senyuman, menandakan bahwa dia sangat bahagia karena akan segera bertemu dengan keluarganya yang sudah berapa bulan ini tidak bertemu.
"Soal biaya transpor pun sudah diurus, kamu tinggal jalan saja! aku sudah transfer kamu uang sebanyak 500 juta untuk biaya sebelum aku nyampe ke sana!" tambahnya Leo sembari menyalakan rokok yang kini sudah berada di kedua jemarinya.
Suasana begitu hening ....
Leo menikmati sebatang rokoknya dan Sonia anteng memandangi Leo yang sedang membuang asap rokoknya ke langit-langit.
"Ingat, sebelum aku datang! jangan pernah macam-macam, apalagi tidak mengakui pernikahan kita." Leo melirik dengan ujung matanya ke arah Sonia.
Sonia tidak menjawab, dia menghembuskan nafasnya dari mulut secara kasar. Melihat ke arah Leo yang mengancam dirinya agar tidak melakukan sesuatu yang tidak dia sukai.
"Buatkan aku minum teh hangat!" pintanya Leo kepada Sonia.
Sonia langsung beranjak dari duduknya dan mengayunkan langkahnya ke arah dapur untuk membikin teh hangat buat Leo.
"Apa kau sudah makan?" tanya Sonia sembari melirik ke arah pria tersebut.
"Belum, kau juga belum makan bukan?" tanya balik Leo kepada Sonia.
"Iya, aku belum makan, aku mau masak mie sama telur! apa kau mau?" tawarnya Sonia kepada Leo yang langsung merespon dengan anggukan.
Setelah membuatkan teh hangat buat Leo, Sonia langsung balik lagi ke dapur dan akan membuat mie untuk dirinya dan Leo makan.
"Kok bisa-bisanya sih dia pulang malam, tapi belum makan!" gumamnya Sonia dalam hati, tapi ketika dia melihat jarum jam ternyata baru pukul 09.00. Padahal dia merasa sudah malam banget.
Cuman membutuhkan berapa menit doang, mie pun sudah jadi, dengan telor ceplok mata sapi. Kemudian Sonia bawa ke ruang tengah di mana Leo berada di sana.
Mereka berdua pun langsung menikmati mi tersebut yang masih hangat-hangat. Namun ketika selesai makan, Leo entah kerasukan apa ....
...🌼---🌼...
Terima kasih ya pada yang masih setia dengan setiap karya aku, dan mohon dukungannya agar aku tambah semangat. Makasih.
__ADS_1