
''Sudah ach," ucap Sonia.
Ketika Boby mau melajukan mobilnya, dengan tiba-tiba terdengar suara tembakan hingga berulang-ulang. Dan suaranya teramat dekat dengan mobil itu bikin semua orang yang berada di stopan tersebut senam jantung.
Duarrrrrr ....
"Apa itu?" hampir semua orang berbarengan berkata demikian.
Begitupun Sonia, Cery dan Boby. Celingukan melihat ke arah sumber suara.
Di belakang mobil, sekitar beberapa meter ada orang yang di tembak. Oleh beberapa orang yang berpakaian rapi.
Cery memegangi tangan Sonia dengan sangat bergetar ketakutan. "Kenapa itu?"
Boby segera melajukan mobilnya dengan sangat kencang dan tidak mau terlibat dengan kejadian itu, begitupun kendaraan lain dan orang-orang yang berada di tempat sekitar hanya melongo melihat orang yang di tembak yang bangun kembali dan langsung di tangkap oleh lawannya.
"Apakah mereka polisi yang menangkap penjahat?" pertanyaan itu keluar dari bibirnya Sonia.
"Entah, aku nggak tahu! mendingan kita kabur dari sini takut terlibat atau kena tembak. Kebetulan aku nggak punya cadangan." Jawabnya Bobby.
Cery melirik seraya berkata. "Cadangan apa?"
"Kalau aku punya cadangan nyawa. Aku akan menjadi superhero, yang menyelamatkan semua orang yang tertindas di dunia ini ha ha ha ..." jawabnya Bobby.
"Aish ... aku kira serius." Cery menggelengkan kepalanya seraya memegang dada yang begitu cepat naik turun.
"Lah kan bener, aku nggak punya cadangan nyawa. Cuman satu-satunya, kalau aku mati. Emangnya aku akan hidup lagi. Kan nggak! Cery-Cery." Gumamnya Boby lagi.
"Apakah menurut mu! Memang sudah tidak aneh kadang seperti itu?" tanya kembali Sonia.
"Kalau menurut aku sih ... itu hal biasa di sini, biasanya itu para mafia yang sedang mengejar musuhnya. Entah sindikat obat terlarang kah, senjata kah atau juga perjudian." Jelasnya Bobby sembari fokus menyetir mobilnya.
"Takut kena sasaran ih!" Sonia bergidik.
"Tapi setahu aku ... mereka itu nggak pernah salah sasaran, mereka selalu tepat menangkap atau menembak orang yang memang benar-benar menjadi sasaran mereka." Tambahnya Bobby.
"Oh, jadi kalau orang nggak salah sama mereka! mereka nggak ngapa-ngapain gitu?" tanyanya Cery.
"Ya nggaklah, ngapain menangkap orang yang tidak mereka tahu bukan saran mereka!" ujar Boby.
__ADS_1
Hening ....
Hanya suara mesin mobil dan roda dua saja yang terdengar kanan kiri depan belakang, atau bila ada pesawat lewat. Mungkin ada suaranya di atas.
Sonia mau menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan sangat panjang, ternyata begini Negara yang sedang ia tempati. Mengerikan memang.
Setelah sepersekian waktu, akhirnya mobil Boby berhenti di depannya butik tempat Sonia bekerja. Kemudian mereka pun turun dan tidak lupa mengucapkan terima kasih banyak kepada Bobby.
"Terima kasih banyak ya, Boby?" ucapnya Sonia sembari mengangkat tangannya.
Sebelum memutar kemudi mobil, Boby pun berkata. "Iya, sama-sama! nanti malam aku jemput lagi ya?"
"Oh iya, aku tunggu ya tuan Bobby Tuan putrimu ini sangat menantikan mu!" suara Cery yang berteriak.
"Apaan sih? malu Cer, malu deh!" sambarnya Sonia.
"Ngapain malu? orangnya yang nawarin yey ..." sahutnya Cery sambil mendahului jalannya Sonia ke dalam butik.
Lalu keduanya langsung mulai beraktivitas berbaur dengan yang lain.
"Terima kasih, Tuan dan Nyonya. Semoga menjadi langganan kami!" Sonia membungkuk hormat kepada kedua orang pasutri yang sudah berbelanja di butik tersebut.
"Ya ampun ... aku sudah berhutang sama Hera 100 juta dan itu pun entah cukup atau ntar masih kurang." Sonia menggigit bibir bawahnya sembari menatap kosong ke depan.
"Ada apa nih, bengong lagi?" tegurnya Cery yang menghampiri dengan membawa berapa pakaian yang barada dalam gantungan.
"Oh nggak, nggak ada apa-apa." Sonia langsung memasukkan ponsel nya ke dalam saku.
Kedua manik mata Cery baru nyadar kalau ponselnya Sonia itu kurang matching alias masih model jadul. "He he he kok aku baru nyadar ya, ponsel kamu nih masih model jadul, ganti yang lebih bagus dong! biar matching gitu."
Sonia melirik ke arah Cery. "Ya tidak apa-apa lah Cer ... yang penting kan bisa digunakan, masih bisa aku manfaatkan! biarlah gak matching seperti yang lain juga he he he ...."
"Iya sih ... yang penting masih bisa digunakan. Tapi kan kamu sekarang sudah bekerja di luar Negeri, masa gitu-gitu saja. Sebelum nyenengin orang lain nyenengin diri sendiri dulu," ujar nya Cery.
"Tapi aku niatnya, bekerja ingin menyenangkan dua orang tua atau keluarga dulu, jadi aku nanti-nanti aja!" balasnya Sonia.
"Ooh ... gitu ya. Jadi kamu pengen membahagiakan dulu keluarga. Setelah itu baru dari kamu gitu? sekalipun kamu di sini susah!" Cery menatap pekat ke arah Sonia.
"Nggak gitu juga! yang penting di sini aku nggak susah-susah amat. Dan aku bisa kirimkan uang untuk keluarga ku begitu maksudku Cery ... yo ach kita kerja lagi? nanti dimarahin pak bos." Sonia berjalan dan memulai aktivitasnya kembali.
__ADS_1
Cery pun mengikuti langkahnya Sonia untuk melanjutkan kembali kerjaannya.
Di saat makan siang. Sania mengirimkan pesan kepada Hera untuk sekedar berterima kasih karena sudah mengirimi keluarganya uang.
...----------------...
Hera menyimpan ponselnya setelah membaca pesan dari Sonia. Kemudian dia beranjak untuk mandi karena sebentar lagi akan berangkat bekerja.
Ada senyum yang mengembang dari bibirnya merahnya, dia mendapatkan ide bagus untuk bisa meraup uang yang banyak.
Selesai Hera mandi, dia langsung bersiap untuk berangkat kerja. Dia menaiki taksi yang di sudah pesan sebelumnya.
Setibanya di tempat bekerja yang belum buka. Hera bertemu dengan seseorang yang sudah menunggu.
Yaitu seorang pria asing yang sudah boking Hera di luar jam kerja.
"Selamat siang Nona? apa kabar dan senang bisa bertemu anda kembali." Sapa pria itu.
"Siang juga, sorry aku terlambat datang. Maklum macet!" Hera mendudukan dirinya di kursi.
"Tidak apa!" sambil menyentuh tangan gadis itu. "Bagaimana kalau kita langsung aja ke lokasi?"
"Em ... boleh." Hera kembali beranjak dari duduknya. Berjalan dengan pria asing itu.
Hera di bawanya memasuki mobil dan di ajaknya ke sebuah hotel mewah, lalu memasuki sebuah kamar yang sudah di pesan sebelumnya.
"Sayang, berani bayar berapa aku di luar jam kerja!" tanya Hera sambil mencondongkan tubuhnya pada pria yang kini sedang duduk memperlihatkan bagian tubuhnya yang eksotis.
"Saya lupa bayaran anda berapa? soalnya sudah lama sekali saya tidak memakai jasa anda!" jawabnya pria tersebut.
"Untuk sekarang bisa mencapai 60 sampai 70 juta. Siapkah kau membayar!" Hera mendekat sembari menyentuh pipinya pria tampan itu.
"Boleh, saya bisa membayar seperti nominal yang kau sebutkan barusan! dengan satu syarat bukan satu atau dua jam tapi semalaman! bisakah kau melayaniku dengan jangka waktu yang barusan ku sebutkan!"
Sejenak Hera terdiam ....
...🌼---🌼...
Bersambung
__ADS_1