Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Stik sama nasi


__ADS_3

Sambil tertatih, Sonia memasuki lobby yang mendapat perhatian dari orang yang ada di sekitar sana. Mungkin mereka pikir, ini pengantin wanita berjalan tertatih. Sementara pengantin prianya cuma berdiri lihatin saja.


"Ck!" Leo menghela nafas panjang lalu dengan cepat menyusul langkah Sonia yang tertatih tersebut.


Lalu kemudian Leo menggendong Sonia ala bridal style. Membuat Sonia terkesiap dan sontak melingkarkan tangan ke leher Leo.


"Aku bisa jalan sendiri, turunkan aku?" pinta Sonia sembari menggerak-gerakan kakinya minta diturunkan.


"Kamu pikir saya akan biarkan kamu berjalan sendirian dengan tertatih seperti itu, apa kata orang? mempelai wanita berjalan tertatih sementara ... sementara mempelai pria dengan tenangnya berjalan santai."


Sonia menyisir area sekitar.


Semua orang berbalik melihat kagum ke arah Leo yang kini berdiri dan menggendong Sonia seraya berkata. "So sweet ... huuh ... cuit-cuit."


"Apa kamu mau saya cium di hadapan orang banyak? agar kamu diam!" Leo menatap tajam ke arah Sonia, lalu mengedarkan penglihatan ke arah sekitarnya, di mana banyak orang melihat ke arah mereka berdua.


Mendengar perkataan seperti itu dari Leo. Sonia lagi-lagi melihat sekitar. Yang benar saja semua orang melihat ke arah mereka berdua! semuanya tersenyum dan melihat kagum.


Bikin Sonia bertambah malu. Dan detik kemudian Leo pun melangkahkan kakinya berjalan mendekati pintu lift yang dibuka oleh Dino.


"Sudah, turunkan aku?" pinta Sonia sambil menepuk punggungnya Leo.


"Tanggung. Nanti saya Gendong lagi." Jawabnya Leo dengan tatapan ke arah pintu.


"Aku bisa jalan sendiri." Tambahnya Sonia.


"Ya, nanti saja. Kalau sudah sampai ke apartemen. Biar kau tidak perlu capek lagi berjalan," sambung Leo kembali.


"Biar ku jalan sendiri." Sonia bersi-keras ingin di turunkan.


Namun tidak juga Leo turunkan, dia tidak mendengarkan permintaan dari Sonia.


Dino yang berdiri di belakang Leo Bak patung hiasan yang tidak bergeming ataupun bergerak sedikitpun.


Serr ....


Pintu lift terbuka. Leo keluar dari lift dengan masih memangku tubuh Sonia. Gadis itu pun tetap mengalungkan tangan di leher Leo.


Pria kekar tersebut berjalan memasuki apartemennya. Dan Dino lebih dulu masuk, di sana sudah tersedia buat makan malam. Juga dalam apartemen yang sudah di hias dengan dekorasi pesta pernikahan.

__ADS_1


Sonia sudah di turunkan dan berdiri mematung melihat tempat tersebut yang tampak indah dengan hiasan bunga.


"Masya adalah ... apa ini?" batinnya Sonia sambil mematung.


"Kamar ku akan menjadi kamar kita di malam ini dan seterusnya bila aku butuh kamu, Tapi bila aku gak butuh, kamar mu ada di sebelah." Jelas Leo sambil menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Tuan. Makan malam sudah siap. Silahkan anda dan Nona makan dulu." Dino menunjuk ke arah meja makan yang sudah terdapat banyak menu makan malam.


"Iya," Leo bergumam. Lalu berdiri berjalan membawa langkah ke kamarnya sambil membuka jas nya.


Namun alangkah terkejutnya Sonia, ketika di lempar jas Leo yang sembari melintasi pintu.


"Aish ... ini orang kurang ajar sekali melempar ku dengan jas." Batinnya Sonia sambil memegang jas milik Leo.


"Semoga Anda betah di sini Nona. Anggap saja ini rumahmu sendiri dan bila ada perkataan dan perlakuan Tuan Leo yang kurang menyenangkan padamu, janganlah diambil hati karena sesungguhnya dia baik kok." Suara Dino yang membuat Sonia menolehkan kepalanya.


"Baik dari mananya? emangnya pria yang suka memainkan wanita itu baik? predator mesum seperti itu baik? kurasa tidak." Sonia sedikit menggelengkan kepalanya.


"Anda belum mengenal jauh. Tuan, belum melihat seperti apa kebaikan dia, keburukan nya gimana, belum anda tahu itu. Anda pun akan mengetahuinya nanti," tambahnya Leo sambil berdiri tegak dengan tangan yang disatukan di depan.


"Oya, aku tidak melihat keluarganya, apakah dia masih punya keluarga? mengingat di pernikahan itu tidak satu pun yang aku kira sebagai keluarganya pria itu?" Selidik Sonia.


"Suatu saat nanti, anda akan tahu kehidupan dia dan keluarga dia dimana dan gimana? saya ... tidak perlu berkata sekarang ataupun menceritakannya." Ungkapnya Dino dengan tatapan ke depan.


"Huuh ..." Sonia menghembuskan napasnya mulalui hidung dengan kasar.


Dia melangkahkan kakinya menuju meja makan karena perutnya sudah terasa lapar dan bersuara kriuk-kriuk, cacing-cacingnya di perutnya pada demo meminta jatahnya yang belum dikasih makan.


Namun dia mengingat dengan gaun yang digunakan, rasanya lebih nyaman kalau ganti dulu sehingga langkahnya pun berbelok menuju kamarnya Leo.


Lagi-lagi Sonia dibuat tertegun, dia berdiri di depan pintu melihat pemandangan yang ada di depan mata, yaitu Leo sedang menjalankan salat isya pada waktu setempat.


Sementara Sonia sendiri belum melaksanakannya bahkan magrib pun tadi diperjalanan, sehingga dia tidak melaksanakan salat magrib.


"Huuh ... aku baru ingat! aku kan belum melaksanakannya, ya Allah ... magrib ku ketinggalan." mengangkat wajahnya menatap langit-langit, lalu dia bergegas mendatangi paper bag untuk mencari bajunya dan segera dia masuk kamar mandi untuk mengganti pakaian dan mengambil air wudhu.


"Bisa-bisa nya aku ketinggalan maghrib. Aku harus segera melaksanakannya sebelum makan malam. Gila-gila ... Sonia, kau lalai." Sonia menggelengkan kepalanya setelah berada di kamar mandi.


Selesai mengganti pakaiannya Sonia langsung mengambil air wudhu, lalu dia keluar dengan membawa gaun pengantinnya. Ketika melintasi pintu! kedua menikmatinya mendapatkan Leo yang sedang berbaring manis menghadap ke arah pintu kamar mandi bertelanjang dada.

__ADS_1


"Ltok! Ltok," Leo mengeluarkan suaranya dari lidah dan mengedipkan matanya ke arah Sonia.


Membuat Sonia bergidik. buru-buru menggantungkan gaunnya, kemudian mengambil mukena untuk dia salat. Tidak peduli dengan seruan Leo yang malah semakin menyeringai.


Leo tidak beranjak dari tempatnya sebelum Sonia selesai dan mengerjakan salat. Selepas mengucap salam Sonia pun membaca doa terlihat dari bibirnya yang komat-kamit.


"Apa saja yang kau doakan? Apa kau mendoakan ku, agar aku melepaskan mu. Ataukah Aku mempunyai istri yang lebih dari satu?" tanya Leo sembari nyengir, menunjukkan giginya yang putih bersih berbaris rapi.


Bukannya Sonia tidak mendengar perkataan dari Leo, cuman dia malas untuk menjawab. Karena dia rasa suatu perkataan yang tidak penting.


"Apa kau tidak merasa lapar? tapi bohong sekali kalau seandainya kamu tidak lapar, karena ... sedari tadi aku mendengar puluhan cacing-cacing yang sedang berdemo menyerukan suaranya lapar-lapar ..." suara Leo yang berkicau bak burung saja.


Mendengar celotehan Leo bikin Sonia mengulum senyumnya dan menyembunyikannya dari Leo, dia menunduk seraya membuka mukenanya agar setidaknya Leo tidak melihat kalau dia sedang tersenyum merasa lucu dengan perkataan Leo.


"Seandainya kau ingin tersenyum ataupun tertawa! lakukanlah sebelum tertawa itu dilarang dan kamu ... ck! lebih cantik bila sedang tersenyum! tapi terlalu datar bagai papan bila wajahmu di tekuk bagai singa kena pukul!" tambahnya Leo dengan suara nada yang dingin.


"Ini orang dari tadi ngoceh


.. Mulu, kayak orang gila saja." Gumamnya Sonia dalam hati sambil merapikan alat salatnya.


Leo turun dari tempat tidurnya menapakkan kaki di lantai. "Sebenarnya kau itu orangnya bawel tapi kenapa ya? kok di depan ku diam ... terus. Seperti orang yang sariawan atau ... sedang sakit gigi!"


"Ck-ck ... ini orang dari tadi nggak bisa diem apa, mulutnya itu? tampang saja dingin, cuek. Tapi kok bawel sih?" lagi-lagi Sonia bermonolog dalam hati. Kemudian dia memberikan badan ke arah pintu.


Ketika Sonia mau melangkah, sudah didahului langkahnya oleh Leo yang membawa langkah lebarnya keluar dari kamar tersebut.


Keduanya berjalan menuju meja makan yang dihiasi dengan beberapa lilin. Menambah kesan romantis.


"Mana nasinya? kok nggak ada nasi!" Sonia celinguhan mencari nasi yang tidak ada di meja tersebut.


"Ha ha ha ... Nona. Makanannya steak daging, jadi tidak menggunakan nasi. Tapi jika kamu ingin menggunakan nasi ... ya tidak apa-apa!" ucap Leo seraya tertawa lepas.


Dino yang tidak jauh berdiri hanya mengulum senyumnya sembari mendekati penanak nasi, yang kebetulan ada nasinya karena mungkin siang. Sonia memasak jadi masih tersisa.


"Silakan Nona, ini nasinya." Dino menyodorkan sepiring nasi kepada Sonia.


Dan Sonia tersenyum malu sambil menarik piring nasi tersebut ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Tidak lupa aku ingatkan like comment subscribe juga, agar tambah semangat dan terima kasih.


__ADS_2