
"Coba sekarang Ibu tunjuk saja mana orangnya, dan apakah kalian pernah melayani Ibu ini?" Sonia bertanya dan melihat ke arah si Ibu dan teman-temannya bergantian.
Bahkan manajer Erwan pun berada di sana, setelah mendapatkan laporan dari pegawai, bahwa ada seorang ibu yang minta ganti rugi.
Semua pekerja pun menggeleng, karena mereka tidak merasa atau menjual barang tersebut.
"Saya ingin melihat mana gaunnya dan akan saya cek terlebih dahulu." Erwan mengambil barang dari tangan salah satu pegawai.
Lalu kemudian, Erwan dan Ariska juga Sonia. Mengecek gaun dan mereka mengamati kalau sesungguhnya gaun itu bukanlah dari butik mereka, memang mirip tapi bukan dari sana.
Setelah yakin kalau gaun itu bukan dari butik tersebut. Erwan bertindak kalau si ibu itu hanya ingin menipu saja. Erwan pun tidak segan-segan akan melaporkan wanita tersebut kalau si ibu ngotot ingin ganti rugi juga.
Masalah pun rampung dan si ibu pulang dengan tangan kosong dan membawa hati yang kesal kerena rencananya yang gagal total.
Semua pekerja butik kembali bekerja seperti biasa nya. Dan menunaikan tugasnya masing-masing.
Sebelum pulang. Sonia membeli bahan masakan, karena di apartemen sudah tidak ada stok buat dia makan. Makanya dia belanja terlebih dahulu di area apartemen.
Setibanya di apartemen. Sonia langsung membersihkan diri di bathub, sedikit menghilangkan penat dan lelah, kemudian menunaikan kewajibannya sembari mengadu akan masalah yang dia hadapi.
Saat ini. Sonia sedang memasak sayur untuknya makan sembari memasang wajah yang sedih, dengan terpaksa dia harus minjam lagi pada Hera agar dia mengirim orang tuanya uang kembali.
"Terpaksa aku harus pinjem lagi pada Hera dan mengirim ibu uang." Batinnya Sonia sambil menikmati makannya.
Menoleh pada putaran jarum jam, baru menunjukan pukul 10 malam. "Semoga saja Hera lebih awal pulangnya. Sehingga aku bisa ngomong dan meminjam uang."
Sonia menunggu Hera dan sampai-sampai ketiduran di sofa. Sekitar pukul 02.00 Hera pulang.
Dengan gontai berjalan memasuki apartemen nya. Mendapati Sonia tertidur di sofa.
"Hei ... kau itu kenapa tidur di sini?" menajamkan pandangannya pada Sonia yang langsung bergerak dan memicingkan penglihatan nya.
Sonia bangun, memicingkan matanya melihat ke arah jarum jam lalu ke arah Hera yang berdiri dan hendak berjalan.
"Hera? aku mau bicara?" suara Sonia terdengar parau.
Kepala Hera menoleh pada Sonia. Dengan malas dan sesekali menguap, dia duduk dan menatap tajam pada Sonia. "Ada apa lagi?"
__ADS_1
"Em ... Her, aku pinjem uang lagi, katanya uang yang kemarin itu tidak cukup untuk biaya rumah sakit dan operasi nya. Masih kurang!" Sonia menunduk. Dia bingung harus pada siapa lagi dia meminta pinjaman kalau bukan pada Hera.
Hera menggercapkan matanya pada Sonia yang memasang wajah sedih dan minta di kasihani. "Kamu baru satu bulan di sini, hutang mu sudah besar."
"Aku tahu, Her ... tapi gimana lagi? gak mungkin aku biarkan mereka susah kan? aku janji akan ... akan mengembalikan nya," Sonia menunduk dalam dengan suara yang bergetar.
"Hem, huam ... baiklah. Aku kirim lagi 50 juta dan ingat ya semuanya hutang." Hera pun beranjak dan pergi ke kamarnya.
"Makasih, Her ... makasih banyak." Sonia menunjukan raut wajah yang senang dan merasa lega karena setidaknya masalah uang, selesai.
Sonia pun mengayunkan langkahnya ke dalam kamar untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.
"Hem ... uang, lagi-lagi uang. Emang nya gue pohon uang apa?" gerutu Hera sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Membaringkan tubuhnya sambil memejamkan matanya, terus berpikir gimana caranya supaya dia bisa memenuhi keperluannya yang banyak dan uang pun semakin menipis, gara-gara di kirim terus ke orang tua Sonia untuk berobat sang ayah.
Pagi-pagi Sonia sudah terbangun dan membersihkan diri, sebentar mengaji dan lantas membersihkan kamarnya.
Kemudian Sonia memasak untuknya sarapan dan Hera. Bila dia bangun dan merasa lapar.
Namun Hera masih tampak tidur lelap, sehingga Sonia menutup kembali pintunya dengan sangat perlahan.
Sonia berjalan keluar dari apartemen, mengayunkan langkahnya di koridor mendekati pintu lift yang kebetulan terbuka karena ada yang keluar.
"Nona, Kau tampak melamun begitu, dari kemarin!" suara itu membuat Sonia terkesiap.
Dia tidak sadar kalau lift yang dia masuki itu ada orang nya. Dan ternyata dia tiada lain dan tiada bukan adalah Boby.
"Kamu!" Sonia mengangkat kepalanya menatap ke arah Bobby yang sedang menunjukan senyumnya.
"Sedari kemarin kamu itu melamun saja, gak ada kegiatan lain apa selain melamun?" Boby berkata lagi sambil melintasi pintu lift berbarengan dengan Sonia.
"He he he ... aku cuma ingat sama keluarga ku saja." Sonia menjawab sambil terus berjalan.
"Ooh ... itu wajar, namanya juga sama keluarga. Ya pasti kangen dan ingin bertemu, maklum kan dulunya berkumpul dan sekarang berada jauh!" Bobby memaklumi.
"Itu benar sekali, dan aku kan ... baru sekarang jauh sama keluarga." Sonia mengangguk.
__ADS_1
"Yo, masuk?" Boby membuka pintu untuk Sonia.
"Makasih, Boby ... berasa tuan putri hi hi hi ...."
"Tentu. Kan kamu putri di hati ku. wk-wk-wkkkk ..." Boby menyeringai sambil menutup pintu lalu dia mengitari mobilnya.
Mobil melaju setelah Boby duduk di belakang kemudi.
"Makasih ya selalu mau mengantar ku?" ucap Sonia sambil melirik ke arah Boby yang fokus menyetir.
"Sama-sama, lagian kita kan satu arah Nona. Jadi apa salah nya sih!" Boby melirik ke arah Sonia dari kaca spion.
Sonia hanya mengulum senyumnya pada pria itu dengan lirikan yang membuat pria terpesona.
"Wah ... ramai sekali ini jalan bagai mau nonton konser saja." Gumamnya Boby sambil menatap ke arah depan yang cukup ramai dengan kendaraan.
"Mungkin emang waktunya memulai aktifitas. Sehingga jalanan pun ramai!" Sonia pun celingukan ke kanan dan kiri juga.
"Benar, padahal ini masih pagi sudah sedikit macet begini! benar-benar si pagi mengundang macet. Padahal kita tidak menerima undangan nya lho." Boby sembari mesem.
Sonia pun ikut tertawa dengan omongan dari Boby.
"Hi ... aku nih!" Cery mengetuk kaca mobil sebelah Sonia.
Sonia menoleh pada Boby seakan mengatakan sesuatu. Dan Boby mengerti dengan maksud dari Sonia.
"Suruh masuk lah." Boby melirik ke arah Cery.
Cery pun menarik handle pintu lalu masuk di belakang seraya berkata. "Kalian berduaan saja. Nanti yang ketiganya setan!"
"Iya, setan nya kamu! ha ha ha ..." Boby terkekeh sendiri.
"Iih ... Tuan Boby tega banget sih sama Cery. Untungnya kamu ganteng. Kalau tidak ... aku tabok juga dah," ucap gadis berambut pendek dan manis itu ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like komen dan lainnya ya makasih.
__ADS_1