Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Andai saja


__ADS_3

Setelah sarapan, Sonia mengantar adik-adik nya ke teras yang mau berangkat sekolah.


"Kalian hati-hati ya bersepeda nya? jangan ngebut dan waspada selalu apalagi di jalan raya!" pesan Sonia pada ketiga adiknya.


"Baik Kak." Jawab mereka berbarengan.


Sonia melepas adik-adik lelakinya dengan tatapan penuh dia dan lambaian tangan di atas angin.


Sementara di dalam rumah, Cindy curi-curi pandang pada sang kakak ipar sembari berkata dalam hati. "Duh ... gantengnya ... andai aku mendapatkan pria seperti dia, sudah tampan, kaya raya! apa lagi coba yang ku cari lagi."


"Ayah. Saya ingin merenovasi rumah ini agar lebih luas, bagus dan adik-adik yang laki-laki punya kamar masing-masing dan juga di setiap kamar ada kamar mandi nya pribadinya," ucap Leo sambil melihat ke arah kedua mertuanya tersebut.


Pak Amin dan bu Melani saling bertukar pandangan, mendengar perkataan dari Leo yang ingin membongkar dan merenovasi rumah tersebut.


"Ooh, bagus itu. Aku juga ingin kamarku ada kamar mandinya ada wardrof juga!" sambar Cindy yang langsung di pelototi oleh sang ayah.


"Tapi Leo, Ayah tidak punya uang sebanyak itu. Karena merenovasi rumah sampai sebagus dan punya kamar banyak apalagi kamar mandinya pun masing-masing kamar, membutuhkan uang sangat besar ... tidak akan cukup sedikit!" ucapnya Pak Amin.


"Itu benar, kami nggak punya uang sebanyak itu, adapun yang kemarin dikirim oleh Sonia sisanya masih ada. Lumayan, tapi nggak akan cukup kalau harus bikin rumah seperti yang diomongin baru saja!" tambahnya Ibu Melani.


"Kalau soal biaya, Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir. Semua aku yang nanggung dan untuk sekarang ini carilah pemborongnya terus beli bahan-bahannya! setelah itu kalian tinggal di hotel sebelum rumah ini jadi." Tambahnya Leo dengan sangat meyakinkan.


"Tapi--"


"Ayah tidak perlu lagi memikirkan apa pun yang penting sekarang ini Ayah mencari tukang ataupun pemborongnya. Terus kita belanja bahan dan semuanya biaya dariku! jadi Ayah tidak usah memikirkan biaya atau apapun itu. Cukup mengatur semuanya saja, soal biaya akan aku yang handle atau Sonia." Tambahnya Leo.


Sonia yang baru saja masuk ke ruang keluarga melihat dan menghampiri mereka semua yang sedang mengobrol dan ikut nimbrung di sana tentunya.


Leo melirik ke arah sang istri. "Kalau seandainya aku tidak ada karena ada urusan di luar Negeri, aku tidak selamanya di sini dan besok pun aku mau pulang dulu! jadi keuangan akan dihandle oleh Sonia, pokoknya sekarang cari saja tukang pemborong dan siapkan semua bahan-bahan yang diperlukan!"


Sonia pun mengangguk dia setuju dengan apa yang diomongkan oleh Leo! kalau rumah itu akan direnovasi terutama membuat kamar untuk adik laki-lakinya dan juga kamar mandi pribadi.


"Kata Leo benar! rumah ini biar lebih besar dan mempunyai kamar masing-masing dan juga kamar mandinya! kasihan adik-adik gak punya kamar!" tambahnya Sonia

__ADS_1


"Ibu sih ... setuju-setuju saja kalau memang kalian sanggup dalam keuangannya, karena uang yang ada di Ibu sisa kemarin itu nggak akan cukup! kecuali ya untuk beli rokok makanan." Tambah Ibu Melani.


"Uang yang ada di Ibu pegang aja dulu, buat suatu saat nanti kalau bener-bener butuh dan aku nggak ada!" sahutnya Sonia pada sang ibu.


"Ya sudah, kalau gitu sekarang Ayah mau mencari pemborong ataupun tukang dan juga membeli bahan-bahan rumah, apa Ayah sendiri saja perginya?" Pak Amin menatap ke arah Leo.


"Tentu, aku ikut. Ayah akan pergi dengan ku!" timpalnya Leo sambil beranjak dari duduknya.


Lanjut pak Amin pun berdiri hendak mencari pemborong, yang di temani Leo.


Sonia pun mengantar Leo sampai teras saja.


"Aku pergi dulu ya? dan persiapkan semuanya! agar bisa berjalan dengan cepat." Leo merangkul bahu Sonia seraya mengecup kening wanita tersebut.


"Oke, akan aku urus semuanya." Sonia mengangguk pelan dengan senyuman yang merekah.


"Doa kan aku untuk dapat cari calon istri baru." Leo sambil mesem.


Cuph! Leo mengecup keningnya Sonia seraya berkata. "Sudah aku pergi dulu!"


Leo pun bersama sang ayah pergi dan menggunakan motor pinjaman dari tetangga, Sebelum Leo merental mobil.


Cindy yang mengintip dari bali jendela senyum-senyum sendiri melihat ketampanan Kakak iparnya.


"Kenapa Cindy?" tegur sang ibu membuat Cindy terkaget-kaget.


"I-Ibu. Ti-tidak. aku cuma lagi bersihkan jendela kok!" suara Cindy terbata-bata sambil mengusap-usap kaca.


Sang Ibu menggeleng melihat ulah Cindy yang gelagapan. Lalu meninggalkannya kembali ke belakang.


"Gangguin saja, oh. Coba itu cowo ku! alangkah bahagianya aku, Aku harus dapatkan pria macam itu pokok nya! masa gue kalah sama kakak gue. Gue kan tidak jelek-jelek amat, malah manisan gue ketimbang kak Sonia." Monolog Cindy dalam hati.


Sonia berjalan masuk dan menemukan Cindy tengah melamun dekat jendela.

__ADS_1


"Sedang apa kau di sana Cindy?" tanya sang kakak sambil berdiri memperhatikan ke arah sang adik.


"Kakak gak lihat aku lagi nyapu? ini banyak debu nih." Cindy gegas ambil sapu dan pura-pura menyapu.


"Iya, dong ... biar bersih. Oya, nanti bereskan semua barang mu ya dan kosongkan rumah ini. Semua barang akan di titipkan ke tetangga dan kita akan menginap di hotel." Sonia sambil mengedarkan pandangan ke suasana sekitar.


"Och, iya." Cindy mengangguk lalu melamun sambil senyum-senyum.


"Kenapa senyum-senyum begitu?" selidik kembali Sonia sembari mengerutkan keningnya.


"Iich ... Kakak pengen tahu aja kemal banget alias kepo maksimal. Cindy gegas pergi meninggalkan tempat tersebut.


Sonia menggeleng sambil tersenyum lalu dia pun membawa langkahnya mencari sang ibu yang mau beberes rumah tersebut.


Kemudian Sonia dan sang bunda juga di bantu beberapa tetangga, membereskan isi rumah. Dikemas apa yang bisa masukan kardus. Yang jelek di buang saja. Yang masih layak pake di simpan atau yang mau, ambil saja, tapi kebanyakan di buang karena sudah jelek.


Semua sudah hampir selesai dan rumah tersebut pun sudah mulai kosong dari barang atau isinya. Tetangga yang bagian membuang atau membakar sudah tampak keringatan.


Dan Sonia menyediakan minuman dan makanan yang baru saja datang. "Makan dan minum dulu ibu-ibu ... Bapak-bapak silakan."


"Aduh kebetulan sekali haus dan lapar, saya mah gak akan malu-malu. Ngapain malu-malu!" kata si bapak yang langsung mengambil gelas es dan makanannya.


"Hooh, saya juga kebetulan sekali. Lapar dan haus." Timpal yang lain termasuk ibu-ibu.


"Aku ucapkan sangat banyak-banyak terima kasih! atas bantuan ibu-ibu dan bapak-bapak. Kalau saja kalian tidak membantu kami ... pasti nggak akan selesai secepatnya!" Sonia berterima kasih pada para tetangganya yang sudah membantu dia dan ibunya.


Sementara sang adik, Cindy. Hanya duduk-duduk manis dan bermain ponsel saja.


Sonia hanya bisa menggeleng melihat sang adik. Padahal dia pun bisa mengerjakan apa yang dia bisa kok, cuman ya begitulah. Mungkin dia malas ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa lik komen dan dukungan lainnya ya makasih.

__ADS_1


__ADS_2