
Bu Melani menangis histeris dan Pak Amin sangat menyesali kalau dia sudah mengusir Sonia dan kata-kata kurang baik kepada putrinya tersebut.
"Paman kecewa sama kamu Hera, sangat kecewa! kamu tega menjual sepupu mu sendiri hanya gara-gara uang. Kamu kalap, kamu buta!" ujar Pak Amin dengan nada marah kepada Hera dan tak ayal dia pun menangis.
Hera bersujud di kaki Pak Amin dan meminta maaf atas segala kesilapan nya pada sonia, walaupun tidak dapat merubah keadaan ataupun mengembalikan sesuatu yang telah hilang.
Sementara Cindy, dia mematung bergeming tanpa kata. Tanpa gerak ... dia terdiam. Hatinya tersentuh dan sedikit menyesali dengan semua tuduhan yang telah dia berikan kepada sang kakak, bahkan dia terkesan sangat membenci kakaknya tersebut.
"Aku minta maaf, Paman. Bibi aku minta maaf? aku sudah silap. Aku mengakui kesalahan ku, dosa ku ini. Aku yang sudah buta, buta dengan uang! sekali lagi aku minta maaf, Bi. Paman?" Hera menangis sejadi-jadinya di hadapan Bu Melani dan Pak Amin.
...------------...
Si pria tampan Leo dan seorang mafia namun taat dengan salatnya, seorang mafia yang tetap sayang kepada keluarganya dan seorang predator wanita yang kini telah tobat dan hanya menyalurkan hasratnya pada satu wanita saja, yaitu pada Sonia seorang.
Tanpa Sonia bercerita tentang keberadaannya di Jakarta, nasibnya di sana gimana? Leo sudah tahu! makanya dia secara tidak langsung bertindak dan membuat Hera ketakutan dengan teror-teror yang dia buat yang melalui anak buahnya.
Bahkan sesungguhnya dia ingin melakukan lebih, bila perlu menghilangkan nyawanya! tapi bagaimanapun si pembunuh berdarah dingin itu masih punya hati, apalagi Hera bagaimanapun saudaranya Sonia dan Hera juga yang menjadi perantara dia mendapatkan Sonia.
Mungkin itu salah satu sisi baiknya Leo. Meskipun belum bisa datang dan menyusul Sonia ke Jakarta tapi setidaknya dia tetap berusaha menjaga Sonia dan tidak membiarkan Sonia susah ataupun terpuruk.
Bukan niatnya untuk mengingkari janji kepada Sonia untuk menemaninya ke Jakarta dan menemui keluarganya, tapi karena memang ada pekerjaan yang sangat penting untuk dirinya. Sesuatu yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain, sehingga sampai detik ini Leo masih berada di Negaranya.
__ADS_1
"Saya merasa puas dengan kinerja orang-orang tersebut, sehingga mampu mengurus wanita itu. enak betul dia membolak-balikkan fakta yang mengatakan Sonia yang macam-macam! sehingga istriku diusir dari keluarganya." Ungkap Leo Lie kepada Dino pada menyunggingkan dua sudut bibirnya.
"Saya pun tidak menyangka, kalau ini akan berbuntut panjang. Padahal saya pikir yang sudah ya sudah, cukup dan berhenti. Dia tahu dan dia yang melakukannya, eh ... ternyata wanita itu belum puas juga. Menyakiti Nona Sonia." Balasnya Dino.
"Saya tidak peduli wanita picik itu mengambil kekasihnya Sonia, karena saya pun tidak akan pernah membiarkan Sonia kembali dekat dengan pria itu juga, sebab Sonia hanya menjadi milik ku saja!" tambahnya Leo sembari menikmati sebatang rokok yang berada di jarinya lalu membuang asapnya ke langit-langit yang terlihat sangat memutih.
"Soal itu ... saya no komen, karena ini menyangkut perasaan. Saya tidak dapat membayangkan yang tentunya perasaan nona Sonia pasti hancur juga!" Dino menatap datar ke arah Leo. Dia bisa membaca hati dan pikiran Leo kini sudah terpaut kepada gadis manis asal Indonesia.
Kemudian Dino mendapatkan kabar dari seorang kalau ada sedikit masalah. Katanya tempat jadinya Leo sedang di datangi para musuhnya.
Leo dan Nino langsung beranjak di grupnya dan tidak lupa meraih senjata apinya masing-masing dari meja yang sebelumnya mereka letakkan begitu saja.
Langkah mereka yang begitu lebar, menuju tempat yang menjadi perkumpulan mafia judi yang tentunya di bawah pimpinan Leo Lie.
Bahkan orang-orang pun berlarian keluar, lari terbirit-birit. Tunggang langgang, ketakutan kena sasaran tembakan yang terdengar mengerikan dan suasana pun tak jelas yang terdengar. Suara tembakan dan jeritan menjadi campur aduk.
Suasana begitu mencekam dan bangunan itu banyak yang rusak karena tembakan, belum juga banyak orang yang kena tembak. Tentunya orang-orang yang belum sempat berlarian keluar atau keburu kena sasaran tembak.
Namun pada akhirnya kubu Leo pun, bisa mengalahkan kubu musuh-musuhnya. Sehingga tidak lama kemudian keadaan kembali tampak hening dan seolah tidak ada apa-apa apalagi terlihat dari luar.
Padahal di dalamnya bangunan tersebut hancur, dipenuhi dengan pecahan kaca. Barang-barang yang berserakan sangat berantakan, bagai kepal pecah saja barang-barang yang hancur maupun masih utuh berceceran di mana-mana dan orang-orang pun banyak menjadi korban baku tembak yang barusan terjadi menjadi salah sasaran.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, orang-orang yang kena tembak segera mendapat pertolongan dan langsung dibawa ke klinik terdekat. Musuh-musuh Leo sudah pada pergi dan kabur membawa kendaraannya masing-masing.
Kini Leo sedang berada di dalam ruangannya yang tidak terkena insiden, makanya masih tampak utuh dan rapi.
Leo memukul dinding dengan tangannya. Dia tampak geram dan marah, terlihat rahangnya yang berbulu halus itu mengeras.
Kemudian Leo segera memerintahkan anak buahnya untuk membereskan semua kekacauan di gedung tersebut. Dan dia minta semuanya harus selesai seperti semula dalam berapa hari ini, tidak peduli separah mana kerusakannya dan sesulit apa pengerjaannya! yang penting dia mau dalam berapa hari semua selesai, bila perlu disulap dalam satu.
Kemudian Leo membawa langkahnya dengan gagas memasuki sebuah mobil mewah miliknya. Dan langsung mengemudikannya untuk pulang ke apartemen.
Selang berapa puluh menit dalam mobil ataupun perjalanan, dan pada akhirnya Leo sampai juga di apartemen miliknya. Yang tampak sepi dan tak ada orang satupun yang berada di sana.
Leo berdiri di depan pintu kamar Sonia yang terlihat kosong, biasanya kalau malam-malam gini kalau Leo pulang. biasanya Sonia berbaring di sana dalam keadaan tidur! tapi sekarang tempat tidur itu gak ada siapapun.
Perlahan Leo mendekati tempat tidur tersebut dan mengusap permukaan sprei dengan usapan yang lembut, bantal dan guling pun tak luput dari sentuhannya Leo. Bagaimanapun beliau merasakan rindu kepada wanita yang menjadi istrinya itu.
"Sedang apakah dirimu sekarang, apakah juga merindukan ku?" Leo seperti orang gila yang menciumi bantal dan guling yang baunya berasa Sonia.
"Hah. Saya seperti orang gila saja!" kepalanya Leo menggeleng lalu tubuhnya pun beranjak.
Leo membawa langkahnya meninggalkan tempat tersebut, agar segera membersihkan dirinya dan rasanya ingin berendam di dalam bathub menyegarkan diri merileks kan tubuh yang terasa begitu sangat capek ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Apa kabar reader ku semua Terima kasih banyak sudah terus menunggu dan setia pada karya-karya aku ini. Makasih banyak ya.