Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Benci


__ADS_3

Sebentar Sonia mengibaskan selimutnya melihat keadaan dirinya yang polos tanpa sehelai benang pun, lalu Sonia menangis kembali menyesali dan menatapi nasibnya.


Dia merasa kotor dan hina karena sudah tidak suci lagi, oleh ulah pria tanpa adanya ikatan pernikahan. "Maafkan aku ibu, ayah. Zay maafkan aku? hik-hik-hik."


Kemudian Sonia bangkit mencari keberadaan gaun nya yang tidak ada di sana. Lalu matanya juga mencari pintu kamar mandi, dia ingin membersihkan diri terlebih dahulu sebelum pulang.


Lalau dia membungkus dirinya dengan selimut dan dia mendatangi sebuah pintu yang diyakini adalah kamar mandi dan itu adalah benar.


Jepret.


Pintu kamar mandi Sonia kunci, lalu dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruang tersebut, dimana ada bathub dan juga ruang kaca untuk mandi air shower.


Sonia menyeka air matanya yang terus membasahi kedua pipinya, membanjiri wajah yang cantik dan mulus itu, kemudian dia berdiri di ruang kaca di bawah air shower yang sudah diatur suhu airnya. Seiringan dengan air mata yang terus berderai dan jatuh.


Perasaan yang sedang dirasakan saat ini tidak dapat digambarkan dengan kata-kata! dia marah dan kecewa pun sulit untuk dia gambarkan, betapa teganya Hera telah menjual dirinya hanya demi uang.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Terdengar suara pintu diketuk beberapa kali dari luar, menyadarkan Sonia dari lamunan. Rupanya dia sudah berada di kamar mandi selama 30 menit.


Lantas terdengar lagi suara ketukan pintu dan ini semakin tidak beraturan.


Tok .... Tok ....Tok ....Tok ....

__ADS_1


Leo yang kembali lagi ke kamarnya setelah mendapatkan sarapan dan juga baju buat Sonia, sudah 20 menit lamanya dia berada di kamar tersebut dan dapatkan kamar itu kosong dia juga yakin kalau Sonia masih berada di dalam kamar mandi. Sebab nggak mungkin dia pergi tanpa memakai baju.


Baju yang Sonia kenakan semalam, sudah dia buang ke tong sampah. Entah kenapa dia merasa benci dengan baju itu sehingga dia berinisiatif untuk membelikannya beserta pakaian dalamnya juga.


"Woi ... Nona? buka pintunya! kok sudah lama sekali berada di dalam kamar mandi, kalau kamu tidak mau membuka pintunya. Akan aku dobrak! cepetan buka?" teriak Leo Lie yang berdiri tepat di depan daun pintu kamar mandi tersebut.


Sonia hanya memandangi ke arah pintu yang terdengar terus diketuk dan suara pria yang dia yakini ... yang semalam telah merenggut kesuciannya. Sonia kembali menangis sejadi-jadinya dia diingatkan kembali akan kejadian semalam, rasanya dia ingin marah sama semarah-marahnya pada pria tersebut.


Tidak lama kemudian terdengar lagi teriakan seorang pria itu, dengan mengancam kembali akan mendobrak pintunya.


"Hai Nona? mau dibuka nggak pintunya? kalau nggak mau, akan saya dobrak! saya yakin kau di sana sedang tidak memakai apa-apa dan apakah kamu ingin saya melihatnya terus mengajak mu seperti semalam lagi? ayo siapa takut," teriak kembali Leo sambil terus menggedor pintu.


Sonia menyeka kasar wajahnya, lalu mematikan air shower dan meraih handuk yang kebetulan ada handuk kimono yang bergantung di sana.


Lalu Sonia berjalan mendekati daun pintu, lantas membuka kuncinya. Blak ... daun pintu pun terbuka, tampak pria itu berdiri dan melihat ke arah dalam kamar mandi yang tentunya ke arah Sonia yang memakai kimono handuk.


Plak-plak .... 5 jari tangan Sonia mendarat di pipi kanan-kiri Leo sembari berkata. "Kau sudah puas kan semalam telah mengambil kesucianku? dan sekarang kau masih mau mengganggu ku? di mana hati nurani mu sebagai laki-laki? Apa kau lupa jika Kau mempunyai seorang ibu? adik perempuan atau kakak perempuan setidaknya saudara perempuan? bagaimana kalau mereka mendapatkan perlakuan seperti apa yang aku alami dari mu?"


Sonia kembali udah siap mengulang kan tangan untuk menampar lagi. Namun geph, tangan Leo menangkap tangan itu yang hampir saja gampar lagi pipi Leo.


"Seberapa kali pun kau menamparku tidak akan berasa, Dan percuma tidak akan pernah mengembalikan kesucianmu lagi pejamkan Itu Nona?" Leo Lie menghempaskan tangan Sonia.


Sonia terdiam sambil tangannya mengusap mata yang masih terasa basah.


Kemudian Leo berbalik mengambil sesuatu dari atas tempat tidur, lalu dia bawa mendekati Sonia. "Ini ambillah bajumu dan pakailah, karena gaunmu yang semalam sudah aku buang. Aku muak dengan gaun mu yang semalam! Jadi pakai saja baju yang baru ini."


Sonia masih terdiam menatap paper bag yang kau berikan.

__ADS_1


"Apa kau tidak mau ngambilnya. Apa kamu mau pulang dengan keadaan seperti itu? memakai kimono seperti itu!" sembari menjatuhkan paper bag di hadapannya Sonia, kemudian dia melengos pergi.


Sonia memandangi paper bag tersebut walaupun perlahan dia mengambilnya, pria itu benar juga, emangnya Sonia mau pulang dengan keadaan memakai kimono saja? kan tidak mungkin.


Kemudian Sonia membawanya ke dalam kamar mandi dan kembali mengunci pintunya tersebut. Dia membuka isi dari beber bag yang ternyata berisi pakaian dalam dan gaun panjang berwarna coklat. Walaupun sepertinya akan memperlihatkan lekuk tubuhnya ... namun lehernya tidak terlalu rendah dan tidak juga tidak memperlihatkan paha karena gaun itu belahannya di belakang.


Daripada dia terus-terusan memakai kimono yang mendingan dia pakai daun itu kebetulan pakaian dalamnya pun pas di tubuhnya.


"Tapi kok dia pandai juga memilih pakaian dalamku yang pas dengan ukuran tubuhku! ck ach bodo amat. Tetap saja di mataku dia pria jahat yang tidak peduli dengan rengekan ku yang memohon dan meminta agar dilepaskan!"


Mata Sonia menggambarkan kemarahan kepada pria yang bernama Leo itu. Kemudian Sonia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ada di sana.


Lantas dia pun keluar dari kamar mandi tersebut dan mendapatkan Leo yang tengah duduk di sofa.


Leo melihat ke arah Sonia dengan pandangan yang meneliti ternyata apa yang dia beli cocok juga di gadis itu. "Apakah pakaian dalamnya pun cukup di tubuh kamu?"


Sonia tidak menjawab sepatah kata pun, dia terus berjalan membawa selimut yang tadi dia pakai ke kamar mandi. Kemudian dia termenung memandangi bercak darah di atas seprei yang putih bersih yang masih terpasang di atas tempat tidur.


Dengan kasar Sonia menarik sprei tersebut ia masukkan ke dalam keranjang bersama selimutnya juga.


Leo merasa heran lalu bertanya. "Kenapa kau melakukan itu? biarkan saja nanti office yang membersihkannya."


Lagi-lagi Sonia tidak menjawab, tidak juga menoleh ke arah Leo sedikit pun.


Kemudian Leo mendekati Sonia. "Karena kamu sudah terbukti masih virgin ketika tidur denganku, jadi ini uang tambahannya! nggak usah khawatir nanti pulang akan ada yang mengantar."


Sonia memandangi cek tersebut perasaannya berkecamuk. Tentunya uang hasil menjual diri. rasanya ingin sekali mengambil dan merobeknya kertas tersebut. tapi dengan pertimbangan lain akhirnya tidak ada yang Sonia lakukan ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment dan subscribe. makasih


__ADS_2