
Sonia dibuat tercengang dengan pemandangan yang nyata di depan matanya tersebut.
Leo menoleh ke arah Sonia sambil mengerutkan keningnya. "Kenapa kau bengong. Bukannya sarapan?"
"Em, kau-kau salat fajar?" gumamnya Sonia pelan sembari menatap ke arah Leo.
"Iya, emangnya kenapa? saya muslim, pasti kamu pikir saya ini orang jahat dan sering melakukan sesuatu yang tercela khususnya yang saya lakukan. Seperti yang kau tahu dengan wanita termasuk dirimu Bukan? tapi apapun yang saya lakukan sekalipun berbuat dosa, salat itu wajib mungkin suatu saat saya diberi hidayah untuk tidak melakukan semua hal yang tercela lagi!" ucapnya Leo Lie sembari menyimpan alat salatnya di sebuah laci.
Sebuah perkataan yang membuat Sonia benar tertegun, intinya apapun dosa yang di lakukan, salat lah, jangan ditinggalkan.
"Tapi, bukannya hidayah itu harus di jemput bukan ditunggu?" gumamnya Sonia kembali.
"Ya ... mungkin, tapi saya manusia biasa yang masih ingin merasakan indahnya dunia ini! yang ingin bebas dengan segala yang membuat saya tertantang untuk dilakukan." Leo menggerakkan kepalanya naik turun.
"Jadi, kau selalu mengerjakannya. Di setiap waktunya?" tanya kembali Sonia penasaran.
"Benar! saya suka berusaha untuk menyempatkan itu, saya sering melakukan dosa dan saya tidak ingin bertambah dosa dari tidak mengerjakan salat!" Jawabnya Leo Lie sambil berjalan mendekati sofa yang diduduki oleh Sonia.
"Gila nih orang, tahu dengan dosa tapi selalu melakukannya, salat pun dia jalankan! aku jadi pusing tidak mengerti dengan pikiran orang itu, sudah gila atau gimana sih?" batinnya Sonia sembari mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Banyak jalan untuk menuju surga dari pintu manapun, dan dari arah mana pun. Juga sebaliknya ke neraka pun seperti itu, banyak orang yang menghindari dosa dengan kasat mata. Tapi dibalik itu dilakukan dengan hal sekecil apapun. Sesuatu yang berdosa yang tercela, seperti misalnya menghakimi orang. Menghina orang, merasa paling benar, itu kan sama saja berbuat dosa! cuma beda jalan saja!" tambahnya Leo dengan tangan ngambil roti yang diolesi selai.
"Sungguh aku tidak mengerti, dengan jalan pikiran orang ini!" kepalanya Sonia sedikit menggeleng, merasa pusing dengan yang dikatakan oleh Leo sembari berkata dalam hati.
__ADS_1
Leo menyodorkan roti yang sudah diolesi selai. "Ini makanlah. Untuk mengganjal perut mu dari rasa lapar, semalaman kita habis ritual yang panjang, jadi pasti kamu merasa capek dan lapar!"
Tak ayal Sonia mengambil Roti tersebut lalu dimasukkan ke dalam mulutnya. "Aku harus pulang! aku harus masuk kerja!"
"Apakah kamu tidak merasa capek? dan kakimu pasti sakit bukan? jadi istirahatlah. Soal kerjaan nggak usah dipikirkan." Leo menatap ke arah kaki Sonia yang tadi dia olesi dengan salep.
"Nggak usah dipikirkan. Gimana? enak bener kamu ngomong, mencari kerjaan itu susah, aku nggak mau kehilangan kerjaan aku itu. Waktu itu aku nggak masuk kerja. Dan aku sudah diperingati oleh bosku!" ucapnya Sonia dengan sedikit nada tinggi.
"Yapi kaki mu sakit, dan apa susahnya kau tinggal bilang sama dia atau sama teman kamu kalau kamu itu sakit!" Leo pun tidak kalah sedikit meninggikan suaranya.
"Bilang gimana caranya? aku ke sini nggak bawa handphone dan temen aku pasti mencari-cari ku, karena semalam aku hilang dari tempat kosannya!" jawabnya Sonia lagi. Mengingat dia memang tidak membawa ponselnya dan Cery pun tidak tahu kepergiannya.
"Ya ... salahmu sendiri, kenapa nggak bawa ponsel. Lagian kenapa juga nggak pamitan sama temen kamu." Leo menurunkan suaranya sembari sedikit menunjukkan senyuman puas nya.
"Gimana caranya saya mau pamit? aku dibawa paksa oleh anak buahmu ke sini." Balas kembali Sonia dengan ketusnya.
"Saya tidak mau, nggak mau berurusan lagi dengan Anda. Aku mau pulang!" ketusnya Sonia sembari beranjak dari duduknya dan hendak berjalan, walaupun kakinya terasa sakit sehingga wajahnya pun meringis.
Namun tangan Leo meraih tangan Sonia, ditariknya kembali untuk duduk. "Kan sudah saya bilang. Kamu istirahat saja dulu, soal kerjaan kamu jangan khawatir. Kalau masih rezeki mu di sana kamu akan pasti masih bisa kerja di sana. Tapi bila tidak ada rejeki mu di sana, cari yang lain."
"Aku mau pulang dan aku nggak mau berurusan lagi dengan mu!" teriaknya Sonia.
Tangan kekar Leo menjepit kedua pipi Sonia dengan lembut. "Kamu boleh bilang tidak mau berurusan lagi denganku, tapi aku yang mau. Aku akan selalu membutuhkan mu!" ucapnya Leo dengan tatapan yang sulit Sonia artikan.
__ADS_1
"Dan untuk malam ini, saya akan berikan cek sebesar 500 juta. Aku berharap kamu bisa menggunakan uang itu sebaik mungkin. Tidak akan selamanya hidup manusia itu berada di atas! adakalanya yang sudah berada di atas pun jatuh, hancur!" ucap Leo sambil menikmati rotinya.
"Cukup ya? cukup! jangan perlakukan aku seperti pe-la-cur lagi, aku tidak mau." Sonia menggeleng membalas tatapan Leo dengan sebuah tetapan yang nanar.
"Apakah kau mempunyai kekasih?" Leo malah bertanya seperti itu pada Sonia.
Sonia pun mengangguk dan mengingat kekasihnya yang bernama Zay yang dia tinggalkan untuk bekerja di luar Negeri, yang tujuan untuk merubah kehidupan keluarganya.
"Apa kau mencintainya? oke tidak perlu kau jawab soal itu, yang harus kau jawab pertanyaan dari ku ini! bila kamu merasa tidak mau diperlakukan seperti wanita tuna susila. Apakah kau mau menikah denganku? menikah kantor, dengan cara itu kita menjadi suami istri. Tapi itu hanya sebatas di ranjang saja, karena di luar ranjang kamu boleh menganggap ku bukan siapa-siapa mu!" Leo menetap tajam ke arah Sonia yang merasa kaget jangan tawaran Leo.
Sonia mengatupkan bibirnya, terdiam dan mematung. Dalam kepalanya terus berpikir apa maksudnya?
"Jadi, kita menikah hanya untuk sebatas melakukan itu saja di ranjang? dan di luar itu aku bukan siapa-siapa anda?" Sonia mengurutkan keningnya.
"Ya ... itu benar, dan itu jalan satu-satunya agar kamu tidak merasa berdosa bila harus melayani saya. Kamu tidak perlu khawatir soal keuangan! kamu tak akan kekurangan dan kamu juga tidak harus bekerja di luar untuk mencari gaji. Karena uang dari ku pun akan lebih dari cukup dan rawatlah dirimu dengan baik, ke salon kecantikan misalnya, membeli pakaian dan barang branded, terus apalagi yang akan kamu cari?"
Lagi-lagi Sonia terdiam memikirkan tawaran dari Leo.
"Apa lagi sih yang dicari selain semua itu? kamu dari Negara mu ke Negeri ini untuk mencari uang bukan? sekalipun kamu harus bekerja, menjadikan kepalamu menjadi kaki dan kaki menjadi kepala. Untuk mencari uang bukan? dan aku menawarkan semua itu padamu. Setelah kita menikah, kamu tinggal di sini cukup melayani ku saja dan juga merawat apartemen ini, itu saja," tambahnya pria tersebut. Lalu meneguk minumnya.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, tapi seandainya saya pengen dan kamu harus melayani saya lagi. Itu sesuatu yang kau anggap berdosa bukan?" Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Sonia di tatapnya dengan sangat dalam.
Sonia pun menggerakkan wajahnya mundur dan menjauh dari Leo. "Sungguh pria yang aneh, sungguh aneh." Monolog Sonia sembari menggeser duduknya menjauh dari posisi duduknya Leo ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Ayo ... mana yang gak pernah like ataupun komen jangan lupa ya kasih aku support. Makasih sebelumnya.