
"Rendy-Rendy. Sudah, Dek masuk sana? Iman, lucky. Masuk! Kakak nggak apa-apa dan kakak mau ke rumah temen saja nginep di sana, lain kali Kakak ke sini lagi kok, dan ... besok kan hari libur, kita jalan-jalan mau nggak! Kakak jemput kalian," ucap Sonia kepada ketiga adik laki-lakinya.
"Iya, iya. Kami mau! besok beneran ya jemput kami!" jawabnya Iman, Luky dan Rendy. ketiga adiknya Sonia itu sangat antusias mendapat tawaran dari sang kakak.
"Baiklah ... sekarang kalian masuk saja. Kakak mau pergi dulu, kalian tetap jadi anak yang baik! menurut pada orang tua ya!" sebelum pergi Sonia mengusap kepala ketiga adiknya itu, lalu dia meraih tas dan kopernya. Pergi meninggalkan tempat itu.
Dipandangi oleh para tetangga di sana, dengan pandangan sedih, getir. Anak yang baru saja datang dari luar Negeri yang jelas-jelas sudah mengirim uang juga, bukan di sambut dengan bahagia, ini malah diusir! sementara mereka semua tidak tahu akar permasalahannya apa.
Sementara ketiga adik laki-laki Sonia segera memasuki rumahnya, sembari melintasi Cindy dengan menunjukkan ekspresi wajah yang mencibir kakaknya tersebut.
Membuat Cindy tampak geram pada mereka bertiga, lalu kembali menutup pintu setelah Rendy, Iman dan Luky sudah masuk.
Sonia itu membawa langkahnya yang gontai dan seperti tak ada tenaga, sampai dia mendapatkan angkutan umum, karena di situ taksi tidak ada. Beserta hati yang hancur! sedih dan terluka dimana kehadirannya tidak diperlukan lagi di dalam keluarga, hanya gara-gara omongan orang lain.
Namun ketika di berapa meter dari kediamannya Sonia menemukan ada taksi, dan dia langsung turun dari angkutan umum lalu naik ke dalam taksi, lantas meminta diantarkan ke salah satu penginapan atau hotel.
Dengan hati dan pikiran yang melamun sangat anteng, sehingga dia mengabaikan dering dari gawainya yang sudah berapa kali pun tidak di hiraukan.
Sopir taksi yang mendengar suara gawainya Sonia, sesekali melihat pada Sonia yang tengah melamun dan berderai air mata.
Mau bicara ... tapi merasa tidak enak karena melihat ekspresi wajah penumpangnya tersebut terlihat sangat sedih, sehingga dia pun membiarkannya.
"Ya Allah ... aku harus bagaimana menjelaskan kepada orang tuaku? kalau itu awal mula kesalahan dari Hera, bukan aku sendiri dan akhirnya aku dinikahi orang yang telah membeli ku itu, jadi aku tidak pernah berganti-ganti pasangan apalagi menjual diri, hanya dengan pria itu saja aku melakukannya!" gumamnya Sonia dalam hati.
Tiba-tiba Sonia teringat pada Zai sang kekasihnya itu, yang akhir-akhir ini tidak dapat dihubungi. Dapat dihubungi pun tidak pernah diangkat ataupun cat balik! membuat Sonia tidak hanis pikir. Ada apa sebenarnya?
"Apa mungkin dia juga kena hasutan dari Hera? yang berkata macam-macam tentang aku! tapi kan Hera nggak kenal sama Zai." Lagi-lagi Sonia bermonolog dalam hati.
__ADS_1
Setibanya di depan hotel, Sonia langsung turun dan membayar biaya transportasi. "Terima kasih ya Pak!" ucapnya Sonia sembari mengganggu pada supir taksi yang telah mengantar nya itu.
Kemudian, dia bergegas menuju lobby memesankan kamar yang sekalian aja kamar hotel yang terbagus di hotel itu tersebut, agar nanti Leo datang tidak di komen karena hotelnya jelek.
Setelah check-in dan mendapatkan kuncinya, Sonia mengambil ponselnya dan ternyata ada beberapa panggilan dari Dino. "Ada apa tuan Dino teleponku? Lagian aku sudah bilang kok sama Leo kalau aku sudah sampai di Indonesia!"
Sonia terus berjalan didampingi pegawai hotel yang membawakan kopernya Sonia dan menunjukkan kamarnya yang nomor xx.
"Makasih ya, Bang? dan ini uang buat rokoknya." Sonia menyelipkan uang ke saku si Abang pelayan hotel.
"Makasih banyak ya mbak! semoga betah di hotel ini dan menjadi langganan kamu," ucap orang itu sembari membungkuk, kemudian mengundur diri dan meninggalkan Sonia.
Setelah orang itu tiada! Sonia membuka pintu lalu memasuki kamar hotel yang lumayan bagus kalau menurut dia sendiri, Setelah Sonia menyalakan lampunya.
Berjalan mendekati gorden dan membukanya, dari sana bisa melihat pemandangan gedung-gedung bertingkat tinggi dan juga dari kejauhan terlihat bundaran HI.
"Aku tidak boleh menangisinya! aku yakin orang tuaku lambat laun akan menerima kondisi aku, kan ini bukan mutlak kesalahan ku! aku pun mengerti gimana perasaan mereka jika mendengar putrinya seperti itu." Sonia menghela nafasnya lalu mendongak ke langit-langit.
Daripada Sonia meratapi dan larut dalam kesedihan! mendingan dia membersihkan diri dan berendam di dalam bathub yang ada di kamar mandi, setelah dia melihat dan memasuki kamar mandi yang lumayan mewah lantas dia pun langsung mengisi bathub beserta aroma terapi yang dia bawa.
Setelah beberapa jam Sonia istirahat di dalam kamar hotel, tiba-tiba perutnya berasa lapar dan dia berniat untuk keluar mencari makan. Karena perutnya sudah keroncongan! cacing-cacingnya sudah berdemo, kebetulan tadi siang pun Sonia gak sempat makan.
"Aku harus cari makan dulu nih ... lapar!" gumamnya Sonia sembari menyambar tasnya dari atas tempat tidur.
Di saat dia keluar dari kamarnya! samar-samar dia melihat sosok orang yang dia kenal yaitu Hera, lantas segera Sonia berjalan ingin menghampirinya! namun niat itu dia urung karena ada satu orang lagi yang sangat dia kenal. Pria yang selama ini menjadi kekasihnya yang tiada lain adalah Zai.
Mereka berdua berjalan beriringan dan ternyata masuk ke dalam satu kamar yang sama. Oh my good ...
__ADS_1
Langkah Sonia yang terhenti mematung di tempat dan jantungnya pun seolah berhenti memompa setiap saluran di tubuhnya, merasa tidak percaya kalau Zai dan Hera masuk ke dalam kamar tersebut.
"Bang Zai, dengan Hera masuk ke dalam kamar hotel yang sama! apa hubungan mereka dan maksudnya ngapain ke sana? kalau untuk mengobrol ... nggak harus di kamar hotel!" Sonia dibuat tersentak dengan Pemandangan itu.
Perlahan langkah Sonia mendekati kamar tersebut. Sorot matanya terus tertuju salah satu daun pintu kamar yang dimasuki oleh Zai dan Hera.
Sonia dibuat sangat penasaran! membawa langkah Sonia berhenti di depan kamar yang dia tuju. Matanya terus tertuju ke daun pintu yang mungkin dikunci dari dalam.
Sonia beberapa saat terdiam di tempat sambil menghela nafas dalam-dalam, sudah hampir setengah jam Sonia berdiri di samping pintu itu.
Lama-lama Sonia menggerakkan tangannya, iseng menyentuh handle pintu dan ternyata tidak dikunci. Sehingga pintu itu bisa dia dorong dengan sangat perlahan, Sonia terus mendorong hingga pintu itu terbuka sedikit demi sedikit.
"Ya ampun ... pintunya tidak dikunci, lanjang nggak ya, kalau aku masuk? seru nya Sonia dalam hati dengan pandangan seolah tidak mau lepas sedikitpun dari arah dalam kamar hotel yang dipakai Hera dan Zai bertemu.
Sonia menyelinap ke dalam kamar tersebut, berjalan mengendap-endap dan alangkah shock nya Sonia! ketika melihat sebuah pemandangan yang sungguh di luar nalar. Di mana mereka berdua sedang asyik bercumbu layaknya pasangan yang halal.
Sonia menangkup mulutnya dengan kedua telapak tangan, dan dia tidak ingin mengganggu suasana mereka berdua yang mungkin lagi asyik-asyiknya.
Sonia langsung mundur dengan teratur, keluar lagi dari kamar tersebut dan berdiri bersandar di dinding! kepalanya terus menggeleng kasar. Kedua manik matanya nanar atau berkaca-kaca! lalu berjatuhan bak air sungai yang mengalir membasahi pipinya.
Merasakan dadanya yang terasa sesak bak tertimpa beban berat dan ... sakitnya bagai tergores benda berkarat. Sesuatu yang tidak pernah dia duga sebelumnya, ternyata ... Hera berada di sana dan yang paling tersentak perasaan Sonia, adalah kebersamaannya dengan Zai.
Sonia menyeka wajahnya yang banjir dengan air mata lalu perlahan meninggalkan tempat tersebut ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like comment dan yang belum subscribe, subscribe ya ... biar dapat notifikasinya terima kasih
__ADS_1