
"Adik-adik ini sepedanya!" kata sopir mobil yang turut menurunkan sepeda buat mereka bertiga.
"Terima kasih Paman! Terima kasih banyak!" ucap Rendi dan kedua adiknya bergantian.
"Sama-sama, kalau di jalan raya jangan ngebut-ngebut ya? hati-hati!" kata sopir dan temannya satu lagi. Kemudian menjalankan kembali mobilnya setelah ketiga sepeda berada di halaman rumah Pak Amin.
Kemudian ketiganya masing-masing membawa sepeda dimasukkan nya ke dalam rumah melalui jalan belakang.
Ibu Melani yang saya tadi mengikuti mereka merasa heran sepeda dari mana. "Rendy itu sepeda siapa?"
"Eh, Ibu ini sepeda kami, Bu ... dibelikan sama Kak Sonia bagus-bagus kan, dan ini akan kami gunakan untuk pergi sekolah agar ibu nggak ngasih buat ongkos angkutan umum lagi!" jawabnya Iman sambil menunjuk sepeda yang dia pegang.
"Bener, Bu ... ini dibelikan sama Kak Sonia agar kami tidak naik angkutan umum lagi, agar dapat mengurangi beban ibu!" tambahnya Luky si bungsu.
"Ibu mau tahu nggak? berapa uang yang dikeluarkan Kak Sonia untuk membeli 3 sepeda ini, senilai dengan membeli sebuah motor Bu, 25 juta untuk 3 sepeda ini. Dan untuk kita yang kalangan bawah termasuk mahal kan Bu?" ucap Rendy pada sang ibu yang menganggukkan kepalanya dan raut wajahnya mengguratkan kebahagiaan melihat ketiga putranya tampak bahagia.
"25 juta untuk tiga sepeda ini cukup mahal Rendy." Kata Sang Ibu sambil menyentuh sepeda yang dipegang oleh Rendy.
Cindy yang sedari tadi memperhatikan ketiga adiknya, sementara terdiam dengan bibir yang komat-kamit dan mencibir. Dia merasa iri ketiga adiknya mendapat hadiah dari Sonia berupa sepeda! sedangkan dirinya nggak dapat apa-apa.
Luky menoleh ke arah Cindy sembari menunjuk dan berkata.
__ADS_1
"Kasihan nggak dapat apa-apa, nggak dikasih hadiah sama Kak Sonia. Makanya jadi orang jangan sombong harus rajin dan harus baik!"
"He! Kunyuk. Lu pikir aku iri apa sama kamu? No ... buat apa aku iri sama uang haram kayak gitu uang hasil jual diri. Biarpun gue dibelikan motor sekalipun!" ketusnya Cindy dengan kata-kata yang kurang baik yang dia ucapkan kepada sang adik.
"Cindy kamu ngomong apa sih? lah ngomong itu yang baik-baik sama adiknya, kok gitu!" tegur sang ibu.
"Tapi kan bener, Bu ... uang yang Sonia punya itu uang haram, hasil menjual diri dan melayani laki-laki hidung belang. Terus di mana halalnya? berarti kita di kasih makan dengan uang haram!" jawabnya Cindy. "Mungkin sekarang pun dia sedang melayani laki-laki yang kegatalan!"
"Cukup Cindy, bagaimanapun Sonia adalah Putri Ibu juga. Kakak kamu jadi jangan terlalu menghakimi dia, Mungkin dia berjuang. Karena untuk kita semua gimana dengan ayah gimana dengan insiden kamu? kalau Sonia tidak mengirimkan uang! gimana caranya?" suara Bu melani bergetar menahan tangisnya, dia tidak terima Sonia terus kejelekan oleh adiknya sendiri. Cindy.
"Oh jadi ibu membela dia gara-gara Ibu dikasih uang yang banyak adik-adik juga dikasih sepeda?" Cindy dengan suara nada tinggi.
"Bukan begitu Cindy ... dengar Ibu! mungkin benar atau tidaknya apa yang dilakukan oleh Sonia, tapi setidaknya dia berkorban untuk kita. Coba siapa yang akan membiayai ayah mu di rumah sakit? sampai sekarang belum bisa bekerja! bayarin mobil yang kamu tabrak, membayar motor yang rusak. Belum diri kamu sendiri tangan kamu belum pulih! dari mana Kalau bukan dari Sonia."
"Ini Yah ... Ibu membela Sonia yang sudah jelas-jelas sudah menjadi pe-la-cur, menjual diri dan uangnya di kirimkan sama kita! tuh lihat adik-adik juga dibelikan sepeda!" jawab Cindy sembari menunjuk ke arah adik-adiknya yang tengah asik mengurus sepeda.
"Kalian punya sepeda dari mana sampai tiga gitu?" Pak Amin mengalihkan pandangan nya pada ketiga putranya tersebut.
"Ini dibelikan sama Kak Sonia Ayah, dan Baru kali ini kemauan kita kesampaian. Pengen punya sepeda dari dulu baru punya hari ini," kata Rendy yang tanpa ragu mengatakan demikian.
"Apa? dibelikan Sonia? kembalikan, sepedanya kembalikan sama dia! Ayah tidak Sudi melihat sepeda itu ada di sini!" bentaknya Pak Amin dengan suara tinggi tentunya.
__ADS_1
"Tapi Ayah ... kami pengen sepeda ini dari dulu belum juga kesampaian dan baru sekarang sampeyan karena dibelikan oleh Kak Sonia, dan kami ingin punya ini agar kami bisa sekolah tanpa minta uang ongkos angkutan umum pada ibu! setidaknya kami bisa meringankan beban Ibu, sementara Ayah sudah tidak bisa bekerja lagi, dengan kondisi yang sakit-sakitan apa gak kasihan sama ibu!" suara Iman meluap-luap dia tidak terima kalau sepedanya harus dikembalikan kepada Sonia.
"Memang bener Ayah, sampai kapanpun kita nggak akan pernah bisa mempunyai sepeda seperti ini. Kalau nggak kak Sonia belikan!menunggu ayah belikan? mau sampai kapan! jangankan untuk beli sepeda, kerja buat makan aja Ayah nggak!" timpalnya Rendy sembari menatap datar pada sang ayah.
"Iya bener! kalau sepeda dikembalikan! berarti ibu harus ngeluarin lagi uang buat kami ongkos sekolah lagi kami, belum uang jajannya! belum buat makan ... Belum buat pulsa kak Cindy, emangnya Ayah bisa mendapatkan uang? kan Ayah belum bisa bekerja, kan kasihan kalau semuanya ibu yang menanggung!" si bungsu pun ikut nimbrung bicara.
Omongan ketiga putranya itu membuat kena mental sang ayah, sehingga dia bergeming. Terdiam tanpa Kata, karena yang mereka katakan adalah semuanya benar.
Tetapi masalahnya uang Sonia itu dari mana? itu yang jadi akar permasalahan nya, bukan uang yang menurut definisi Pak Amin halal.
"Ibu harap ... kalian dapat berpikir lebih dewasa, lihat anak-anak saja yang masih dibawah umur bisa memilih, apalagi kalian yang sudah dewasa bahkan sudah tua!" ucap Ibu Melani sembari mengusap kedua ujung matanya yang basah.
"Bukan berarti untuk menghalalkan segala cara, bukan! tapi setidaknya anak-anak mengerti arti sebuah pengorbanan," sambungnya Bu Melani kembali, sementara sang suami dan Cindy tidak menjawab.
Setelah bicara demikian, Bu Melani pergi dari tempat tersebut menuju kamarnya untuk beristirahat. Kepalanya terasa pusing dan pusing bukan karena sekedar penyakit. Tapi pusing mengingat kondisi rumahnya yang seperti ini tidak seperti dulu yang tentram, adem penuh kehangatan.
Namun kini rasanya memanas jauh dirasa tentram dan tenang, apalagi kehangatan dan kasih sayang berasa menghilang.
Rendy, Iman dan Luky sejenak saling pandang tanpa berkata apapun. Lalu mereka meninggalkan sepedanya untuk melaksanakan salat isya lanjut kemudian untuk beristirahat karena besok hari Senin
Mereka bertiga akan masuk sekolah dan tentunya mereka akan menyambut bahagia pagi dengan ceria! di hari esok mereka akan pergi sekolah dengan menggunakan sepedanya masing-masing ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa dukungannya ya ... makasih