Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Camas


__ADS_3

Sonia yang tidak tau apa-apa hanya mengekor di belakang Hera. "Kita tunggu di sini saja." Hera mendudukan tubuhnya di kursi, begitupun Sonia tampak lelah dan cemas.


"Kenapa, kau tampak cemas sekali Nia?" tanya Hera dengan pandangan yang penuh kecurigaan.


"Nggak sih. Biasa aja," sahut Sonia berusaha menyembunyikan rasa cemas, dan gugup menyelimuti hatinya.


Dari jauh, ada seorang pria menenteng sebuah helm di tangan. Dia melambaikan tangan kearah Sonia, Sonia berdiri dan membalas lambaian tangan Zay.


"Abang tidak terlambat kan?" dengan senyuman manisnya.


"Tidak. Abang, makasih ya sudah menyempatkan datang?" Sonia duduk kembali di tempat semula.


Zay duduk di sebelah Sonia, menyentuh tangan Sonia. "Jangan lupakan Abang ya Nia, harus janji akan kembali untuk Abang, dan Abang akan selalu merindukan kamu. Menunggu kamu."


"Iya Bang, doakan Nia juga?" Sonia dengan seutas senyum di bibir.


Hera yang dari tadi mengawasi Sonia dan Zay hanya diam membisu. Kemudian Hera beranjak dari duduknya melihat jam di layar ponselnya.


"Ayo, Nia berangkat," kata Hera sekilas melirik pria manis yang bersama Sonia.


"I-iya Hera, Abang Nia permisi ya?" Sonia mengalihkan pandangan pada Zay yang masih menggenggam tangan Sonia erat seakan tak ingin berpisah.


"Lepaskan tangan aku Bang." pinta Sonia lirih.


Zay masih memandang wajah Sonia dan belum juga melepas genggaman tangannya.


Hera merasa kesal dia yang sudah beberapa langkah membalikkan badan menoleh Sonia. "Ayo ... mau berangkat gak sih?"


Zay dan Sonia terperanjat, Zay melepas tangan Sonia perlahan. Lalu Sonia berlari mengejar Hera yang sudah jauh didepan.


Mereka sudah berada dalam pesawat lion air, setelah memasang sabuk pengaman. Hera memejamkan mata, bersandar kebelakang. Sonia yang kali pertama naik pesawat, hanya mengikuti gerak geriknya Hera.


"Her ... lama gak perjalanan angkasanya?" tanya Sonia, menatap cemas.


Hera membuka mata dan berkata "Paling 10 hari."

__ADS_1


Sonia terkejut bukan main. "Hah ... yang benar aja sepuluh hari?" menghitung sepuluh jarinya.


Hera terkekeh-kekeh, melihat ekspresi Sonia yang kaget dan pucat. "Nggak lah, paling hitungan jam saja." Balas Hera kembali pejamkan mata.


"Oh, aku kira beneran sepuluh hari." wajahnya Sonia kembali normal tidak pucat seperti tadi.


Sore menjelang malam Sonia dan Hera sudah berada di bandara Thailand, mereka berjalan mencari orang yang katanya mau menjemput. Mata Hera celingak-celinguk.


Ada seorang pria yang mendekati Hera, entah apa yang mereka bicarakan. Karena jarak Sonia dan Hera agak berjauhan.


Hera dengan pria tersebut mendekati Sonia. "Ayo jalan." kata Hera mengajak Sonia berjalan mengikutinya, menuju sebuah mobil yang terparkir di parkiran bandara.


Setelah memasukan tas, Hera duduk di samping pria tersebut. Yang duduk di belakang kemudi, sementara Sonia duduk di belakang Hera.


Di sepanjang perjalanan tak satu pun yang bicara, hanya suara mesin saja yang memecah keheningan. Sonia anteng dengan lamunannya.


Sonia duduk menyandarkan punggungnya ke belakang, matanya tertuju keluar jendela. Begitupun Hera duduk bersandar, hanya yang beda dirinya sibuk dengan ponsel di tangan.


Beberapa puluh menit kemudian sampailah di depan sebuah gedung apartemen. "Tempat apa ini Her?" Sonia heran menatap Hera penuh tanya, tatapan kian tajam seakan ingin tahu isi hati Hera.


"Masa kau tak tahu kalau ini gedung apartemen?" Hera senyum penuh ejekan.


"Sudah jangan banyak tanya, ikutin saja kenapa sih? jangan bawel." ketus Hera berjalan masuk lobi.


Sonia tak buka suara lagi. Ia heran dengan sikap Hera yang jauh beda dari biasanya, Sonia hanya mengikuti Hera dari belakang.


Sonia mengedarkan pandangannya, mencari pria yang tadi bersama Hera. Namun kini menghilang entah kemana.


Setelah memasuki lobi Hera dan Sonia masuk lift dengan tujuan lantai 10, setibanya di lantai sepuluh. Hera membuka pintu kamar no 206, Hera masuk. Begitupun dengan Sonia, Hera masuk sala satu kamar di sana. Sonia hanya mematung dengan pandangan yang terus saja mengedari seluruh ruangan di apartemen tersebut.


Hera kembali dari kamar, menautkan alisnya. Dan menyilangkan tangan di dadanya. "Mau sampai kapan kau mematung di situ Sonia?"


Sonia melirik Hera, sembari senyum tipis. Sesaat kemudian duduk di sofa.


"Kau mau mandi? mau istirahat? tuh di kamar yang satunya," Hera menunjuk Kamar di sebelah kamarnya.

__ADS_1


"Oh, iya makasih Her?" Sonia beranjak ke kamar yang di tunjukkan Hera sebelumnya.


Kini Sonia sudah berada di dalam kamar tersebut. "Bagus juga kamarnya, tapi ... ini apartemen siapa ya? kok Hera punya apartemen semewah ini sih? hebat." Sonia berdecak kagum.


Helaan napas Sonia kasar, masih mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Sampailah tatapannya kesebuah pintu.


"Mungkin itu kamar mandi, baiknya aku mandi dulu lah, eh ... sudah pukul berapa nih?" Sonia melihat jam di ponselnya.


"Ya Allah ... sudah pukul 08. malam waktu setempat," Sonia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak selang lama ia sudah keluar mengenakan baju tidur, yang ia bawa barusan.


Mengambil mukena lanjut sholat isya, yang sebelumnya mencari arah kiblat dari ponsel.


Kini Sonia sudah keluar lagi dari kamar, duduk di sofa. Bersama Hera, Sonia mengedarkan pandangannya pada Hera yang sibuk dengan ponsel. "Apa selama ini kau tinggal di sini?"


Hera menoleh. "Iya."


Sonia bingung jadinya. "Sebenarnya kamu kerja apa Her? dan aku mau di pekerjakan apa? aku jadi gak ngerti?"


Sesaat Hera terdiam, mukanya menghadap Sonia. "Kau di sini mau aku pekerjakan, ya seperti aku bilang. Di sebuah toko, bukan asisten. Aku rasa mending kamu aku masukkan ke toko," ucap Hera. "Atau bila kau mau di bar bersama ku mau?"


Sonia menggeleng. Tidak menyangka kalau Hera kerjanya di bar. "Aku di toko saja Hera, oh jadi kalau kamu kerjanya di bar? tapi kemarin kau bilang mau kerjakan aku menjadi asisten! gimana sih?"


"Aku tidak tau yang berbau-bau asisten." Hera menyeringai.


Sonia membulatkan bibirnya. Walau bingung apa yang di katakan Hera kemarin dan sekarang itu jauh berbeda.


Mata nya Sonia masih mengamati setiap sudut ruangan tersebut.


"Aku bisa membuatmu lebih dari aku loh Nia? asalkan kamu mau."


"Nggak Her, aku belum berminat!" Sonia menunduk dalam.


"Aku mencari kerjaan yang halal, emangnya kerja di Bar halal gitu? aku rasa tidak," gumam Sonia dalam hati. Memainkan jari-jari tangannya.


"Oya kalau kamu lapar tuh dapur, pasti ada yang bisa di masak di sana, sekalian buatkan untuk aku ya?" kata Hera menunjuk dapur, tanpa menoleh Sonia melangkah ke dapur yang Hera tunjuk dengan dagunya ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa subscribe dulu ya, like komen. Makasih.


__ADS_2