
Baru saja selesai makan, Sonia berdiri, namun di tarik tangannya oleh Leo sehingga terjatuh ke atas pangkuan nya pria yang tampak sudah mendamba sesuatu itu.
"Eeh, apa-apaan kamu? aku akan menyimpan bekas makan dan mencucinya." Sonia menggelinjang dan bangun.
Namun di tarik kembali oleh Leo dan kali ini pinggang nya yang di rangkul erat oleh Leo yang lantas menyerangnya dengan kecupan yang tak beraturan di sekitar wajah dan leher.
Sonia terkesiap, dan ingin menyimpan dulu atau merapikan meja yang ada di sana dari beberapa mangkuk dan dan gelas.
"Kau ini kesurupan apa sih? gini amat. Aku mau membereskan dulu bekas makan kita." Suara Sonia dengan sedikit bergetar.
Leo tidak menjawab dengan kata-kata, hanya deru nafasnya saja yang terdengar memburu, ngos-ngosan. Bagai orang yang sedang di kejar setan.
Seiring dengan kecupan yang terus menerus Leo lepaskan pada bagian wajah. Turun ke bagian leher juga, turun lagi ke bagian dada yang sudah dia tarik penutupnya.
"Ka-kamu, sabar dulu dong! aku mau beres-beres dulu!" suara Sonia kembali terdengar.
Kini tubuh Sonia terduduk di atas sofa berhadapan dengan Leo yang terus menyerangnya. Leo kembali mengecup bibir Sonia dengan sedikit lembut kadang kasar. Tangannya pun me-rema-s kedua balon yang begitu elastis.
Di saat Sonia membuat Mie tadi, Leo meminum obat perangsang agar dia lebih cepat terbangun kan dan hasilnya memang benar. Tidak menunggu waktu lama, bahkan waktu makan mie pun! dia sudah kepanasan dan peliharaannya sudah bangun menjulang tinggi bagai tower salah satu jaringan berdiri tegak.
Namun Sonia tidak mengetahuinya saja, kalau dirinya sudah di tunggu oleh mahluk astral yang merindukan belaiannya.
"Mmmmm ... kau apa-apaan sih ..." Sonia menatap ke arah wajah Leo dengan tatapan yang mulai berkabut.
"Aku, sangat menginginkan mu saat ini. Layani aku dengan sempurna baby." Kata Leo dengan suara yang parau.
Setelah itu dia langsung unboxing Sonia. Melepaskan hasratnya yang sudah menggebu-gebu, dan mereka melakukannya di tempat itu juga di atas sofa, biarpun agak sempit namun menimbulkan sebuah sensasi yang lain dari yang lain. Mengeksplor tempat yang baru dalam melaksanakan ritual tersebut.
Sonia merasa malu karena mereka tanpa menggunakan selimut. Untungnya di sana hanya mereka berdua tanpa ada penghuni lainnya.
Leo menyudahi ritualnya setelah berapa kali mendapatkan puncaknya.
__ADS_1
"Ach ... lega nya ... tidak terasa sempit lagi, Terima kasih sayang, kau sudah melayani aku dengan sangat baik. Semuanya sudah keluar."
Sony hanya terdiam dengan deru nafas yang belum terkontrol. Dia langsung bangun mengenakan pakaiannya, merasa malu jika terlalu lama dalam keadaan polos seperti itu di sana.
Sementara Leo duduk bersandar dengan kedua kaki terbuka! begitupun dengan tangannya yang direntangkan.
Sonia merasa malu sendiri jika harus melihat tower yang berdiri tegak terekspos ke mana-mana, sehingga dia gegas menutupinya dengan pakaian Leo.
Namun Leo tidak peduli, dia langsung beranjak dan memangku tubuh Sonia, diajak ke dalam kamar lalu di baringkan di atas tempat tidur.
Kemudian mereka beristirahat, Leo memejamkan kedua netra nya sambil memeluk Sonia yang besok akan terpisah oleh jarak dan waktu.
Malam semakin larut, beranjak menjemput pagi yang lebih baik sebelumnya.
Pagi-pagi, Sonia sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara dan tentunya diantar oleh Leo dan juga Dino, yang menyiapkan semuanya keperluan data-data. Paspor nya untuk keberangkatan ke Jakarta.
Saat ini Sonia berada di bandara, sudah melakukan pemeriksaan pertama. Sudah check-in dan pemeriksaan yang kedua pun sudah selesai, tinggal menunggu keberangkatan dan pemindaian boarding pass.
Sonia pun mengangguk. "Iya, akan aku sampaikan kepada orang tua ku."
Kemudian Leo memeluk Sonia dengan sangat erat dan memberikan berapa kecupan di kening dan juga pipi.
"Aku akan merindukan mu dan aku akan secepatnya untuk menyusul ke sana! ingat juga jangan macam-macam dengan laki-laki lain! kalau tidak akan ku bunuh dia!"
"Emangnya kutu, yang bisa kau bunuh segampang itu!" Sonia menetap ke arah Leo yang dia pikir bicara seenaknya.
"Jangan salah, Nona. Tuan ini pembunuh berdarah dingin. Jadi jangan macam-macam berbuat apa yang dia tidak suka, anda harus hati-hati. Nona," ucap Dino sembari melirik dengan ujung matanya ke arah Leo.
Sonia merasa kaget mendengar ucapan Dino barusan. "Maksudnya gimana, Tuan Dino. Apa benar dia pembunuh berdarah dingin? itu kan dosa!"
"Sudah, jangan didengar dia ... sekarang ini data-datanya pegang dan sebentar lagi pesawatnya akan take off. Hati-hati ya? kalau ada apa-apa segera bilang sama aku atau Dino!" ucapnya Leo Lie sambil mengecup kening dan bibir Sonia sebagai salam perpisahan.
__ADS_1
Sonia yang sedang menggunakan setelan berwarna biru muda. Mengenakan tas punggung dan dan memegang paspor dan data lainnya.
Berjalan memasuki pintu yang sudah tertera di tiket. Sebelum terlalu jauh, Sonia menoleh ke belakang. Dimana Leo masih berdiri dan memandangi kepergiannya dan tersenyum melambaikan tangan.
Rasanya berat juga mau berpisah dengan Leo yang rencananya untuk berapa hari. Padahal tadinya mau bareng-bareng, namun pada kenyataannya Leo tidak bisa pergi dengannya dengan sebuah alasan yang sangat penting.
Selanjutnya Sonia berjalan kembali bersama penumpang lain nya, yang sama-sama mau menuju Jakarta.
Sonia sudah berada duduk di dalam pesawat, dengan bibir komat-kamit membaca doa. Dengan perasaan yang berbunga-bunga karena bertemu dengan keluarga yang sudah berapa bulan ini dia tinggalkan.
"Ibu, ayah ... sebentar lagi akan pulang, dan aku akan membuat surprise pada kalian semua." Gumamnya Sonia sambil mengulum senyumnya.
Pandangannya lepas keluar jendela, yang memperlihatkan pemandangan yang indah namun lumayan membuat berdebar saat melihat dari ketinggian.
Perjalanan Sonia dari Bangkok ke Jakarta yang akan membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 6 jam dan setelah itu barulah akan sampai di tempat tujuan, yaitu sebuah bandara yang ada di kota tersebut yaitu Soekarno Hatta.
Sejenak Sonia tertidur di dalam pesawat tersebut dan dia terbangun ketika orang-orang sudah bersiap untuk turun dari pesawat.
Sebab ternyata pesawat itu sudah landing sangat sempurna. Dan Sonia berdiri dan mengambil tasnya dari kabin barang.
Sonia berjalan beriringan dengan yang lainnya. Wanita itu makanan apa setelah mendalam serta melihat suasana sekitar.
"Akhirnya aku bisa menghirup udara lagi di Negara ku." Sonia menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman bahagia.
Setelah melalui proses imigrasi suaminya langsung mengambil koper kecilnya yang berisi beberapa pakaian saja. Kemudian dia langsung mencari alat transportasi untuk menuju kediamannya.
Sonia sudah berada di dalam sebuah taksi yang sudah dia bilang tujuannya ke mana, kepada sopir tersebut.
Waktu sudah menunjukan pukul 12.30 Sonia masih berada di dalam taksi yang kebetulan sebentar lagi juga akan sampai di kediaman orang tua Sonia ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Author ini tidak bosan-bosannya untuk minta dukungan, like komen dan dukungan lainnya Makasih ya?