Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Tinggal di mana


__ADS_3

Sonia keluar dari apartemennya Hera dengan membawa koper dan tas kecil, dia masih kebingungan harus ke mana? karena dia gak punya kenalan selain Cery dan akhirnya dia menghubungi Cery yang dia ketahui jam segini dia masih kerja, sementara dirinya tidak bisa masuk kerja hari ini.


Lalu mereka membuat janji di saat nanti makan siang akan ketemuan. Dan Sonia menunggu Cery di sebuah taman kota, sambil melamun memandangi pemandangan yang indah di sana dan tidak terasa air mata terus menetes membasahi pipi.


"Nia kenapa kamu nggak masuk kerja hari ini? dan ada apa minta ketemu aku di sini? kamu tidak resign kan dari pekerjaan? sementara bos nanyain kamu dan nomor pun nggak aktif!" datang-datang Cery langsung melepaskan rentetan pertanyaan kepada Sonia.


"Kan tadi aku sudah bilang, tolong bilangin pada bos dan juga yang lain. Aku kurang enak badan." Sonia sembari mengusap wajahnya yang basah.


"Kamu kenapa Nia? wajah mu kok pucat begitu, kamu sakit beneran dan itu koper. Kamu mau ke mana? oh my God ... apa kau kabur dari apartemen saudara mu, terus kamu mau ke mana? nggak mungkin-nggak mungkin, nggak mungkin ... kamu mau ke Indonesia, nggak mungkin!" cerocos Cery sambil menggerak-gerakan telunjuknya ke arah Sonia.


"Kamu benar Cery, aku memang pergi dari apartemen saudaraku dan aku!" hampir saja Sonia menceritakan apa yang dia alami kepada Cery, namun dia pikir kembali. Rasanya tidak perlu dia ceritakan itu karena itu aibnya sendiri yang seharusnya dia tutup rapat.


Sonia hanya bisa menangis sambil memeluk Cery, yang justru merasa kebingungan kenapa Sonia terlihat pucat pasih kayak orang sakit dan menangis tersedu dalam pelukannya.


"Oh my god ... oh my god ... sebenarnya ada apa ini, aku nggak mengerti kenapa kamu kabur dan kenapa juga kamu menangis kalian seperti ini? jangan-jangan kalian bertengkar ya, jangan bilang kalau kau mau balik ke Indonesia!" selidiknya Cery sembari memudarkan pelukannya.


"Aku memang tidak kepikiran untuk pulang ke Indonesia. Aku hanya bingung mau mencari tempat tinggal di mana? aku nggak tahu apa-apa dan soal bekerja aku akan tetap kerja kok!" ucapnya Sania sembari menyeka air matanya.


"Baguslah, kalau kamu nggak ada niatan untuk pulang ke Indonesia. Karena kan kamu harus mencari uang untuk membahagiakan keluarga mu." Tambahnya Cery.


"Yang sekarang aku bingungkan ... tempat tinggal untuk ku di mana Cer ... apakah di sini, maksud aku di dekat butik apakah ada kontrakan gitu?" Sonia sangat kebingungan karena yang penting saat ini adalah tempat tinggal.


"Kalau untuk sementara, kamu boleh kok tinggal di tempat aku! walaupun sempit tidak sebagus di apartemen. Tapi kalau saja ada kamar kosong kamu juga boleh kontrak di sana, tapi untuk sekarang tempat tinggalku nggak ada yang kosong kamarnya. sama aku aja dulu ya? sebelum kamu dapat tinggal yang lebih bagus!" tawarnya Cery.

__ADS_1


"Beneran aku boleh numpang sama kamu dulu? sebelum aku dapat tempat yang lain? aku nggak penting tempat tinggalnya bagus atau enggak, luas atau sempit! yang penting saat ini aku ada tempat tinggal dulu." Sonia memegang tangan Cery.


"Em ... tentu boleh, sebelum kamu mendapatkan tempat yang baru." Cery mengangguk.


"Terima kasih Cery, terima kasih banyak ya?" Sonia memeluk bahunya Cherry setidaknya sekarang Dia mendapat tempat tinggal sebelum mendapatkan tempat tinggal yang baru.


"Iya Nia ... kita kan bersahabat! Masa sih aku membiarkan kamu susah." Sambungnya Cery. Kemudian mereka pun menaiki taksi untuk ke tempat tinggalnya Cery.


"Ooh ya, Nia ... tadi kan seperti biasa ya Bobby menjemput ku. Dan Dia menanyakan kenapa kamu nggak ada? kamu nggak masuk kerja? lagian kamu kenapa nggak bisa kerja?" pada akhirnya Sonia membuka bertanya kembali, kenapa Sonia tidak masuk kerja hari ini.


"Em ... em ... kamu cukup menunjukkan kamar mu saja Cery, biar aku nanti sendiri ke sana dan kamu langsung kembali ke butik dengan saksi ini, takutnya kamu terlalu lama meninggalkan pekerjaan! soal ceritanya nanti saja ya?" Sonia mengalihkan pembicaraan.


"Iya juga sih, mana belum makan lagi!" jawabnya Cery sembari mengusap perutnya yang memang sudah terasa lapar.


"Sudahlah, jangan banyak ngomong, nah ... sopir tunggu dulu di sini ya? Nanti aku balik lagi sebentar aja!" pintanya Cery kepada sopir taksi yang langsung setuju.


Cery dan Sonia buru-buru turun dari taksi tersebut dan berjalan sedikit cepat menuju kontrakannya Cery. Setelah tiba di kontrakannya, Cery langsung menunjukkan kamar dia? di bangunan itu memang banyak kamar! tapi katanya sudah penuh. Jadi untuk sementara waktu Sonia tinggal di kamarnya Cery.


"Nah ... ini kamar ku. Untuk sementara waktu ... kau tinggal di sini dulu sambil mencari tempat yang baru! karena kalau untuk berdua di kamar ini lumayan sempit sih," kata Cery kepada Sonia sambil menunjukkan kamarnya.


"Ya Cer ... aku sangat berterima kasih sama kamu, nggak apa-apa! untuk sementara kok! ya udah kamu boleh pergi lagi ke butik! sekali lagi aku minta maaf sudah merepotkan mu untuk memberi tumpangan di sini, oh ya, biaya transportasinya sudah aku bayar kok untuk PP kamu tinggal naik saja, sudah sana? nanti keburu siang." Sonia mendorong bahunya Cery takut telat masuk kerja kembali.


"Apa, kamu sudah bayar taksinya

__ADS_1


?" tanya Cery yang sudah mengembalikan badan untuk pergi menoleh kembali pada sahabatnya tersebut.


"Iya, taksinya sudah aku bayar! kamu tinggal naik aja, udah cepetan nanti siang!" lagi-lagi Sonia yang menyuruh Cery untuk segera pergi, karena dia nggak mau cerita sampai kesiangan.


"Baiklah, oh iya ini kuncinya kamu simpan, nggak pa-pa kan kamu sendirian! Aku pergi dulu!" Cery meninggalkan kamarnya tersebut dan menuju taksi yang tadi ia suruh menunggu.


Sonia mengadakan pandangannya ke seluruh kamar yang tidak terlalu besar itu tapi cukup untuk tidur berdua.


Kemudian Sonia menyimpan kopernya di dekat dinding. Dan Dia mendudukan dirinya di tepi tempat tidur yang hanya cukup untuk berdua itu.


Sania menghela nafas dalam-dalam lalu dia hembuskan melalui dengan kasar dan bila mengingat kejadian semalam. Membuat air matanya kembali menetes.


"Kenapa ini harus terjadi padaku? Gimana kalau aku hamil bagaimana?" tiba-tiba Sonia merasa semakin was-was, takut kalau dirinya hamil nantinya.


Lalu Sonia beranjak dari duduknya yang lantas mendatangi sebuah pintu yang dia pikir itu sebuah kamar mandi.


Sonia mengusap kasar wajahnya. Hatinya semakin dibuat was-was Takut suatu saat dia hamil benih dari pria asing tersebut. Sementara yang dia tahu, pria itu memasukkan semuanya. Sesekali Sonia dibuat bergidik.


Tangan Sonia yang mengepal marah. Rasanya dia marah, marah ... banget. Marah pada diri sendiri yang tidak bisa berbuat apapun untuk membela atau menjaga kesuciannya ....


...🌼---🌼...


Mana nih ... masih sepi subscribe-nya biar mendapatkan notifikasinya. Makasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2