Terjebak Cinta Mafia

Terjebak Cinta Mafia
Teman pria


__ADS_3

"Tu-Tuan, apa maksudnya! anda jangan pernah macam-macam dengan keluarga ku! mereka tidak tahu apa-apa apalagi tentang masalah ku, jangan ganggu mereka. Tuan, jangan ganggu mereka!" Sonia menyatukan kedua tangan di depan dadanya.


Sonia sampai detik ini tidak bercerita soal ke adaan dirinya yang seperti ini. Rasanya Sonia tidak sampai hati! karena dia tahu betapa akan hancurnya hati keluarga khusus ibu kalau mendengar nasib Sonia saat ini yang sudah tidak suci lagi.


"Saya tidak punya hak untuk melakukan apapun! tapi Tuan Leo bisa memerintahkan siapapun untuk melakukan apa yang dia mau." Jelasnya Dino serta kembali menyuruh Sonia untuk masuk.


Tanpa ada pilihan lain. Sonia perlahan membawa langkahnya masuk ke apartemen tersebut yang ternyata dalamnya sangatlah luas dan bagus.


Yang terdapat di sana berapa pintu, entah pintu kamar. Dapur atau apa? yang jelas di dalamnya bak rumah istana yang juga dipenuhi dengan barang-barang yang wah super mewah.


Sonia berjalan dengan perlahan ke dalam! sementara pintu langsung Dino tutup kembali membuat jantung Sonia seolah berhenti berdetak sejenak melihat daun pintu yang tertutup rapat.


Gadis itu menghela nafas dalam-dalam, lalu dihembuskan dengan sangat panjang.


"Buat apalagi sih aku harus menemui dia? Aku tidak ingin sudi lagi dengan pria itu, cukup satu kali aku ketemu dia dan cukup satu kali sesuatu terjadi!" batinnya Sonia sambil terus mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tersebut.


Setelah sekian lama berdiri dan mengamati keadaan apartemen itu, akhirnya Sonia terduduk di atas sofa dan kini pandangannya mengarah kepada sebuah ruangan dan sepertinya itu kamar, sementara pintunya terbuka begitu saja.


Kemudian Sonia menunduk kepalanya dan mengalihkan pandangan dari pintu tersebut seraya berkata. "Seharusnya aku tadi kabur nggak perlu ikut dengan Tuan Dino!"


Terdengar sayup-sayup derap langkah, sehingga Sonia pun mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Dimana datangnya seorang pria dari ruangan pintu yang terbuka tadi.


Berdiri seorang pria dengan tubuh sixpack berbalut handuk saja. Berdiri di tengah-tengah pintu dan mengarahkan pandangannya ke arah Sonia tatapan yang sangat tajam.


Pandangan keduanya pun bertemu. Dan detik kemudian Sonia membuang mukanya ke lain arah. Sesungguhnya dia tidak mau menatap wajah pria tersebut! hanya akan mengingatkan kejadian waktu itu.


Leo Lie mendekati Sonia yang tengah duduk di atas sofa. "Selamat datang di Apartemenku!"


Sonia hanya terdiam Sembari menanduk melihat ke arah lantai. Tidak ada kata-kata yang ingin diucapkan kepada pria tersebut.


"Apa kau sudah makan?" tanya Leo kembali sembari mendudukkan dirinya di dekat gadis yang sudah pernah dia tiduri.


Pandangan Leo Lie begitu meneliti kepada Sonia yang sedang mengenakan piyama panjang bermotif bunga.

__ADS_1


"Kau sungguh manis!" sembari menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pipi Sonia.


Sementara Sonia tidak bergeming kecuali menangkis tangan itu agar tidak menyentuhnya.


"Ehem ... apa kau sudah makan Nona? kalau belum. Nanti ku pesankan!" lirihnya Leo sembari menyentuh dagunya Sonia dan menarik agar melihat ke arah dirinya.


Namun Sonia tidak mau melihat dirinya barang sekejap pun, dia tetap mengarahkan pandangan matanya ke arah lantai.


"Oh iya, saya lupa kamu kan sudah makan di restoran dengan seorang pria yang lumayan tampan itu, apakah dia pelanggan mu? berapa dia membayar! hitungan jam atau malam?" selidiknya Leo sembari menaikkan kakinya ke kaki satunya.


"Jangan kurang ajar ya? aku bukan wanita seperti itu, dia temanku!" akhirnya Sonia mengeluarkan suaranya juga.


"Ups, dia teman pria mu! benar kah? kalau kamu punya teman pria. Kenapa kamu malah menyuruh teman wanita mu untuk menjual dirimu padaku, tidak minta tolong sama teman pria mu saja." Celetuknya Leo.


"Dengar ya? aku tidak pernah menyuruh Hera untuk menjual diriku, tidak pernah. Dan aku tidak pernah punya niat untuk itu! kenapa sih kau tidak percaya dengan omonganku?" kini Sonia mulai berani dengan cara bersikeras dengan lawan bicaranya tersebut.


"Oke-oke, kalau kamu tidak mau mengakuinya. Gak masalah! karena yang jelas ... saya yang sudah mendapatkan semuanya darimu. Dan ... saya tidak ingin kamu menjual dirimu lagi pada laki-laki lain!" Leo Lie menatap ke arah Sonia dengan tatapan sangat lekat dan intens.


"Aku tidak pernah punya niat untuk seperti itu, karena aku bisa bekerja dengan halal kok." Bella nya Sonia yang tidak terima kalau dirinya disebut mau menjual diri kembali.


"Apa urusan mu? aku gak punya tempat tinggal dari semula sampai sekarang pun!" ketusnya Sonia.


"Malang nian nasib mu di sini, tidak punya tempat tinggal bahkan kau dijual dan uangnya yang lebih besar dia nikmati sendiri kamu hanya menerima sisanya saja! ha ha ha ..." ucapnya lagi sembari beranjak dari duduknya, mengambil sebuah botol minuman lalu dia tuangkan ke dalam gelas untuk dia teguk sendiri.


"Saudara macam apa dia? yang sudah tega memperdagangkan saudaranya sendiri!" sambungnya Leo sembari meneguk minuman yang berada di tangannya itu.


Sonia hanya menelan Saliva nya berkali-kali mengingat Hera, yang awal mula membuat hidupnya hancur kehilangan yang seharusnya dia jaga.


"Minumlah?" Leo menyodorkan gelas ada Sonia agar mau meminumnya, namun dengan cepat Sonia menepis tangan yang sedang memegang gelas tersebut. Sehingga gelas itu melayang dan jatuh ke lantai.


Prek .... yang jatuh ke lantai hancur tak berkeping. membuat Leo sejenak mematung melihatnya.


Sonia berdiri dan hendak pergi dari sana.

__ADS_1


Geph.


Leo menangkap tangan Sonia lalu dia dudukan kembali di tempat semula.


"Lep-lepas! cukup kau sudah menghancurkan hidupku, karena mu aku kehilangan sesuatu yang seharusnya ku jaga sampai aku menikah nanti!" Teriak Sonia sambil berusaha melepaskan dirinya dari genggaman Leo Lie yang tubuhnya dekat dengan dirinya.


"Kau bisa saja menghindar dari ku, tapi kau tidak akan pernah bisa melupakan semua perlakuan ku di sepanjang hidup mu." Suara itu sangat jelas dari Leo yang menatap tajam ke arah dirinya.


Bibir Sonia bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Takut dan ingin berontak dari pria yang tampak kejam dan tidak punya perasaan itu.


Genggaman tangan Leo memudar, sehingga Sonia bisa menjauh dari pria tersebut. Sonia berlari mendekati pintu lalu mencoba membukanya. Namun lagi-lagi terkunci dari luar.


Sementara Leo dengan santainya berjalan teratur mendekati tubuh Sonia yang ketakutan, lalu bergerak mendekati lemari kecil dan mengambil pajangannya.


Sonia mengambil pas Bunga lalu ia lempar ke arah Leo Lie yang dengan mudahnya menangkis apa pun yang Sonia lempar padanya sambil terus menunjukan senyum lebarnya.


"Tau gak, Nona. Saya menyuruh mu ke sini untuk berunding agar kamu mempunyai tempat tinggal yang layak bukan tinggal di kosan yang sempit dan barengan sama orang lain. Namun melihat dirimu berontak seperti ini, jiwa lelaki ku menjadi meronta dan meminta kau manjakan!" ucap Leo terdengar mengerikan di telinga Sonia.


Dada Sonia naik turun tak beraturan. Ruangan itu pun sudah berantakan dengan barang-barang yang Sonia lempar dan tidak sedikit pecahannya berserakan di lantai, membuat mau melangkah saja ngeri. Takut menginjak pecahan kaca atau barang dan bila terinjak kaki tak ayal akan terluka.


"Ayo berjalan? buat dirimu terluka dengan pecahan tersebut. Aku akan merasa puas bila kamu merintih kesakitan. Agar nanti aku merasa ramai dengan rintihan yang keluar dari bibir mu yang seksi itu baby." Leo menyuruh Sonia agar berjalan menginjak pecahan kaca. Gelas. Pas bunga, pas foto bercampur menjadi satu.


Sementara Sonia tidak berani, dia berpikir berkali-kali karena dia masih pengen hidup dengan baik. Namun bila dipikir-pikir kembali, daripada harus melayani nafsu bejat pria tersebut mendingan terluka.


Tapi bila harus kedua-duanya ia terima juga, ya percuma dan buat apa? rugi bandar yang ada.


Namun pada akhirnya Sonia memilih untuk melukai dirinya dengan pecahan kaca tersebut. Dia rela menginjak pecahan gelas dan dia berniat mau membuka pintu koridor, biarpun harus lompat melalui balkon itu.


Tetapi dengan cepat Leo menyapu pecahan kaca dengan selimut sehingga pecahan kaca yang berserakan di lantai menjadi tersapu ke samping.


Tangan Leo dengan cepat kilat meraih dan menarik pinggang Sonia dibawanya ke atas tempat tidur ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like, comment. Kasih rating subscribe nya juga, makasih


__ADS_2